Tampilkan postingan dengan label Potensi Wilayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potensi Wilayah. Tampilkan semua postingan

Tanam Pohon Ke Girisekar Kecamatan Panggang Kabupaten Gunungkidul

Dlingo : 09 Mei 2017 : kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan yang sudah kami laksanakan bersama antara pemerintah Desa Girisekar Kec. panggang pada tahun 2016. kali ini kami melakukan droping bibit pada komunitas Mijil wengi untuk ditanam bersama-sama oleh masyarakat desa girisekar. berikut adalah info berita dari Sorotgunungkidul.co/gunungkidul.sorot.co.
 
Mengembangkan potensi sebuah desa dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai bentuk kerja nyata bagi masyarakat. Sebab pada dasarnya tidak semua program pemerintah dapat dilaksanakan demi memenuhi kebutuhan masyarakatnya tanpa adanya partisipasi semua pihak.

Seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa orang yang mengatasnamakan dirinya Komunitas Malem Setu (KMS) Mijil Wengi di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang.

Dengan beranggotakan sekitar 20 orang dari berbagai latar belakang profesi, usia, gender hingga kepercayaan, KMS Mijil Wengi hadir untuk menjadi jembatan yang menghubungkan dengan berbagai pihak termasuk membantu program pemerintah. Meskipun begitu, komunitas ini secara tegas independen dan tidak berafiliasi dengan kepentingan partai politik manapun.
Awal berdirinya komunitas ini pada akhir tahun 2016 silam dan terinspirasi dari kegiatan komunitas Lintas Batas Yogyakarta Gema Angkasa di Dlingo Bantul, sehingga kita memutuskan membentuk Komunitas Malam Setu Mijil Wengi karena sering kumpul pada malam Sabtu. sekarang tempat kumpulnya di warung kopi Kandang Sapi milik Pak Bowo,” papar Suradiyanto, salah satu pemrakarsa komunitas, Jumat malam (05/5/2017).

Sedangkan menurut salah satu anggota lainnya, Sudaryanto, kegiatan yang sudah dilaksanakan KMS Mijil Wengi adalah penentuan Hari Jadi Desa Girisekar dari para tokoh-tokoh masyarakat untuk menelusuri sejarah. Disamping itu juga yang kini sedang dalam proses adalah penanaman pohon pepaya California dengan memanfaatkan lahan pekarangan warga sebagai tambahan ekonomi.
Kita mencoba merubah pola pikir cara bertani masyarakat dengan pepaya sebagai jembatan untuk menuju ke program lainnya,” kata Sudaryanto.

Selain untuk bermitra dengan berbagai pihak manapun, KMS Mijil Wengi juga mendorong partisipasi Karang Taruna Desa Girisekar yang eksistensinya naik turun. Motivasi tersebut dimaksud sebagai bentuk kerjasama yang sinergis dalam membangun masyarakat desa Girisekar yang lebih partisipatif, khususnya generasi muda.

Tujuan kerjasama dengan Karang Taruna sendiri adalah untuk membangun regenerasi komunitas dengan melibatkan partisipasi kaum muda. Meskipun yang ikut komunitas tersebut harus dibatasi umur minimal 17 tahun dengan pertimbangan agar tidak mengganggu jam belajar bagi yang masih bersekolah.

Menjadi anggota komunitas tersebut tentu harus memiliki kesadaran dan kesukarelaan, karena dalam KMS Mijil Wengi sendiri tidak ada struktur formal yang justru mengekang partisipasi anggotanya.
Ikut anggota komunitas ini juga memiliki tantangan tersendiri dalam lingkungan keluarga. Jadi kadang saya harus bisa meyakinkan istri saya terkait komunitas sebagai tujuan yang positif agar tidak ada kekhawatiran. Karena kita kalau kumpul kan setiap malam Sabtu dan kadang-kadang sampai pagi,” tambah Hendi Prihantono, anggota KMS Mijil Wengi.

Gema Angkasa Dlingo Ditunjuk Menjadi Juri dalam Merti Dusun Seropan 2 Desa Muntuk

Dlingo : 26 Maret 2017 : Saatnya generasi muda ambil bagian dalam pelestarian budaya, dalam acara ini kami mendapatkan kepercayaan Dari masyarakat utk menjadi Tim Yuri Dan menentukan kriteria indikator penilaian yang terbuka, fair Dan kompetisi positif. Acara merti dusun ini dilaksanakan setiap setahun sekali. dalam acara ini digelar sebuah acara kirab budaya yang melibatkan seluruh warga masyarakat yang ada di Dusun  Seropan 2 Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo. Partisipasi Gema Angkasa dalam acara tersebut adalah untuk mendukung panitia pelaksana khususnya dalam mendisain sebuah indikator penilaian dalam kirab budaya tersebut.


Diskusi Dengan Pengelola Wisata Watu Muni Dusun Seropan Desa Muntuk

Dlingo : 12 Januari 2017 :  Seperti kita bersama ketahui, kecamatan Dlingo akhir-akhir ini banyak bermunculan lokasi wisata. Kali ini kami bersama pengelola wisata Watu Muni dusun seropan Desa Muntuk berdiskusi tentang rencana disain dan pengembangan lokasi tersbut. dalam diskusi tersebut kami sampaikan bahwa objek wisata dapat didirikan dengan prasyarat sederhana namun dengan pentahapan yang jelas. sehingga ketika pada saatnya lokasi wisata tersebut berhasil menarik kunjungan wisata maka perputaran ekonomi masyarakat juga dapat dirasakan merata.

namun terdapat kendala yang berat dalam pengembangan lokasi ini, meskipun lokasi Watu Muni memiliki spesifikasi unik. sehingga pengelola harus bekerja keras dan mengandeng berbagai pihak dalam prosesnya nanti. Sekali lagi hampir semua ojek wisata yang datang kepada kami, hampir semuanya hanya memahami konsep wisata sebagaimanan umumnya. sehingga arahan yang kami berikan lebih ke manajemen pengelolaan pariwisata jangka pendek.

Survey Pengembangan Lokasi Gunung Mungker Desa Terong

Dlingo : 2 Januari 2017 : Seiring dengan perkembangan industrialisasi, semakin banyak orang yang membutuhkan kompensasi untuk menikmati waktu senggangnya. Saat ini pariwisata di Kec. Dlingo menjadi salah satu sektor penting dalam pembangunan. Salah satu potensi wisata yang dapat dijadikan sebagai penunjang pengembangan pariwisata adalah taman wisata alam yang pada kali ini kami diajak oleh ketua Pokdarwis Desa Terong Bapak Yanto untuk mengamati dan memberikan masukan berkait pengembangan lokasi Gunung Mungker desa Terong.

