Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Gagal Panen di Dlingo

Dlingo : radarjogja.co.id: Kekhawatiran Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) akan dampak buruk panjangnya musim kemarau menjadi kenyataan. Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) mencatat sudah ada empat hektare tanaman padi yang dipatikan gagal panen akibat kekeringan. “Lokasinya di Munthuk (Dlingo),” terang Kepala BKP3 Bantul Pulung Haryadi di ruang kerjanya, kemarin (28/10).

Pulung menjelaskan, ada tiga tanaman yang menjadi perhatian khusus BKP3. Yakni, padi, jagung, dan kedelai. Saking perhatiannya, BKP3 sampai menargetkan luas tanaman ketiga jenis tanaman tersebut. Luas tanaman padi, misalnya, tahun ini ditargetkan mencapai 29.658 hektare. Adapun tanaman jagung, serta tanaman kedelai seluas 3.978 hektare dan 2.300 hektare.

Menurut Pulung, target luas tanaman tercapai. Hanya saja, capaian produksi ketiga tanaman ini tergantung sejumlah faktor. Salah satunya, perubahan musim. “Dan untuk target produksi baru bisa kita lihat pada akhir tahun,” ujarnya.

Sebetulnya, BKP3 , Dispertahut dan Dinas Sumber Daya Air sudah bersepakat akan pola tanam. Ketiga instansi ini juga telah mensosialisasikan pola tanam kepada para petani. Ini dilakukan untuk menghindari gagal panen akibat panjangnya musim kemarau. Sebab, tak seluruh wilayah di Bantul dapat ditanami padi sepanjang musim tanam.“Yang bisa terus padi di antaranya Pandak, Sewon, Bantul dan Bambanglipuro,” paparnya. Kepala Dispertahut Bantul Partogi Dame Pakpahan mengatakan, panjangnya musim kemarau tahun ini berdampak serius bagi sektor pertanian. Tak sedikit area pertanian yang akan mengalami kekeringan. Dampaknya, beragam tanaman pun dikhawatirkan akan gagal panen. “Oktober kami ketir-ketir kalau belum ada hujan,” ucapnya

Dispertanhut Bantul Upayakan Tanaman Berbuah Sepanjang Tahun di mangunan Dlingo

Dlingo : Harianjogja.com: Dinas Pertanian dan Kehutanan (Disperhut) Kabupaten Bantul masih mengupayakan agar tanaman buah di Kebun Buah Mangunan bisa berbuah sepanjang tahun.

Kepala Dispertanhut Bantul Partogi Dame Pakpahan mengakui kebun buah belum bisa menyajikan tanaman yang berbuah tiap waktu sehingga dapat memanjakan pengunjung untuk menikmati buah-buahan. Tanaman buah masih mengandalkan musim sehingga hanya pengunjung pada bulan-bulan tertentu yang bisa memetik sendiri buah yang tersedia.

Menurut Partogi, persoalan tersebut tengah diupayakan pemkab untuk dapat mendapatkan teknologi pertanian agar tanaman buah dapat berbuah sepanjang waktu. “Itu sedang kami carikan solusinya untuk mendapatkan rekayasa genetik,” ujarnya, baru-baru ini.

Saat ini Dispertanhut menggandeng ahli hortikultura untuk mengupayakan tanaman berbuah sepanjang waktu. Rekayasa teknologi baru melalui berbagai pengujian pemupukan, pengujian tanah, hingga pemilihan bibit tanaman masih didalami agar stok buah nantinya mencukupi kebutuhan pengunjung tanpa harus menunggu musim.Namun demikian Partogi mengakui kebun buah ini memiliki daya tarik lain untuk tetap mencuri perhatian pengunjung. Rata-rata pada hari biasa ada 100 pengunjung dan mencapai kisaran 500 pengunjung untuk hari libur.

Tahun ini pemkab Bantul melalui Dinas Pekerjaan Umum akan membangun perbaikan akses jalan lokasi kebun buah dari jalur masuk sampai puncak gardu pandang juga pembangunan penambahan jumlah MCK agar lebih representatif lagi.

