Tampilkan postingan dengan label Pemandangan Dlingo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemandangan Dlingo. Tampilkan semua postingan

Sri Tanjung Dlingo menjadi lokasi syuting film Beyond Skyline dibintangi aktor-aktor Hollywood

 
Dlingo : Jogja.Co : Objek wisata Sri Tanjung yang terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo Bantul menjadi lokasi syuting film Beyond Skyline. Sebuah film laga yang rencana dibintangi aktor-aktor Hollywood . Lalu seperti apakah Sri Tanjung itu?

Kepala Desa Jatimulyo Paimo Sastro Wiharjo menyampaikan Sri Tanjung merupakan objek wisata alternatif yang dimiliki Dlingo di Dusun Dodogan. Objek ini mirip dengan wisata yang ditawarkan Sri Getuk Playen Gunungkidul, yakni mengangkat potensi Kali Oya.

Pembangunan objek wisata ini dimulai sejak tahun 2013 dengan membuka akses jalan bagi pengunjung. Sekitar 1,4 Km jalan trap dibangun dengan dana Rp270 juta dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Tahun 2014, pembangunan berlanjut untuk pembendungan Kali Oya guna mendukung potensi keindahan.

Paimo menambahkan Pemerintah Desa dan masyarakat juga telah merencanakan pekerjaan pembangunan berkelanjutan di tahun 2015. Rencana ada tiga obyek yang akan dilanjutkan yakni wisata panjat tebing, lintasan olah raga khusus sepeda motor trail dan pembangunan kolam renang.

Sekadar diketahui, Desa Jatimulyo juga tengah menyiapkan kegiatan pembangunan wisata religi dengan dimilikinya tempat peninggalan bersejarah yakni sendang banyu uripan dan Jati Kluwih. Dua tempat ini tengah menunggu kabar kejelasan atas pengajuan Dana Keistimewaan yang telah diajukan Rp1 miliar.

Pemerintah Desa Jatimulyo telah menyiapkan rencana pembangunan meliputi pembangunan sarana umum penunjang obyek wisata seperti pagar, pintu gerbang, MCK, dan bangunan pendopo. Desa melihat menurunnya kunjungan ditempat menyimpang sejarah penting ini akibat tidak terdukungnya kebutuhan sarana umum dan tidak tersasarnya kebijakan pengembangan pariwisata selama ini.


jalur alternatif Dlingo - Jogja lewat kecamatan pleret

Sumber : Hardiyanto.com

Panorama Senja Bukit Bintang Dlingo

Kamis 31 Desember 2009 kemarin sempat terpana melihat cahaya merah, dari barat di ujung jurang yang biasa terlewati. Jarang sekali memperhatikan sebuah keindahan yang terlalu sering dinikmati. Eh..ternyata memang semua ini terlalu cepat dan ketika sadar besok pagi sudah 2010. Apa yang bisa diharapkan sedangkan matahari tiap pagi hanya muncul dari timur dan tengelam ke barat. Mungkin itu terjadi hanya di Kecamatan Dlingo saja, atau di temapt lain sama atau tidak ya. Soalnya kan cuman ublek-ublek kan di dlingo terus..hehehehe. Atau sebenarnya hanya kita saja yang kecil sehinga tidak sadar bahwa matahari selalu menemani dalam tiap putaran bumi.

sayang ini hanya sebuah foto yang bisa saya bagi,andai mungkin sebenarnya ingin sekali saya ajak maen ke sana kalau senja hari,

Tau Gitu mestinya tiap hari tandai aja kalender, lakukan yang terbaik amati sampai yang paling detail, sampai hati puas dan tak ada yang terlewatkan lagi. hari ini mungkin tetap ada senin-minggu, tetap ada tanggal 1-31, mungkin juga tetap ada jam 01-12,  tapi sulit untuk menggulang 2009, atau dari 2010 kembali ke 1999. Hari ini bukan hari yang sama dengan kemarin, kemarin tidak mungkin terulang begitu juga esok. Sebuah kerugian masa pasti terjadi tiap hari dengan sadar atau tanpa kita sadari sekalipun.
Namun yang pasti Hari ini adalah Kenyataan Esok adalah Harapan dan harapan saya adalah melihat meski hanya sekedar foto yogyakarta dari perbukitan dlingo, jikalau kaki-kaki ini sudah tidak mampu lagi melangkah dan mata ini sudah sanggat mengantuk