 
Pengembangan pariwisata yang memperlihatkan kecenderungan meningkat dari waktu ke waktu menjadi pemicu banyaknya dampak yang ditimbulkan akibat dari adanya kegiatan wisata. Dampak tersebut meliputi berbagai aspek kehidupan yaitu dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Masyarakat adalah salah satu obyek dari dampak yang ditimbulkan akibat adanya kegiatan wisata. Pengembangan wisata yang dilakukan di kawasan Taman Wisata Alam.  
 
Survey lokasi ini memiliki makna yang biasa karena konsep yang kami bawa belum tentu dapat diterima oleh masyarakat. apa yang kami tawarkan dengan apa yang ada di dalam bayangan pengelola merupakan sebuah hal yang pasti berbeda. karena umumnya pengelola wisata pasti berfikir bahwa yang terpenting dalam proses wisata adalah tempat diubah menjadi menarik dan jumlah kunjungan yang banyak.
 
Hal tersebut kami anggap wajar karena boming wisata yang ada dan marak di Kecamatan Dlingo, pemikiran demikian memang menjadi gejala umum bagi masyarakat. sehingga penawaran kami terkait integrasi wisata yang ada di kecamatan dlingo tentu masih sulit untuk diwujudkan.

The Last Tree In Indonesia On Dlingo

Alam adalah nyawa kita, lingkungan adalah tubuh kita, jagad raya adalah jiwa dan raga kita. tak henti-hentinya kita lupa bahwa masa lampau mewariskan kepada kita sebuah kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau itu. sebuah bangsa yang memanjang dari sabang sampai merauke. semua ini akan musnah pada saatnya jika kita bertahan pada kelupaan kita yang semakin permanen oleh fondasi dan bata-bata ekonomi yang terus menghimpit. akan semakin permanen oleh kerakusan kekuasaan atas politik dan budaya lupa ini.

Mari semai bibit-bibit kehidupan ini, dengan menebar hijau disetiap sudut rumah kita. Kehidupan baru tumbuh dan menyelamatkan kita dari kangker yang bernama "LUPA"....


GELAR BUDAYA DESA JATIMULYO

Dlingo : kec-dlingo.bantulkab: Gelar budaya dalam rangka membangun desa kantong budaya dilaksanakan di balai desa Jatimulyo Selasa pagi hingga malam 26/4. Gelaran acara yang dimaksudkan untuk melestarikan dan menumbuhkan kecintaan warga masyarakat terhadap budaya yang selama ini ada di desa ini.

Pada kesempatan ini GKR Bendoro setelah acara evaluasi UPPKS di Semuten berkenan hadir pada acara ini dan memberikan sambutan yang intinya mengajak melestarikan budaya jawa, budaya milik kita sebagai jati diri. Rangkaian kegiatan diisi penampilan seni budaya berasal dari semua pedukuhan di Desa Jatimulyo meliputi : srokalan, dolanan anak-anak, reog, hadroh, solawat, jathilan, gejog lesung, tari, kethoprak dan wayang. Terlihat masyarakat cukup antusias untuk menyaksikan gelaran acara ini.
 
Dan sebagai puncak acara yaitu pergelaran wayang kulit yang ditampilkan oleh warga dari Pedukuhan Kedungdayak.

Sultan HB X: Pengembangan Desa Wisata Padukan Aspek Budaya Di Dlingo

Dlingo : travel.kompas.com: Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengharapkan pengembangan desa wisata di daerah ini harus memadukan aspek budaya agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat lebih luas.

"Desa-desa wisata di Dlingo harus menjadi desa yang mandiri dan berbudaya, tidak hanya bicara kesejahteraan," kata Sultan di sela-sela kunjungannya di Hutan Pinus Mangunan, Desa Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul, DIY, Minggu (25/10/2015).

Dengan demikian, menurut Sultan, pertumbuhan desa wisata termasuk di Bantul bisa lebih tertata dengan baik pengelolaannya dengan memadukan unsur budaya dan lebih terintegrasi sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

Gubernur DIY menyebutkan Kecamatan Dlingo salah satu kecamatan di Bantul ini akan dijadikan model kecamatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui potensi desa wisata yang dipadukan dengan budaya.

Sultan juga berharap dengan adanya penyaluran dana keistimewaan (Danais) DIY, aspek seni dan budaya juga akan tumbuh mewarnai aspek pembangunan desa tidak hanya untuk masyarakat Dlingo namun juga wisatawan yang berkunjung.

"Aspek budaya yang ada di masyarakat juga tumbuh dan memberikan nilai ekonomi, tidak sekadar hutan ini kayunya digores untuk diambil getahnya yang jadi faktor ekonomi tapi kawasan ini juga bisa dinikmati aspek-aspek kebudayaannya," katanya.


KOMPAS.COM/ADHIKA PERTIWI Pintu masuk Goa Gajah berbentuk horizontal yang cukup lebar. Goa Gajah terletak di tengah perkebunan warga, di Dusun Lemahbang, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Desa Mangunan yang dikunjungi Gubernur DIY tersebut memiliki sejumlah lokasi wisata yang makin berkembang diantaranya Hutan Pinus Sari, Kebun Buah Mangunan, dan wisata alam lainnya yang menyajikan berbagai pemandangan alami.

Sementara itu, pengurus kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Mangunan, Purwo Harsono mengatakan kawasan wisata Pinus Sari Mangunan dari waktu ke waktu makin dikenal masyarakat luas dan terus dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

"Namun itu masih banyak potensi wisata yang masih bisa digali lagi untuk dimaksimalkan, dan sekarang ini saja jumlah pengunjungnya sudah sekitar 25.000 orang per bulan," kata Purwo.

DIY akan kembangkan potensi wisata Kecamatan Dlingo

Dlingo : antarayogya.com:  Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mengembangkan seluruh potensi wisata di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, untuk kemajuan kecamatan yang mayoritas wilayahnya perbukitan tersebut.

"Ada tiga tahap untuk pengembangan potensi wisata desa-desa di Dlingo," kata Gubernur DIY, Sri Sultan HB X di sela berdialog dengan jajaran pejabat Pemkab Bantul dan kelompok sadar wisata (pokdarwis) di Hutan Pinus Mangunan, Dlingo, Bantul, Minggu.

