Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Danramil 11/Dlingo Kodim 0729/Bantul Berikan Wawasan Kebangsaan pada Siswa SMK Pembangunan Dlingo

 
Dlingo :pwrionline.com: Guna meningkatkan pendidikan karakter bangsa di kalangan generasi muda, khususnya para pelajar di wilayah Dlingo, Bantul, Komandan Koramil (Danramil) 11/Dlingo Kodim 0729/Bantul, Kapten Inf Surono, memberikan pembekalan wawasan kebangsaan kepada siswa SMK Pembangunan Dlingo.

“Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin dengan menyambangi sekolah-sekolah yang berada di wilayah Dlingo dalam rangka meningkatkan pendidikan karakter bangsa di kalangan generasi muda, khususnya siswa-siswi baik tingkat SD, SLTP, maupun SLTA di wilayah Dlingo, Bantul,” ujar Surono di sela-sela kegiatannya.

Di samping itu, lanjutnya, pemberian wawasan kebangsaan ini bertujuan untuk menanamkan kedisiplinan, rasa cinta Tanah Air sedini mungkin di kalangan pelajar. “Kalau bukan kita siapa lagi yang akan mencintai Tanah Air tercinta ini,” katanya. Dalam kesempatan itu, Surono juga mengingatkan agar para siswa jangan sampai terjerumus pada perilaku yang negatif. “Misalnya narkoba, tawuran, seks pranikah, dan lainya, serta belajar dengan baik, mengingat bahwa masa depan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi muda yang memiliki jiwa juang yang tangguh,”
Guna meningkatkan pendidikan karakter bangsa di kalangan generasi muda, khususnya para pelajar di wilayah Dlingo, Bantul, Komandan Koramil (Danramil) 11/Dlingo Kodim 0729/Bantul, Kapten Inf Surono, memberikan pembekalan wawasan kebangsaan kepada siswa SMK Pembangunan Dlingo. 
 
“Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin dengan menyambangi sekolah-sekolah yang berada di wilayah Dlingo dalam rangka meningkatkan pendidikan karakter bangsa di kalangan generasi muda, khususnya siswa-siswi baik tingkat SD, SLTP, maupun SLTA di wilayah Dlingo, Bantul,” ujar Surono di sela-sela kegiatannya.

Di samping itu, lanjutnya, pemberian wawasan kebangsaan ini bertujuan untuk menanamkan kedisiplinan, rasa cinta Tanah Air sedini mungkin di kalangan pelajar. “Kalau bukan kita siapa lagi yang akan mencintai Tanah Air tercinta ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Surono juga mengingatkan agar para siswa jangan sampai terjerumus pada perilaku yang negatif. “Misalnya narkoba, tawuran, seks pranikah, dan lainya, serta belajar dengan baik, mengingat bahwa masa depan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi muda yang memiliki jiwa juang yang tangguh,”

170 Calon Bidan Data Ibu Hamil Asal Mangunan Dlingo

Dlingo: Harjo: Akademi Kebidanan Yogyakarta (Akbidyo) menerjunkan 170 mahasiswa calon bidan (cabid) ke enam dusun di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo untuk melakukan pendataan ibu hamil dan balita. Pelepasan cabid ke enam dusun dilakukan Muspika Dlingo di balaidesa setempat,

Koordinator Desa (kordes) Kebidanan Komunitas Akbidyo Yani Rusnawati mengatakan, kegiatan calon bidan disebar ke enam dusun berlangsung tiga pekan ke depan. Pekan pertama cabid akan melakukan sensus ibu hamil dan balita.

“Pekan berikutnya inventarisasi masalah yang ditemukan ditindaklanjuti aksi program pendampingan dan edukasi,” kata Yani saat ditemui

Menurut dia, program kebidanan sebagai ruang mahasiswa cabid melakukan pengabdian masyarakat dengan fokus pelayanan kesehatan ibu hamil dan balita. Secara khusus pula, imbuh Yani, program menjadi upaya kemitraan kampus dengan pemerintah untuk menekan angka kematian ibu melahirkan dan angka bayi meninggal. “Kegiatan juga kami prakarsai di daerah Lendah, Kulonprogo beberapa waktu lalu,” tambahnya.

