Tampilkan postingan dengan label perdagangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perdagangan. Tampilkan semua postingan

Diskusi Dengan Pengelola Wisata Watu Muni Dusun Seropan Desa Muntuk

Dlingo : 12 Januari 2017 :  Seperti kita bersama ketahui, kecamatan Dlingo akhir-akhir ini banyak bermunculan lokasi wisata. Kali ini kami bersama pengelola wisata Watu Muni dusun seropan Desa Muntuk berdiskusi tentang rencana disain dan pengembangan lokasi tersbut. dalam diskusi tersebut kami sampaikan bahwa objek wisata dapat didirikan dengan prasyarat sederhana namun dengan pentahapan yang jelas. sehingga ketika pada saatnya lokasi wisata tersebut berhasil menarik kunjungan wisata maka perputaran ekonomi masyarakat juga dapat dirasakan merata.

namun terdapat kendala yang berat dalam pengembangan lokasi ini, meskipun lokasi Watu Muni memiliki spesifikasi unik. sehingga pengelola harus bekerja keras dan mengandeng berbagai pihak dalam prosesnya nanti. Sekali lagi hampir semua ojek wisata yang datang kepada kami, hampir semuanya hanya memahami konsep wisata sebagaimanan umumnya. sehingga arahan yang kami berikan lebih ke manajemen pengelolaan pariwisata jangka pendek.

Pedagang Keluhkan Kualitas Bangunan Pasar Dlingo

Dlingo : Harjo: Pedagang pasar baru Dlingo, di Dusun Koripan I, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo mengeluhkan kualitas bangunan kios yang sudah mulai ditempati sejak sekitar sebulan terakhir.

Pasalnya, bangunan kios belum mampu menahan masuknya air. Akibatnya, kios pedagang masih sering kebanjiran dan merusak barang dagangan.

Gini, salah satu pedagang sembako Pasar Dlingo mengungkapkan, pada saat hujan lebat air masih masuk kios. Ia terpaksa harus sering tinggal di kios karena khawatir air hujan menenggelamkan barang dagangan di kiosnya.

“Airnya masuk ke kios tiap hujan deras. Kami selalu waswas kalau turun hujan,” katanya, Selasa (7/1/2014).

Sugiyo yang kiosnya bersebelahan dengan Gini tidak menampik seringnya kebanjiran. Ia tidak mengetahui apakah ketinggian lantai kios kurang tinggi dari pelataran halaman parkir atau sebab lainnya.

“Pokoknya airnya itu masuk kios kalau hujan deras,” tambahnya.

Tak hanya itu, pedagang di Pasar Dlingo juga menilai minimnya tong sampah. Selama ini para pedagang kesulitan membuang sampah. Pedagang hanya membungkus sampah dengan plastik dan membuang di lahan samping bangunan pasar.

“Lah mau dibuang kemana, tongnya tidak ada,” ujar Gini lagi.

Tak hanya itu, awak sopir angkutan barang yang hendak masuk area parkir mengaku cukup kesulitan karena akses jalan menuju pasar sempit. Para sopir mengaku jalan masuk menuju pasar sekitar 75 meter dari jalan raya Dlingo sulit untuk digunakan berpapasan dua kendaraan barang.

Nugraha, salah satu sopir box mengatakan kesusahan membawa masuk kendaraan lantaran hanya ada satu jalan masuk menuju halaman pasar.

“Hanya satu jalannya ke lokasi parkir. Itupun sempit dan turunan tajam. Ini menyulitkan kami untuk bisa parkir di halaman. Kalau kendaraan kami tinggal di jalan, jelas memicu kemacetan,” ujarnya.

Dinlopas Segera Tindaklanjuti Keluhan Pedagang Pasar Dlingo

Dlingo : Harjo: Pedagang Pasar Dlingo Bantul sudah bertemu langsung Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) Kabupaten Bantul Hermawan Setiaji terkait sejumlah keluhan pedagang atas kondisi pasar tersebut.

Pertemuan itu dilakukan di sela-sela peninjauan pasar baru Dlingo setelah pemindahan 200 pedagang ke 15 kios dan ratusan bangunan los seraya koordinasi lurah pasar Bantul di Pasar Baru Dlingo.

Kepada pedagang, Hermawan menyatakan siap menindaklanjuti keluhan pedagang. Hermawan juga berjanji akan mengambil sikap pengguna salah satu kios depan yang menambah bangunan teras namun kualitasnya buruk dan tidak memberikan keamanan pembeli.

