Tampilkan postingan dengan label Pandangan Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pandangan Spiritual. Tampilkan semua postingan

Kenduri Merti Dusun Desa Rejosari Terong Dlingo Sajikan 9 Ingkung Ayam Jawa

Kenduri Merti Dusun Desa  Rejosari Terong Dlingo Sajikan 9 Ingkung Ayam Jawa
 
Dlingo -majalahbuurngpas.com: Warta daerah padukuhan Rejosari terong Dlingo Bantul rabu 6 april 2015 mengadakan kenduri masal dengan jumlah undangan yang cukup banyak.

Dalam acara ini 9 ingkung ayam jawa di sajikan dan di bagi bagi secara hikmat kepada tamu undangan. Selain kenduri acara juga di lantunkan doa dan tahlil untuk meminta kselamatan keapda Alloh SWT.

Tampak hadir Lurah desa terong polsek dan utusan Bpd setempat. Acara bersih dusun 2015 ini terbagai beberapa kegiatan pertama kenduri pengajian dan pentas seni.

Untuk pengajian rencana malam sabtu oleh ustad Sutarjo dari patuk Gunungkidul.sedang acara yang lain kami juga lagi fokus menggarap jalan menuju obyek wisata "kata Sukamdam dukuh Rejosari dan Ketua Pokdarwis desa wisata banyunibo

LEGENDA SENDANG BANYU PANGURIPAN

Dlingo : http://bimasinatribloka11.blogspot.com: Pada suatu hari ada seorang anak petani di desa. Ia bernama Cokro Joyo. Sehari-harinya Ia bekerja sebagai pemanjat kelapa. Ia sering bernyanyi tembang jawa saat Ia memanjat kelapa.
 

Pada saat Ia memanjat kelapa sambil bernyanyi, seorang wali lewat di sekitar pohon itu. Ia bernama Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mendengar suara Cokro Joyo yang nyaring saat bernyanyi. Lalu Sunan Kalijaga berhenti menunggu Cokro Joyo turun dari pohon. 

Pada waktu itu Sunan Kalijaga memberi banyak petuah pada Cokro Joyo. Lalu Cokro Joyo berminat untuk ikut dengan Sunan Kalijaga. Sunan pun memperbolehkan. Mereka pun segera berjalan dan sampai di sebuah pegunungan. Tiba-tiba Sunan Kalijaga ingat bahwa Ia harus pergi ke Makkah untuk menjalankan tugas. Lalu Ia berkata pada Cokro Joyo “Cokro, tolong tunggu di sini, karena saya akan pergi ke Makkah”. Cokro Joyo diperintah untuk menunggu di sebuah pegunnungan dan diberi tongkat milik Sunan Kalijaga yang harus dijaga oleh Cokro Joyo. Syaratnya adalah, Cokro Joyo harus berada di tempat itu sampai Sunan Kalijaga kembali dan Ia tidak boleh berpindah dari tempat itu.
Setelah bertahun-tahun lamanya, Cokro Joyo tidak pergi karena takut dengan Sunan Kalijaga. Ia menunggu sampai tumbuhan-tumbuhan bambu muncul di sekitar tempatnya.

Saat di Makkah Sunan Kalijaga ingat bahwa Cokro Joyo masih berada di tempat itu. Dengan spontan, Sunan Kalijaga kembali ke tempat Cokro Joyo. Setelah sampai di tempat, yang ada hanya pohon-pohon bambu yang rimbun. Tapi Sunan kalijaga yakin bahwa Cokro Joyo berada di tengah bambu itu.

Lalu Sunan Kalijaga memutuskan untuk membakar pohon bambu itu. Setelah dibakar ternyata memang benar bahwa Cokro Joyo berada di tempat itu. Wajah Cokro Joyo hitam terbakar. Sunan Kalijaga memutuskan untuk membawa Cokro Joyo ke arah timur di sebelah barat Sungai Oyo. Ternyata sungai itu kering.
 

Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya. Setelah tongkatnya diangkat, muncul sumber air yang jernih dan melimpah. Lalu Ia memandikan Cokro Joyo. Setelah itu Sunan Kalijaga memutuskan untuk member nama sumber air itu dengan nama Sendang Banyu Penguripan.

Setelah member nama, Sunan Kalijaga memutuskan untuk peri kea rah barat bersama Cokro Joyo. Di tengah perjalanan, ada sebuah pohon jati. Mereka berhenti di dekat pohon itu. Sunan Kalijaga bertanya pada Cokro Joyo “Itu Pohon apa?”. Maksud Sunan Kalijaga adalah untuk menguji ingatan Cokro Joyo.

Cokro Joyo berpikiran bahwa Sunan Kalijaga hanya ingin mengujinya. Lalu Sunan kalijaga menjawab,”Itu pohon Kluwih”. Ternyata pohon jati itu berubah menjadi pohon Kluwih. Hal itu menjadi perdebatan di antara mereka. Sunan Kalijaga mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon jati sedangkan Cokro Joyo mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon Kluwih. Tiba-tiba pohon itu berubah dengan daun pohon jati dan daun Kluwih. Lalu disebut dengan nama pohon Jati Kluwih.

Setelah mengetahui bahwa pohon dapat berubah menjadi pohon jatikluwih, Sunan Kalijaga mengubah nama Cokro Joyo menjadi Sunan Geseng. Sunan Geseng merupakan Sunan yang terakhir di kisah Wali Songo.

Setelah itu mereka memutuskan untuk berjalan lagi. Sunan Kalijaga kembali menguji kemampuan Sunan Geseng. Sunan Kalijaga membawa batu bulat, lalu bertanya pada Sunan Geseng, “Ini apa?” lalu Sunan Geseng menjawab “Ini Golong”. Ketika batu itu disentuh oleh Sunan Geseng, ternyata batu itu berubah menjadi Golong.

Semua itu masih dilestarikan oleh masyarakat sekitar dan keluharan di daerah itu dinamakan kelurahan Banyu Urip yang bertempat di Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul.

Pada Barisan Apakah Aku??

Dlingo : Tidak Perlu Panjang dan Tidak perlu berbelit-Belit, pahamilah aku sebagai :

1.Orang yang mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah akidah disertai dengan perasaan takut akan kekejaman dan kekerasan. Menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat dan mendiskusikannya, mengilhami diri untuk berdiskusi seputar keyakinan dan pengetahuan masyarakat mengenai keyakinan atau perilaku sehingga diperoleh bukti-bukti dan pengetahuan bahwa janji Allah pasti benar dan sesungguhnya kiamat itu pasti terjadi tanpa ada keraguan di dalamnya.
2.Orang yang pernah terlanjur mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran yakni perkataan keji, dusta dan zhalim.
3.Orang yang jauh dari Anugrah keimanan sehingga tidak mengenal Allah namun mencoba mengingkari keyakinan yang sesat dan semu.
4.Orang Yang Sepakat mengenai keyakinan kebenaran sejati dan menyadari bahwa tidak mungkin menjelaskannya kepada Siapapun, lalu memohon kepada Allah Ta’ala supaya dimudahkan.
5.Orang Yang Berusaha Berlindung ke gua yang pintunya di sebelah utara, sehingga tidak terkena sinar matahari; baik ketika terbit maupun saat terbenam yang belum genap selama tiga ratus sembilan tahun.
6.Orang yang masih memiliki Rasa takut karena gua berdekatan dengan kota.
7.Orang yang berusaha saling bertanya pada diri sendiri untuk menemukan jawaban yang sesungguhnya.
8.Orang yang masih butuh uang perak, sebagai manusia biasa sama dengan yang lain. berusaha Memakan makanan yang baik-baik dan memilih makanan-makanan yang layak dan sesuai dengan selera  selama tidak melebihi batas-batas kewajaran.
9.Orang yang sedang kesulitan memelihara, melindungi serta menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat menimbulkan fitnah dalam urusan agama dan menyembunyikan ilmu yang mendorong manusia berbuat jahat.
10.Orang Yang Ingin Semakin Mencintai agama, meninggalkan kejahatan, seperti kemadharatan dan kerusakan yang mengundang kemurkaan Allah dan kewajiban meninggalkannya.
11.Orang yang berharap Mendapatkan pengakuan dari para penguasa kebaikan dengan dimuliakan. Sampai para penguasa tersebut berniat membangun sebuah rumah peribadatan di atas gua. Sebagai wujud penghormatan dan pengagungan dari manusia.

Mudah-mudahan aku berguna dan berharap tidak mengikuti golongan apapun dari ajaran untuk kepentingan apapun kecuali hanya karena Allah SWT dan atas petunujuk yang paling bisa kupahami tanpa niat pengingkaran dan semata hanya menjalani sebuah pilihan sebagai insan rendahan dimuka bumi dan menjadi salah satu pemuda khafi “Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (Al-Kahfi: 22).

