Tampilkan postingan dengan label Asal Usul Penamaan Wilayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul Penamaan Wilayah. Tampilkan semua postingan

Bakung Mangunan Dlingo

Bakung adalah nama salah satu tempat bersejarah di wilayah Dlingo tepatnya di Desa Mangunan. Daerah tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi sayangnya kurang mendapat perhatian dari pihak yang berwenang, sehingga tidak terawat dan terkesan angker, padahal jika dikembangkan akan menjadi obyek wisata yang menjanjikan dan perjalanan yang begitu menantang.
 
 Menurut juru kunci tempat tersebut Marjiyo, menyatakan bahwa menurut cerita rakyat yang ada dahulu Sultan Agung melaksanakan ibadah Haji di Mekah dan ingin dimakamkan di Mekah jika meninggal, tetapi oleh Sunan Kalijaga dimohon Sultan Agung tetap dimakamkan di Jawa, karena Sultan Agung adalah Raja Jawa. Sultan Agung mau dimakamkan di Jawa dengan syarat tanah tersebut sama dengan tanah di Mekah. Kemudian Sunan Kalijaga melemparkan batu ke tanah Jawa dan Sultan Agung diperintahkan untuk mencari batu tersebut dan di tanah itulah yang nantinya Sultan Agung membuat makamnya.

Setelah datang sekembali dari Mekah Sultan Agung berusaha mencari batu tersebut, tetapi sekian lama tidak ditemukan, maka Sultan Agung melaksanakan meditasi dan sholat hajat di suatu bukit. Ketika waktunya shalat daerah tersebut tidak ada air untuk berwudlu, maka Sultan Agung menancapkan tongkatnya ke batu tersebut dan memancarlah air. Karena begitu lama Sultan Agung belum mendapatkan petunjuk maka badannya kurus dan badannya lemah hingga membungkuk (ejaan jawa: BENGKUNG), maka tempat tersebut dinamakan Bengkung.

Setelah mendapatkan petunjuk untuk berjalan ke arah matahari terbenam dari tempat bertapa, dan akhirnya batu tersebut ditemukan di puncak bukit Giriloyo.

Perlu diketahui bahwa air yang memancar di Bengkung hingga saat masih mengalir dan tak pernah kering walau kemarau panjang sekalipun karena berada di lereng gunung/bukit hutan pinus timur Balai Desa Mangunan Dlingo, dan menjadi sumber mata air untuk daerah Mangunan, Giriloyo, Pajimatan Imogiri dan sekitarnya.

Sendang Banyu Panguripan Dlingo Sebagai Sumber Kehidupan

Dlingo : http://tembi.net: Menurut rumor yang beredar di antara para pelaku “budaya spiritual” konon Sultan Hamengku Buwana X sebelum naik tahta pernah mandi berkah di Sendang Banyu Panguripan. Mbah Rejomulyo (86), istri juru kunci sepuh sendang, membenarkan adanya rumor tersebut. Pada dekade tahun 70-an, Sultan Hamengku Buwana X yang kala itu masih memakai nama gelar GPH Mangkubumi sekali waktu pernah mengunjungi Sendang Banyu Panguripan yang terletak di Dusun Banyuurip, Jatimulyo, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia datang diantar oleh sopir, dan membawa gula pasir sebanyak 10 bungkus.

" Mengenai alasan datang mengunjungi Sendang Panguripan, Mas Tik menjawab selain karena pernah digunakan oleh GPH Mangkubumi, tempat tersebut pernah digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menghidupkan Cakrajaya "
 
Saat bertemu dengan Mbah Rejomulyo, GPH Mangkubumi minta supaya diguyur dengan air sendang sebanyak 10 ember. Mendengar permintaan tersebut, Mbah Rejomulyo bertanya dalam hati, inikah sosok pengganti Sultan yang kelak akan bertahta. Pertanyaan tersebut mengusik rasa hati kala Mbah Rejomulyo mengguyurkan air ke atas kepala GPH Mangkubumi sampai membasahi seluruh tubuh. 

Usai dimandikan, GPH Mangkubumi duduk bersila di sebelah selatan sendang menghadap ke selatan. Dalam gelapnya malam karena semua lampu dimatikan, Mbah Rejomulyo yang kini sudah almarhum melihat sinar terang benderang menyelimuti raga GBP Mangkubumi. Cahayanya berpendar sampai celah-celah daun beringin putih yang tumbuh di sebelah barat sendang. Pemandangan yang baru pertama kali ditemui oleh Mbah Rejo. Pendar cahaya itu rupanya menjadi tanda awal terjawabnya pertanyaan yang mengusik rasa Mbah Rejo. Pertanyaan itu terjawab sepenuhnya manakala GPH Mangkubumi naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Sultan Keraton Yogyakarta. Pengalaman tersebut bagi Mbah rejo sangat berharga. Pasalnya sangatlah jarang ada orang yang mempunyai kesempatan melihat cahaya seperti itu, yang juga sekaligus sebagai berkah baginya.

Berkah itu yang diharapkan dapat dirasakan juga oleh sekalian warga yang datang berkunjung, seperti Mas Sutikno (40) asal Dusun Pucung, Imogiri. Pagi itu di penghujung hari bulan Sura Mas Tik, demikian panggilan akrabnya, datang diantar anaknya. Ia datang untuk mencari kesembuhan, karena ada benjolan yang tumbuh di rongga hidungnya, yang sering kali menghambat pernafasan. Pagi itu Mas Tik dibantu oleh Mbah Rejo putri menyempurnakan peziarahan. Asap kemenyan yang dibakar Mbah Rejo membumbung keluar melalui tungku cungkup, menghantarkan doa permohonan ke hadirat Tuhan Yang Maha Penyembuh. Wanginya bunga mawar merah putih menjadi simbol harum mewanginya nama ayah bunda yang melahirkan Mas Tik. Semerbak aroma bunga melati menyucikan rasa. Air yang diusapkan ke muka menjadi simbol pembersihan raga.
 
Raga Mas Tik nampak lebih bugar setelah unjukkan doa. Mengenai alasan datang mengunjungi Sendang Panguripan, Mas Tik menjawab selain karena pernah digunakan oleh GPH Mangkubumi, tempat tersebut pernah digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menghidupkan Cakrajaya.
Mengenai cerita Sunan tersebut dibenarkan oleh Bu Yanti salah satu putri Mbah Rejo yang ikut membantu para peziarah. Bu Yanti yang juga salah seorang Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dengan nama gelar Bekel Sepuh Surakso Warih menuturkan bahwa kala itu Sunan Kalijaga sedang berjalan-jalan di daerah Bagelen sekaligus berdakwah, bertemu dengan seorang penderes air nira namanya Cakrajaya. 

Saat bertemu Sunan menyapa ‘klonthang-klanthung wong nderes buntute bumbung’. Cakrajaya kemudian menjawab ‘iki tinggalane nenek moyang men akeh legene…akeh payune’. Karena tertarik dengan yang dilakukan Cakrajaya, Sunan Kalijaga menyampaikan niat untuk ikut membuat gula aren. Niat tersebut disambut dengan senang hati oleh Cakrajaya.
Berhari-hari Sunan yang kala itu berpakaian seperti orang pada umumnya ikut membuat gula aren dalam bentuk tangkepan atau sepasang. Setelah dirasa cukup, Sunan minta diri akan melanjutkan perjalanan. Selang beberapa hari air nira pun jadi gula aren. Satu per satu tangkepan dibuka. Dari sekian banyak gula tangkepan ada yang satu yang membuat Cakrajaya terkejut. Pasalnya air nira yang membeku setelah dibuka tak berwujud gula aren tangkepan tapi bewujud emas. Cakrajaya pun berkata kepada istrinya, “Mbokne jebul wong kang melu ewang-ewang awake dhewe gawe gula dudu wong sabaene…lha iki lho gula gaweane dheweke dadi emas”.