Menurut Sultan, pembangunan tahap pertama akan direalisasikan pada akhir 2015. Pemda DIY akan memberikan bantuan untuk pembangunan fisik dan pengembangan objek pariwisata yang terdapat di beberapa desa di Dlingo.

Pengembangan itu, antara lain, revitalisasi Sendang Mangunan, pendirian `home stay` Kampung Limasan, Kampung Budaya Cempluk, dan pengembangan Kebun Buah Mangunan."Juga untuk UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) Tiwul Ayu," kata Sultan.

Sementara itu, menurut Gubernur, pembangunan kawasan Dlingo tahap kedua dan ketiga akan direalisasikan Pemda DIY secara bergiliran pada 2016 dan 2017.

Mengenai rencana pengembangan wisata Dlingo ini, Sri Sultan berharap camat Dlingo, lurah desa se-kecamatan Dlingo, serta warga bisa mempersiapkan serta melakukan konsolidasi menyeluruh agar rencana pembangunan wilayah Dlingo dapat berjalan maksimal.

"Tidak hanya sekadar duduk, akan tetapi masyarakat juga harus dapat menikmati keuntungan, sehingga pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat ikut meningkat," katanya.

Sultan mengatakan, sebab, dengan pembangunan dan pengembangan objek wisata diharapkan jumlah wisatawan di Dlingo akan semakin meningkat.

Sultan juga mengatakan, ingin menjadikan Dlingo sebagai prototipe kecamatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan sektor pariwisata.

"Namun tidak hanya itu saja, desa-desa wisata di Dlingo harus menjadi desa yang mandiri dan berbudaya, tidak hanya bicara kesejahteraan," katanya.

" Tebing Watu Mabur VS Gua Gajah" Dlingo

Nih dibuka tempat wisata campig baru di desa mangunan,dlingo,bantul, namanya Tebing Watu Mabur lokasi timut kebuan bauh mangunan dan satu lokasi dengan Goagajah Mangunan,

Lokasi masih alami dan tebing,kabut tebal dan sunraise yg indah serta akses mudah transpotasi sampai lokasi,menjadi ungulan tempat ini.

Monggo boking tempat, lokasi kapasitas 50 tenda.bawa perlengkapan sdiri atau di siapkan bisa.

Jadwal boking bulan agustus.
1. Tgl 1 agustus 4 tenda dari komunitas pecinta alam
2. Tgl 16-17 agustus 2 tenda dari lomunitas pcinta alam wonosari






 
 

TERONG JUARA 2 HASIL FESTIVAL UPACARA ADAT 2015 SE-KAB. BANTUL

Dlingo : disbudpar.bantulkab: 17 Grup mewakili 17 kecamatan se Kabupaten Bantul tampil pada Festival Upacara Adat Tahunn 2015 yang digelar selama 3 hari. 
 
Hari pertama Senin, 8 Juni 2015 dilaksanakan di Lapangan Desa Tamantirto, kasihan menampilkan 6 grup dari Kecamatan Kasihan ( Merti Desa Ngrame ), Sedayu ( Upacara Wiwitan ), Srandakan ( Bodo Mangiran ), Pandak ( Nyadran Makam Sewu ), Sanden ( Merti Dusun dumadine Padusunan Patihan ), dan Pajangan ( Merti Dusun Krebet ). 
 
Hari kedua Selasa, 9 Juni 2015 dilaksanakan di Lapangan Desa Mulyodadi Bambanglipuro menampilkan 6 grup dari Kecamatan Bantul ( Tingkepan ), Sewon ( Merti Dusun dumadine Sewon ), Bambanglipuro ( Upacara Ngijing ), Pundong ( Merti Bumi Tuk Suracala ), Dlingo (Merti Dusun Terong ), dan Jetis ( Upacara Wiwitan ). Hari ketiga Rabu, 10 Juni 2015 dilaksanakan di Halaman Balai Desa Pleret menampilkan 5 grup dari Kecamatan Piyungan ( Kupatan Jolosutro ), Pleret ( Upacara Supitan ), Banguntapan ( Nampi Dhawuh Ngunduh Nguras Sendang Selirang ), Kretek ( Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri ), dan Imogiri ( Ngarak Siwur-Nguras Enceh ).

Setelah melalui penilaian tampilan, komunikatif, dan harmoni Dewan Juri yang terdiri dari RM. Doni Surya Megananda, S Si,MM, Dr. Sumaryono, Drs. Gandung Jatmiko, M Pd, Drs. Bugiswanto, dan Ki Juwaraya memutuskan hasil sebagai berikut :

PENYAJI TERBAIK I : KECAMATAN SRANDAKAN NILAI 450

PENYAJI TERBAIK II : KECAMATAN DLINGO NILAI 425

PENYAJI TERBAIK III : KECAMATAN PUNDONG NILAI 420

PENYAJI TERBAIK IV : KECAMATAN KRETEK NILAI 415

PENYAJI TERBAIK V : KECAMATAN PIYUNGAN NILAI 412

PENYAJI TERBAIK VI : KECAMATAN PLERET NILAI 410

PENULIS NASKAH TERBAIK : KECAMATAN BANTUL( TINGKEBAN )

SUTRADARA TERBAIK : KECAMATAN KRETEK

PENATA IRINGAN TERBAIK : KECAMATAN SRANDAKAN

PENATA KOSTUM TERBAIK : KECAMATAN PUNDONG

Desa Terong, Desa Peduli Perubahan Ikim

Dlingo : mongabay.co.id: Dampak perubahan iklim telah dirasakan oleh semua orang di dunia, tidak terkecuali masyarakat Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dampak tersebut baik langsung maupun tidak langsung mengganggu kehidupan masyarakat. Seperti waktu penanaman lahan pertanian tidak bisa dipastikan, kondisi suhu udara tidak menentu ini dirasakan langsung oleh masyarakat.

Oleh karena itu, masyarakat Desa Terong secara sadar berusaha untuk berpartisipasi menangani dampak dan mengurangi terjadinya perubahan iklim. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk mendeklarasikan diri sebagai desa peduli perubahan iklim.



Hutan rakyat lestari akan memberikan keuntungan secara ekonomis dan ekologis bagi masyarakat.