Mbah Marijan Ditemukan

Dlingo :Gunung Merapi di perbatasan wilayah Provinsi DIY dan Jawa Tengah (Jateng) ini, pada Selasa memasuki fase erupsi dengan terjadinya awan panas berulang kali. Luncuran awan panas pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB, kedua pada pukul 17.19, ketiga pukul 17.24 WIB, dan keempat pukul 17.34 WIB. korban awan panas Merapi. Sebagian besar warga Kinahrejo dan Kaliadem, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kawasan selatan kaki gunung itu. Mbah Maridjan ditemukan dalam kondisi selamat di dekat 13 korban tewas akibat terkena awan panas Gunung Merapi di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan dikabarkan telah ditemukan dalam kondisi selamat, tetapi fisiknya lemah, tidak jauh dari kediamannya di Dusun Kinahrejo yang berjarak sekitar enam kilometer dari puncak Merapi, Selasa (26/10) malam.

Artikel diatas berasal dari : www.berita8.com  Terlepas dari benar atau salah informasi tersebut namun Informasi tersebut seharusnya menjadikan perenungan kita bersama, Sebuah perenungan dalam pencarian kebenaran. Pernah suatu ketika ada seorang biasa sedang berbincang tentang pencarian kebenaran. Ada poin penting dalam perbincangan itu terkait Inten(Batu intan) "sebagai simbol kebenaran sejati" dan Bantak (bahasa Jawa) sebagai sebuah kebenaran yang semu belaka. Antara Inten dan Bantak sama-sama diakui sebagai sebuah kebenaran.

Kebenaran tersebut memang sama-sama bisa dibuktikan kebenarannya, namun muara kebenaran tersebut berbeda ujung pangkalnya. Para pencari kebenaran sejati dan para pelaku yang mengaku diri mereka dalam perjalanan kebenaran itu tidak berpaling dari ajaran yang mereka yakini sehingga jiwa mereka terkekang pada satu sudut pandang saja. Hal ini tentu menjadikan niat dari tujuan itu menjadi sempit sehingga mudah sekali membuat para pencari kebenarn sejati terjerumus dalam ke Aku an. Padahal Kenbenaran sejati harus "rahmatan lil ngalamin ". Sedangkan yang mereka lakukan sebenarnya hampir mendekati musyrik ".

“Mereka telah menjadikan para alim ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah…….”(Qs at-Taubah [9] : 31)" tapi mbah marijan tidak : meski belum pernah bertemu dan berkenalan aku yakin Beliau adalah manusia biasa yang mendapatkan kepercayaan dari Allah, sebagai salah satu kaki penopang bumi nusantara yang seharusnya kita teladani. Dengan keteguhan hati dia bersahabat dengan gunung merapi. Sehingga Alloh menjaga Beliau sebagai bagian dari dinginnya gunung merapi ketika gunung merapi itu normal dan panasnya wedus gembel ketika gunung merapi itu aktif "Sebuah Bukti Kebesaran Alloh".

Akal dan jiwa mereka terbungkus oleh ego, sehingga para pencari dan pengaku kebenaran pasti ditandai dengan membuat kelompok-kelompok. Mereka berkelompok atas dasar dakwah dan silaturahim, tapi hakikatnya  adalah sebuah rasa takut atas makanan bagi perut mereka dan takut atas kebahagiaan dunia yang akan menjauh.  “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (Qs al-An’am [6] ; 116).

Sebuah perbincangan lain : "Ne Kur Bantak Okeh, Ning ne Inten Sitik banget" = "Jika hanya mengaku benar dan paling benar banyak sekali tapi jika kebenaran sejati sanggat sedikit". Mereka terjerumus dalam ke Aku an tapi mereka tidak bisa disadarkan dengan dalil apapun kecuali Tuhan memberi hidayah.  “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) dan (mengikuti) Rasul (as-Sunah). Mereka menjawab, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya). Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk?” (Qs al-Maidah [4] : 105). 

 Tapi mbah Marijan tidak : Tidak pernah ada ajakan dari mbah marijan untuk mengajak masyarakat atau murid-muridnya untuk menjadi dia. Meskipun aku belum pernah mengenal dan kenal dengan Beliau aku yakin : Beliau pasti hanya mengajak untuk setiap umat bersinergi dengan alam semesta, menjaga keharmonisan antara jagad besar dan jagad kecil. Dan berserah serta bersandar hanya kepada Alloh. Bukti dari hal tersebut adalah beliau selalu tidak mau di ajak mengungsi, tapi beliau tidak pernah mengajak masyarakat untuk mengikuti jejaknya, karena hal ini terkait masalah keyakinan yang hanya bisa di ukur oleh diri sendiri dan masing-masing insan kamil.

Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS Ar-Rum [30] : 32, lihat pula Qs 23 : 53).   Tapi Mbah marijan Tidak : Meskipun aku belum pernah kenal dan mengenal Beliau aku yakin Beliau hanya mengatakan bahwa silaturahim dan majelis apapun berdiri dan bersilaturahim semata-mata hanya untuk membuat kita selalu "Inggat". Tapi bukan untuk membuat kebenaran-kebenaran yang membuat sebuah ke banggaan yang berakibat kemusrikan dan permusuhan. Karena tidak ada yang perlu dibanggakan Selain Kebesaran Alloh.

Kupu-Kupu Dalam Perjalananku

Dlingo : Seseorang menemukan seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang untuk tersadar dari pingsannya. memaksa dirinya untuk berjuang melawan rasa yang melumpuhkannya. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil kupu-kupu itu lalu diletakannya kupu-kupu itu diatas meja kerjanya. Kupu-kupu tersebut kemudian menghilang entah kemana. Kupu-kupu itu mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah dilihatnya karena kupu-kupu itu hilang entah kemana.

Lalu pada suatu malam berikutnya kupu-kupu lain dengan warna yang sama datang silih berganti. Terakhir se ekor kupu-kupu diam dan seolah-olah kupu-kupu itu menahan rasa yang memaksa dia untuk diam dan tidak bergerak sama sekali. Sesekali dia  merangkak di sekitarnya dengan tubuh dan sayap yang sempurna. Seolah Dia tidak pernah bisa terbang, lalu seseorang itu mengambil kupu-kupu itu dan diajaknya bermesra-mesraan. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa dia tidak sadar bahwa kupu-kupu itu sedang berjuang mengumpulkan tenaga. Dia tidak sadar bahwa yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk terbang tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya. Sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dan tenaga yang cukup untuk terbang.


Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.


Saya memohon kekuatan, dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.
Saya memohon kebijakan, dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.
Saya memohon kemakmuran, dan Tuhan memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja.
Saya memohon keteguhan hati, dan Tuhan memberi saya bahaya untuk diatasi.
Saya memohon cinta, dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.
Saya memohon kemurahan/kebaikan hati, dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.
Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

Sisi Gelap Manusia

Dlingo : Sebagai insan yang merdeka tentu kita memiliki banyak pilihan. Sebagai Manusia yang beradab tentu kita memiliki tujuan mengelola kehidupan pada pola tatanan dengan harapan memuaskan sisi-sisi kemanusiaan. Memahami banyak hal dalam gudang ilmu dan akal dijagad bernama bumi, mungkin dapat di bantu dengan rumus-rumus kreasi akal. Namun memahami bahasa tersirat yang disampaikan lewat jagad jiwa serasa memaksa untuk selalu inggat -Nya.

Apa yang akan anda lakukan jika melihat banyak anak-anak dan orang-orang dewasa yang sanggat anda kenal dalam kondisi mati. Kematian itu bercirikan wajah putih dan berbintik hitam di kening. Dalam kematian itu anda melihat jenazah yang masih meneteskan air mata dan air mata itu mengalir deras dalam kematian  setiap orang. Masihkah anda berlogika karena yang anda lihat apa bila di logika " Tidak Mungkin, Wong Mati kok masih bisa menangis". Sementara meraka yang masih hidup sibuk mencari kain untuk mengusap air mata mereka yang sudah mati. Sedangkan anda tahu bahwa setiap hari akan ada kematian serupa, sebuah kematian yang terjadwal dan anda sendiri akan mengalaminya. Sempatkah anda untuk mencari kain pengusap air mata bagi yang sudah mati namun selalu banjir air mata. Ataukah anda akan berlari mencoba menghindar dari kematian, atau sekedar berserah dan bersiap menerima kematian namun membiarkan tetesan air mata orang-orang yang mati membanjiri tempat dimana anda berserah.

Apa yang akan anda lakukan jika tiba-tiba didepan rumah saat anda sedang bersantai, tiba-tiba datang se ekor kucing hitam yang menatap anda. Sebuah tatapan yang mungkin saja anda kenal atau bahkan anda belum pernah mengenal tatapan itu. Se ekor kucing hitam yang seolah memahami bahasa anda, namun ketika kucing itu bersuara anda tidak bisa memahami bahasanya sedikitpun. Padahal ketika anda bisikan kata-kata kucing itu seolah menjawab pertanyaan anda. Apalagi kucing itu semakin mendekat dan dekat namun tetap menatap anda seolah berhati-hati dan tetap waspada dalam sebuah ketakutan.