Terdorong oleh rasa penasaran, Cakrajaya pun berpamitan pada istrinya hendak mencari Sunan. Dalam perjalanan pengembaraan akhirnya Cakrajaya pun bertemu dengan Sunan di Dusun Selomiring tak jauh dari letak sendang yang kala itu masih berupa cekungan tanah karst yang cukup dalam. Rasa hati Cakrajaya dipenuhi keinginan untuk berguru pada Sunan. ‘Kowe ana kepentingan apa Cakra?’ Tanya Sunan. ‘Sowan kula menawi diparengke badhe ndherek meguru, necep ngelmu dumateng panjenengan’ .‘Bayare abot…apa gelem nebus kowe’ tanya Sunan. ’pinten reyal tetep kula bayar’ ‘wujud bayarane dudu duwit ananging nganggo laku kang utama…aja nyebal seka garising urip’. ‘Sendika’ kata Cakrajaya dengan penuh semangat.

Cakrajaya kemudian diajak Sunan naik ke atas sebuah bukit di dekat Sungai Oya. Namanya Gunung Ngajen. Di sana Cakrajaya diberi beberapa petuah tentang laku peziarahan batin yang layak dilakoni dengan sepenuh hati. Dirasa cukup, kemudian mereka turun kembali ke Dusun Selamiring. Untuk mengetahui kesungguhan niat Cakrajaya untuk berguru, Sunan berkata ‘ teken iki tungganana…aku arep nindakake shalat sedhela neng Mekkah’. (Jagalah tongkat ini... aku mau shalat sebentar di Mekkah).

Dengan penuh setia Cakrajaya menunggui teken (tongkat) yang terbuat dari kayu rasamala itu. Waktu pun cepat, tanpa terasa sudah hampir sewindu Cakrajaya tak berpindah tempat sedikit pun. Menunggui teken beralaskan batu padas kesetiaan dan berpayung angkasa harapan. Tanpa makan minum dan tidur. Sekitar tempat Cakrajaya duduk pun berubah jadi semak belukar. Pohon bambu ori tumbuh mengitari tubuh Cakrajaya yang mulai nampak kehijauan. Seakan berubah menjadi lumut.

Teringat akan tugas yang diberikan pada Cakrajaya, Sunan kembali ke Dusun Selamiring. Yang ditemui hanyalah semak belukar. Untuk memastikan keadaan Cakrajaya, Sunan berkata lantang ‘jebeng cakrajaya apa kowe isih ana neng kono?’ .‘taksih’ jawab Cakrajaya ‘kok kowe ora lunga?’ ‘ sabab kula kadhawuhan nenggo teken panjenengan’ jawab Cakrajaya.

Sunan lalu berkata ‘oh ya kuwi pitukone ngelmu…eling-elingen ngelmu kang tau tak paringake marang sira…grumbul iki arep tak obong’. Semak belukar dan juga rumpun bambu pun dibakar oleh Sunan. Api menyala sampai angkasa, terlihat sampai tempat yang ada di utara grumbul. Tempat tersebut di kemudian hari bernama Dusun Muladan. Begitu api padam Sunan menemukan Cakrajaya dalam keadaan samadi. Sukma nampak meninggalkan raga. Tubuhnya berubah jadi coklat kehitaman karena terbakar oleh api. Untuk mengambalikan sukma yang meninggalkan raga, Sunan kemudian bertafakur memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Dalam sunyi Sunan melihat seberkas cahaya hijau memancar dari arah timur Selamiring.

Maka dicarilah tempat itu. Setelah ketemu, tongkat yang ditunggui oleh Cakrajaya kemudian ditancapkan. Tak lama setelah dicabut keluarlah air dari bekas tempat menancapnya tongkat. Dengan air itulah raga Cakrajaya disucikan. Sukma pun menyatu kembali dengan raga. Raga yang mulanya mati suri kembali hidup sepenuhnya. Tempat keluarnya air yang digunakan untuk menyucikan raga Cakrajaya kemudian hari diberi nama BanyuUrip atau Banyu Panguripan. Artinya air yang memberi kehidupan. Atau dapat dimengerti sebagai air yang menjadi sumber kehidupan, baik kehidupan raga maupun kehidupan roh.

Sejarah Desa Terong

Dlingo kembali mengabarkan dari sumbernya langsung :
Konon, ketika terjadi Geger Suroyudo salah seorang prajurit Mataram yang bernama Ki Potrojiwo menyingkir ke bagian timur wilayah kerajaan Mataram dengan membawa serta isteri dan seorang anak perempuannya yang bernama nyi Jopotro dan cucu laki-lakinya yang bernama Trononggo anak dari nyi Jopotro. Setelah Ki Potrojiwo meninggal dan dimakamkan di gunung sentono wilayah Piyungan Nyi Jopotro bersama Trononggo menyingkir lebih ke timur lagi dari wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram masuk hutan belantara naik ke gunung yang sekarang disebut Cinomati dan sampailah di sebuah wilayah yang hanya ada semak belukar di tumbuhi tanaman liar terong hutan dan kemudian tempat tersebut oleh Nyi Jopotro dinamainya dengan Alas Terong .

Letak Alas Terong yang di perbukitan dan jauh dari pusat kekuasaan Kerajaan Mataram dipilih oleh Nyi Jopotro dan Trononggo untuk menjadi tempat tinggalnya yang baru. Lama kelamaan ada beberapa orang yang juga datang ke alas Terong baik yang dari arah barat dan juga dari arah utara dan berkumpulah mereka menjadi penghuni alas Terong dan melakukan interaksi sosial di sana. Dari interaksi sosial dengan komunitas masyarakat di alas Terong kemudian Trononggo menikahi seorang perempuan dan memiliki dua orang anak yaitu Trosentono dan Tromenggolo. Ketika Trononggo telah lanjut usia dia menunjuk Trosentono untuk menjadi pemimpin komunitas alas Terong yang disebut bekel .

Menurut beberapa sumber Trosentono menjadi bekel di Terong yang pertama dan masa tugasnya antara Tahun 1912 sampai dengan 1930, kemudian pada Tahun 1930 kedudukan bekel Terong digantikan oleh Demang Harjoutomo anak laki laki Trosentono sampai Tahun 1951, setelah Demang Harjoutomo purna digantikan oleh Joyo utomo anak Mertomenggolo atau cucu dari Tromenggolo. Sejak kepemimpinan Joyoutomo maka sebutan bekel berubah menjadi lurah, Lurah Joyoutomo memangku jabatan mulai Tahun 1951 sampai dengan 1963.

Kemudian sejak Tahun 1963 atas kepercayaan Penewu Kapanewon Kota Gede Sk lurah Terong di percayakan kepada Harjosuwarno hingga Tahun l992. Tahun 1974 ketika berdirinya Kecamatan Dlingo maka Kelurahan Terong yang semula berada di wilayah Kecamatan Kotagede SK kemudian menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul dengan Lurah Harjosuwarno dan purna pada Tahun 1992 .
Berdasarkan UU no 5 Tahun 1979 proses demokrasi dalam pengisian lurah desa ( Kepala Desa sesuai sebutan pada UU no.5 1979 ) menggunakan sistim pemilihan langsung dan dalam proses pemilihan tersebut terpilihlah Sudirman sebagai Kepala Desa Terong masa bakti 2002 – 2012. Setelah selesai masa jabatan Sudirman pada Tahun 2012 dan dilakukan pemilihan Kepala desa Terong Sudirman terpilih kembali melalui proses pemilihan langsung melawan kotak kosong.