“Desa Terong diharapkan mampu menjadi bagian dunia untuk berkontribusi dalam pengurangan dampak pemanasan global dengan potensi hutan rakyat yang dimiliki dan perilaku masyarakatnya,” kata Lurah Desa Terong ,Welasiman dalam acara peluncuran desa peduli lingkungan dan dan peluncuran koperasi Kelompok Tani Tunda Tebang “Jasema” di Desa Terong, Bantul, Yogyakarta.

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Bantul Sumarno, Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas, Endah Murniningtyas yang juga merangkap Ketua Majelis Wali Amanat ICCTF dan Direktur Arupa, Dwi Nugroho.

Ia menambahkan, para pemilik hutan rakyat di Desa Terong sudah paham hutan berfungsi ekonomis, dan ekologis, khususnya sebagai penyerap karbon, sehingga mampu mengurangi dampak pemanasan global. Pengetahuan tersebut sangat penting, sebagai mitigasi perubahan iklim berbasis lahan.

Dari merasakan dampak perubahan iklim, masyarakat Desa Terong belajar tentang pemanasan global dan perubahan iklim, dimana hutan mampu menyerap karbon. Kegiatan menanam, pembuatan pupuk organik, serta pembentukan koperasi Hutan Tunda Tebang dibawah organisasi Kelompok Tani Hutan Tunda Tebang “Jasema” merupakan langkah nyata mengurangi dampak perubahan iklim.

Kelompok Tani Hutan Tunda Tebang “Jasema” memiliki modal Rp78 juta yang berasal dari tabungan masyarakat yang diharapkan mampu menahan penebangan pohon yang belum layak tebang. Penebangan pohon yang tidak layak tebang cukup tinggi di Desa terong, penebangan harus diminimalisir atau ditekan sekecil mungkin karena merugikan petani secara ekonomi, juga fungsi atau hutan sebagai penyerap dan penyimpan karbon akan hilang.

Pembentukan koperasi KTH Tunda Tebang Jasema mampu meningkatkan ekonomi masyarakat melalui nilai kayu yang cukup tinggi karena pohon yang ditebang sudah masak dan fungsi pohon sebagai penyerap dan penyimpan karbon tetap terjaga.

“Kami berkomitmen agar hutan rakyat kami menyerap karbon sebanyak-banyaknya dan menyimpang selama-lamanya,” kata Welasiman.



Penandatanganan prasasti Desa Terong sebagai Desa Peduli Iklim oleh Wakil Bupati Bantul dan Bappenas di Balai Desa Terong, Selasa, 11 November 2014. Foto : Tommy Apriando

Selain itu, komitmen dalam menyerap karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim, Desa Terong membuat draf tata ruang desa, yang lebih memperhatikan keberadaan hutan.

Masyarakat Desa Terong telah mengetahui bagaimana menghitung karbon hutan rakyat, pengukuran, memasukkan data dan analisis data. Kegiatan pengukuran karbon dilakukan sejak tahun 2010 dengan 180 plot sample permanen, dan di monitoring setiap 2 tahun sekali. Hasilnya cadangan karbon hutan rakyat terus meningkat dari tahun ketahun.

“Kami berharap Pemerintah Bantul dan Bappenas terus mendukung kegiatan masyarakat.Hari ini juga Desa Terong mendeklarasikan sebagai desa peduli iklim. Deklarasi ini bukan akhir, namun langkah awal agar masyarakat Desa Terong bisa berkontribusi dalam penanggulangan perubahan iklim kedepannya,” tutup Welasiman.

Sementara itu, Direktur LSM Arupa, Dwi Nugroho mengatakan setahun ke depan dirinya bakal menagih komitmen hijau dari lurah dan masyarakat Desa Terong Lima tahun lagi Desa Terong harus masih hijau dan setiap dua tahun sekali ada penghitungan karbon di hutan rakyat.

Selama Arupa bekerja bersama Kelompok Tani Hutan Kasema, saat ini ada 27 pengurus KTH Jasema mampu menjadi pelatih menghitung karbon. Inisiatif deklarasi ini muncul dari masyarakat dan pemerintah desa. Permasalahan awal di Desa Terong yakni banyak masyarakat menebang pohon karena butuh biaya, namun pohon tersebut belum layak tebang.

Sehingga hadirnya Koperasi Tunda Tebang Jasema dengan anggota 554 Kepala Keluarga diharapkan bisa membantu masyarakat bukan memberatkan. Jaminan anggota koperasi meminjam uang yaitu pohon/kayu. Bunga koperasi sangat rendah. Sehingga dukungan masyarakat sangat dibutuhkan.

Koperasi berwawasan lingkungan ini berkomitmen memberikan pinjaman tunda tebang bagi petani hutan rakyat yang mengalami masalah ekonomi. Saat itu, Koperasi yang beranggotakan 554 orang ini telah mampu mengumpulkan modal sebesar Rp77.560.000. Hadirnya koperasi ini, diharapkan mampu menahan penebangan pohon 31,3 m3 atau setara dengan 9,58 ton karbon. Pada tahun 2021 KTT Jasema diperkirakan mampu menahan penebangan pohon 456,4 m3 atau setara dengan 140,22 ton karbon.

Penelitian Arupa tiga bulan lalu, di Desa Terong pemenuhan kebutuhan dari menebang kayu, sekitar Rp2,7 Juta/KK/Tahun. Penelitian ini dikelompok KTH Jasema, sehingga jika dikalikan nilai kayu yang ditebang sebesar Rp1,5 miliyar/tahun. “Kondisi ini semakin memprihatinkan karena, sebagian besar pohon yang ditebang belum layak tebang dan masih berada pada usia produktif,” kata Dwi Nugroho.

Desa Terong, yang mempunyai komitmen besar dalam aksi mitigasi perubahan iklim berupaya optimalisasi hutan rakyat dalam mitigasi perubahan iklim. Pemerintah Desa Terong, Kolompok Tani Hutan (KTH) Jasema, dan ARuPA bekerja sama dengan ICCTF (Indonesia Climate Change Trus Fund) telah melaksanakan program Peningkatan Serapan Karbon pada Hutan Rakyat Terong.



Potongan batang kayu yang layak tebang akan memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat dan lingkungan.

Program ini diturunkan dalam beberapa kegiatan, seperti penanaman 6000 bibit pohon, pembagian pupuk organik, perhitungan proyeksi cadangan karbon pada hutan rakyat, Pembentukan Koperasi Tunda Tebang (KTT) Jasema, Penyusunan rencana tata kelola hutan rakyat, dan penyusunan rencana tata ruang wilayah desa Terong.