Apa yang akan anda lakukan jika seorang produser filem memutar sebuah filem hasil karyanya, namun hanya anda sendiri yang boleh menonton filem itu. Sebuah tontonan yang pemerannya adalah anda sendiri, sedangkan anda tahu adegan yang anda mainkan. Sebagian adegan yang anda yakin tidak mampu menyaksikannya, tapi produser filem itu tidak perduli Dan anda tetap harus menontonnya. Anda tetap ingin menonton filem itu untuk melihat kesempurnaan akting anda. Namun Anda yakin kesalahan-kesalahan fatal dalam adegan itu sebagian akan membuat anda terjatuh menurut keyakinan anda. Sedangkan ketika anda diperlihatkan adegan pembukaan saja anda sudah menangis tersedu dan hati anda berontak untuk tidak melanjutkannya. Apakah anda masih ingin menjadi aktor atau aktris dalam filem yang anda bintangi?







 

Titik-Titik Benih-Benih Cinta

Dlingo : Tidak ada satu usaha satu pun yang sia-sia, mungkin itulah sebuah gambaran yang paling mungkin bisa saya sampaikan untuk mengawali posting kali ini. Sebenarnya ini cerita lama namun nyatanya tidak pernah kuno atau menjadi cerita antik, karena cerita ini dari masa ke masa ternyata tetap saja memilki pengemar yang antusias dan beragam multiinterpretasi. Sebuah benih-benih cinta yang nyaris tanpa arti bagi siapapun yang di tuntun akal fikiran.

Cerita ini adalah sebuah imajinasi yang diperoleh dari sebuah proses yang bersumber dari cerita non fiksi. Setelah terperosok dan salah dalam mengambil arti dan setelah sekian lama terombang-ambing dalam kejenuhan. Adalah aku yang selalu saja haus akan cinta yang butuh sebuah sentuhan sang khalik. Adalah seorang pejantan yang suka kejantanan karena sebuah ilmu adalah binatang yang jantan. 

Ternyata Dia begitu dekat, namun rasa seolah jauh dan fikiran merasa semakin jauh sementara jasad merasa tidak pernah mengenal karena bulu rambutpun belum pernah merasa bersalaman. Malam itu seperti biasa aku terlelap tertidur dengan sebuah kesombongan tanpa berserah. Wajar saja semut-semut para ahli Dzikir menggiggit kaki-kaki yang melekat sebagai anggota jasadku. Terbangunku karena rasa gatal yang biasa di alami setiap orang. Disitulah sebuah pertaruhan di mulai, drajad kemanusiaanku kembali di uji meski teramat sanggat kecil ujian itu bagi yang mampu namun teramat berat bagi sosok rusak sepertiku. 

Ku coba kalahkan bisikan yang begitu kuat mengajakku tidur, kucoba menagkan mata dan telinga, kucoba menagkan kaki dan tangan, namun kekuatan indra itu ternyata masih begitu lemah dan tak mampu menendingi satu kekuatan yang aku pun tak tahu sumbernya. Alhamdulilah Allah Tuhan Yang maha segalanya memberikan segala kemungkinan yang mungkin. memberikan sedikit cahaya dalam kebutaan indra. kaki-kaki jasadku melangkah dalam cahaya yang sanggat redup. Kubasuh dengan air sumber yang banyak mengandung kapur dan ku niatkan untuk memberikan seluruh jiwa dan raga meski aku tak tahu apa makna berserah.

Kulantunkan syair-syair berantakan yang malu bila di ceritakan, nyaris tidak bermakna apapun bagiku karena aku hanya berusaha menepati janjiku yang sering ku langgar sendiri. Perlahan syair-syair itu melambat dan terasa sebuah sobekan yang perih kurasa diawal. sobekan itu berulang dan kurasakan perih itu ternyata sebuah kenikmatan di puncak lembah yang tertutup kulit ari dan tertimbun batok tulang tipis di mana rambut bersemayam. 

Perlahan sebuah cekungan dangkal membuat nafasku semakin terdengar jelas hembusan dan tiupannya, kucoba rasakan kehadiran sebuah sumur panjang yang menerabas batas sehingga angin-angin dari paru-paru terasa tidak berasa. Bagai cerobong asap yang tertutup benda padat atau arus air yang tersumbat oleh gejlek dam. Dapat kurasakan masuknya angin kedalam raga jiwa layaknya ban sepeda motor yang tipis dan keras sehingga mampu menampung muatan yang berat sekalipun. Kurasakan semakin keras dan mengeras dan saling bekerja sama antara atas agak atas dan tengah yang tomatis bergerak layaknya dinamo yang berputar dan menghasilkan arus listrik.

Aku masih belum percaya aku coba dan ulangi, aku rasakan hal yang sama. Aku coba bertahan ternyata menghilang, aku coba kejar ternyata caranya sama. Semoga ini adalah sebuah awal yang tidak akan pernah ber akhir.

Menencari Pengrajin Dan Pedagang Mutiara

Dlingo : Seseorang bisa saja menguasai istilah-istilah yang muluk-muluk tentang  ilmu industri mutiara dan pengrajinnya. Tetapi belum tentu dia mengalami dan menjalankan bisnis itu. Atau dengan kata lain, ada orang yang ahli tentang ‘irfan dan ada pula orang ‘arif/shufi. Layaknya Tasawuf yang selalu saja menjadi pergunjingan antara teory dan praktek. Perbedaan ini muncul, diantaranya, karena istilah merupakan bagian dari ilmu hushuli sedangkan pengalaman-pengalaman spiritual adalah ilmu hudhuri. Ilmu hushuli adalah ilmu yang diperoleh oleh seseorang melalui media atau perantara. Sedangkan ilmu hudhuri adalah ilmu yang diperoleh tanpa melalui media dan perantara.
 
Ingin sekali berbagi cerita dengan tanpa berharap apapun, namun mudah-mudahan ini tidak salah karena sulit sekali mencari orang yang mau mendegarkan apalagi memahami tentang hal yang satu ini. Berawal dari sebuah kebimbangan mulailah tampak sebuah harapan. Harapan yang selama ini seolah-olah tidak pernah dibicarakan orang secara umum. Karena yang terdengar di telingaku selama ini hanya Lahir, besar, makan, bekerja, menikah, memiliki keturunan, mendidik dan membesarkannya, tua dan mati. Sebuah perjalanan yang terkesan singkat namun lama dalam melaluinya. sebuah perjalanan yang terkesan simple mudah dan banyak jurus jitu untuk menyiasatinya. 

Perasaan asyik dan ber-asyik-asik dengan dunia terkesan memperlambat laju waktu dan hari. Namun ketika malam tiba dan tengah malam terbangun dari tidur kulihat sosok perempuan muda dan bocah mungil yang akrab dimataku namun begitu jauh dari dekapan hati sehingga mustahil untuk memilikinya sepanjang masa. Saat itulah hati perih namun tak kutemukan kenapa perih lah yang selalu di dapat setiap kali malam datang dan melihat pendamping tidurku terlelap. Sesekali terbayang canda tawa dan semua pengalaman 4 tahun yang lalu, tapi juga bukan itu penyebab perihnya hati. Perih itu ketika coba kudengarkan semakin riuh dan semakin kuat saja, namun ternyata bukan perihnya sebuah luka dan aku semakin bingung.

Lalu kubiarkan saja rasa itu menjadi hal yang biasa, layaknya makan minum dan akhirnya sampai di lubang wc. Namun sebuah rasa kekecewaan yang luar biasa kudapatkan, layaknya  perasaan seorang yang sedang berpacaran dan berjanji di sebuah tempat untuk bertemu, namun salah satu dari pasangan itu mengingkari janji dan memilih bertemu dengan teman-temannya dari pada kekasih hatinya.Sesal lah yang kudapat, lalu perih itu tiba-tiba bercampur dengan sebuah kerinduan yang tak bisa dianalogikan lagi, sebuah kerinduan yang tidak butuh alasan apapun. Sebuah kerinduan rasa yang tidak beralasan muncul dan selalu saja membuatku bimbang dalam melangkah dan memutuskan setiap keputusan.

Suatu hari bertemulah aku dengan seorang tua yang memiliki batu mutiara nan elok dan menawan, pesonanya membuatku terpikir untuk memilikinya. Lalu kucoba ku niatkan untuk membeli ku hampiri dan ku tanyakan berapa harga mutiara kemilau itu. Sungguh diluar pikiranku ternyata harganya murah sekali, hanya 100 perak saja katanya. Namun dengan sebuah semangat dan kesombonganku kumasukan tangan kedalam saku celananku, karena aku merasa memiliki lebih dari sekedar 100 perak dalam saku celanaku. Betapa kagetnya aku ketika kudapati saku celanaku kosong tanpa berisi sepeserpun. sebuah kekecewaan lagi-lagi kudapat, sampai akhirnya orang itu pergi entah kemana.