Menurut Hermawan, Pasar Dlingo sudah mulai dioperasikan sekitar dua bulan lalu setelah pembangunan diselesaikan pihak ketiga dan ketertiban pedagang mengikuti ketentuan relokasi dari pasar darurat ke pasar baru.

Menurut Hermawan Pasar Dlingo sebenarnya sudah cukup memadai dari sarana pendukung. Pasar beroperasi setiap Kliwon dan Pahing ini telah disediakan bangunan 15 kios dan los yang mampu menampung 200 pedagang dan dilengkapi 10 ruang MCK.

Penataan pasar dinilai sudah cukup baik karena memisahkan pedagang makanan yang menggunakan api dengan dagangan lain.

“Bahkan kami mendirikan bangunan tambahan khusus untuk pedagang makanan yang harus pakai api jadi tidak bercampur di tengah pasar yang bisa memicu kebakaran,” ujarnya,

Dinlopas Segera Tindaklanjuti Keluhan Pedagang Pasar Dlingo

Dlingo : Harianjogja.com : Pedagang Pasar Dlingo Bantul sudah bertemu langsung Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) Kabupaten Bantul Hermawan Setiaji terkait sejumlah keluhan pedagang atas kondisi pasar tersebut.

Pertemuan itu dilakukan di sela-sela peninjauan pasar baru Dlingo setelah pemindahan 200 pedagang ke 15 kios dan ratusan bangunan los seraya koordinasi lurah pasar Bantul di Pasar Baru Dlingo. Kepada pedagang, Hermawan menyatakan siap menindaklanjuti keluhan pedagang. Hermawan juga berjanji akan mengambil sikap pengguna salah satu kios depan yang menambah bangunan teras namun kualitasnya buruk dan tidak memberikan keamanan pembeli.

Menurut Hermawan, Pasar Dlingo sudah mulai dioperasikan sekitar dua bulan lalu setelah pembangunan diselesaikan pihak ketiga dan ketertiban pedagang mengikuti ketentuan relokasi dari pasar darurat ke pasar baru. Menurut Hermawan Pasar Dlingo sebenarnya sudah cukup memadai dari sarana pendukung. Pasar beroperasi setiap Kliwon dan Pahing ini telah disediakan bangunan 15 kios dan los yang mampu menampung 200 pedagang dan dilengkapi 10 ruang MCK.

Penataan pasar dinilai sudah cukup baik karena memisahkan pedagang makanan yang menggunakan api dengan dagangan lain. “Bahkan kami mendirikan bangunan tambahan khusus untuk pedagang makanan yang harus pakai api jadi tidak bercampur di tengah pasar yang bisa memicu kebakaran,” ujarnya

Hujan Panjang, Produksi Kayu Putih Berkurang


Dlingo : Harianjogja.:Perubahan cuaca tahun ini berdampak pada nasib petani petik kayu manis Sido Rukun Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo. Mereka pesimistis bisa memenuhi target panenan lantaran musim hujan yang lebih lama dibanding kemarau.

Hasil panenan mereka adalah bahan mentah minyak kayu putih. Tahun ini bahan mentah ditarget terpenuhi 120 ton untuk luas hutan negara 136 hektar. “Hasilnya kurang begitu bagus karena cuaca seperti ini. Tiap ikatan hasil petikan kayu putih beratnya sudah terasa berkurang,” kata Painten anggota kelompok tani Sido Rukun asal Loh Putih, Jatimulyo kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Mandor hutan negara kayu putih blok Dodogan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY, Urip Sutopo membenarkan penurunan produksi kayu putih tahun ini. Menurut dia produksi kayu putih hutan negara cukup terganggu dengan hujan yang panjang. Tak hanya itu, kabanyakan air hujan juga berakibat pada turunnya kualitas tanaman kayu putih.

Urip menambahkan, dalam proses pengolahan, daun kayu putih yang mengalami musim hujan lama mengakibatkan volumen kandungan minyak berkurang. Walhasil, produksi turun. Lebih lanjut Urip menjelaskan upah tenaga kelompok tani hutan Jatimulyo sudah diperhitungkan oleh Dishutbun.

Setiap 1 ton panenan, petani mendapat upah sebesar Rp65.000 atau setara dengan Rp 65 per kilogram hasil panen. Petani Jatimulyo memetik kayu putih enam bulan sekali. Hasilnya dikirim ke perusahaan penyulingan Pokoh untuk diolah menjadi minyak kayu putih.