Output dari program ini membuahkan hasil yang positif. Desa yang mempunyai luas hutan rakyat 648 hektar (378 pekarangan dan 270 hektar tegalan ini, mampu menyimpan cadangan karbon sebesar 49,87 ton per hektar di tegalan dan 78,97 ton per hektar di pekarangan. Potensi besar ini perlu diimbangi dengan upaya mengurangi tindakan tebang tubuh yang membudaya.

Aksi mitigasi perubahan iklim yang dilakukan Desa Terong merupakan aksi positif bisa menjadi role model bagi desa-desa lain di Kabupaten Bantul. Untuk itu ICCTF bersama ARuPA, Perangkat Desa Terong, dan KTH JASEMA bermaksud melakukan pencanangan desa Terong sebagai Desa Peduli Iklim.

“Fokus utama dari kegiatan ini adalah penandatanganan prasasti Terong sebagai Desa Peduli Iklim dan Penyerahan badan hukum Koperasi Tunda Tebang (KTT) JASEMA,” kata Dwi Nugroho.

Wakil Bupati Bantul Sumarno mengapresiasi deklarasi desa peduli iklim. Pemanasan global menjadi fakta tidak terbantahkan baik ditingkat global dan lokal. Peningkatan pemanasan bumi menimbulkan dampak nyata yakni perubahan iklim. Perubahan iklim berdampak pada perubahan ekologis yang besar bagi bumi. Iklim yang semakin panas mempengaruhi ketersediaan air dan meningkatkan kondisi cuasa ekstrim seperti badai dan kekeringan. Banyak petani yang merasakannya, seperti sulit memperkirakan waktu tanam. Permasalahan ini harus ditangani serius oleh semua pihak. Ini tanggung jawab kita bersama.

“Penebangan pohon merajalela, mengubah fungsi hutan menjadi lahan pemukiman, industri dan insfratruktur lainnya harus dibatasi secara hukum,” kata Sumarno.

Ia menambahkan, hutan menjadi bagian penting bagi masyarakat yang hidup disekitarnya. Hutan bukan hanya sebagai habitat hewan dan tumbuhan tapi juga tumpuan hidup masyarakat. Hutan menjadi unsur vital bagi kesejahteraan masyarakat. Hutan menyediakan berbagai sumber daya untuk kepentingan manusia dan manusia berperan sebagai subyek pengelola.

“Kami mengapresiasi Desa terong atas inisiatifnya mendeklarasikan sebagai desa peduli iklim. Semoga deklarasi ini bukan seremonial saja, namun komitmen pengelolaan hutan rakyat lestari yang nantinya berkontribusi dalam penurunan gas rumah kaca terus dilakukan,” katanya.

Dalam hal ini masyarakat dapat menentukan strategi pengelolan hutan yang strategis untuk diterapkan di wilayahnya, sesuai kemampuan biofisik lahan dan nilai sosial budaya setempat. Metode partisipatif diharapkan pengambilan kebijakan hutan mampu mengakomodir kepentingan masyarakat lokal untuk diutamakan.

“Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan semakin menegaskan arah pembangunan hutan secara ideal dan tepat dengan dukungan pengalaman teknis masyarakat dilapangan. Ini menjadi investasi jangka panjang mewujudkan kesetaraan hak dan keadilan,” tambahnya.

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas dan juga Ketua Majelis Wali Amanat ICCTF, Endah Murniningtyas mengatakan melalui mekanisme menunda penebangan dan penjualan alasannya untuk menaikan harga karena usia pohon yang belum cukup berimbas pada harga kayu murah. Selain itu, pemerintah pun tidak bisa berbuat banyak jika masyarakat tidak berkomitmen melakukan penundaan tebang dan membentuk desa peduli iklim. Ke depan hal-hal yang memiliki proses alami memiliki nilai jual yang lebih mahal seperti pupuk organik, bahan berwarna alami dan makanan organik.

“Hutan bukan berfungsi kayunya saja, apalagi untuk daerah kering, jika dijaga secara baik maka longdor tidak ada, bisa menahan dan menyeraoair. Banyak di tempat lain, masyarakat menjual hasil bumi tergesa-gesa dan merugikan kita sendiri,” kata Endah.

Dia berpikir masyarakat hutan rakyat Desa Terong bisa menanam kayu-kayu berdaya jual tinggi, seperti pohon Gaharu. Saya melihat dua tahun lagi Desa Terong berpotensi menjadi Desa Wisata dan budaya. Hutan lestari akan menjadi daya tarik wisata, karena negara maju sudah tidak punya hutan.

“Pak Presiden juga berkomitmen bahwa hutan masyarakat akan terus dilestarikan dan didukung. Dan Desa Terong beberap langkah lebih maju”, tambahnya.

Jalur Banyusoca – Dlingo Membantu Aktivitas Warga

Dlingo : kabarhandayani: Jalur yang menghubungkan antara Kecamatan Playen Gunungkidul dengan Kecamatan Dlingo Bantul digunakan sebagian besar masyarakat Desa Banyusoca dan sekitarnya untuk berpergian menuju kota Yogyakarta. Hal ini dilakukan oleh para pekerja buruh bangunan maupun pedagang yang ada di Desa Banyusoca.

Salah satu warga Banyusoca, Mardiono (52) mengaku, setiap pagi menggunakan jalur tersebut untuk berangkat kerja. Menurutnya jika harus berangkat melalui jalur Playen-Dlingo terlalu jauh dan membutuhkan tambahan pengeluaran untuk membeli bbm.

“Meski beberapa jalur masih berupa cor blok namun jalur ini sangat membantu warga untuk beraktivitas,” katanya

Dari pantauan KH, jalur tersebut sedikit rawan jika dilewati saat malam hari. Minimnya penerangan dan jalur cor blok yang licin ketika musim hujan membuat pengendara harus ekstra berhati-hati.

Sementara itu Sutiyono selaku Kades Banyusoca ikut menyoroti keberadaan jalur tersebut. Menurutnya jalur tersebut selain bermanfaat untuk warga yang bepergian ke Yogyakarta juga bisa bermanfaat bagi kemajuan pariwisata di Kecamatan Playen.

“Harapannya jalur tersebut bisa dibuka menjadi jalan raya penghubung antar Kabupaten dan bisa memberikan dampak positif bagi warga maupun perkembangan pariwisata di Gunungkidul,” jelasnya.