Cino Mati Jalur Cepat Dlingo

"Cino Mati" atau kalau didalam bahasa indonesia bisa di sebutkan "Cina Mati", adalah sebutan bagi sebuah ruas jalan yang mengakses alternatif jalur sebelah barat dari Kecamatan Dlingo bantul menuju pusat Kota Yogyakarta melalui Kecamatan Pleret dan Kecamatan Banguntapan. Dari ibu kota kecamatan ke utara, lalu setelah sampai Desa Terong (tepatnya di perempatan "Ringin Terong") menuju arah barat maka anda akan sampai di ruas jalan Cino Mati.

Ruas jalan ini kira-kira sepanjang 7 kilo meter berkarakter kemiringan jalan yang X-trim. Sepanjang Tahun 2009 tercatat sudah terjadi kecelakaan sebanyak 5 kali dan rata-rata penyebab kecelakaan tersebut adalah ketidak mampuan kendaraan akibat keterbatasan mesin. badan jalan sudah baik dilengkapi dengan irigasi yang memenuhi syarat, namun karena jalan tersebut merupakan jalan tembus yang memiliki kemiringan lereng vertikal curam maka banyak tebing-tebing batu yang masih membahayakan pengguna jalan.
Pada tahun 2009 telah terjadi longsoran tebing sebanyak 4 kali, namun tidak ada korban baik jiwa maupun material. Biasanya Longsoran ini terjadi pada musim hujan dengan debit air yang cukup deras sehingga lapisan-lapisan batu bertanah yang ada tidak mampu menahan laju pergerakan air. sampai sekarang ini potensi tanah longsor di kawasan ini masih besar dan mungkin terjadi.
Dilihat dari sejarah, jalan ini dirintis pada era Soeharto pada waktu itu ada program pemerintah "ABRI MASUK DESA" pada sekitar tahun 1990-an. berawal dari situ kemudian karena wilayah tersebut berbatasan dengan dua kecamatan maka pengerjaan-nya juga melibatkan warga masyarakat yang berasal dari desa Terong dan juga dari Desa Wonolelo Kecamatan Pleret.
Sebutan "Cino Mati" sendiri memiliki beberapa sejarah dan cerita yang berbeda-beda, namun karena keterbatasan informasi maka saya belum akan mengulas lebih jauh. Kawasan ini menjanjikan panorama segar sekaligus tantangan bagi pengembangan wisata yang apa bila di garap secara berkesinambungan akan menciptakan mata rantai kunjungan wisata di Kecamatan Dlingo.

Bukit Bintang Jalur Dlingo Utara

Memasuki kawasan Kecamatan Dlingo bantul lewat jalur darat dapat di tempuh melalui berbagai jalan yang tersedia dan terhubung dengan wilayah-wilayah lain di Provinsi DIY. Pada tulisan-tulisan terdahulu saya pernah menulis jalur akses kecamatan dlingo melalui jalur Timur "menyeberangi Sungai oyo dan Jembatan Dodogan", melalui jalur Selatan "melewati imogiri dan makam raja-raja mataram" dan kali ini saya akan sedikit memberikan gambaran akses masuk Kecamatan Dlingo melalui jalur utara " melalui jalan Jogja_Wonosari". Pada jalur utara ini kita mulai perjalanan melalui pusat kota Yogjakarta atau sepanjang ring road utara dan selatan yang ada di yogyakarta.