Camilan Tiwul Ayu Dlingo

THIWUL merupakan makanan khas DIY yang terbuat dari tepung gaplek yang dikukus. Saat ini, tidak banyak warga yang memanfaatkan thiwul sebagai makanan pokok. Mereka memanfaatkan makanan yang terbuat dari tepung gaplek (singkong) ini, sebagai camilan. Salah satunya adalah Thiwul Ayu Mbok Sum yang berdiri di kawasan Jalan Raya Mangunan Dlingo Bantul. Keunikan Thiwul Ayu Mbok Sum, ada di rasa yang alami yang alami dan tidak neko-neko.

Pemilik usaha Thiwul Ayu Mbok Sum, Suminem menuturkan, ia membuka usaha penjualan oleh-oleh khas Dlingo ini sudah sejak tahun 1997 silam. Awalnya, ia mendatangkan tepung gaplek dari berbagai daerah penghasil. Namun lama kelamaan, ia memproduksi sendiri tepung gaplek untuk meningkatkan kualitas thiwul yang dijualnya. Kini Thiwul Ayu Mbok Sum sudah terkenal hingga luar kota. Tak sedikit pembeli langganannya berasal dari Jakarta, Surabaya, Medan bahkan dari Malaysia.

"Thiwul Ayu Mbok Sum hanya tahan selama 24 jam. Karena, thiwul ini murni menggunakan bahan alami dan tidak mengandung bahan pengawet sehingga sehat dan aman dikonsumsi. Enaknya menikmati Thiwul selagi panas-panas. Makanya kami selalu memasak ditempat berdasarkan pesanan," tutur Suminem saat KR menyempatkan diri singgah dan mencicipi Thiwul Ayu Mbok Sum beberapa waktu lalu.

Demi memenuhi selera konsumen yang makin beragam, berbagai pilihan rasa yang ditawarkan seperti Thiwul Ayu Gula Jawa, Thiwul Ayu Gula Pasir, Thiwul Ayu Gurih. Bahkan ada juga Thiwul Ayu Sambal, Thiwul Ayu Keju dan Thiwul Ayu Coklat.
"Thiwul Ayu Sambal, disajikan hanya ditambah sambal saja, sedangkan Thiwul Ayu Keju dan Coklat ditaburi diatasnya." terangnya lagi.

Harga Thiwul Ayu Mbok Sum tergolong murah meriah, Rp 3.500/kardus dengan berbagai pilihan rasa. Dari sekian jenis, Thiwul Ayu Gula Jawa dan Thiwul Ayu Gurih paling banyak penggemarnya. Suminem menuturkan rata-rata tiap hari ia bisa memproduksi 500 kardus thiwul dan menghabiskan sekitar 50 kilogram tepung gaplek, saat liburan produksi bisa meningkat.

Cara pembuatan Thiwul sangat sederhana, Singkong yang sudah dijadikan tepung gaplek dikukus bersama gula jawa atau gula pasir. Selanjutnya kelapa diparut dan dimasukkan serta diaduk dengan tepung gaplek.
"Citarasa gurih didapat dari kelapa dan garam. Namun adapula yang menyukai thiwul rasa tawar kemudian dinikmati dengan cocol sambal," terang Suminem lagi.

Ditambahkan, cara memasaknya tidak dengan kompor namun menggunakan pawon kayu. Meskipun berada ditempat jauh dan sedikit terpencil, artis Ibukota Farah Quin pernah berkesempatan datang dan menikmati Thiwul Ayu Mbok Sum.

Salah satu pengunjung, Rahayu (53) warga Pancoran Jakarta menyatakan ia suka Thiwul Ayu Mbok Sum karena jenis camilan ini jarang ia makan. "Rasanya enak, saya jarang makan Thiwul kalau tidak datang ke Bantul. Tekstur rasa yang halus, lembut dan ndeso benar-benar ngangeni, sayang tidak tahan lama sehingga tidak bisa disimpan," pungkasnya.














iB Hasanah BNI Syariah Layani Nasabah Pengusaha Lemah Dlingo


DLINGO (KRjogja.com) - BNI Syariah memiliki produk penyaluran dana pembiayaan wirausaha bernama iB (Islamic Banking) Hasanah. Produk yang difokuskan untuk modal usaha masyarakat menengah ke bawah ini memiliki kemudahan dari sisi persyaratan pembiayaan. Sementara itu 30 persen nasabah pengusaha lemah sudah terlayani program iB Hasanah ini.