Pihak Desa Banyusoca lanjut dia, bersedia untuk ikut berperan serta dalam pembangunan jalan antar kabupaten tersebut. “Telah dilakukan survei lapangan baik dari Bapeda kabupaten Gunungkidul maupun Kabupaten Bantul"

GIAT GEBYAR PAUD DI DLINGO

 
Dlingo - HumasPolresbantul: Bertempat di Balai Desa Mangunan dilaksanakan acara bertajuk Gebyar PAUD se-Kecamatan Dlingo yang diselenggarakan oleh HIMPAUDI Kecamatan Dlingo bekerjasama dengan PASCOLA.

Kegiatan ini diikuti sekitar 960 anak peserta didik PAUD, acara pokok yaitu lomba menggambar/mewarnai yang menyediakan 6 trophi dan uang pembinaan bagi peserta terbaik. Mewakili Kepala Dinas Dikmenof Mulyono, SPd selaku Kepala Seksi Seksi Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya kepada anak didik PAUD di Dlingo yang dengan antusias mengikuti kegiatan ini dan harapannya mereka bisa menjadi generasi penerus yang dapat diandalkan.
 
Dalam sambutannya Camat Dlingo Drs.Susanto menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan acara yang meriah diikuti banyak anak peserta didik dan mudah-mudahan kata beliau menjadi ajang bagi anak untuk mengekpresikan kemampuannya sebagai sumberdaya manusia yang cerdas, berakhlak mulia dan berkepribadian Indonesia sesuai visi pendidikan Kabupaten Bantul, dan ke depan mereka benar bisa menggantikan generasi pendahulu dengan menjadi manusia yang berguna bagi sesama.
 
Harapan beliau kegiatan serupa bisa dilaksanakan secara rutin dalam rangka memberikan ruang bagi anak untuk “berpesta” sebagai anak yang sehat, cerdas dan ceria. Untuk menjaga ketertiban dan keamanan selama berlangsungnya giat Gebyar Paud personil Polsek Dlingo dipimpin oleh Kasi Humas Polsek Dlingo Aiptu Supriyanta melakukan pengamanan hingga acara selesai situasi aman tertib.

PELAKSANAAN PASAR RAKYAT LEBARAN 2014 DI BALAI DESA MUNTUK

Dlingo : http://kec-dlingo.bantulkab.go.id : Sebagaimana ditentukan sebelumnya dalam rapat koordinasi pada Tanggal 8 Juli 2014 yang lalu, membahas persiapan kegiatan Pasar Rakyat Dalam rangka menyongsong Hari Raya Fitri 1435 H sekaligus memeriahkan Harijadi Ke-183 Kabupaten Bantul, hari ini Selasa Tanggal 22 Juli 2014 Pasar Rakyat di Balai Desa Muntuk dibuka oleh Dr.Drs.Suyoto HS, MSi, MMA selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bantul mewakili Bupati Bantul. Acara pembukaan pasar rakyat ini dihadiri oleh Drs.Sulistiyanto, MPd selaku Kepala Dinas Perindagkop Kabupaten Bantul beserta jajarannya, yang mewakili Kabag Protokol, yang mewakili Dandim Bantul, muspika Kecamatan Dlingo, lurah desa se-Kecamatan Dlingo, dan pimpinan lembaga kemasyarakatan desa Muntuk dan tokoh masyarakat serta warga masyarakat.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan antara lain bahwa masyarakat harus siap bersaing dalam berbagai bidang untuk menyongsong pasar bebas ASEAN Tahun 2015, sehingga peluang tidak hilang diambil oleh orang asing. Potensi perekonomian harus dimanfaatkan dan dikelola masyarakat kita.
Sebelum sambutan bupati, Tri Murdianani, SE, MM selaku Kepala Bidang Koperasi dan UKM Disperindagkop Kabupaten Bantul menyampaikan laporannya perihal penyelenggaraan pasar rakyat ini.

Pasar rakyat yang digelar di Balai Desa Muntuk ini bertujuan untuk memaparkan potensi dan hasil karya lokal masyarakat setempat sehingga produknya dikenal dan dibeli oleh pengunjung dan juga sekaligus memberikan bantuan subsidi sembako bagi masyarakat yang membutuhkan terutama menghadapi lebaran ini tentunya diharapkan subsidi tersebut bisa dirasakan manfaatnya.

Sebanyak 20 UKM yang berperanserta untuk mengikuti kegiatan ini meliputi berbagai penghasil produk kerajinan dan olahan pangan dan produk lainnya diharapkan bisa memperoleh manfaat dengan adanya kegiatan pasar rakyat ini. Adapun masyarakat yang menerima sembako bersubsidi ketika ditanya menyampaikan jawabannya bahwa paket sembako bersubsidi ini dirasakan manfaatnya oleh mereka dan sangat membantu di tengah banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi sementara dana yang dimiliki amat terbatas.

Masyarakat antusias mengunjungi pasar rakyat dan membeli komoditas yang merupakan kebutuhan lebaran, pakaian termasuk yang diserbu masyarakat.

Kebun Buah yang Tak Tentu Berbuah (Kebun Buah Mangunan Dlingo)

Dlingo : Harianjogja.com: Kebun Buah yang berlokasi di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo belum setiap waktu berbuah. Akibatnya, banyak pengunjung kecele lantaran berkunjung ke lokasi kebun buah namun bukan musimnya tanaman berbuah.

“Bayangan saya datang ke sini pulangnya bisa belanja buah. Tapi ternyata belum musim buah,” ujar Nurmala seorang dari rombongan pengunjung kebun buah Mangunan dari Jateng pada liburan.

Tanaman buah seperti alpukat, jeruk, durian, jambu dan jenis lain yang cukup mengundang minat khusus pengunjung saat ini belum berbuah. Akibatnya, pengunjung pun tidak bisa menikmati buah dan hanya menikmati pesona puncak pegunungan Mangunan dari sejumlah titik lokasi gardu pandang.

“Pesona alamnya cukup bagus sebagai tempat wisata alternatif. Hanya koleksi tanaman buahnya perlu lebih beragam lagi dan harus selalu berbuah,” tambah Agus pengunjung lain saat ditemui terpisah.