Jika anda berada pada ketiga lokasi tersebut untuk dapat memasuki Kecamatan Dlingo melalui jalur Utara anda cukup menuju dan mencari Jalan Jogja - Wonosari. setelah anda menemukan jalan jogja wonosari anda akan menempuh perjalanan kira-kira 18 Km dari pusat kota menuju arah Timur. Sesampai di kecamatan Piyungan anda akan bertemu dengan sebuah bukit dengan jalan berkelok-kelok sepanjang kira-kira 7 Km. Sepanjang tanjakan biasanya arus kendaraan ramai lancar, namun jika hari sabtu malam minggu anda harus hati-hati karena biasanya jalur ini akan padat merayap. Hal ini dikarenakan para penglaju/pekerja/siswa/mahasiswa dari kabupaten Gunungkidul biasanya pulang ke Wonosari.
Nah..setelah sampai pada puncak bukit anda sudah memasuki wilayah Kecamatan Patuk, disana anda akan bertemu dengan pertigaan Patuk. Untuk menuju Ke Dlingo anda harus mengambil jalur ke arah Selatan "Ambil kanan/Belok Kanan". Lalu setelah kira-kira 300 meter anda akan bertemu pertigaan lagi, lalu ambil kanan lagi ya, nah setelah itu anda harus mempersiapkan gigi rasio 1 sebagai persiapan. Hal ini perlu diperhatikan karena ada salah satu tanjakan paling tinggi yang biasa disebut "Mbrambang"..banyak terjadi kecelakan mobil dan motor di kawasan ini. Jika anda lolos di tanjakan ini maka dapat di pastikan bahwa anda sudah pasti lolos menghadapi tanjakan-tanjakan lain di kawasan Dlingo.
Kira-kira 1 Km dari tanjakan Brambang ini cobalah berhenti sejenak untuk menghirup udara segar pegunungan. Di puncak bukit ini kalau malam minggu biasa di padati para kaum muda yang lagi asik pacaran. Biasanya bagi mereka yang lagi di madu asmara , mereka menyebut kawasan ini sebagai "BUKIT BINTANG".
Pemandangan Bukit Bintang atau masyarakat lokal biasa menyebutnya dengan Watu Amben Jika Dimalam Hari Panorama Lampu Yogyakarta akan terlihat dengan jelas dan indah. Dari puncak bukit ini kan terlihat jelas kota yogyakarta dan sekitarnya secara menyeluruh. Bahkan anda juga bisa melihat panorama Gunung Merapi jika cuaca cerah. Jika sekiranya anda sudah cukup melepas lelah, anda dapat melanjutkan perjalanan menuju kecamtan dlingo yang tinggal 15 Km lagi. Dijamin tidak melelahkan, karena anda akan selalu di suguhi dengan pemandangan alam perdesaan yang masih rindang akan pohon-pohon dan hutan rakyat yang memang sengaja dilestarikan di kawasan ini.
Kira-kira setelah perjalanan 20 menit dari Bukit Bintag/Watu amben anda akan bertemu dengan perempatan Ringin Terong, tepatnya berada di Desa Terong kecamatan Dlingo. Jika anda lurus keselatan anda akan menuju ke desa Muntuk dan Desa mangunan. Namun jika anda ke barat anda akan menuju Kecamatan Pleret, sedangkan jika anda menuju arah Timur anda akan menuju ibu kota Kecamatan Dlingo disamping juga anda dapat menuju ke Gunungkidul. Pokoknya Menarik dan di jamin ketagihan jika anda memang memiliki karakter pribadi yang suka tantangan dan traveling. Jangan di tunda lagi ya, untuk sekedar berkunjung atau mencari relasi atau bahkan investasi..saya siap mengatarkan anda.

Pemandangan Dlingo Jalur Selatan

Berkunjung Ke Kecamatan Dlingo bantul dapat melalui beberapa jalur alternatif, salah satunya adalah jalur selatan. Jalur ini dapat di tempuh melalui jalan Imogiri Barat Dan Jalan Imogiri Timur, jalur ini juga merupakan jalur wisata ritual menuju makam raja-raja mataram yang berlokasi di Pajimatan Imogiri. Dari pasar Imogiri menuju makam seniman dan makam raja-raja, lalu anda akan bertemu dengan pertigaan yang menuju ke Kecamatan Dlingo, jalan menuju ke arah Kecamatan Dlingo memiliki karakteristik tanjakan-tanjakan yang berkelok-kelok.