"Produk ini memiliki kemudahan persyaratan pembiayaan. Dari sisi jaminan misalnya, kalau masyarakat memiliki jaminan Rp 100 juta misalnya, maka peminjam tetap diberi modal Rp 100 juta itu padahal biasanya produk lain hanya bisa memberikan maksimal Rp 80 juta misalnya," ujar Imam Sunarto Pimpinan BNI Syariah Cabang Yogyakarta saat memberikan bantuan prasarana pompa air di dusun Kanigoro Mangunan Dlingo Bantul, Kamis (20/9).
 
Imam menambahkan kebanyakan pengusaha yang tertarik menggunakan produk iB Banking merupakan pengusaha dari sektor retail misalnya toko kelontong dan sektor usaha perdagangan lain. "Kami menjadi solusi bagi pengusaha lemah yang problem utamanya selalu kesulitan di jaminan aset," tegasnya.

Pengrajin Dlingo Perabot Indekost Kebanjiran Order

Dlingo : jogja.tribunnews: Penerimaan mahasiswa baru di sejumlah universitas di Yogyakarta, membawa berkah bagi pedagang furniture indekost. Mereka mulai kebanjiran orderan menyusul permulaan kuliah dimulai September ini. Sejumlah furniture kost seperti meja belajar, almari, tempat tidur, rak buku, dan rak sepatu mulai diburu mahasiswa yang sebagian besar adalah penghuni baru kost kosan. Pedagang perabot kost ini mengaku mengalami kenaikan omzet pendapatan 50 persen dari hari biasa.

"Kenaikan permintaan sudah naik sejak dua minggu lalu pasca lebaran rata-rata 30 hingga 50 persen setiap harinya. Terutama akhir pekan lalu pembeli mencapai 20 orang orang dari rata-rata 5 orang per harinya," kata salah satu penjual furniture kost di Jalan Colombo, Samirono, Rakhmat.

Ia juga mengaku dengan banyaknya pelanggan pendapatan kotor juga meningkat dari Rp 200 - Rp 300 ribu menjadi Rp 300 - 500 ribu per harinya. Menurutnya trend seperti ini biasa terjadi setiap masuk tahun ajaran baru, pasalnya mayoritas indekost di Yogyakarta masih banyak yang belum terisi perabotan. Pedagang lainnya, Tukiman mengatakan setidaknya 10 kios perabot indekost yang ada di kawasan Samirono. Para pedaganganya berasal dari daerah Dlingo Kabupaten Bantul untuk bahan furniture para pedagang mendatangkan kayu sengon dari Wonosobo.

Meski terjadi kenaikan permintaan, ia mengaku harga perabot tersebut tidak naik misalnya meja belajar dijual dari harga Rp 50 ribu, rak buku Rp 40 ribu - Rp 80 ribu, almari gantung Rp 250 ribu, almari kecil Rp 100 ribu, tempat tidur Rp 250 ribu, dan lain-lain.

Tukiman menambahkan selian melayani pembelian langsung, pedagang furniture indekost juga menerima pesanana barang sesuai keinginannya, namun pelanggan perlu menunggu sekitar 3- 5 hari dengan harga yang sesuai dengan bahan yang diminta. "Untuk harga yang kami tawarkan biasanya sudah pas, kecuali untuk pembeli dalam jumlah banyak kami berikan potongan harga atau gratis ongkos antar," tutupnya.

Pengumuman Perpindahan Pasar Dlingo

Dlingo : Kepala Kantor Pengelolaan Pasar Bantul, Hermawan Setiaji SIP MH :

Pembangunan pasar baru " PASAR DLINGO" rencananya berada di belakang Kantor Koramil Dlingo akan dimulai dua hingga tiga bulan ke depan. 

Meski saat ini Pasar Dlingo lama sebagian bangunan  sudah dirobohkan, pembangunan pasar senilai sekitar Rp 2 miliar tersebut menjadi sebuah kesempatan berharga warga Dlingo untuk lebih berkembang di sektor perdagangan. Pasar baru itu nantinya akan berdiri dengan 11 kios dan 190 los untuk pedagang di Dlingo.
Jangan Berkecil hati Para Pedagang Pasar Dlingo, Hari ini mugkin sepring nasi kita berkurang, namun esok kita bisa berbagi seribu piring nasi untuk kesejahteraan bersama.