Urut urutan Lurah Desa Terong dari Tahun 1912
1. Trosentono (bekel) 1912 – 1930
2. Demang Harjo Utomo 1930 – 1950
3. Joyo Wiyarjo 1950 – 1966
4. Harjo Suwarno tahun 1966 – 1992
5. Sudirman 1994 – 2002
6. Ngabehi Sudirman Wiro Mandoyo 2002 – 2012
    Setelah mendapat kekancingan nama dari Kadipaten Pakualaman.

Riwayat Silsilah Beberapa Warga Dlingo

SILSILAH : SILSILAH KY, KROMO IJOYO-JOLOK-DLINGO -BANTUL-JOGJAKARTA KY. MASDUQI MLANGI

KY,KROMO IJOYO  mempunyai putra 7 orang ialah : 1.NY NITI WIJOYO  2.KY 'ABDUL MU'IN JOLOK 3.KY H 'ABDUL MUKTI MENGGORAN  4.KY ASY'ARI  JOLOK  5.KY AHMAD SYIRAT JOLOK 6.NY ZAED MLANGI  7.NY SYUJAK BANJARAN

NY NITI WIJOYO mempunyai putra 1 orang ialah : KY REKSO DIRYO / KY SATORI

KY REKSO DIRYO / KY SATORI mempunyai putra 9 orang ialah : 1.NY MUH ALI 2.KY MUH NAHROWI 3.NY PAWIRO SEMTONO 4.KY AHYAR 5.NY JUWAHIR / SILAH 6.KY 'ABDIL KHAMID 7.KY 'ABDUL MANAF 8.KY MUH RIDWAN 9.KY DARONI

NY MUH ALI mempunyaiputra  5 orang ialah : 1.KY 'ABDUL BASYIR:SUMATRA 2.KY 'ABDUR ROKHIM:KEBOSUNGU 3.NY TUMIYAH: 4.KY JAMARI:KEBO SUNGU 5.KY SIHUT:SUMATRA

KY MUH NAHROWI mempunyai putra  8 orang ialah : 1.NY JAMILAH:SUMATRA 2.KY HADI:KEBOSUNGU 3.NY HIDAYAH:KEBOSUNGU 4.KHUZAIMAH:WONOSARI 5.KY RUBANGI:KEBOSUNGU 6.NY AMINI:WONOSARI 7.NY FADLILLAH:KEBOSUNGU 8.KY TUHILAN:KEBOSUNGU

NY PAWIRO SEMTONO mempunyai putra  3 orang ialah : 1.KY JUKIRAN WONOSARI 2.KY JUMAR:KEBOSUNGU 3.NY SUWARNI:KEBOSUNGU

KY AHYAR mempunyai putra 3 orang ialah : 1.NY WARIDAH:SUMATRA 2.KY ZAINAL:SUMATRA 3.NY WASINGAH:SUMATRA

NY JUWAHIR / SILAH mempunyai putra 5 orang ialah : 1.NY MUSTIJAH:SUMBAR 2.KY MUHADI:KETANGI 3.NY ROMLAH:KEBOSUNGU 4.NY KHAMDIYAH:KEBOSUNGU 5.NY ZUBAIDAH:KEBOSUNGU

KY 'ABDIL KHAMID mempunyai putra 9 orang ialah : KY KHABIBULLOH:KEBOSUNGU 2.KY LALALUDDIN:IMOGIRI 3.KY KHOURUDDIN:KEBOSUNGU 4.KY ANWARI:PATUK 5.KY MUJAHID:KEBOSUNGU 6.KY ISTIHARI:PATUK 7.KY JAMIL:KEBOSUNGU KY AMIN:KEBOSUNGU 9.NY BAROYAH:KEBOSUNGU

KY 'ABDUL MANAF mempunyai putra 3 orang ialah : 1.NY JARIYAH:SUMATRA 2.KY NGUSMAN:KEBOSUNGU 3.KY ROHMAD:SUMATRA

KY MUH RIDWAN mempunyai putra 5 orang ialah : 1.KY ISMA'IL:SUMATRA 2.KY JAMZANI:SUMATRA 3.NY SALAMAH:SUMATRA 4.KY SARIR:SUMATRA 5.KY 'ABDULMANAN : SUMATRA

KY DARONI mempunyai putra 5 orang ialah : 1.KY SURONO:JABAR 2.NY ASIYAH:KEBOSUNGU 3.NY BASIROH:SUMATRA 4.KY DARIS:JABAR 5.NY DALIYAH:KEBOSUNGU

.KY 'ABDUL MU'IN JOLOK mempunyai putra 7 orang ialah : 1.KY ABDUL JALAL : KETANGI 2.KY AHMAD DASUKI : KARANG ASEM 3.NY 'ABDUL HADI : KEDUNG WANGLU 4.KY 'ABDUL KHANAN : LAMPUNG 5.NY 'ABDULLOH HURI : LAMPUNG 6.KY AHMAD SYAHID :LAMPUNG 7.KY BAJURI : PLAYEN


KY ABDUL JALAL mempunyai putra 2 orang ialah : 1.NY DUMILAH 2.KY NOTOSUYONO : KETANGI
NY DUMILAH mempunyai putra 3 orang ialah : 1.NY WASILAH / HARJOSUPARNO : KETANGI 2.NY MARSIYAH // HARTOSUWARNO : KETANGI 3.KY SARIP SUSANTO : KETANGI

KY NOTOSUYONO mempunyai putra 6 orang ialah : 1.SUBARDI : MAMPANG JAKARTA 2.ASRORIYAH : KETANGI 3.SUHAMI : SUMBAR 4.ROSIYAH :SUMBAR 5.MURSILAH : TAMBUN BEKASI 6.PUJI LESTARI : SUMBAR

KY AHMAD DASUKI mempunyai putra 6 orang ialah :1.KY ZAINI : KARANG ASEM 2.KY JUREMI :PLAYEN 3.NY JUMANAH : KARANG ASEM 4.NY JUMALI : BALIK PAPAN 5.KY BADAWI : JAKARTA 6.NY ISTI'ANAH : KARANG ASEM

NY 'ABDUL HADI mempunyai putra 9 orang ialah : 1.KY MASHUDI : KEDUNG WANGLO 2.KY SUHAIMI : LAMPUNG 3.KY DURYAT : LAMPUNG 4.NY NGATIJAH /MARKUM : KEDUNG WANGLO 5.KY H ZAINAL 'ABIDIN : KEDUNG WANGLO 6.NY MUSTOJAH / DARONI : KEDUNG WANGLO 7.NY SUTI / 'ABDUL MANAF : KEDUNG WANGLO 8.KY MUJATI : KEDUNG WANGLO 9.KY H NURHADI 'ABDULLOH : IMOGIRI

KY 'ABDUL KHANAN  mempunyai putra 8 orang ialah : 1.KY HADI : LAMPUNG 2.NY SUMINGAH 3.KY MUHTAROM : LAMPUNG 4.NY FATIMAH : LAMPUNG 5.NY JALILAH :LAMPUNG 6.KY MUHLAS : LAMPUNG 7.NY MUSRIFAH : LAMPUNG : 8.NY JUPAINAH : LAMPUNG