Aku mencoba melupakan, pikirku masih banyak penjual mutiara yang suatu hari akan kutemui. Sampai akhirnya setelah sekian lama akhirnya aku lupa dan bisa melupakan rasa senangku terhadap mutiara itu. Setelah sekian lama Tak terasa aku memiliki 100 perak disaku bahkan mugkin lebih, namun aku bertujuan lain dan tidak untuk membeli mutiara yang pernah kulihat. Namun kembali aku di buat kaget karena aku kembali bertemu orang tua pedagang mutiara itu lagi setelah sekian lama menghilang dalam pikiranku. Rasa takjub terhadap kemilau mutiara itu kembali membuat batinku bimbang dan raisau untuk memilikinya. Kucoba memberanikan diri untuk menawar sekali lagi "berapa harganya pak?" aku terkejut ketika orang tua itu menjawab " sekarang sudah tidak boleh lagi dengan harga 100 perak!" dengan sombongnya ku masukan tanganku ke dalam saku ku ambil semua uang dan ku sodorkan ber receh-receh uang lebih dari 100 perak. Namun orang itu menggelengkan kepala seraya menjawab "maaf mas tidak boleh!".

Sebuah kekecewaan yang sama terulang, merasa  setiap usahaku mencari uang tiada artinya, merasa apa yang ku miliki tidak pernah cukup bahkan aku hanya asik dengan kesenangan-kesenangan semu yang kuciptakan sendiri untuk sekedar menutupi kesenangan hakiki yang pernah ku lihat berupa kilau mutiara yang indah. Dan mengantikannya dengan kilau emas-emas yang aku sendiri tidak pernah memakainya. Ku pikir sudah ku dapat yang ku ingin dengan tetap memiliki sesuatu meski berbeda wujud dan bentuk.

Dalam perjaanan berikutnya kudapati seseorang yang tak pernah kukanal dan tidak pernah bisa ku inggat raut wajah dan nada bicaranya. Dia katakannya sebuah kebaikan yang sulit sekali ku pahami, dia katakan "Lakukan kebaikan dan maknai kebaikan itu dalam tiga hal maka kebaikan itu akan sempurna....Off The Record". Tanpa sadar orang itu berulang-ulang datang dan kembali mengajakku berdiskusi "1 orang menuju mekah, 60 orang akan terbawa.......Off The Record". huhhhhh...betapa semakin binggung dibuatnya. Dalam waktu yang tidak lama akhirnya muncul lagi "Perih dan sebuah kerinduan" sebuah rasa yang sampai saat ini selalu mengajaku terdiam dan di paksa untuk mendengarkannya. Sungguh sebuah keterpaksaan yang indah dalam kemelut jiwa yang sulit di cari maknanya.

Ku Coba tenangkan diri dengan melantunkan lagu-lagu nurani, dengan kaki-kaki kesemutan yang hampir tidak bisa lagi kurasakan keberadaannya. Meski gemuruh suara malam dan gunjingan hati yang tidak khusuk selalu melecehkan_Nya serta merta menambah berat dan perihnya rasa. Dalam rasaku ada yang bernyanyi pelan sekali namun ada pula yang terlalu cepat sehingga sulit untuk didengarkan. sesekali umpatan-umpatan itu nuncul dan kubiarkan saja, aku tidak lagi mengurusnya. Jika di ijinkan aku belum puas, jika di ijinkan aku masih ingin mencari mutiara dan pedagangnya, jika di ijinkan aku ingin kembali.

Pendidikan Maya “Proses Atau Hasil “


Dlingo : Sebuah cerita panjang apabila diceritakan, sebuah awal yang memalukan sekaligus memilukan apabila Allah SWT tidak memberikan pakaiyan yang rapat dalam jiwa dan raga ini. Bersyukur atas nikmat dan menjadikannya sebuah pendidikan maya bagi sebuah jiwa yang haus akan air ke Esa an. Sekedar melepas dahaga dengan menuliskan sebagian dari sebuah proses yang belum tentu hasil. Sebuah pencarian yang belum seberapa namun sudah mengorbankan segalanya. Sebuah ukuran “segala” bagi Jiwa yang belum bisa menikmati proses dan lebih berorientasi hasil “Sungguh Memalukan”!!!!.

Sebuah analogi logis dan mari coba kita tanyakan dalam diri kita sendiri. Dalam hal makan dimakanah Kenikmatan tertinggi itu kita dapatkan,  pas mau makan, sedang makan, atau setelah selesai makan? Dalam hal bersetubuh dengan pasangan yang halal, Kenikmatan tertinggi itu pas mau bersetubuh, sedang bersetubuh, atau setelah bersetubuh. Dalam hal berdo'a, Kenikmatan tertinggi itu pas mau berdo'a, pas sedang berdo'a, atau pas do'a dikabulkan? Dalam hal sholat; Kenikmatan tertinggi itu pas mau sholat, pas sedang sholat, atau setelah selesai sholat? Dalam hal berdzikir, Kenikmatan tertinggi itu pas mau berdzikir, di saat berdzikir, atau setelah menyelesaikan target berdzikir sekian puluh/ratus/ribu kali? Dalam hal mengerjakan tugas kantor, Kenikmatan tertinggi itu pas mau, sedang, atau selesai mengerjakannya?

Lalu apakah jawaban kita, seandainyapun kita memilih untuk tidak memilih. Dan apakah itu benar, apa bila semua itu tidak  ada kenikmatan sedikitpun? Padahal siapapun yang mendustakan kenikmatan_Nya adalah bukan hamba_Nya. Kalaulah alam semesta ini mengajarkan kepada kita agar bisa menikmati sesuatu pada saat PROSESnya, lalu mengapa kita kurang pandai menikmati IBADAH dan KERJA pada saat PROSESnya? "Orang biasa" hanya pandai menikmati HASIL, sedangkan "orang luar biasa" mampu menikmati PROSES sekaligus HASILnya...Tahukah kita bahwa selama ini kita hanyalah tanah liat yang manja dan lupa pada bumi. Sehingga bumi kita injak tanpa ijin dengan sandal-sandal yang harganya tidak lebih mahal dari harga diri kita sendiri. 

Kita hanya bisa melihat orang lain berjalan begitu cepat, sedangkan diri kita terkesan lambat. Sesungguhnya tidak ada satu "zat" pun ciptaanNya yang benar-benar berhenti. Semua bergerak pada jalurnya masing-masing....termasuk Anda...Di karenakan Anda pun terus bergerak dan tidak pernah berhenti.  Kalaupun kita memang sudah jatuh atau terperosok ke jurang yang "paling dalam", berarti tidak ada lagi kesempatan kita untuk jatuh lebih dalam lagi, sebab kan sudah "paling dalam", artinya tidak ada lagi yang lebih dalam lagi dari pada kondisi yang "paling dalam".

Nah, itu sebabnya, jika Kita tetap IKHLAS dan terus BERGERAK, maka dapat dipastikan kita akan menaiki jurang kehidupan Anda, sebab tidak ada lagi jalan/cara/kesempatan kita untuk jatuh "terperosok", yang ada hanya tinggal jalan/cara/kesempatan kita untuk "naik". Syaratnya sederhana, yaitu IKHLAS dan BERGERAK.. Namun Wallahu alam.

Terlalu Cinta Ciptaannya

Pernahkah kita berfikir bahwa ada cinta diantara KITA dan DIA, dan sadarkah kita lupa bersyukur atas cinta yang di berikan-NYA. Yah..sebuah keunikan tersendiri melihat kenyataan bahwa Alloh SWT begitu mencintai umatnya. Ada yang tertangkap perkara korupsi tapi masih diberikan keehatan, kalopun sakit akhirnyapun di berikan sehat. Ada yang menipu dengan dengan topeng kebaikan namun masih diberikan rizki cukup, ada yang nyontek pas ujian lalu di berikan lulus dengan nilai yang tinggi dan masih banyak lagi lainnya. Apa yang anda pikirkan melihat kenyataan itu ?.
Pasti akan muncul tanda tanya besar dalam kepala kita " Apakah itu adil ? " "Apa rencana Alloh SWT?". Enak dong bisa gitu...enak dong jahat tapi selamat, kalo balasan di akhirat ya percuma saja yaa...wong kita maunya kan pembuktian dunia..tapi kita bisa apa tentu Alloh SWT punya rencana yang lebih hebat dari apa yang kita fikirkan.
Namun jika kita tengok kebelakang, banyak sekali cinta Alloh SWT yang kita sia-siakan. Ada saja alasan untuk membenarkan apa yang kita yakini benar, ada saja pembelaan terhadap sebuah kesalahan kita sendiri. Apakah kita sedang berada di shirathal mustaqinnya dunia, sebuah titian tali terbuat dari sejarah ruang dan waktu dunia yang akan mengantarkan kita pada pengumpulan point kita kelak. Atau itukah sebuah persembahan Cinta yang di janjikanya. Sebuah cinta yang akan memempatkan manusia-manusia terplih untuk disisi-Nya.
Tapi ketika Diciptakan Apakah kita sudah di pilah pilih sehingga yang bisa bersama disisi-NYA hanya yang terpilih. Jalan ini masih panjang terjal dan berliku, berkelok layaknya pedang bermata dua yang begitu menyilaukan. Sehingga kita tidak lagi sadar bahwa yang kita injak adalah sebilah pedang tajam yang selalu saja membuat kisah perih sepanjang hidup. Hanya Nafsu puas kitalah yang mengubahnya dengan kebahagiaan. Apapun itu sebenarnya Alloh SWT terlalu mencintai Umatnya, Jika Tidak, maka mustahil Hari ini kita masih melihat matahari.