Koordinator Lapangan Kebidanan Komunitas Akbidyo Maria Ignasia mengatakan, kegiatan pengabdian masyarakat sangat penting menjadi orientasi dasar cabid yang tangguh mengenal medan tugas dan siap menjalankan pelayanan medis di seluruh wilayah tanah air.

Maria yang juga sudah bertugas sebagai bidan di Kabupaten Bovendigul, Papua, menilai tugas bidan tidak cukup selesai dengan mendapat ilmu kebidanan dan membuka bisa membuka praktik, melainkan siap menjalankan tugas di seluruh daerah pelosok di Indonesia. Terlebih, kampus Akbidyo dalam beberapa tahun terakhir menjalin kerja sama dengan Kementerian Daerah Tertinggal untuk pengiriman tenaga bidan di wilayah tertinggal.

KAPOLSEK DLINGO HADIRI GIAT PENANAMAN 1000 POHON DI DUSUN POKOH I OLEH GKR PEMBAYUN


 Kamis, 27 Desember 2012 pukul 09.00 Wib, Kapolsek Dlingo AKP Bambang Setiadi menghadiri giat Gerakan Tanam Pohon dari Gema Angkasa Dlingo dengan penanaman 1000 pohon oleh GKR Pembayun di dusun Pokoh I, Dlingo, Dlingo, Bantul dengan mengambil tema “Lestari Pohonku Lestari Alamku”. Penanaman pohon ini dimaksudkan untuk penghijauan dan mencegah erosi agar tanah hutan di wilyah dusun Pokoh I tidak gundul. Adapun 1000 pohon dari hasil bantuan dari Dinas perhutani, para pemuda dan masyarakat sekitar. Giat gerakan penghijauan ini dihadiri oleh Rombongan GKR Pembayun, Muspika Dlingo, Lurah dan Kadus sekecamatan Dlingo, Toga, Toma, segenap Tamu undangan dan masyarakat sekitar. 
Humas Polres Bantul : Secara simbolis GKR pembayun dengan disaksikan oleh hadirin mengawali penanaman pohon pertanda penanaman 1000 pohon dimulai. Penanaman pohon dilakukan oleh Pemuda pemudi dan masyarakat sekitar, pohon yang ditanam yaitu berupa pohon Jati, Pohon Salam, Jambu Dursosono dan Pohon Duwet. Penanaman dilakukan di hutan dan lahan pekarangan warga dengan harapan, ke depan masyarakat dapat ikut merawat serta memetik hasil dari pohon-pohon tersebut. “Kami berharap peran serta masyarakat untuk merawat dan memelihara pohon-pohon yang sudah ditanam tersebut karena keberadaan pohon-pohon itu sendiri sangat bermanfaat bagi kepentingan warga setempat, khususnya untuk mencegah terjadinya bencana alam seperti banjir atau tanah longsor,” Jelas GKR Pembayun.
Sementara pengamanan giat dilaksanakan oleh personil Polsek Dlingo dengan dibantu oleh personil Koramil Dlingo. Giat selesai dalam keadaan aman dan lancar pada pukul 10.00 wib.

Semua SD di Dlingo Tak Penuhi Kuota


DLINGO: KRjogja.com) : Puluhan sekolah dasar (SD) Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Dlingo kekurangan murid. Kondisi hampir sama juga terjadi di jenjang SMP/MTs. Dari sembilan sekolah jenjang SMP di Dlingo, hanya satu yang mampu memenuhi kuota, sisanya hingga pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB ) ditutup, ratusan kursi masih kosong mlompong. Bahkan MI Kediwung berdaya tampung 32 murid, hanya terisi empat pendaftar.

Data Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Pendidikan Dasar (PPD) Kecamatan Dlingo menyebutkan, daya tampung jenjang SMP/MTs di Dlingo sebanyak 648 murid. Sementara untuk SD/MI yang berjumlah 27 sekolah dengan kuota 960. Kenyataannya berkata lain, hingga pelaksanaan PPDB rampung, jenjang SD hanya meraup 433 murid, sedang SMP 503 siswa. Kepala UPT PPD Kecamatan Dlingo, Slamet Pamuji MPd, Selasa (5/7) mengakui, dari banyak sekolah di wilayahnya hanya segelintir yang mampu memenuhi kuota. Dijelaskan, untuk jenjang sekolah lanjutan pertama, hanya SMPN 1 Dlingo yang kuotanya penuh. Sisanya dipastikan banyak kursi kosong lantaran tiada pendaftar.