NY 'ABDULLOH HURI mempunyai putra 8 orang ialah : 1.KY IMAM MUSLIM : KETANGI 2.KY SASTRO DIRYO : PIJENAN 3.DARMO WIJOYO / JAMHARI : LAMPUNG 4.KY SHAHRO : LAMPUNG 5.NY HADIYAH 6.KY ARJO DINOMO : PIJENAN 7KY JONET : LAMPUNG 8.NY YATIMAH : LAMPUNG

KY IMAM MUSLIM / AL-KHUSNI  mempunyai putra 7 orang ialah : 1.DAWIMAH : KETANGI 2.SUJADI : KETANGI 3.SARJUNI : KALTIM 4.SARJUDI : SAMARINDA 5.SUMARDIYONO : BALIK PAPAN 6.SUMARTIJAH : SAMARINDA 7.SUMARTINI : SAMARENDA

KY SATRO DIRYO Berputra 9 Orang : 1. Sardjono  - Pijenen    2. Sarjinah  - Lampung    3.Sugiono   - Ungaran   4.Murkanti    - Lampung   5. Yusuf Sumaryono  - Girisekar     6. Sarojo  - Cekel   7. Supilih  -sampakan   8. Bariyah  - Bogor   9 Surtini   - Kal.Tim.
Ky Darmo wijoyo / jamhari ( Belum ada datanya )
Ky Syahro 
Ny hadiah
Ky Arjodinomo  Berputra 7 orang : 1. Sapurah   - Pijenan   2. Basuki - Playen   3.Sarilah   - Pijenan    4.Widayat   - Ungaran   5.Seno   - Pijenan   6. Sapari   - Pijenan   7.Sariyati - Pijenan6.
Ky. AMAD SAHID    Berputra 4 orang : 1.Ky. Bakir  - Lampung   2. Ky. Harun  - Lampung    3.Ky. Sobari  - Lampung   4.  Ky. Awaliyah   - Lampung
Ky. BAJURI ( Alm )  Beroutra 1 orang     1. Ny. Sukar  - Playen
Ky. H. ABDUL MUKTI     Berputra 6 orang : 1. Ny. Dawam    - Menggoran    2.Ky Imam Yahya - Sumatra   3.Ky 'Abdul Qodir - jolok   4.Ky Maksum - Lampung   5.Ny Monah - Malaisia   6.Ny jinab / Turmudzi - Sumatra
Ny. Dawam    Berputra 4 orang   1. Ny. Romlah - Menggoran   2. Ky. H. Syahid    3. Ny .Sutimah - Menggoran   4. Ky. Zaidi - Menggoran
 Ky IMAM YAHYA  Berputra 3 orang   1. Ky. Danuri - Sumatra   2. Ky. Muslimin - Sumatra   3. Ky. Alif - Sumatra
Ky 'ABDUL QODIR   Berputra 5orang   1. Ny. DAwamah - Sumatra   2. Ky. Hadiyah - Jolok   3. Ky. Mahmudi - Jolok  4. Ny. Istiqomqh - Jolok    5. Ky. Mukibut - Jolok

 Ky. MAKSUM - Lampung   ( Data belum masuk }
NY MONAH   ( Data belum masuk }
KY  H  SYAHID Menggoran  Berputra 7 orang : 1. Ny Jazamah - Gubukrubuh   2.Fathonah - Jolok   3.Ny. Badriyah - Mlangi   4.Ky. Zabidi - Menggoran  5.Ky. Badarudin - Mulusan   6.Ky. Jamhari - Menggoran   7.Ny. Umi Jundiyah - Menggoran
6. Ny. JINAB / TURMUDZI     - Sumatra  Berputra 4 orang   1. Ky. Ali - Sumatra   2. Ny. Yatim - Sumatra   3. Ny. Ngasiyah - Sumatra   4. Syafi’I - Sumatra

Ky. ASY’ARI  Berputra 8 orang :  1. Ky. Abdul Qodir - Jolok   2. Ky. Jazuli - Jolok  3.Ky Dawami   4.Ny Nahrowi Kebo Sungu   5.Ky munawir Jolok   6.Ky Khusnan Jolok   7.Ky Muzdakir Dlingo   8.Ny Danuri / Sumirat Bantul
KY JAZULI Berputra 6 orang : 1. Ny. Jairoh / Abdul Hamid   2. Ny. Sukemi - Sumatra   3. Ky. Khuzam - Jolok   4. Rodhiyah - Jolok   5. Irsyad - Kedungwanglu   6. Ky. Zaen Dahlan - Jolok
KY DAWAMI  Berputra 8 orang : 1. Fathonah Kd Wwnglu   2.Ky Thobrini Kd Wwnglu   3.Ny Thoharti  Kd Wwnglu   4.Ny Thoyibah  Jolok   5.Ny Mutmaianh  Kd Wwnglu  Kd Wwnglu 6.Ny thohiriyyah   7.Ky Masturidi  Aceh   8.Ky Hamid Thoha Mahsun  Kd Wanglu
Ny Nahrowi  Berputra 8 orang : 1.Ny Jamilah  Sumatra   2.Ky Hudi  KeboSungu   3.Ny Hidayah  KeboSungu  4.Ny khuzaimah  Wonosari   5.Ky Rubangi  KeboSungu  6.Ny Amini  KeboSungu 7.Ny Fadlilah KeboSungu  8.Ky Tuhilan  KeboSungu
Ky Munawir  Berputra 6 orang : 1.Ny Siti Arwani Jolok   2.Ny Badriyah  Jolok   3.Ny Rosidah Jolok  4.Ny Bariyyah Jolok   5.Kn Ja'far Sidiq Jolok  6.Ny Duriyatul Alifah Bengkulu
Ky Kusnan  Berputra 5 orang : 1.Ky Salami Jolok   2.Ky Ahyadi Banyusoco   3.Ky Khasanun Jolok   4.Ny Zaidah jolok   5.Ky syarifuddin Jolok
Ky Mudzakir mempunyai putra 8 orang ialah : 1.Ny Asroriyyah Yogyakarta 2.Ny Maimunah Yogyakarta 3.Ny Jazimah Yogyakarta 4.Ny 'Azizatuljannah Dlingo 5.Ky dra Fauzi Dlingo 6.Ny Sriharyati Dlingo 7.Ky Drs Nasriruddin Thoha Dlingo 8.Ky Drs Agus Salim Dlingo


Ny Danuri / Sumirat mempunyai putra 6 orang ialah : 1.Ny qibtiyah Bantul 2.Ny Pardilah Bantul 3.Ky Thoha Yadi Bantul 4.Ky Mulyadi Bantul 5.Ny Juwariyah Bantul 6.Ky Yunus Bantul

KY AHMAD SYIRAT mempunyai putra 9 orang ialah : 1.Ky 'Abdul Jupri Jolok 2.Ky Mustaqim lampung 3.Ky Muh Sidiq Jolok 4.Ky JUwahir Jolok 5.Ky M Ashari 6.Ky Asror 7.Ny Dimyati Kebosungu 8.Ky Jumali Lubuklinggau 9.Ny Mariyam Jolok

Ky 'Abdul Jupri Jolok mempunyai putra 5 orang ialah : 1.Ny Mustingah Sumatra 2.Ky Muh Dayat Kebosungu 3.Ny Maimunah Kebosungu 4.Ny Safinah Kebosungu 5.Ny marfu'ah Kebosungu

Ky Mustaqim Sumatra mempunyai putra 6 orang ialah : 1.Ky H Bashori Lamtim 2.Ny Alifah 3.Ky Dalhar Jolok 4.Ky Juzat lampung 5.Ny Murkhimah Lampung 6.Ny Siti Fajriyah Lampung