Hoby Lancar Ibadah Taat Di Pinggir Sungai Dlingo

Anda pasti binggung foto apa ini, tapi jangan binggung dulu bro karena sebenarnya ini hanya sebagian pemandangan unik yang ada di Dlingo bantul. Masih banyak lagi tempat-tempat unik di desa lain namun masih di Kecamatan dlingo bantul yogyakarta dan akan terus saya publish, jadi jangan segan-segan mampir, barang kali ada manfaatnya atau siapa tahu menjadikan sebuah ispirasi di tempat-tempat lain baik di yogyakarta atau bisa jadi di seluruh penujuru tanah air.

Mungkin hanya sebuah foto atau lebih tepatnya foto sebuah tempat ibadah yang jauh dari kesempurnaan baik dari sisi lokasi maupun disain fisiknya. Namun barang kali jika coba kita gali nilai-nilai pesan moral dan spiritualnya maknanya akan menjadi lain...kayanya seh..wong yo cuman omong doang.
Oke kita mulai dari lokasi dulu yo,...penemuan tempat ini sebenarnya diawali dari jalan-jalan sambil mancing di sungai oyo, tepatnya di sekitar lokasi "Timo" Padukuhan Tegalawas, Desa jatimulyo, Dlingo Bantul. Kalau dilihat sepintas tidak tampak bahwa ini adalah sebuah tempat untuk melakukan sembahyang atau sholat. Karena hampir mirip dengan bebatuan yang ada di sekitarnya. Konon tempat ini dibuat dan digunakan oleh para petani yang memiliki lahan pertanian disekitar lokasi tersebut untuk beribadah sholat ketika waktu tidak memungkinkan untuk sholat dirumah. Hal ini menjadi menarik ketika pada perkembangannya juga dimanfaatkan oleh para pemancing/pencari ikan untuk melakukan hal yang sama yaitu sholat.Tempat ini telah mengajarkan pada para pemancing untuk senantiasa inggat Allah SWT, sekaligus menarik perhatian bagi siapapun yang melintasi tempat ini. Pada awalnya dapat di yakini bahwa pembuat tempat ini hanya berpikir sederhana dengan harapan tempat ini bisa di jadikan sebagai tempat sholat untuk beribadah. Namun ternyata para penghoby mancing ini juga merasa terbantu dengan adanya tempat ini.
Secara tidak langsung ada nuansa pendidikan disana, setidaknya akan mengelitik siapapun yang melihat tempat ini "bahwa ternyata dimanapun kita dapat mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah" nah permasalahanya adalah sejauh mana pemahaman orang-orang yang melihat tempat ini...gitu kan bro. Gelitikan dan sentilan tempat ini kembali menyadarkan siapapun untuk paling tidak inggat sang pencipta. Seandainya saja seluruh pinggir sungai terutama tempat-tempat dimana masyarakat berlalu lalang terdapat tempat-tempat seperti ini tentu saja akan ada manfaatnya, setidaknya masing-masing dari kita dapat terketuk dan mencoba..eh..kali aja kalo sholat di rumah malu..karena biasanya tidak sholat, kan bisa saja memulai dari tempat-tempat seperti ini. he..he..he..Kok Malah NGAKU...
Karena tempat ini terdapat dipinggir sungai, nah apa salahnya tempat ini dilestarikan dan dikembangkan ditempat lain, terutama jika hoby anda memancing maka anda akan mendapatkan keuntungan plus plus. Pertama memancing sebagai media melatih kesabaran "katanya seh = hakikatnya yo tetep wae "NGUJO HOWO",yang kedua ibadah dan bersyukur atas nikmat dipinggir sungai yang hening dan alami. Inggat ini bukan sebuah ajakan, hanya hinbauan saja barangkali ada yang berminat. Kalau dipikir apa salahnya jika "Hoby Lancar Ibadah Taat" kan gak salah ya, atau di balik juga boleh "Ibadah Taat Hoby lancar".
Bukanya dimanapun kita bisa melakukannya, lah ini buktinya di pinggir sungaipun tersedia tempat untuk beribadah, tapi ya jangan terus-terusan di sungai...tar mesjidnya malah kosong, yah kalo gitu dah gak bener lagi bro. Intinya adalah berbuat baik itu dimanapun "BISA" gak usah di pikir lagi deh...ha wong berbuat baik kok ndadak mikir....soal resiko serahkan sepenuhnya iklaskan seluruhnya..yang penting niat dan perbuatan bertujuan baik...Allah AWT Akan bersama KITA yo to..To..Yo...Yoooooo.

Di Dlingo Aku Rindu KEKASIH

Entah kenapa angin malam ini sangat sejuk, malam itu aku berjalan kaki sendiri di sebuah lembah yang bernama dempak terong dlingo. lalu aku pulang dan aku tergolek di dekatnya melihat ke atap langit-langit kamarku tampak warna putih bergaris-garis hitam dan tampak beberapa titik-titik terang dikejauhan di ambang batas pengelihatanku. Aku tak tahu apakah itu bintang-bintang hatiku yang sengaja menampakan senyum menyapa aku. Sungguh sebuah Kepekatan yang indah.

Tiba-tiba hatiku menyeruak terharu, aku ingat ada beberapa hal yang tertunda yang belum sempat aku kerjakan. Sengaja aku tunda atau memang hanya terpikirkan sekilas dan terpendam di ruanghati. Mataku berkaca-kaca memikirkan semua pristiwa demi peristiwa seperti film terlihat jelas di depan mataku. Kutahan sekuat mungkin runtuhnya air mata.
Aku menghela nafas , sebentar lagi bulan suci Ramadhan akan hadir, rinduuuuu, ya aku rindu ritual itu, berbuka, makan sahur , sholat taraweh…duh … jantungku berdebur keras mengingat semua itu. Peristiwa beberapa tahun terakhir ini sekilas mengiris hatiku. Ku pejamkan mata sekedar untuk menghalau semua kisah hidupku. Semua sudah terlewat dan aku masih berdiri disini bersama berlian-berlian cintaku. Allah telah mengatur semua, memberikan kekuatan dan kesabaran untuk melewati hari-hari demi hari waktu demi waktu meski kadang perihnya tak kan terlupakan.
Tiba-tiba aku teringat sudah beberapa tahun ini aku tidak berkomunikasi dengan baik layaknya hubungan persaudaraan yang diridhai. Dengan alasan klise yaitu, sibuk, males, dan berjuta alasan lain yang hanya mengedepankan egoku.
Teringat juga kekhilafan yang pernah aku lakukan dengan istri, anak dan semua orang yang kini sudah menjadi satu bagai bongkahan salju , sejuk dan keras menggedor hati dan jiwaku. Ada yang harus aku lakukan. Ini adalah saat yang tepat untuk mengunjungi mereka , bersirahturahim, meminta maaf atas kesalahan yang pernah terjadi. Aku harus mulai menyisihkan waktu ku untuk mendatangi mereka atau paling tidak menyapa mereka lewat telp dan bilang rindu serta minta maaf karena sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan.
Tak kuat untuk menahan tangis ini, sudah banyak dosa yang sudah kuperbuat dan Allah masih memberikan waktu untukku di bulan yang maha suci ini , untuk kembali beribadah dan bertobat . Terima kasih Ya Rabb. Aku menghela nafas , aku akan mulai besok untuk menghubungi atau menyapa kerabat dekat, teman-teman untuk meminta maaf dan menyambung tali sirahturahim yang sempat longgar. “Aku rindu, Wangimu mulai kurasakan, Kusiapkan pintu hati dan jiwaku untuk menyambutmu, Semoga semua ketulusan menyertai langkahku Semoga semua kekhilafan termaafkan, Kupeluk dan kucium kedatangan mu, Tak rela hati ini Melepaskan rindu akan sentuhanmu Selamat datang bulan yang penuh dengan berkah…Marhaban Ya Ramadhan ….. “