"Lulusan SD/MI tahun ajaran 2010/2011 di Kecamatan Dlingo sebanyak 550 murid, padahal kursi yang tersedia jenjang SM/MTs jauh di atasnya, (648-red), otomatis kuota itu sangat sulit terpenuhi," jelas Slamet. Slamet mengatakan, banyaknya kursi kosong baik jenjang SD/MI dan SMP/MTs, banyak faktor mempengaruhi, antara lain, tidak adanya calon siswa (casis) luar Kecamatan Dlingo mendaftar. Tetapi sebaliknya banyak lulusan sekolah di Dlingo justru sekolah di luar, baik di Imogiri, Pleret, Piyungan. Bahkan ada juga siswa dari Dlingo mendaftar di SMPN 1 Bantul.

"Dari luar Kecamatan Dlingo saya belum mendapat laporan ada yang masuk, tetapi sebaliknya dari sini banyak mendaftar di luar," ujarnya. Tidak mungkina orang Imogiri mencari sekolah di Dlingo, atau dari Piyungan sekalipun. Meski sekolah banyak yang kekurangan siswa, tetapi proses kegiatan belajar tetap berlangsung. Ia mengatakan, banyaknya SD yang tidak mampu memenuhi kuota bukan karena siswanya tidak sekolah. Tetapi karena memang warga usia SD terbatas. "Artinya program KB di Dlingo berhasil," jelasnya.

Kepala MTS Maarif Dlingo Berharap Ada Mukjizat UN

Dlingo : TRIBUNJOGJA.COM : Bagi Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Dlingo, Bantul, DIY, Miftahul Bachri, Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMP sederajat cukup membuatnya resah. Pasalnya, ia juga memikirkan para anak didiknya yang akan menjalani UN mulai Senin (25/4/2011) besok sampai Kamis.
"Saya juga ikut deg degan mikirin mereka, bahkan saya berharap semoga ada mukjizat yang dapat menolong nilai mereka," kata Miftahul saat ditemui Tribun Jogja, di sekolahnya.

Keresahannya tersebut karena nilai yang akan didapat siswa dalam UN juga akan berpengaruh pada akreditasi sekolah. Selain itu hal tersebut juga kerap dijadikan tolok ukur seorang pengajar, termasuk dirinya. Ia menuturkan dari 140 siswa MTs Maarif Dlingo, terdapat 40 siswa yang menurutnya masih mengkhawatirkan. Hal tersebut tak pelak membuatnya ikut stres memikirkan nasib para siswanya dalam menjalani UN 2011 ini.

"Kadang siswa itu terkesan lebih santai, yang stres malah orangtua dan guru-guru seperti saya ini," tambahnya. Sedangkan Wakil Kepala MTs Maarif Dlingo, Ismartoyo, menambahkan keberhasilan seorang siswa dalam UN juga menjadi pertaruhan kredibilitas seorang guru pengampu mata pelajaran. Pria yang sehari-hari mengajar mata pelajaran IPS ini tak jarang mengingatkan siswanya untuk terus berdoa dan meningkatkan ibadah.

STQ di Dlingo Libatkan 175 Peserta

Dlingo: (KRjogja.com) : Perhelatan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat Kabupaten Bantul 2011 yang dipusatkan di Desa Muntuk Kecamatan Dlingo Bantul diikuti 175 peserta, Kamis (3/3). Jumlah tersebut utusan dari 17 kecamatan di Bantul dan melombakan delapan cabang, diantaranya tilawah anak-anak, putra-putri diikuti 34 peserta, Tilawah dewasa putra-putri 34 peserta, tanfidz 1 juz dan tilawah 15 peserta, tanfidz 5 juz dan tilawah dengan 15 peserta.

MHQ 10 juz diikuti 27 peserta, MHQ 20 juz 26 peserta, MHQ 30 juz diikuti 20 peserta, sementara untuk tartil 4 peserta. Panitia STQ dari Kantor Kementerian Agama Bantul, H Sidik Pramono SAg mengatakan, STQ yang baru pertama digelar di Kecamatan Dlingo merupakan tahap awal dalam mempersiapkan event tingkat provinsi DIY.