Ky Muh Sidiq mempunyai putra 6 orang ialah : 1.Ny Isrofiyah Kedongwanglu 2.Ky samrodi Jolok 3.Ky Nawazi Silaut 4.Ky Darojad Silaut 5.Ny Suhartilah Aceh 6.Ny Ngaliyah Belitung

Ky Juwahir Jolok mempunyai putra 4 orang ialah : 1.Ny Romlah Jolok 2.Ny Amdiyah Jolok 3.Ny Zubaidah Jolok 4.Ky Muhajir Lampung
Ky M Ashari Kebosungu mempunyai putra 5 orang ialah : 1.Ny Qibtiyyah Kebosungu 2.Ny Zaini Kebosungu 3.Ky Zainun Kebosungu 4.Ny Ngalimah Kebosungu 5.Khudlori Kebosungu


Ky Asror Kebosungu putra 3 orang ialah : 1.Ny Sitingah Bleberan 2.Ky Nursalim Sumatra 3.Ny Kustiyah Sumatra

Ny Dimyati Kebosungu putra 6 orang ialah : 1.Ky H Jarzani Kebosungu 2.Ny mardliyyah Kebosungu 3.Ky Asmuni Kebosungu 4.Ky Bahruddin Banyusuco 5.Ky Munajad Silaut 6.Ky H Bajuri Riu

Ky Jumali Lubuklinggau mempunyai putra 2 orang ialah : 1.Ny Syarifah Lubuklinggau 2.Ny Asiyah Jolok

Ny Mariyam Jolok mempunyai putra 4 orang ialah : 1.Ny Nangimah Jolok 2.Ny Amanah Jolok 3.Ny Islamiyyah Jolok 4.Ky Fakhori Jolok

NY ZAED  berputra 8 orang  : 1.KMasduqi  Mlangi   2.Ny jazuli Jolok   3.Ky Dimyati Kb Sungu   4.Ky Hasyim Jolok   5.Ky Nawawi Jolok   6.Ny asy'ari Jolok   7.Ky Darudi Jolok   8.Ny Darojah Lampung timur
K MASDUQI Mlangi  berputra 5 orang : 1.KH Suja;i Mlangi  2.Ny Askiyah  K Rusrdi Mlangi  3.Ny Jananah Borobudur   4.Ny Bunyanah / KH Salimi  Mlangi   5.Hj Handarotiyah ? KH Sami'an Mlangi

Ny Jazuli  Berputra 6 orang Data belum masuk

Ky Dimyati mempunyai putra 6 orang Data belum masuk


Ky Hasyim Jolok Tidak berputra

Ky Nawawi Jolok mempunyai putra 6 orang ialah 1.Ny dalilah Jolok 2.Ny Juwariyah 3.Ny Musyarofah Jolok 4.Ky Hajid Jolok 5.Rosyid Secang Magelang 6.Ny Alifah Jolok

Ny Asy'ri Jolok mempunyai putra 8 orang Data belum masuk

Ky Darudi Jolok mempunyai putra 5 orang ialah 1.Ny Tutik Khusniyah Jolok 2.Ny Murfingah Jolok 3.Ky Ahmad Musyadad Jolok 4.Ny Umi Zuliani Jolok 5.Ny Nurullatifah Jolok

Ny Darojah Lampung Timur mempunyai putra 8 orang ialah 1.Nurruddin Lamtim 2.Ashari Lamtim 3.Zubaidah Riu 4.Samsuddin Lampung 5.Siti Syarifah Lampung 6>Dewi Utami Lampung

Ny Sujak Banjaran mempunyai putra 5 orang ialah 1.Ky Imam Sanusi Banjaran 2.Ny Azqiyyah Kedungwanglu 3.Ky Bisri Banjaran 4.Ky Husain Lampung 5.Ny Fatimah Lampung

Ky Imam Sanusi mempunyai putra 6 orang belum masuk

Ky Bisri mempunyai putra 3 orang Data belum masuk

Bila tulisan ini Salah atau kurang mohon dibetulkan  Ketua Darudi Pembuat Data Sujadi Yogyakarta 22April 2003

Riwayat Singkat Padukuhan Di Desa Terong

Disini akan saya sampaikan beberapa informasi singkat terkait asal usul nama padukuhan di desa terong Kecamatan Dlingo bantul. Terkait dengan tahun spesifiknya mungkin dari beberapa pembaca dapat memberikan informasi yang lebih detil, maka di ucapka terimaskih. Pertama saya akan coba masuk pada Padukuhan kebokuning. berdasarkan Informasi yang saya dapatkan pada dahulu kala di padukuhan tersebut hampir seluruh masyarakatnya memelihara kerbau. Sehingga jalan-jalan yang ada diwilayah tersebut menjadi selalu becek dan rusak. 
Namun dengan memelihara kerbau itu ternyata juga mampu menjdikan masyarakat setempat menjadi terbantu dan sejahtera kehidupannya. Karena pada dahulu kala wilayah kebokuning terkenal dengan lahan sawah yang subur dan mamkmur. Beberapa lahan sawah masih ada sampai sekarang meskipun sebagian besar sudah menjadi lahan permukiman dan berladang.

Kedua adalah Padukuhan Pencitrejo, pada awalnya wilayah pencit rejo tampak gersang dan tandus, wilayah ini juga merupakan wilayah gunung yang paling tinggi di Kecamatan Dlingo. Hal tersebut kemudian menjadikan keprihatinan masyarakat setempat, kemudian beberapa nama seperti mbah Marto Jumiko dan tokoh masyarakat lain mulai berfikir bagaimana caranya agar wilayah mereka menjadi subur dan makmur. Lalu diadakanlah tradisi "Mapar Tunggak"/ bersih dusun dan kemudian di namakanlah wilayah tersebut dengan sebutan Pencit yang artinya puncak dan Rejo yang artinya sejahtera.
Ketiga adalah Padukuhan Sendang sari, hampir sama dengan wilayah lain di terong. Padukuhan sendang sari mengalami pasang surut dan gejolak yang berakibat pada sebuah penderitaan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayanya. Kemudian dilakukan ritual bersih dusun yang kemudian wilayah tersebut diberi nama dengan sebutan Sendangsari. Asal nama ini oleh Tokoh setempat yang bernama Mbah So Kerto di ambilkan dari sebuah sumber air yang ada di wilayah tersebut. Kata sendang berarti sumber air sedang kan kata sari adalah sumber dari segala sumber air utama dan bermanfaat. Intinya sendang sari adalah sumber dari segala sumber air yamg paling baik di wilayah tersebut.
Ke empat adalah Padukuhan Ngenep, dari beberapa versi cerita rakyat yang saya peroleh. Maka asal usul padukuhan ngenep ini saya sampaikan namun informasi ini masih sanggat sementara. Diawali dengan adanya seorang
yang mempunyai kelebihan dan kanuragan yang lebih diwilayah tersebut. sehingga saking terkenalnya maka banyak masyarakat yang datang untuk meminta tolong atau untuk keperluan lainnya. Orang tersebut bernama Mbah Merto Rejo, dalam membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ataupun sakit beliau selalu menganjurkan pada orang yang di tolong untuk menginap. Hal ini dilakukan agar pengobatan dan pertolongan yang diberikan dapat membuahkan hasil dan selamat dari ancaman atau sakit yang diderita. Sehingga lambat laun wilayah tersebut terkenal dengan sebutan "NGENEP" yang berarti menginap.