Lokasi kebun buah Mangunan akhir-akhir ini mengundang perhatian pengunjung yang berwisata ke Bantul dan Jogja. Pesona alam yang cukup asri dan perbukitan ini menjadi salah satu daya tarik kebun buah yang berada di atas perbukitan sehingga dapat menyaksikan keindahan alam sekitar dari ketinggian tertentu.Kebun buah yang dirintis Dinas Pertanian dan Kehutanan (Disperhut) Bantul ini menyajikan fasilitas tambahan bagi pengunjung seperti home stay untuk penginapan, gardu pandang, pendapa, penangkaran rusa, tempat pemancingan, bumi perkemahan hingga kolam renang.

Tempat ini menjadi alternatif bagi pengunjung pariwisata Bantul yang selama ini cenderung hanya mengenal Pantai Parangtritis dan pantai lainnya.

Jatimulyo Dlingo Angkat Wisata Sejarah Walisongo

Dlingo : Harjo: Desa Ujung Timur Kabupaten Bantul, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo sebentar lagi akan memiliki tempat wisata sejarah. Terdapat tiga tempat peninggalan wali Sunan Kalijaga yang potensi untuk dikembangkan. Selain sebagai sentra mebel terbesar di Bantul, Kecamatan Dlingo dengan 40% warga sebagai pengusaha mebel ini merupakan tempat sejarah penting. Sebab desa tersebut pernah ditempati wali songo Sunan Kalijaga dan sahabatnya Sunan Geseng dalam misi penyebaran ajaran Islam di Jawa.

Ada tiga tempat bersejarah yang menjadi bukti kuat rekam jejak tokoh penyebar ajaran Islam itu pernah tinggal desa yang terletak di perbukitan di Dlingo yakni petilasan Watu Gateng, Sendang Banyu Penguripan dan Pohon Jati Kluwih. Ketiganya menguatkan menjadi tempat sejarah yang patut dilestarikan sebagai pelengkap ragam kebudayaan di Jogja.

Kades Jatimulyo Paimo Sastro Wiharjo mengatakan, tiga tempat bersejarah di desanya kini mulai digagas untuk dijadikan sebagai tempat alternatif wisata sejarah. Meski ada kendala sumber keuangan untuk mendukung program tersebut, upaya mewujudkan rencana itu sudah mulai berjalan dari sekarang. Salah satunya, melacak lebih detail kiprah walisongo di desa Jatimulyo dari cerita rakyat dan berbagai sumber informasi. “Kami tengah berupaya melengkapi data detail dari sumber kajian pustaka dan berbagai sumber lainnya,” ujarnya.

Dari penelusuran yang dilakukan warga, sementara diperoleh tempat bernama Watu Gateng peninggalan walisongo. Di lokasi ini ada batu yang meninggalkan jejak tangan Sunan Kalijaga dan Sunan Geseng. Menurut cerita yang diyakini warga secara turun temurun, Batu Gateng diperdebatkan kedua sunan untuk memastikan batu atau nasi.

Adapun Sendang Banyu Penguripan yang juga menjadi nama Dusun Banyu Urip diyakini menjadi tempat mandi walisongo. Sendang yang mata airnya sampai saat ini tidak pernah kering masih dimanfaatkan warga setempat untuk kehidupan. Pada hari-hari tertentu seperti malam satu Sura, malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon menjadi tempat tirakat.

Keunikan tempat sejarah juga didapatkan di dusun Loputih adanya pohon berusia tua yang dinamakan pohon jatikluwih. Pohon jati namun berdaun kluwih. Tepat di sebelahnya dibangun musala An Nur Sunan Kalijaga.

Objek Sejarah yang Belum Tersentuh Pengelolaan

Dlingo: koran-sindo : Gunung Pasar, kini menjadi objek bersejarah yang belum mendapatkan sentuhan sama sekali oleh Pemkab Bantul. Padahal petilasan yang ada di dusun koripan Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo ini diyakini warga sekitar sebagai cikal bakal terbentuknya Kerajaan Mataram.

Di petilasan ini nampak se - jumlah kuburan tua yang se be - narnya bukan makam. Dulunya, petilasan itu hanya berupa beberapa batu besar mirip nisan kuburan di bawah pohon besar yang belum diketahui nama dan jenisnya tersebut. Petilasan di Dusun Koripan, Desa Dlingo yang banyak dipercaya membawa berkah tersebut ramai dikunjungi di waktu-waktu tertentu. Sebelum hajatan Pemilu Legislatif (Pileg) 2014, puluhan orang calon legislatif (caleg) berburu berkah di tempat tersebut.
 
Warga setempat mengatakan, petilasan tersebut memang sering didatangi oleh orang-orang yang ingin sukses. Mereka yang punya keinginan tersebut biasanya menebar bunga dan memanjatkan doa. Tak lupa, mereka membagi-bagi sedekah kepada warga sekitar yang sengaja berkumpul setiap ada tamu. “Karena itu dinamakan Gunung Pasar, karena kalau ada tamu pasti bagi-bagi uang. Jadi setiap ada tamu, pasti banyak warga yang ke sini (petilasan),” katanya.
 
Karena di sinilah tempat bertemunya Ki Ageng Giring di saat mengejar Ki Ageng Pemanahan pascameminum kelapa muda dengan lambang wahyu keprabon Kerajaan Mataram. Ki Ageng Pemanahan bersama putranya Suto Wijoyo dan Ki Penjawi bahu-membahu melaksanakan tugas tersebut dan atas jasanya diberi tanah Merdikan Alas Mentaok.

Di saat akan membuka Alas Mentaok diberi nasihat Sunan Kalijogo bahwa wahyu keprabon Jawa berada di daerah Sodo Giring. Barang siapa yang bisa meminum kelapa muda sekali teguk (sakdegan)dari pohon kelapa gading yang tingginya digambarkan, apabila seekor burung gagak hinggap di pohon itu, akan terlihat kecil, mirip burung semprit, sehingga disebut pohon kelapa gading gagak emprit.

“Ki Ageng Giring sudah mendapat kelapa muda tersebut. Namun karena belum haus, tidak mungkin dia mampu meminum air kelapa muda tersebut sakdegan (sekali tenggak). Untuk itu, dia pergi ke ladang bekerja dahulu. Nanti setelah haus, dia akan dapat menghabiskan air degan tersebut,” Di saat Ki Ageng Giring tidak berada di rumah, hadirlah Ki Pemanahan.