Sidik mengatakan, setiap cabang yang diperlombakan akan diambil tiga terbaik untuk disertakan dalam perlombaan di tingkat Provinsi DIY yang rencananya dihelat April mendatang. Dijelaskan Sidik, event tingkat nasional yang akan digelar di Kalimantan Selatan jatuh pada bulan Juni tahun ini. STQ kali ini merupakan bagian penjaringan peserta untuk perlombaan di tingkat yang lebih tinggi. “Nantinya setelah nama-mana terbaik terjaring akan mewakili Bantul di tingkat provinsi,” jelasnya. Setelah itu kata Sidik, peserta terbaik tingkat kabupaten akan mewakili DIY. Dijelaskan, setelah tiga terbaik di masing-masing cabang, akan dilakukan bimbingan dan perbaikan sebelum perlombaan di DIY digelar. “Waktu yang tersisa akan kami menfaatkan untuk melakukan perbaikan.

Sejumlah Sekolah Dlingo Kekurangan Siswa

Dlingo : KR.com:  Hari terakhir pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) SD di Bantul, sejumlah sekolah belum terpenuhi kuotanya (30 siswa). Meski begitu, batas minimal 10 siswa setiap kelas semua SD di Bantul tercapai. Sehingga bisa menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Di sisi lain ada juga sekolah justru kelebihan pendaftar. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendidikan Dasar (PPD)  Kecamatan Dlingo, Slamet Pamuji MPd, mengakui, sejumlah SD memang kurang dari 30 siswa. Namun kekurangan itu masih dalam batas normal. “Bila kurang dari 30 pendaftar itu memang ada, tetapi jumlah pendaftar di bawah 10 anak (batas minimal) tidak ada,” ujar Slamet. SD di Dlingo memang ada satu sekolah terdapat dua rombongan belajar (rombel) atau dua kelas, tetapi ada juga yang satu kelas.

Seharusnya dalam satu UPT di Kecamatan Dlingo paling tidak harus ada 900 pendaftar. Perhitungan itu berdasarkan jumlah rombel di Dlingo yang mencapai 30, sedang jumlah sekolah sebanyak 26 SD. Slamet menjelaskan, adanya beberapa sekolah yang kurang pendaftar lantaran lokasi sekolah sulit dijangkau.  Hal sama juga terjadi di Kecamatan Sedayu, banyak sekolah yang kuotanya belum terpenuhi. Kepala UPT PPD Kecamatan Sedayu, Suwardi SPd menjelaskan, di wilayahnya ada 22 SD. Dari jumlah itu memang banyak yang belum penuh. “Jumlahnya memang belum genap 30, tetapi kekurangannya saya nilai wajar, karena pendaftarnya mencapai 27 atau 28,” kata Suwardi. Ia optimis sekolah yang sampai saat ini belum penuh pada akhirnya tercapai.

Sesuai ketentuan, meski pendaftaran telah ditutup, praktiknya sampai Juli masih bisa menerima siswa. “Bila ada sekolah yang kuotanya belum penuh, bisa saja menerima pendaftar sampai Juli,” jelas Suwardi. Biasanya pendaftar sering memasukkan putranya ketika siswa mulai masuk sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Dasar Bantul, Drs Sahari mengatakan, meski kuota 30 siswa belum terpenuhi masih bisa menyelengarakan proses belajar mengajar. Karena batas minimal 10 siswa. “Hingga saat ini belum ada laporan sekolah dengan pendaftar kurang 10 siswa,” kata Sahari. Jumlah SD/MI di Bantul mencapai 374.

Beberapa SD Tak Kebagian Siswa

Dlingo : KOMPAS.com - Sejumlah Sekolah Dasar (SD) pinggiran di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta,  sama sekali tidak kebagian siswa baru. Mereka tidak diminati karena prasarana dan kualitas yang kurang memadai. Namun, meskipun gagal merekrut siswa baru, pemerintah daerah tidak akan menggabungkan SD-SD tersebut.