Asal-Usul Dusun Pancuran Dan Saradan Desa Terong

Padukuhan Pancuran dan Padukuhan Saradan adalah nama dua dusun yang ada di desa Terong Kecamatan Dlingo bantul. Dua dusun tersebut sekaligus menjadi dusun yang berbatasan langsung dengan wilayah desa Jatimulyo dan Temuwuh Dlingo Bantul Yogyakarta. Beberapa hari yang lalu saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu sesepuh desa Terong, meskipun agak terputus-putus namun beberapa informasi prihal asal usul nama wilayah di Kecamatan Dlingo, desa serta padukuhan yang ada di kecamatan Dlingo sedikit demi sedikit mulai ada titik terang.
Tentu saja ada berbagai versi terkait penamaan asal-usul wilayah tersebut, namun saya tetap mencoba untuk mendokumentasikannya siapa tahu ada yang bersedia melengkapi. Adapun apabila ada pihak-pihak yang membutuhkan informasi atau yang memberikan sumbang sih informasi....wow..tentu saya akan seneng bangetttttt..bangettt..pokoke. Okeh..sekarang kita mulai saja dari cerita awal mulanya.....kenapa kok dinamakan padukuhan saradan dan Pancuran.

Dahulu padukuhan Saradan dan Pancuran merupakan satu kesatuan wilayah, pada awalnya wilayah tersebut tidak bernama, namun menurut informasi yang saya dapatkan setelah datangnya "sure'ng Iret" atau sebutan untuk pejabat besar pemerintahan waktu itu, ada anjuran agar sebaiknya setiap masyarakat memberikan nama pada wilayahnya masing-masing. Seiring dengan hal tersebut juga telah di tetapkan bahwa yang berhak untuk mengesahkan sebuah nama wilayah adalah "Sure'ng Iret". Sehingga sudah menjadi kebiasaan apabila nama sebuah wilayah sudah ditentukan oleh masyarakat maka "Sure'ng iret" kemudian di beritahu lalu di jemput dengan menggunakan tandu oleh masyarakat dan di bawa ke tempat dimana sebuah wilayah akan diresmikan penamannya.
Nah..pada awalnya wilayah Pancuran dan Saradan masih menjadi satu rumpun wilayah, dengan ciri khas masyarakatnya yang berdagang. Namun ada ciri khas khas khusus lain yang paling banyak mendominasi industri rumah tangga di wilayah tersebut. industri kas tersebut adalah pembuatan " TIMANG " dalam bahasa indonesia di sebut "Ikat Pinggang/Gasper"..hehehe. Masyarakat setempat menjadikan kerajinan tersebut sebagai industri yang menguntungkan dan bisa mendukung kesejahteraan masyarakat. Timang tersebut terbuat dari perak yang di beli dari Kota Gede Yogyakarta kemudian diolah dan dijual ke kawasan Kraton Yogyakarta. Biasanya Timang ini di pakai oleh pada bangsawan-bangsawan Kraton Yogyakarta pada masa itu.
Lalu dengan ciri khas khusus tersebut maka oleh Tokoh-Tokoh masyarakat setempat seperti Mbah Nomo, Mbah Noto Wiyogo, Mbah Jo Intono dan Mbah Kamituo serta masyarakat yang lain memberikan nama wilayah mereka dengan sebutan Dusun Timang.
Lalu pada perkembangannya ternyata banyak terjadi musibah di dusun Timang, kemudian oleh para pemangku adat setempat dilakukan "Mapar Tunggak" atau "Ngeruat" atau lazimya sekarang adalah bersih dusun. Dan setelah bersih dusun lalu nama Timang di ganti dengan sebutan Kepuh Rejo. Nama Kepuh Rejo itu sendiri di ambil dengan latar belakang adanya pohon "Kepuh/kelumpang" atau bahasa ilmiyahnya adalah "Sterculia foetida" yang besar diwilayah tersebut, sedangkan Rejo mengandung makna sejahtera.
Pada perkembangannya seiring dengan berkembangnya mekanisme struktur organisasi pemerintahan nasional dan daerah maka kemudian wilayah tersebut di bagi dua menjadi Padukuhan Pancuran Dan Saradan. Asal nama Pancuran itu sendiri mengambil dari sebuah kawasan sumber air yang memancar dan menjdi sumber air utama masyarakat setempat.
Sedangkan nama Saradan sendiri mengandung makna "Mbuang Syarat" yakni sebuah ritual masyarakat setempat yang mewajibkan bagi masyarakat untuk membuat sesaji yang di persembahkan pada nenek moyang sebagai ungkapan syukur. Wilayah Padukuhan Saradan sampai saat ini masih terdapat tempat-tempat yang di gunakan masyarakat untuk menaruh " Mbuang " sesaji "Syarat" berupa sendang/sumber air sekaligus tempat di adakannya acara bersih dusun tiap tahunnya. Sehingga sampai saat ini hampir tidak ada perbedaan yang menyolok terkait dengan karakter masyarakat Saradan dan pancuran, baik dari sisi ekonomi, politik, sosoal serta budayanya, karena memang kedua wilayah tersebut pada awalnya serumpun.

Asal Usul Padukuhan Maladan Dan Banyurip

Asal usul Cerita awal mula penamaan nama-nama desa dan dusun di Kecamatan Dlingo Bantul memiliki beberapa versi, saya akan mencoba untuk memberikan sedikit informasi terkait asal usul pemberian nama-nama padukuhan dan desa di Kecamatan Dlingo bantul, secara bertahap saya akan mulai dari padukuhan maladan dan banyuurip.