Wiwitan, Tradisi memulai panen di Kelompok Sanggrahan II, Munthuk, Dlingo, Bantul

 
Dalam rangka mewujudkan kemajuan dan keinginan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Dusun Sanggrahan II, Munthuk, Dlingo Bantul dengan kebulatan niat dan tekad yang kuat mendirikan Kelompok Tani yang dinamakan Sido Makmur pada tahun 1996. Sido Makmur yang berarti adalah harapan kelompok tani untuk menjadi makmur tidak kekurangan pangan dalam istilah jawa Gemah Ripah Loh Jinawi. Dengan motor penggerak Ibu-ibu wanita tani kelompok ini melaksanakan Kegiatan SLPTT padi hibrida mulai tahun 2008 dengan varietas intani, SL tahun 2009 dengan varietas intani, SL tahun 2010 dengan varietas SL 8 dan pada SL tahun 2012 dengan varietas DEVGEN. 
 
Kegiatan SL di kelompok ini didahului dengan tahap pertemuan persiapan yang meliputi; Penentuan lokasi, Pemilihan peserta, Penyusunan materi dan Kontrak Belajar, dilanjutkan tahap pembekalan yang dilaksanakan 3 kali meliputi; pupuk berimbang, jarak tanam dan ekologi tanah. Selanjutnya pertemuan ke-4 sampai dengan pertemuan ke-10 yang meliputi budidaya, pengamatan harian oleh anggota SL dan analisa pengamatan, kegiatan ini ditutup dengan panen raya. Menurut anggota kelompok telah banyak perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku setelah mengikuti kegiatan SLPTT. Misalnya; pada Perencanaan lahan yang sebelum SL waktu dan pola tanam ditentukan sendiri-sendiri maka setelah SL waktu dan pola tanam berdasar keputusan kelompok bersama petugas. Pada pemilihan benih sebelum SL belum menyeleksi benih yang unggul dan berkualitas tetapi setelah SL benih diseleksi dengan mempertimbangkan kesehatan, potensi produksi, Ketahanan terhadap OPT dan perlakuan dengan PGPR. Pada pemupukan sebelum SL pemberian pupuk berdasarkan kebiasan dan mengandalkan pupuk kimia maka setelah SL pemberian pupuk berdasarkan kebutuhan tanaman dan pupuk organik sebagai andalan, dan beberapa teknologi anjuran yang berhasil diterapkan oleh kelompok ini.

Di tengah keterbatasan akses tranportasi yang cukup sulit menuju lokasi persawahan, dengan dimotori ibu-ibu kelompok wanita tani berhasil menyelenggarakan panen raya yang turut mengundang Kepala BKPP DIY, Kepala Dinas Pertanian DIY, Kepala BPTP DIY, Kepala Dispertahut Bantul, Kepala BKP3 Bantul, pejabat kecamatan dan desa setempat serta stake holder terkait. Panen raya ini dilaksanakan dengan tetap menjunjung kearifan lokal yaitu dengan tradisi mengawali panen dengan wiwitan. Pada musim tanam ini kelompok menanam padi hibrida varietas DEVGAN, dan dari hasil ubinan panen mendapat hasil provitas rata-rata kelompok mencapai 9,36 ton/Ha, hasil ini merupakan yang tertinggi daripada hasil panen di tahun-tahun sebelum.

Manusia Pembajak Sawah dari Dlingo Dusun Salam

Dlingo : (Kompas/Fergananta Indra) : Buruh tani penarik bajak dari Dusun Salam, Desa Temuwuh, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta ini tergabung dalam kelompok Desa Wisma Ngudi Rukun. Terbatasnya kemampuan ekonomi warga membeli sapi sebagai penarik bajak membuat mereka harus meminta bantuan kelompok tersebut untuk menarik bajak yang biasanya dilakukan oleh sapi. Kelompok penarik bajak ini biasanya terdiri dari 12 orang.


8.000 Ha palawija di Jatimulyo mati

Dlingo : Harian Jogja : Kekekringan di Desa Jatimulyo Dlingo, kian meluas. Sedikitnya 8.000 hektare tanaman palawija mati lantaran tak ada air. Peternak pun terpaksa membeli pakan rumput hingga ke wilayah Sleman.

Paimo, Kepala Desa Jatimulyo, Dlingo  mengungkapkan, matinya tanaman palawija tersebut mulai terjadi sejak dua bulan terakhir. Sebelumnya pada awal kemarau Juni lalu, hanya tanaman padi milik petani yang mati atau batal disemai karena air mengering. Petani lalu menggantinya dengan palawija seperti jagung, singkong dan kacang. Namun ternyata, tanaman palawija itupun tak kuat bertahan.

“Totalnya se-Jatimulyo sampai 8.000 hektare. Kalau pohon-pohon masih hijau daunnya, tapi kalau palawija mati semua,” ungkapnya.