He Wong Dlingo Surga Belum Dibangun 3

Nah............Neh kita akan masuk lebih dalam neh, sepeti masuk ke gua Gajah seropan dlingo bantul ajah...mas, lah iya lah, ok..masuk lebih dalam ya ..kan ada dua printah peting toh tentang hubungan manusia dangan manusia dan hubungan manusia dengan Allah SWT....nah jadikan itu kata kuci yang paling sedaerhana unuk mengetahui apakah surga kita sudah di bangun atau belum.
Kelak ...pada waktunya setiap amal perbuatan akan di hisab untuk menentukan kita harus masuk ke ruang yang mana....ya kan...,nah.. anda tahu tidak bahwa saya punya prediksi, gini ya prediksi saya pasti benar neh....
" bhawa ketika di hisab hampir kebanyakan manusia akan merugi pada sisi hubungan manusia dengan manusia ....meskipun banyak manusia yang memiliki hubungan spiritual baik dengan Allah SWT...."lho kok bisa .....ya buktikan saja.... toh kelak kita akan mengalami sendiri ...jadi anda sekarang tahu kenapa surga sampai sekarang ini belum di bangun...
Now...anda sudah sedikit punya gambaran belum...mengapa surga belum dibangun....tapi yang paling mudah dan lebih gampang gini neh .......jelas belum dibangun karena kita masih dapet tugas untuk berbuat banyak hal di dunia sebagai modal pembangunan di akhirat, wong mbangun masyarakat dlingo aja masih sulit...."nah soal surga atau neraka tergantung yang kita perbuat, karena semen dan batu bata di surga hanya bisa dicetak dengan amal baik, pasir dan air di surga hanya bisa diperoleh dengan hubungan yang seimbang antara amnusia dengan manusia dan antara manusia dengan Allah SWT."......ya to....di sanggah juga boleh kalo punya keyakinan sendiri, tapi ingget mon...............tujuannya harus baik mon.

He Wong Dlingo Surga Belum DiBangun 2

Ada dua hal penting neh " coba di gunakan pikiran alias akal dulu deh" ini karena kita belum mampu menggunakan hati, kelak coba kita telaah lebih dalam, kalau si hati udah terlatih. Kalo ndak salah ada dua printah khusus dalam menjalin hubungan, baik interaksi masyarakat sosial maupun asah jiwa Personal/religius. Yang pertama hubungan manusia dengan manusia dan yang kedua hubungan manusia dengan Allah. Nah..kalo di dlingo kira-kira ya hampir mirip dengan tingkat partisipasi di lingkungan sosial dengan aktivitas personal dalam spiritual .

Di dalam kedua hubungan tersebut masing-masing terdapat penghalang mata rantai setan yang memang sudah teken kontrak dengan Alloh.....bahwa para syetan ini akan terus melakukan serangkaiyan teror terhadap perbuatan amal kebaikan, sehingga amal perbuatan kebaikan itu menjadi rendah nilainya di hadapan Alloh...." Maap neh Bapak/Ibu Ustadz/Kyai/ dan Ulama Se-Indonesia jadi tidak cuma yogyakarta, Soal dalil dan Ayat-nya di Al Qur'an saya belum tahu " kalo memang salah ya...mohon di maklumi...wong njeh tasih lare alit..." Nembe saget Gojek "...hehehehehe..
Maap lg ya...ini si kepalaku lg gak mau konek....memang neh lagi di kasih rizki sakit perut ma sakit kepala......jadi kita lanjut laen kali aje ya...

He Wong Dlingo Surga Belum Dibangun 1

Hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman, namun sebelumnya maaf apabila sebagian dari anda adalah para pengharap surga, terutama atas ketidaknyamanan temen-temen dari dlingo bantul atau wilayah yogyakarta lainnya yang terusik akibat dari tulisan ini. Tahukah anda bahwa surga itu sampai sekarang belum dibangun, apa lagi yang beralamatkan jalan patuk - dlingo yogyakarta, disana katanya belum ada. ini cuman katanya loh...jadi masihkah anda mengharapkan hal-hal yang indah disurga, yang konon katanya banyak susu, semua keingginan kita akan terpenuhi, dan keindahan yang tak tergambarkan.

eh...hebat ya kalo membayangkan, tapi tentu anda harus siap-siap kecewa..barangkali bayangan yang anda mimpikan tidak sesuai dengan kenyataan...., bisa jadi surga itu tidak lebih indah dari pemandangan dlingo, hayo....pengen membahas lebih jauh prihal apa yang saya sampaikan ini,...ok...kita lajutkan lain kali aje yeeeeeeeee....

He Wonk Dlingo "Hakikat Manusia" Adalah?

Mohon maaf pada penulis ( ini bukan 100% tulisan wong dlingo bantul) mungkin cuma menambahkan sedikit saja,mengenai sumber alamat web-nya akan saya tambahkan pada edit berikutnya atau di lain hari, ok kita mulai ajah ya....ini hanya dalam rangka berbagi dengan para dlingo maniac, hehehehe sebagai berikut :
Hakikat Manusia,terdiri atas dua bagian, yaitu tentang Kesadaran Diri dan Kesadaran Universal.