Berawal dari aktifitas seseorang yang bernamaKi CakrajayaBeliau adalah seorang tukang nderes nira kelapa kemudian hasil dari deresan itu diolah menjadi gula. Karena saking miskinnya, dia juga dipanggil “Ki Petungmlarat”. Meskipun demikian, orang mengenalnya sebagai seorang yang kuat bertirakat/tapa brata, sehingga menjadi luhur budinya dan sakti ilmunya. Karenanya, Ki Cakrajaya di-”tua”-kan di wilayahnya.
Suatu hari, ketika Ki Cakrajaya akan memanjat pohon nira datanglah seseorang alim dan bertanya kepadanya “Kisanak, apa sebabnya setiap kali engkau memanjat batang nira kelapa selalu saja mengucapkan kalimat “Clontang-clantung, wong nderes buntute bumbung, apa gelem apa ora?“?” lalu Ki Cakrajaya menjawab “Itulah mantra agar hasilnya melimpah”,….“Ah, apa yang Kisanak ucapkan itu salah ”. Kata seseorang yang alim tadi, “Salah dan kurang tepat? sahut Ki Cakrajaya, Ah, anda rupanya belum kenal denganku. Akulah Ki Cakrajaya, tukang nderes sudah sejak masa kecilku. Itu merupakan ilmu warisan leluhurku dan mantra itupun bukan sembarang mantra!” katanya.
“Betul kata-katamu, Kisanak. Tapi aku mempunyai mantra yang lebih unggul, yang akan bisa menghasilkan lebih banyak dari mantramu itu”, kata lelaki ‘alim dengan perbawa mantap itu “Buktikanlah, Kisanak!” pinta Ki Cakrajaya. “Baiklah, ijinkanlah aku melihat cara Kisanak mengolah legen (nira) itu”. Ki Cakrajaya lalu mengajak laki-laki tadi ke rumahnya, lalu menunjukan bagaimana cara membuat gula. Sang tamu kemudian juga mencetak gula aren satu tangkap. Lalu cetakan itu diserahkan pada Ki Cakrajaya dengan pesan agar jangan dibuka sebelum dirinya pergi. Setelah orang alim itu keluar dari rumah Ki Cakrajaya dan sudah tidak tampak lagi, Ki Cakrajaya segera membuka cetakan gula hasil buatan orang yang tak di kenal tadi. Matanya terbelalak karena isinya bukan lagi gula, melainkan setangkap emas yang berkilauan. Ki Cakrajaya tersadar, bahwa ternyata tamunya tadi bukanlah orang sembarangan. Diapun mengejar sang tamu, setelah bergegas mencari akhirnya Ki Cakrajaya berhasil juga mengejar dan menemukan laki-laki misterius itu, yang tidak lain adalah Sunan Kalijaga; anggota Wali Songo yang termasyhur di kalanganrakyat jelata.
Karena dibuat penasaran dan rasa ingin tahu yang besar, Ki Cakrajaya akhirnya minta diajarin “mantra sakti”  tersebut dan bersedia menjadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga  untuk pertama kalinya mengajarkan syahadat. Sejak saat itulah, Ki Cakrajaya selalu diajak Sunan Kalijaga mengembara dari satu daerah ke daerah yang lain sambil menyebarkan dakwah Islam. Suatu saat, Sunan Kalijaga pamit  Kepada Ki Cakrajaya, beliau ingin sembahyang ke Mekkah. "dalam riwayat yang lain dikatakan ke Demak/Cirebon."  Kemudian Ki Cakrajaya diperintahkan untuk menunggu tongkatnya.
Ki Cakrajaya kemudian duduk bersila, penuh khidmat. Saking lamanya, tubuh Ki Cakrajaya ditumbuhi rumput belukar dan bambu berduri. Tempat bertapanya itu pun berubah menjadi semak belukar yang rimbun dan sanggat padat dengan tanaman liar “Grumbulan”. Lalu di tempat lain Sunan Kalijaga teringat bahwa ia telah meninggalkan muridnya, maka datanglah Sunan Kalijaga ke tempat dimana Ki Cakrajaya pada saat di tinggalkan bersama tongkatnya.
Petilasan Tempat Pembakaran Sunan Geseng Saat Ini Berdiri Masjid "Ragil Maladan"
Setelah sampai ke tempat itu ternyata tempat tersebut sudah menjadi semak-belukar yang begitu rimbun dan rapat, maka oleh Sunan Kalijaga dibakarlah semak belukar  dan bambu berduri itu.  Setelah semak belukar tersebut terbakar habis, tampaklah sosok hitam kelam yang sedang bersila, akhirnya Ki Cakrajaya ditemukan namun Ajaibnya, Ki Cakrajaya tidak cedera sedikitpun. Hanya kulitnya saja yang berubah menjadi hitam. Karena hitam (Jawa=geseng), maka Sunan Kalijaga memberikan gelar dan memanggil Ki Cakrajaya dengan sebutan menjadi Sunan Geseng.
Lalu proses pembakaran itu menghasilkan nama sebuah Dusun di desa Jatimulyo dlingo bantul, yaitu Dusun Muladan/Maladan, Berasal dari kata ‘mulad‘ (berkobar-kobar). Lalu kemudian berjalanlah kedua kekasih Allah tersebut ke timur, lalu sampailah mereka pada sebuah lembah, kemudian sunan kalijogo menancapkan tongkatnya kembali dan tiba-tiba keluarlah air yang memancar dari dalam tanah,  Sunan kalijaga lalu  meminta Sunan Geseng untuk mandi dan membersihkan tubuhnya yang telah terbakar.
Masjid Ragil Maladan Tempat Sunan Geseng Dibakar
Sungguh ajaib Sunan Geseng pun tampak utuh dan tubuhnyapun kembali seperti semula. lalu Kotoran hasil bersih-bersih badan itu konon  ceritanya terbawa hingga ke Sungai yang kemudian oleh masyarakat di sebut Kedung Pucung. sedangkan air yang memancar dari tongkat Sunan Kalijaga sekaligus tempat mandi  Sunan Geseng itu kemudian disebut Sendang Banyu Urip. Kemudian lokasi sekitar sumber air tersebut diberinama Dusun Banyuurip. Berdasarkan cerita rakyat, sisa bekas luka dan kotoran sunan geseng itu menjadi ikan lele yang di keramatkan sampai sekarang dan bertempat di Kedung Pucung.

JATI KLUWIH Dlingo Perdebatan Sabdo Dadi

Fenomena Pohon JATIKLUWIH di Desa JatiMulyo, Kecamatan Dlingo Bantul adalah sebuah pemandangan biasa, saking biasanya masyarakat sekitar tidak mampu mengupas arti sebuah Jati Kluwih dan mempraktikannya secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Nah berikut akan coba saya ceritakan sebuah cerita yang memiliki banyak versi ini. Pada suatu ketika Sunan Kalijogo sedang bersama Sunan Geseng muridnya di suatu tempat,(saat ini tempat itu berada di Padukuhan Loputih desa Jatimulyo).

Tampaknya mereka sedang asyik berdialog bahkan berdebat mengenai kesejatian hidup, Sunan Kalijogo berkeras bahwa segala kelinuwihan atau kelebihan itu hendaknya bisa mencapai pada kedirian yg sejati atau kedirian yg diakuiNya, sedangkan Sunan Geseng sang murid tidak mau kalah dengan sang guru, beliau mengatakan bahwa sejatinya manusia itu harus mempunyai kelinuwihan atau kelebihan sehinnga bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak.Tanpa sadar saking serunya kedua kekasih Allah itu berdebat.

kemudian menunjuk sebuah pohon di dekatnya dan sunan Kalijogo mengatakan ini pohon Jati sementara itu sunan Geseng mengatakan ini pohon Kluwih maka pohon jati yg ada didekat mereka berubah menjadi pohon jati setengah pohon kluwih. Saat ini panorama tempat ini sudah mulai pudar dan tidak terlihat begitu sakral. Legenda diatas adalah sebuah pesan moral dari nenek moyang dan mengandung ajaran adiluhung, lantas manakah yg benar diantara kedua sunan tersebut? tentu saja keduanya benar adanya. mari kita bahas pendapat Sunan Kalijogo lebih dahulu.
Sunan Kalijogo berpendapat bahwa segala kelebihan atau kelinuwihan baik itu berupa ilmu, harta, pangkat bahkan kesaktian hendaknya bisa untuk kendaraan mencapai kesejatian sejati atau kesadaran illahi, kesejatian yg sejati adalah diri sejati yg diakui olehNya, bukan oleh sepihak atau beberapa pihak, kalau kita suka mengakui diri kita secara sepihak bahwa kita benar dan orang lain yang salah (walaupun dengan dalil dari kitab suci sekalipun), maka kesombongan akan bersemayam di dalam hati kita dan jauh dari ridhoNya, iblis akan menguasai hati kita tanpa kita sadari (iblis laknat jegjegan), ibarat kata daun yang hanyut di sungai tapi tersangkut batu dan pada akhirnya daun tsb dipenuhi lumpur dan lama kelamaan membatu sehinnga tidak mungkin sampai pada muara menuju lautan tanpa batas. maka dari itu segala kelebihan kita hendaknya membuat kita semakin tawaduk atau rendah hati seperti padi semakin berisi semakin merunduk, lha apa kalau kita merunduk terus sampai pada kesejatian sejati? orang yang serba kelebihan tapi tetap rendah hati maka akan mencerminkan kualitas sujudnya (dalam islam, saat paling dekat pada Allah adalah pada saat sujud pada sholat. 