Kekeringan terjadi di lahan tadah hujan maupun irigasi dan merata di seluruh dusun di Jatimulyo. Kalau pun ada wilayah yang masih mendapat air. kata Paimo, paling lahannya hanya seluas 10 hektare. Wilayah tersebut merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS). Di luar itu, sungai-sungai kecil sudah mengering, sementara air yang ditampung petani juga sudah habis.

“Kalau apakai irigasi airnya juga enggak bisa dialirkan, karena kondisi lahannya kan naik turun,” tuturnya. Beruntung, menurut Paimo, warga desanya kebanyakan juga bekerja di mebel. Sehingga walaupun paceklik ekonomi di bidang pertanian, sebagian masyarakat masih dapat bertahan.

Dlingo Kembangkan Tanaman Sorgum Manis

DLINGO : KRjogja.com : Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul berkomitmen mengembangkan tanaman pengganti tebu sebagai bahan baku gula melalui tanamam sorgum. Lokasi pengembangan sorgum dipusatkan di Objek Wisata Kebun Buah Mangunan Dlingo Bantul. Langkah tersebut sebuah terobosan spektakuler dalam mengembangkan wisata berorientasi pendidikan sektor pertanian. Saat ini baru dikembangkan tanaman sorgum secara massal di kawasan tersebut dengan beragam varietas meliputi sorgum manis, sorgum numbo serta sorgum lokal. Dua varietas terakhir telah dikembangkan oleh masyarakat. Namun untuk sorgum manis dalam pengembangan dan penelitian. 
Manajer Kebuh Buah Mangunan Sumadi, Selasa (15/2) mengatakan, pengembangan tanaman sorgum sebagai persiapan diberlakukannya swadaya gula oleh pemerintah pusat tahun 2014 mendatang. Adanya pengembangan tanaman sorgum sekaligus memberikan kesempatan pengunjung mengetahui pengembangan tanaman sorgum. Di kawasan itu sekarang baru dikembangkan sejumlah vareitas unggulan. Paling spektakuler tentunya sorgum manis. "Kami dari pengelola tidak semata mengembangkan objek wisata, tetapi bagaimana masyarakat bisa liburan dan belajar," kata Sumadi. Dijelasakan, pada awalnya sorgum berasal dari Filipina. Namun setelah ditangkarkan tanaman jenis itu semakin banyak. "Ini (sorgum manis-red) belum boleh keluar, semua masih dalam penelitian," ujarnya. Prinsipnya, Kebun Buah Mangunan punya komitmen bangaimana lokasi tersebut menjadi ajang pembelajaran dan pendidikan. Pertimbangan lain pengembangan sorgum ialah, memberdayakan lahan kritis dan 6mampu memberikan hasil.

Pembinaan Akses Pangan di Desa Dlingo

Dlingo : /bkppp.bantulkab.go.id/ : Beberapa waktu lalu BKPPP Bantul bertempat di Gedung pertemuan Desa Dlingo, telah mengadakan Pembinaan Akses Pangan. Pertemuan dihadiri Gapoktan Subur, pemerintah desa, pendamping kegiatan akses pangan dan PPL Wilbinsus serta 10orang Kadus dan 10 perwakilan klaster.

Akses Pangan adalah kemampuan rumah tangga untuk memperoleh cukup pangan, baik yang berasal dari produksi sendiri, pembelian, barter, hadiah, pinjaman dan bantuan pangan maupun kombinasi diantara kelimanya. Ketersediaan pangan di suatu daerah mungkin mencukupi, akan tetapi tidak semua rumah tangga memiliki akses yang memadai baik secara kuantitas maupun keragaman pangan melalui mekanisme tersebut di atas.

Dana Bansos Akses Pangan sebesar Rp 100 juta telah masuk rekening Gapoktan dengan aturan Rp 75 juta untuk pembelian bahan pangan pokok, Rp 25 juta untuk membeli cadangan pangan (gabah, beras, jagung/gaplek).