Didalam filsafat kontemporer secara hakiki terpusat pada pribadi manusia. Boleh jadi, tanpa situasi historis kita tidak bisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya. Al Qur'an membuka pintu dunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tertentu. Saat dimana muncul ketikan dihadapkan persoalan manusia terdorong untuk memikirkan eksistensi. Dimana keberadaannya bagaikan terlempar begitu saja. "Aku" yang kehilangan arah, berpaling dari dirinya sendiri, ia mawas diri dan menyelidiki dirinya. Demikianlah suatu motif yang mula-mula bersifat historis dan psikologis berubah menjadi suatu pertanyaan filosofis yang mendesak: "Siapakah aku ini? Dengan kegembiraan dan harapanku? Apakah tujuan hidup ini? Apakah artinya? Mengapa aku bereksistensi? Dan bukannya tidak bereksistensi?" " warna-warna apa yang akan kita pilih, perpaduan dari dua, tiga, empat atau lima warna, atau bahakn kita memilih untuk tidak berwarna.
Itu juga sebuah pilihan , dan setiap pilihan hendaknya disertai tujuan yang jelas agar kita juga memperoleh sebuah kejelasan dan kepastian dalam menapak jengkal demi jengkal perjalanan hidup. Mengemukakan masalah mengenai pribadi dalam ungkapan-ungkapan tersebut, berarti mengemukakan masalah kebebasan, masalah tanggung jawab. Hal ini membawa kita kepada penelitian mengenai dasar dari asal usul. Baik dari sisi kebebasan maupun dari sisi tanggung jawab. Hal tersebut akhirnya memunculkan masalah ketuhanan. Apakah Allah itu masuk dalam definisi manusia atau tidak? Apakah eksistensi manusia itu bersifat teosentris ataupun antroposentris? Partisipasi ataupun cukup dalam dirinya sendiri? Ada apakah dengan pernyataan ulama populer "man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu?" (barang siapa tahu akan dirinya, maka ia tahu akan Tuhannya).
Dalam arti yang sebenarnya, kata "eksistensi" berarti data kosmis, sejauh manusia yang terlibat secara aktif di dalamnya. Hubungan erat antara masalah manusia dan masalah ketuhanan, terlihat baik pada mereka yang mengingkari Allah maupun pada mereka yang mengikuti-Nya. Kecenderungan tersebut pada dasarnya merupakan naluri manusia yang tidak bisa dipungkiri dan merupakan fitrah manusia.
Mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki naluri religiusitas dalam pengertian apapun, baik yang sejati maupun yang palsu. Sebenarnya adalah sama dengan mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki naluri untuk berkepercayaan. Dalam tinjauan antropologi budaya, Naluri itu muncul berbarengan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup ini sendiri dan alam sekitar yang menjadi lingkungan hidup itu. Karena itu setiap orang dan masyarakat pasti mempunyai keinsafan tertentu tentang apa yang dianggap "pusat" atau "sentral" dalam hidup seperti dikatakan oleh Mircea Elidae:
"Setiap orang cenderung, meskipun tanpa disadari mengarah kepusat dan menuju pusat sendiri, dimana ia akan menemukan hakekat yang utuh yaitu rasa kesucian. Keinginan yang begitu mendalam berakar dalam diri manusia untuk menemukan dirinya pada inti wujud hakiki itu di pusat alam, tempat komunikasi dengan langit --menjelaskan penggunaan dimana akan ungkapan pusat alam semesta"
Disini kita akan mencoba menelusuri secara beruntun dari dasar sekali. Al Qur'an menyebutkan dalam Surat Adz Dzariat 21:
"Dan juga pada dirimu, maka apakah kamu tiada memperhatikan"
Juga dalam surat Al Hijir 28-29:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh (cipataan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". (QS Al Hijir 28-29).
Dalam kerangka ini kita mengambil garis yang jelas dari peristiwa kejadian manusia, dimana para makhluk baik itu setan maupun malaikat mempertanyakan kebijakan Allah yang akan menciptakan manusia, yang menurut pandangan malaikat "manusia" adalah makhluk yang selalu membuat keonaran dan pertumbahan darah (QS Al Baqarah 30). Tidak kalah sengitnya setan memprotes keberadaan manusia yang dipandang rendah, yang hanya diciptakan dari unsur tanah, sambil membanggakan dirinya yang dibuat dari api.
Dalam keadaan ini para malaikat gigit jari dan begitu terheran-heran: rahasia macam apa ini? Bumi yang hina-dina dipanggil kehadirat Zat yang maha tak terjangkau dengan segenap kehormatan dan kemuliaan ini.
Kelembutan illahi dan kebijakan Tuhan berbisik lembut ke dalam relung rahasia dan misteri malaikat,
"Aku tahu apa yang tidak kalian ketahui" (QS:2:30).
Raga manusia termasuk kedalam derajat terendah, sementara ruh manusia termasuk ke dalam derajat tertinggi. Hikmah yang terkandung dalam hal ini ialah bahwa manusia mesti mengemban beban amanat pengetahuan tentang Allah. Karena itu mereka harus mempunyai kekuatan dalam kedua dunia ini untuk mencapai kesempurnaan. Sebab tidak sesuatupun di dunia ini yang memiliki kekuatan yang mampu mengemban beban amanat. Mereka mempunyai kekuatan ini melalui esensi sifat-sifatnya (sifat-sifat ruhnya), bukan melalui raganya.
Karena ruh manusia berkaitan dengan derajat tertinggi dari yang tinggi, tidak satupun di dunia ruh yang menyamai kekuatannya, entah itu malaikat maupun setan sekalipun atau segala sesuatu lainnya. Demikian pula, jiwa manusia berkaitan dengan derajat yang paling rendah, sehingga tidak sesuatupun di dunia jiwa bisa mempunyai kekuatannya, entah itu hewan dan binatang buas atau yang lainnya. Ketika mengaduk dan mengolah tanah, semua sifat hewan dan binatang buas, semua sifat setan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati diaktualisasikan. Hanya saja, tanah itu dipilih untuk mengejawantahkan sifat "dua tangan-Ku". Karena masing-masing sifat tercela ini hanyalah sekedar kulit luarnya saja, di dalam setiap sifat itu ada mutiara dan permata berupa sifat illahi.
Penjelasan diatas merupakan urutan ungkapan mengenai hakekat diri yang sebenarnya, dimana manusia sebagai makhluk yang sangat lemah dan hina disisi lain dinobatkan sebagai "khalifah" (wakil Allah). Bertugas mengatur alam semesta dan merupakan wakil Allah untuk menjadi saksi-Nya serta mengungkapkan rahasia-rahasia firman-Nya. Para mahkluk yang lain tidak melihat ada dimensi yang tidak bisa dijangkau olehnya, ia hanya mampu melihat pada tingkat yang paling rendah dalam diri manusia. Sementara ia terhijab oleh ketinggian derajat manusia yang berasal dari tiupan illahi (QS Al Hijir 28-29).
Ungkapan hakikat manusia mengacu kepada kecenderungan tertentu secara berurutan dalam memahami manusia. Hakikat mengandung makna sesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah. Yaitu identitas esensial yang menyebabkan sesuatu menjadi dirinya sendiri.
Al Ghazaly yang hidup pada abad pertengahan tidak terlepas dari kecenderungan umum pada zamannya dalam memandang manusia. Didalam buku buku filsafatnya ia mengatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap, tidak berubah-ubah yaitu An nafs (jiwanya). Yang dimaksud an nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat dan merupakan tempat pengetahuan intelektual (al makulat) yang berasal dari alam malakut atau alam amr. Ini menunjukkkan esensi manusia bukan fisiknya dan bukan fungsi fisik. Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat. Dan fungsi fisik adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri. Keberadaannya tergantung kepada fisik. Alam al amr atau alam malakut adalah realitas diluar jangkauan indra dan imaginasi, tanpa tempat, arah dan ruang. Sebagai lawan dari alam al khalq atau alam mulk yaitu dunia tubuh dan aksiden-aksidennya esensi manusia, dengan demikian an nafs adalah substansi immaterial yang berdiri sendiri dan merupakan subyek yang mengetahui (Bashirah).
Untuk membuktikan adanya substansi immaterial yang disebut an nafs, Al Ghazaly mengemukakan beberapa argumen. Persoalan kenabian, ganjaran perbuatan manusia dan seluruh berita tentang akhirat tidak ada artinya apabila an nafs tidak ada, sebab seluruh ajaran agama hanya ditujukan kepada yang ada (al maujud) yang dapat memahaminya. Yang mempunyai kemampuan bukanlah fisik manusia sebab apabila fisik manusia mempunyai kemampuan memahami, objek-obyek fisik lainnya juga mesti mempunyai kemampuan memahami. Kenyataan tidak demikian. Argumen bersifat keagamaan ini , bagaimanapun tidak dapat meyakinkan orang yang ragu terhadap kenabian dan hari akhirat. Karena untuk mempercayai argumen ini orang terlebih dahulu harus percaya akan kenabian dan hari akhirat.
Selain itu Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda dengan argumen-argumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapat perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing. Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda mati mempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam. Sedangkan tumbuhan makhluk hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerak bervariasi juga mempunyai rasa. Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalam kenyataan manusia juga mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia selain mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat. Prinsip inilah yang betul-betul membedakan manusia dari segala makhluk lainnya.
Argumen kesadaran langsung yang dikemukakan seorang manusia menghentikan segala aktivitas fisiknya1, sehingga ia berada dalam keadaan tenang dan hampa aktivitas. Ketika ia menghilangkan segala aktivitasnya, menurut Al Ghazaly, ada sesuatu yang tidak hilang di dalam dirinya yaitu "kesadaran" yakni kesadaran akan dirinya. Ia sadar bahwa ia ada. Bahkan ia sadar bahwa ia sadar. Pusat kesadaran itulah yang disebut an nafs al insaniyyat (diri sejati). Dikatakan dalam suatu tafsir shafwatu at tafasir karangan Prof. As Shabuny dalam surat Al Qiyamah ayat 14:
"akan tetapi di dalam diri manusia ada bashirah (yang tahu)."
Kata bashirah ini disebut sebagai yang tahu atas segala gerak manusia yang sekalipun sangat rahasia. Ia biasa menyebut diri (wujud)-nya adalah "Aku".
Wujud "Aku" yang memiliki sifat tahu yang memperhatikan dirinya atas perilaku hati, kegundahan, kebohongan, kecurangan, serta kebaikan. Ia tidak pernah bersekongkol dengan perasaan dan pikiran, ia jujur dan suci, sehingga manusia, setan dan jin tidak bisa menembus alam ini karena ia sangat dekat dengan Allah sekalipun manusia itu jahat dan kafir. Adalah pernyataan Allah atas pengangkatan sebagai wakil Allah, sehingga Allah menyebut tentang "Aku" ini sebagai ruh-Ku. Yang oleh As Shabuny sebagai penghormatan yang maha tinggi seperti penghormatan Allah terhadap Baitullah (rumah Allah).
Ketika itu yang disadari bukan fisik dan yang sadarpun bukan fisik. Kesadaran disini tidak melalui alat, tetapi bersifat langsung. Oleh karena itu subyek yang sadar itu jelas bukan fisik dan bukan fungsi fisik melainkan sesuatu substansi yang berbeda dengan fisik. Mungkin juga dikatakan disini tidak bersifat langsung, tetapi melalui perantara, yaitu melalui perbuatanku. Dalam perbuatanku ada yang mendahului, yaitu kesadaran akan aku yang menjadi subyek perbuatan itu. Kesadaran disini bagaimanapun bersifat langsung dan terlepas dari aktivitas fisik. Dengan demikian subyek yang sadar, yang menjadi esensi manusia itu nyata ada dan merupakan substansi yang berbeda dengan fisik. Hal ini terbukti ketika manusia kehilangan aktivitas pada moment menjelang tidur. Sang "Aku" (kesadaran) mengetahui dengan sadar peristiwa yang dialami pada saat bermimpi.
Begitupun Kehidupan keruhanian dalam mendasari kesadaran ihsan dengan menghentikan aktivitas fisik sebagai kendali sahwati, maka yang timbul adalah kesadaran diri yang mampu menembus alam malakut dan uluhiah. Dimana manusia mencapai puncak eksistensi yang sejati. Kesejatian inilah yang di tuntut oleh Allah dalam hal melakukan peribadatan, apakah puasa, zakat, dan shalat. Dengan konteks "ihklaskanlah peribadatanmu dengan tidak melakukan kesyirikan sedikitpun" (QS. Az Zumar 11 & 14). Aktivitas ruhani yang diajarkan oleh Allah adalah peribadatan saum yang mana manusia dalam sementara waktu diwajibkan mengendalikan emosinya dan aktivitas keinginan hawa nafsu selama satu bulan di bulan ramadhan. Selama satu bulan penuh menahan rasa dan keinginan ragawi, samar-samar akan terjadi proses transformasi kejiwaan yang tadinya emosional berubah menjadi ketenangan, dan fisik seolah tidak lagi menuruti keinginannya, sehingga sang fisik mengikuti kehendak-kehendak diri yang sejati.
Maka oleh Allah dikatakan mereka itu telah mendapatkan karunia lailatul qadar, dimana ia mampu menembus seluruh semesta ruhani dan kembali sebagai manusia sejati dan fitrah. Keadaan Fitrah ini diungkap Al Qur'an, bahwa apabila telah terjadi fitrah pada diri manusia maka sesungguhnya fitrah itu sama dengan kehendak Allah (QS. 30:30):
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Dalam hal ini manusia tersebut mendapat karunia kepatuhan dan ketaqwaan seperti patuhnya alam semesta serta patuhnya tubuh manusia, dimana dimengerti bahwa tidak pernah dirinya merencanakan ada, kemudian kenapa aku ini laki-laki? Atau nafas ini mengalir keluar masuk tanpa aku kehendaki dan bisakah aku menangguhkan jangan keburu tua dulu. Hal ini merupakan renungan hakiki, kenapa pikiran ini tidak sepatuh alam dan tubuh yang diselimuti kekuasaan Allah. Ia begitu tampak jelas dalam gerakan dan keberadaan alam dan diri ini.
Dengan argumen di atas bahwa an nafs berdiri sendiri dipertegas bahwa ia tidak bertempat, baik didalam badan maupun diluar badan. Karena an nafs bukan materi maka dengan sendirinya tidak mengambil ruang dan tidak mempunyai tempat. Sifat dasar an nafs tidak mengandung kemungkinan bertempat. Artinya pernyataan tempat tidak sesuai dihubungkan kepada an nafs, sebagaimana tidak sesuai sifat mengetahui atau tidak mengetahui diletakkan pada benda mati. Al Ghazaly tidak menerima pandangan bahwa an nafs berada di luar badan. Sebab an nafs dalam keadaan demikian, menurutnya tidak mungkin mengatur badan, tetapi kalau an nafs berada di dalam badan keberatan lain akan timbul. An nafs bertempat di dalam badan tidak terlepas dua kemungkinan, yaitu bertempat pada seluruh badan atau pada sebagiannya saja. Kalau bertempat pada seluruh badan, an nafs semestinya menyusut atau berpindah, jika sebagian anggauta tubuh manusia terpotong dan ini tidak mungkin.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa esensi atau hakikat manusia adalah substansi immaterial yang berdiri sendiri, bersifat illahi (berasal dari alam amr), tidak bertempat di dalam badan, bersifat sederhana, mempunyai kemampuan mengetahui dan menggerakkan badan, diciptakan (tidak kadim) dan bersifat kekal pada dirinya. Ia berusaha menunjukkan bahwa kesadaran jiwa dan sifat-sifat dasarnya tidak dapat diperoleh melalui akalnya saja, tetapi dengan akal dan sara' . Untuk itu selain kutipan ayat 29 surat Al Hijir di atas juga ayat-ayat yang lain yang menerangkan esensi manusia seperti surat Ali Imron 169:
"Jangan engkau sangka orang-orang yang terbunuh pada jalan Allah itu mati, mereka itu hidup dan diberi rezeki disisi Tuhan."
"Katakan jiwa itu dari amr Tuhanku." (QS. Al Isra 85).
Ayat yang pertama menunjukkan kekekalan jiwa dan ayat yang kedua untuk menunjukkan bahwa ia berasal dari dunia yang sangat dekat dengan Allah, alam amr. Pembangkitan kesadaran akan diri, dikatakan para ulama kerohanian sebagai ajang mujahadah untuk menemukan kesejatian, dan dengan kesejatian itu pula manusia akan mencapai hakikat "diri" serta terbukanya kebenaran adanya Allah secara hakiki, yakni makrifatullah.
Periode pertengahan kejayaaan Islam di Jawa, berlangsung semaraknya hidup berkerohanian yang dipelopori para dai (wali songo) masa itu. Namun kita melihat kelebihan dan kekurangan metode yang diajarkan, masih banyak menyesuaikan budaya masyarakat kerohanian Hindu. Sehingga peribadatan yang masih tersisa sekarang kelihatan asimilasi peninggalan Hindu dan Budha. Akan tetapi kita melihat dengan jernih ajaran yang disampaikan oleh beliau dengan tetap memurnikan ketauhidan kita kepada Allah. Misalnya dalam mantra berbahasa Jawa, tentang perenungan hakiki manusia serta penyadaran dan pencarian kesejatian yang dikatakan dalam Al Qur'an sebagai "bashirah"(Aku yang mengetahui).
Bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang). Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah). Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakan hidup itu Allah). Utek dunungno kodrate Allah (otak letakkan atas kodrat Allah). Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah (ya hu ... Allah ya hu ... Allah ya hu ... Allah). Nabi Muhammad iku utusane Allah (nabi Muhammad itu rasullullah).
Artinya: (perlu diketahui dalam membaca kalimat mantra ini diperlukan penghayatan dan pendalaman makna yang hakiki).
Masuk dan keluarnya nafas ini adalah kodrat Allah yang tidak bisa dicegah. Manusia hanya menerima dengan pasrah atas kekuasaan Allah yang meliputi nafas. Sehingga fikiran ini diajak patuh dan pasrah bersamaan dengan patuhnya nafas tanpa reserve (totalitas). Yang mengadakan hidup pada manusia (semesta) itu adalah Allah. Dimana seluruh makhluk, apakah itu binatang, manusia, tumbuhan serta bumi, matahari semuanya bergerak dinamis atas sifat hidup Allah (Al Hayyu). Otak adalah merupakan bentuk kekuasaan Allah atas manusia, yang mana manusia diwajibkan berfikir dan berkontemplasi untuk menyatakan sebagai wakil Allah (khalifah) maka dengan itu otak harus sesuai dengan kehendak-kehendak Allah (perintah Allah).
Wahai zat yang tidak sama dengan makhluknya.
Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu rasulullah.
Disini kita melihat sejarah manusia ketika mensikapi atas dirinya dalam pencarian diri sejati secara universal. Al Qur'an telah memaparkan sebelum para pemikir barat memulai. Terima kasih teman baru yang belum merespon...tulisan ini mudah-mudahan berguna bagi para pencari dzat yang agung. wah kira-kira dlingo sudah ada belum ya pas para pemikir itu pada mikir