Berdasarkan data di 3 kecamatan yang sudah masuk ke Dinas Pendidikan Dasar, tercatat 6 SD tidak memiliki siswa baru,  yakni SD Jatimulyo, SD Sendangsari, MI Koripan, MI Terong, MI Kediwung, dan MI Nglingseng. Semuanya berada di Kecamatan Dlingo. "Baru Kecamatan Dlingo, Pundong, dan Srandakan yang sudah menyerahkan data ke kami," kata Juwahir, Kepala Seksi Pendataan dan Informasi Dinas Pendidikan Dasar Dinas Pendidiksn Kab. Bantul.

Prestasi Anak Dlingo Dalam Lomba Roket

Dlingo, Bantul Water Rocket Competition, Ajang Lomba Roket Air tingkat Regional kembali diadakan. Lomba yang merupakan kerjasama antara LAPAN, PPIPTEK, Fak. Teknik UGM dan Pemkab Bantul ini untuk Wilayah DIY berlangsung di daerah Bantul tepatnya di Lapangan Trirenggo depan Rumah Dinas Bupati. Peserta lomba ini adalah siswa SMP dari seluruh DIY yang jumlahnya sekitar 102 peserta. Ichsan salah seorang Official Team dari PPIPTEK yang lulusan Fisika ITB saat saya temui nampak sibuk menyiapkan perlengkapan bagi para peserta mulai dari penyiapan air, peluncur roket dan membagi tugas para juri menyatakan bahwa ia cukup puas dengan penyelenggaraan lomba di Yogyakarta kali ini walau baru yang pertama kali.
Hari pertama lomba diadakan pembukaan dan dilanjutkan gladi resik pembuatan dan peluncuran roket. Sedangkan hari kedua barulah diadakan pelaksanaan lomba. Tiga orang juara tingkat regional ini nantinya akan dipertandingkan pada tingkat nasional yang juga akan diselenggarakan di Yogyakarta.Panitia merencanakan menggunakan area Pasar Seni Gabusan sebagai ajang lomba. Sedangkan 3 pemenang tingkat Nasional nantinya akan mewakili Indonesia dalam ajang lomba roket air internasional pada pertemuan tahunan Forum Regional Asia Pasifik tentang Ruang Angkasa (Asia Pasific Regional Space Agency Forum, APRSAF) ke-15.

Hasil Lomba Roket Air Regional DIY:
Juara I : Mutya Larasati (SMP 1 Banguntapan)
Juara 2 : Bagyo Raharjo (SMP 2 Bantul)
Juara 3 : Ayah Ayu Ratna (SMP Muhammadiyah Piyungan)
Juara Harapan 1 : Jumari (SMP Ma'arif Imogiri)
Juara Harapan 2 : Imam Khoirudin (SMP Tanjungsari Gunungkidul)
Juara Harapan 3 : Fauzi Muttaqin (SMP TD 2 Dlingo)

Sumber : http://mutoha.blogspot.com/ 

Bupati Bantul Resmikan SLB di Dlingo

Bupati Bantul, Drs.Idham Samawi, kemarin siang,(29/4) meresmikan berfungsinya Sekolah Luar Biasa (SLB) di Temuwuh Kec.Dlingo. SLB ini selanjutnya akan menampung anak-anak berkebutuhan khusus di wilayah Dlingo yang tercatat saat ini 415 jiwa. Sedangkan yang sudah memasuki usia sekolah ada 86 anak, sedangkan yang terdaftar ada 39 anak. Pendirian SLB ini merupakan aspirasi murni dari masyarakat Dlingo.

Dalam pembukaan SLB, Bupati Bantul, menyatakan bahwa semua anak-anak di Bantul patut mendapat perhatian, tak terkecuali anak-anak yang punya kebutuhan khusus. Ini sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang bahwa kita harus memikirkan pendidikan anak-anak tak terkecuali anak SLB, kata Bupati.

Kepala Sekolah Jawahir dalam kesempatan tersebut berharap suatu saat anak-anak nantinya punya asrama khusus sehingga tidak perlu bolak-balik ke rumah setiap harinya mengingat medan di Dlingo yang jauh. Kita pun berharap agar nantinya anak-anak SLB ini mampu berdikari, mandiri, serta tidak tergantung orang lain, dan setelah lulus diharapkan mereka punya kemampuan khusus seperti tukang kayu, menjahit dan lain-lain, ujarnya.