Diversifikasi Pangan Dlingo "Areal Tanam Sorghum Terus Diperluas"

Dlingo : KOMPAS.com : Untuk diversifikasi suplai pangan, Pemerintah Kabupaten Bantul tahun ini menambah areal tanam sorghum sekitar 5 hektar. Pengembangan di pusatkan di Desa Mangunan, Dlingo. Rencananya, areal tanam akan terus diperluas karena tingginya permintaan pasar. "Bantul mulai mengembangkan sorghum tahun lalu di lahan seluas 15 hektar. Saat itu baru tahap uji coba di demplot. Ada empat jenis yang kami tanam yakni varietas lokal, Kawali, Numbu, dan varietas F7. Dari hasil uji coba ternyata jenis Nambu memiliki produktivitas tertinggi yakni 3,2 ton per hektar, sehingga tahun ini diputuskan untuk menanam Nambu di lahan seluas 20 hektar. 

Permintaan sorghum saat ini cukup tinggi. Tanaman serealia tersebut mempunyai kualitas nutrisi yang sebanding dengan jagung dan beras. Kandungan protein sorghum sedikit lebih tinggi dari jagung sedangkan kadar lemaknya lebih rendah.  "Biji sorghum selain sebagai bahan pangan alternatif juga merupakan komoditi agroindustri. Sorghum dalam industri digunakan sebagai bahan baku industri kertas, nira, gula, alkohol, etanol, dan monosodium glutamat. Selain itu sorghum juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan . Dengan masa tanam 120 hari, pengembangan sorghum tergolong menjanjikan.

Program PEKM PLUS Dlingo

Dlingo : www.suarakomunitas.net : Melihat Potensi Sumber daya Alam di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul tampaknya sangat mungkin dilaksanakan Gerakan Budidaya Padi Organik. Potensi yang mendukung antara lain : ketersediaan limbah peternakan, limbah pertanian, limbah industri kayu dan sumber air untuk pertanian. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Ir.Edy Suharyanta,MM, pernah menyampaikan dalam rapat koordinasi Dinas Pertanian dan Kehutanan bahwa Budidaya padi organik hanya dapat dilaksanakan di daerah-daerah yang pengairannya berasal dari sumber mata air dan kebanyakan didaerah pegunungan. 

Ini karena didaerah yang air irigasinya melewati kawasan kota kebanyakan sudah terkontaminasi limbah pabrik ataupun limbah limbah kota yang notabene banyak mengandung bahan kimia, Berpijak dari dari apa yang disampaikan Kepala Dipertahut tersebut, maka masyarakat petani Desa Terong dan Desa Muntuk difasilitasi oleh BPP Kecamatan Dlingo membuat Kegiatan bersama antara Badan Kesejahteraan Keluarga Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana ( BKKPPKB ) dan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul melaksanakan budidaya padi organik melalui PEKM PLUS ( Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Miskin Plus ).

Bentuk kegiatan yang dilakukan seluruh petani dalam satu hamparan membentuk kelompok kegiatan dengan jumlah anggota dalam satu kelompok 15 orang sementara di Desa Muntuk ada 4 kelompok dan Desa Terong ada 3 kelompok. Setiap kelompok akan mengelola pinjaman modal dari BKK sebesar Rp.15.000.000,-

Dari hasil keputusan rapat kelompok, modal tersebut akan digunakan untuk budidaya padi organik dengan alokasi untuk upah tenaga kerja, Pengadaan Benih, Pengadaan Pupuk organik, Pengadaan Pestisida organik dan sewa lahan. Sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah :
1. Terbentuknya kelompok kegiatan produktif yang berbasis Gakin.
2, Terwujudnya Pertanian organik,
3, Terpeliharanya Lahan dan lingkungan,
4, Menurunnya Kandungan dan atau residu racun didalam tanah dan bahan makanan,
5, Meningkatnya : Pengetahuan,Kesadaran , Pendapatan dan kesejahteraan petani,
6. Terwujudnya Kelompok Tani yang mandiri

Dlingo Nama Tanaman Obat

Ini adalah wujud tanaman obat yang bernama "Dlingo"
SINONIM :
Nama Latin : Acorus terrestris Spreng
Nama Daerah : Jeurunger (aceh), Jerango (Gayo), Jerango (Batak), Jarianggu (Minangkabau), Kakapasan (Sunda), Dlingo ( yogyakarta jawa Tengah), Jharango (Madura), Jangu, Kaliraga (Flores), Jeringo (Sasak), Kareango (Makasar), Kalamunga (Minahasa), Areango (Bugis), Ai wahu (Ambon), Bila (Buru).

KLASIFIKASI


Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Arales
Suku : Araceae
Marga : Acorus
Jenis : Acorus calamus L


KEGUNAAN : Dalam pengobatan Alternatif Herbal Obat penenang, Obat Lambung dan Limpa, Bahan baku kosmetika.