Di rumah itu, Ki Pemanahan meminum kelapa muda tersebut. Dengan bergegas, Ki Ageng Giring menyusul Ki Ageng Pemanahan yang telah kembali ke Alas Mentaok. Di sisi puncak gunung yang terletak di Dusun Koripan, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Ki Ageng Giring mampu menyusul Ki Ageng Pemanahan.

“Ki Ageng Giring berembuk untuk kamulyaning anak turunan mereka. Sehingga terjadilah tawar-menawar kekuasaan, layaknya di pasar. Puncak gunung itu sekarang dikenal dengan Gunung Pasar, karena alkisah dahulu kala, setiap pagi hari di gunung itu selalu terdengar suara gemuruh bagai pasar. Namun setelah di dekati, tidak ada apa pun.

Wagub DIY Hadiri Bersih Dudun Dodogan, Jatimulyo, Dlingo Bantul

Dlingo : portal.jogjaprov.go.id : Kegiatan Bersih Dusun merupakan isyarat, betapa masih kokoh dan lestarinya budaya adat kejawen dalam tata kehidupan masyarakat Dayakan, Dodokan, Dlingo Bantul di tengah arus modernisasi dan globalisasi budaya asing yang masuk dan mempengaruhi tata budaya tradisional kita saat ini, demikian diungkapkan Wakil Gubernur DIY, Paku Alam IX saat menghadiri upacara Bersih Desa/ Rasulan di Dayakan, Dodokan, Karang Tengah, Dlingo Kabupaten Bantul, tadi pagi Rabu.
Dalam kesempatan tersebut Wagub mengemukakan pula bahwa, kegiatan adat Bersih Dusun hendaknya jangan dilihat dari sisi sakralnya dan kemeriahannya saja, namun seyogyanya juga mengupayakan bagaimana agar adat upacara ini bisa dikemas dan dijadikan sebagai paket wisata yang bermanfaat bagi pembangunan dan kemajuan masyarakat. 
Sementara itu Sutardi selaku Ketua Panitia Rasulan/Bersih Dusun 3 pedusunan Dodokan Karangtengah mengungkapkan bahwa, tradisi Bersih Dusun yang merupakan budaya nenek moyang yang dilestarikan sejak dahulu kala merupakan kegiatan yang turut mendukung keistimewaan DIY dengan berkiblat pada budaya Kraton Yogyakarta. 
Acara upacara Bersih Dusun yang dilaksanakan dengan meriah yang dihadiri oleh warga masyakarat sekitar 2549 jiwa yang terdiri dari 450 KK. Disamping itu juga dari berbagai elemen masyarakat terjun langsung mensuport kegiatan yang ada, bahkan paguyuban penduduk Dodogan yang ada di Jakartapun menyempatkan diri untuk hadir dalam kesempatan itu. Dengan diselenggarakannya kegiatan ini menurut Sutardi diharapkan dapat terwujud masyarakat yang tata titi tentrem

DPRD Bantul Usulkan Jembatan Gantung Sungai Oyo Dlingo

Dlingo : Harjo: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengusulkan pembangunan jembatan gantung di atas Sungai Oyo yang melintas di wilayah Kebosungu, Desa Dlingo sebagai akses warga untuk menyeberangi sungai itu.

“Kami pernah melakukan survei di lokasi, dan memang jembatan gantung sangat mendesak untuk direalisasikan, makanya kami usulkan ke pemerintah pusat,” kata Anggota Komisi C DPRD Bantul, Aslam Ridho.
Menurut dia, dalam survei pihaknya melihat langsung bagaimana mayoritas warga Kebosungu Desa Dlingo mempertaruhkan nyawa dengan menyeberang Sungai Oyo demi dapat menggarap lahan pertanian mereka yang berada di seberang sungai.

Oleh sebab itu, kata dia, pihaknya mengusulkan pembangunan jembatan gantung melalui program padat karya Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans), yang kemudian telah ditindaklanjuti dengan survei lapangan sekitar sebulan lalu.

“Positif sudah diakomodir pada APBN 2014. Kalau tidak ada perubahan program tersebut akan dilaksanakan pada bulan Mei atau Juni tahun depan,” katanya.

Menurut dia, sambil menunggu proses realisasi pembangunan, saat ini warga di wilayah Kebosungu membangun jalan cor blok menuju calon jembatan gantung tersebut, saat ini proses pembangunan dan pelebaran jalan telah mencapai 70%.

“Hampir seluruh lahan warga Kebosungu di seberang sungai, kalau yang Kebosungu II ada sebagian, karena itu kami apreisasi rencana pembangunan jembatan gantung tersebut. jika jembatan gantung direalisasikan maka warga setempat akan memiliki jembatan gantung yang menghubungkan tempat tinggal mereka dengan Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Tradisi Rasulan Dusun Dodogan Dlingo Dinginkan Suhu Politik di Bantul

Dlingo: Harjo: Setelah masyarakat terlibat hiruk pikuk pemilu dan masih menunggu hasil perhitungan suara, sejumlah pemuda di Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo mulai disibukkan dengan kegiatan persiapan menggelar tradisi rasulan atau bersih desa. Rencananya rasulan akan dirayakan secara serentak masyarakat Rabu (15/4/2014) mendatang.

Aktivis Pemuda Dodogan, Desa Jatimulyo Agung mengatakan, persiapan rasulan sudah dilakukan sejak dini agar tidak mengurangi kemeriahan kegiatan tradisi yang setiap tahun dirayakan.

“Kami mulai dengan kegiatan persiapan bersih-bersih kampung melibatkan para pemuda untuk menjaga kekompakan kembali setelah pemilu berlangsung sukses,” katanya, Jumat (11/4).

Persiapan rasulan dengan menggelar kerja bhakti pemuda ini dilakukan untuk sekeliling kampung. Dari kegiatan memasang umbul-umbul, membersihkan sepanjang jalan, hingga pengecatan tempat stategis untuk tujuan menambah kemeriahan upacaya tradisi sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan nanti.

“Sekaligus ini menjadi ajang mempererat persatuan lagi antar pemuda setelah kemarin sukses menyambut demokrasi sukses,” tambah Agung.

Menurut dia, kegiatan kampung seperti kerja bhakti menjadi sarana paling efektif merekatkan kembali persatuan dan kekompakan pada diri pemuda setelah pesta demokrasi berlaku.

Biasanya pemilu berdampak buruk bisa mengkotak-kotakan kelompok pemuda karena pilihan parpol dan caleg.