Bagi anda yang suka dengan kegiatan petualangan baik sepeda gunung, tral track dan off road atau safari Car jalur Selatan menuju Dlingo ini akan memberikan nuansa yang menarik. Dari puncak perbatasan Kecamatan imogiri dengan Kecamatan Dlingo ini akan dapata terlihat di sisi Utara adalah pemandangan Kota Bantul dan di Sisi Selatan akan tampak hamparan laut parang teritis yang berkilau sebagai dampak pantulan sinar matahari yang terpancar ke laut. Namun demikian dituntut kewaspadaan dan kehati-hatian yang extra, karena jalur ini juga berbatasan dengan jurang dan tebing-tebing gunung yang dalam.
Setelah sekitar 20 menit perjalanan dari Imogiri menuju ke Dlingo anda akan di suguhi dengan berbagai ke elokan pemandangan gunung serta rimbunnya hutan rakyat yang terpelihara dengan baik. Anda juga dapat mampir ke Kebun Buah Mangunan, untuk sedikit melepas lelah dan makan buah-buah segar.
Setelah itu apa bila anda ingin melanjutkan perjalanan menuju pusat kota kecamatan Dlingo maka anda tinggal menempuh sekitar 20 perjalanan lagi. panorama sepanjang jalan tersebut juga tidak kalah menarik. di sepanjang perjalanan anda akan bertemu dengan sentra-sentra industri kecil yang sangat beraneka ragam, dari kerajinan patung kayu, souvenir, bunga plastik, daun pintu, anyaman bambu sampai makanan-makanan lokal.
Memang industri-industri kecil tersebut masih belum terintegrasi dalam satu kawasan, namun justru itu adalah keuntungan bagi anda, karena dengan begitu anda dapat membeli dan langsung bertransaksi dengan pengrajin secara langsung tanpa perantara. atau jika anda butuh pendamping ..hehehehe..Saya juga siap jadi Leader Official bagi anda....yang penting anda dapat harga terendah...nanti saya yang menawar...hehehehehe, tapi rugi jika tidak membeli.

Pemandangan Sungai OYO Dlingo cocok untuk Tubing dan Rafting pemula

Jembatan DODOGAN
Mungkin beberapa bulan terakhir, ada banyak hal yang loncat-loncat dari pikiran saya, maka kali ini saya akan merefresh kembali semua dan kembali pada "DLINGO MARGINAl". Nah kali ini saya akan mengajak anda dan menawarkan sebuah keajaiban berupa Spot pemandangan bentang alam perbatasan Kecamatan dlingo bantul dengan Kabupaten Gunungkidul.

Gambar di atas adalah jembatan penghubung antara Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Gunungkidul yogyakarta yang melintasi Kecamatan Dlingo bantul yogyakarta. pada ujung barat jembatan menjadi wilayah Kab. Bantul sedangkan ujung Timur menjadi wilayah Kab. Gunungkidul. pembangunan jembatan ini di mulai pada tahun 2004, pembangunan jembatan ini membawa perubahan yang besar baik dari sisi struktur maupun infrastruktur baik secara ekonomi, sosial maupun budaya.
Pada hari-hari tertentu jembatan ini penuh sesak oleh para kawula muda yang menghabiskan hari dan menunggu gelap. Apalagi jika malam minggu, bisa-bisa pengunjung di jembatan ini bisa sampai jam 10-12 malam. namun jangan salah, keramaiyan di jembatan ini bukan semata-mata duduk diam dan lihat pemandangan tapi kadang di sertai dengan atraksi-atraksi balap motor liar, offroad, trail track dan berlomba-lomba mencari pasangan..alias pacaran.,...hehehehe..
Kenapa Tidak dibuat rafting atau Tubing, waw pasti menarik yaaaaa kapan-kapan kami pasti wujudkan melalui tangan-tangan Tuhan yang lain di kecamatan Dlingo.
 
Pengembangan wilayah ini masih sebatas jalan alternatif sebagai jalan tembus dari dan ke kedua kabupaten di wilayah Yogyakarta ini. namun meski demikian sayang jika hanya seperti itu kan, masak pemandangan yang elok, udara sore yang sejuk, hanya dilewatkan tanpa konsep yang tertata. wah...jika pada suatu hari masih mungkin....kayaknya di bikin arena balap, offroad, trail track...akan memiliki daya tarik yang lebih hebat lagi....yah paling tidak jika bukan aku,,,,,ya..mungin para pembaca dapat mengambil inisiatif lebih awal ...dari saya...maklum berapa seh..gaji.."Oemar Bakrie"..cuma cukup buat beli susu....Gak cukup buat bikin adventuring Area.....