Di Dlingo Menunggu Untuk Entah

Manusia di lahirkan ke dunia untuk hidup dan untuk mati, hakikat kelahiran jiwa dan raga di dunia adalah sinkronisasi dan harmonisasi baik wujud yang tampak atau yang tidak tampak. Memahami setiap dinamika kehidupan sosial masyarakat dlingo bantul yogyakarta merupakan tugas kekalifahan yang tidak boleh terputus. Meningkatkan drajad dan kualitas hidup di dunia dan akhirat adalah sebuah simbol kemulyaan melekat yang telah di berikan oleh Tuhan Allah SWT, karena selain manusia tidak ada yang bisa hidup di dua alam yang berbeda.

Lalu apa "TUJUAN" Allah menciptakan manusia ? kemudian siapa manusia-manusia yang bisa hidup di dua alam itu ? terus bagaimana cara hidup di sana ? apa bekal menuju kesana ?..."ENTAHLAH ? " "Kata orang-orang yang tidak mau berpikir"....@#@#@#@
Berkaca adalah jawaban dari setiap pertanyaan di atas, mengenal diri sendiri mungkin hal yang paling mudah dilakukan sebelum bisa mengenal Allah. layaknya kita sebagai masyarakat dlingo mestinya harus mengenal wilayah dlingo jauh lebih detil dari pada masyaralat soaial luar dlingo. " Tapi Bagiku mengenali diriku saja aku masih sulit". lalu munafik-kah orang yang berkoar-koar menyebut nama allah berulang-ulang, bersemangat mengebu-gebu , " Ya....Tergantung ".
Instrumen perjalanan mencari Ke-ESAAN-NYA sungguh-sungguh berwarna-warni, hampir-hampir setiap warna menawarkan keindahan dan kesejukan, hampir setiap jalan solah-olah banyak yang melambaikan tangan seolah sebagai ucapan selamat datang sambil tersenyum. " WOW" rupa-rupanya di sana sudah banyak penghuninya..."tapi jalan itu tak berujung" sama dengan warna-warni itu, warna-warni itu di padukan dengan warna apapun tetap saja menghasilkan warna baru. "wah semakin banyak warna baru semakin menyesatkan neh....."Kwakakakakakakakakakakak".
Kegelisahan demi kegelisahan mungkin dialami setiap orang " dengan tingkat yang berbeda-beda tentunya" yah...tapi paling tidak hari ini semangat dan tujuan hidup masih ada...meski masih panjang, terjal dan masih perlu banyak pengalaman. " itupun kalau masih di beri umur panjang". yang paling kutakutkan adalah " bisikan-bisikan yang mengajak-ku berpaling " " Jagalah aku..Ku Mohon ".
Masih disini " Aku Menunggu Untuk Entah "