Banyak orang berpendapat bahwa kualitas sujud seseorang dilihat dari tanda hitam di dahinya, ini memang benar tapi cuman separuh kadar kebenarannya sebab dahi hitam bisa di buat dengan cara menekan dahi pada karpet atau sajadah dengan kuat atau cara lebih ekstrim disertai menggosok-gosok dahinya pada waktu sujud, ini malah berbahaya sebab bisa menjadi riya atau pamer "ketakwaan" kita. yang betul adalah kualitas sujud kita harus membekas di hati kita dan tidak harus pada dahi kita, bekas dari sujud kita dihati adalah sifat tawaduk yang disertai perbuatan yg tawaduk pula, perwujudannya adalah perbuatan tanpa pamrih dalam berbuat baik dan sedikit bicara (sepi ing pamrih rame ing gawe). Nah kembali ke pendapat sunan Kalijogo bahwa kelinuwihan yang bertujuan kesejatian diibaratkan daun yg terbawa arus sungai tapi tidak hanyut karena bisa mengendalikan diri hingga menuju lautan tanpa batas, itulah diri yg sejati yg di akui olehNya, yg ikhlas tanpa beban, karena segala kelinuwihan kita walaupun sedikit apabila kita labuh labetkan pada Allah maka kelinuwihan kita menjadi tak terhingga, ibarat angka berapapun dibagi nol akan menjadi tak terhingga, angka adalah kelebihan kita sedangkan ikhlas di ibaratkan angka nol. Sunan Geseng berpendapat bahwa kesejatian kita hendaknya berkelinuwihan atau segala kelebihan kita buah dari hasil kesejatian kita hendaknya didermakan untuk orang banyak sehingga menjadi sangat bermanfaat (tapa ngrame), buat apa kita mencapai tingkat spiritualitas tinggi tapi cuman bisa berteori tanpa kerja nyata? tentu saja mubazir bukan? hendaknya para alim ulama atau pemuka agama tidak hanya bisa berteori dan perbuatannya sedikit (ulama tidur), tapi dituntut untuk memberi sumbangan besar dibidang keilmuan tentu saja dengan cara yg baik dan sopan tanpa menghujat pihak lain yg berbeda pendapat atau berseberangan. Tapi bagi Sunan Geseng, kelinuwihan adalah hanya bonus dari kesejatian sejati, tanpa mengharap kepadaNya, tapi apabila kita diberi "bonus" tersebut maka wajib diamalkan kepada orang lain tanpa pamrih (tapa ngrame, sepi ing pamrih rame ing gawe). Bahkan tidak hanya bonus dari kesejatian sejati kita,segala kelebihan kita walaupun sedikit wajib didermakan dan diamalkan.Dari pendapat kedua kekasih Allah tsb terkesan berbeda, namun pada hakekatnya memiliki esensi yg sama. Mari kita coba tarik benang merah kedua pendapat tsb.

Pendapat Sunan Kalijogo bahwa segala kelinuwihan (harta, ilmu, pangkat, kesaktian) harus bermuara ke kesejatian diri sejati, ketika sampai pada kesejatian sejati maka kita diberi bonus olehNya berupa kelinuwihan lautan tanpa batas (tak terhingga) disambung pendapat Sunan Geseng, bahwa segala "bonus" dari yg maha kuasa hendaknya didermakan dan diamalkan kepada orang lain satria pinandhita tapa ngrame sepi ing pamrih rame ing gawe. Apakah kita bisa meneladani kedua kekasih Allah tsb?

Kecamatan Dlingo

Buat yang belum Mengenal Dlingo bantul Sekali lagi saya kasih info singkat..meski belum begitu valid tapi mudah-mudahan bisa memberikan keterangan yang membantu. Dlingo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis Dlingo terletak di Kabupaten Bantul paling timur, dan berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, potensi yang ada di kecamatan Dlingo adalah pada sektor industri kayu, anyaman bambu, tambang batu, pertanian berladang, kehutanan, perkebunan, pariwisata dan potensi bentang alam berupa pegunungan dengan Luas 55,87 km².

Karakteristik Desa yang dimilikipun beraneka ragam antara lain :
Desa Mangunan:
Desa ini memiliki potensi agrowisata berupa kebun buah (masih dalam rintisan), kerajinan ukiran, souvenir, dan alam pedesaan yang masih alami, fasilitas jalan yang bagus yang di tunjang dengan keramahan masyarakat lokal yang bersahaja dan berbudaya. Disamping itu kandungan mineral tanah yang di miliki dapat dijadikan bahan campuran pembuat gerabah. Ritual desa yang sering dilakukan adalah pementasan Ketoprak mataram setiap setahun sekali pada bulan Agustus dan acara budaya lain.

Peta lokasi Kecamatan Dlingo bantul

Desa Muntuk:
Desa ini memiliki potensi kerajinan anyaman bambu yang sudah menembus pasar nasional maupun internasional, disamping juga potensi wisata pemandangan alam pegunungungan di kawasan wisata Nganjir. Desa muntuk ini memiliki karakter masyarakat yang tradisional yang masih kuat memegang tradisi dan budaya lokal yang ada. pada bulan-bulan tertentu digelar pesta budaya Tayuban ( Ledekan) untuk acara bersih Dusun. sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, pengerajin bambu dan kayu. hasil kerajinan masyarakat Desa Muntuk sampai saat ini sudah menembus pasar-pasar internasional. namun bagi anda yang berdomisili di indonesia jangan khawatir, bila datang kesana akan mendapatkan harga tarif lokal.
Desa Terong:
Desa ini merupakan desa yang secara politik paling dinamis, hal ini bisa ditunjukan dengan peran serta partisipasi politik masyarakatnya yang tinggi dalam setiap pesta demokrasi (Pemilu). Di samping juga dari sisi pembangunan pendidikan termasuk yang paling menonjol sehingga kultur masyarakat yang kritis sudah mulai terbangun. Secara ekonomi sebagian besar masyarakat Desa Terong bermatapencarian sebagai petani, namun pada generasi terkini sudah mulai ada pergeseran pekerjaan. dominasi pekerjaan yang lain adalah hampir 35 % masyarakatnya sudah bekerja sebagai birokrat, TNI, Polri, dan Pekerja Perusahaan.
Desa Temuwuh:
Karakteristik desa ini yang paling menonjol adalah pada persaingan ekonomi tepatnya secara ekonomi masyarakat sudah mulai sadar akan potensi desanya yaitu dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berdagang dan berusaha menciptakan lapangan kerja. Usaha kecil menengah mulai berkembang dan mulai menembus pasar nasional. Komoditi yang paling mendominasi adalah industri kayu/meubeler berupa daun pintu, meja, kursi dan barang-barang dari kayu, disamping indusri pengrajin bunga palsu, serta rak-rak kayu sengon.
Desa Jatimulyo:
Secara umum desa ini tidak mengalami pertumbuhan secara menonjol, baik dari sisi ekonomi, politik,dan potensi lokal yang ada, akan tetapi di wilayah ini terdapat lokasi-lokasi wisata ritual yang selalu ramai dikunjungi wisatawan luar daerah seperti Sendang Banyu Urip dan Pohon Jatikluwih. Sehingga ciri umum desa ini terletak pada warisan budaya yang religius dari leluhur.
Desa Dlingo:
Desa Dlingo merupakan desa yang secara religius beraneka ragam, secara ekonomi didominasi sektor pertanian, dan secara politik masih tradisionalis, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan masih lemah, namun dari sisi kekayaan alam terdapat potensi hidrologi (air bawah tanah) yang bisa dikembangkan. Kebutuhan air di desa ini bisa dipenuhi dengan syarat pengelolaan sumber daya yang ada dapat diakses secara maksimal.