Warga Dlingo Dambakan Jembatan

Dlingo : Radar Jogja : Warga Dlingo, Kecamaran Dlingo mendesak pemerintah segera membangun jembatan yang ada di wilayahnya. Jembatan itu untuk menghubungkan Desa Dlingo dengan Desa Banyusoco, Gunungkidul. Alasannya, tidak sedikit masyarakat Dlingo menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai petani di wilayah Gunungkidul itu.’’Yang jelas transportasi antara kedua kabupaten ini akan menjadi sangat mudah jika ada jembaran. Selain mengggarap lahan pertanian di Desa Dlingo, sebagian masyarakat setempat ternyata ada juga yang menyewa lahan pertanian di Desa Banyusoco, Gunungkidul. Biasanya, mereka menggunakan perahu gethek untuk pergi ke lahan pertanian itu. Khususnya tanaman palawija.

Tak jarang masyarakat juga menempuh jalur darat untuk pergi ke lahan mereka. Hanya saja, perjalanan darat dengan menggunakan sepeda motor itu memakan waktu sekitar 30 menit. ’’Kalau menggunakan sepeda motor muter jadinya,” ungkapnya.Dengan adanya jembatan di atas Sungai Oyo itu diharapkan mampu meningkatkan produktifitas masyarakat kedua kabupaten. Bahkan, mampu mendongkrak taraf perekonomian warga. ’’Penjualan hasil pertanian juga akan semakin mudah,” harapnya.

Untuk mewujudkan pembangunan jembatan itu Kelurahan Dlingo pernah berkonsultasi dengan Pemkab Bantul. Hasilnya, pemkab menyarankan agar kelurahan mengajukan proposal pengajuan pembangunan kepada Pemerintah Provinsi DIJ. ’’Persoalannya jembatan ini menghubungkan dua kabupaten. Kami akan berkomunikasi dengan pihak Desa Banyusoco,” tambahnya. Anggota Komisi C DPRD Bantul, Aslam Ridlo mengatakan pembangunan jembatan penghubung kedua kabupaten itu merupakan wewenang Pemprov DIJ. ’’Tahun ini pemkab juga tidak menganggarkannya,” katanya.Meski demikian, Komisi C berjanji akan menyampaikan aspirasi warga ini kepada pemprov. Harapannya warga Dlingo dapat segera memiliki jembatan yang selama ini mereka dambakan.

Pedagang Pasar Dlingo Berhak Terima Fasilitas

Dlingo : Radar Jogja: Perlakuan berbeda terhadap para pedagang di Pasar Dlingo dengan para pedagang di Pasar Bantul mengundang keprihatinan Bupati Bantul Sri Suryawidati. ’’Sudah saya sampaikan hal ini kepada kepala kantor pasar,” terang dia di ruang kerjanya kemarin (22/2).Beredar kabar para pedagang di Pasar Bantul yang terkena dampak pembangunan pasar bakal direlokasi. Mereka akan mendapatkan berbagai fasilitas dari pemkab, seperti lapak selama masa pembangunan. Ternyata kebijakan itu tidak berlaku bagi para pedagang di Pasar Dlingo. Selama menempati tempat relokasi, mereka membangun lapak secara swadaya, tanpa mendapatkan bantuan dari pemkab. Inilah yang akhirnya menimbulkan kecemburuan.Karena itu, Ida, sapaan akrab Sri Suryawidati meminta kantor pasar segera mengumpulkan para pedagang Pasar Dlingo untuk menampung seluruh aspirasi mereka. Harapannya, pemkab segera mendengar keluh-kesah mereka selama ini. ’’Kami menginginkan para pedagang nyaman,” ujarnya.

Ketika disinggung mengenai bangunan relokasi di Pasar Dlingo yang tidak begitu memadai, Ida sudah meminta kepada Kantor Pasar guna berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU). ’’Kalau sudah dikoordinasikan biar dikerjakan DPU,” tambahnya. Anggota Komisi C DPRD Bantul, Aslam Ridho mengatakan pemkab selama ini hanya menyediakan lahan relokasi bagi para pedagang di Pasar Dlingo. Lahan seluas seribu meter persegi itu digunakan sebanyak 195 pedagang. Selain itu, mereka juga membuat lapak secara swadaya.“Padahal selama dua tahun menghuni relokasi mereka tertib membayar retribusi. Total retribusi selama dua tahun ada 30 juta lebih,” katanya.Itu sebabnya mereka berhak mendapatkan berbagai fasilitas dari pemkab, seperti lahan relokasi yang memadai serta ketersediaan lapak

Monyet Serang Dlingo, Warga Resah

Dlingo : harianjogja: Seekor monyet jantan yang diduga turun dari hutan di Kecamatan Dlingo membuat resah warga Dusun Ngancar, RT 1, Desa Karangtalun, Kecamatan Imogiri sejak Jumat (1/3/2013).

“Akibat ulah monyet itu, genting sejumlah rumah warga rusak,” kata Marsudi, warga Dusun Ngancar, Sabtu (2/3/2013).

Marsudi menerangkan, monyet itu pertama menyambangi rumahnya pada Jumat sore. “Kebetulan saya memelihara seekor monyet betina,” ujarnya.

Karena tampak beringas saat didekati, Marsudi dan sebagian warga tidak dapat menangkap monyet tersebut. Kemarin, monyet itu diketahui sudah berpindah ke selatan, arah Dusun Bandungan, Imogiri.

Menurut Marsudi, monyet liar itu diduga berasal dari Hutan Wanagama, wilayah Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo. Karena pepohonan di habitat aslinya sudah banyak yang ditebang dan sejak beberapa bulan terakhir berubah menjadi areal persawahan, lanjut Marsudi, monyet itu terusik dan terpaksa turun ke permukiman mencari makan.

Selain di wilayah Dusun Ngancar, kata dia, monyet serupa juga dikabarkan mengusik ketenangan warga di wilayah Dusun Pajimatan. Dusun itu letaknya tidak jauh dari kompleks makam raja-raja Imogiri. Kabarnya ada tiga ekor di sana.

Khawatir jika turun gunungnya sejumlah monyet hutan itu bakal membahayakan keselamatan warga, khususnya anak-anak, Marsudi telah melapor ke Polsek Imogiri. “Kalau kami bertindak sendiri dengan senapan angin, takutnya malah salah di mata hukum.”

Laporan Marsudi telah direspons Polsek Imogiri. “Anggota kami langsung terjun ke lokasi,” jelas Kapolsek Imogiri, Kompol Herlambang.

Namun, setelah ditunggu selama berjam-jam, monyet itu tidak kunjung menampakkan diri.

Kera ekor panjang kerap juga muncul didusun salam, Pokoh, dan juga komplek kebun buah mangunan...

Lomba Masak Menciptakan Inovasi Masakan Khas Dlingo

DLINGO :Masakan khas adalah sebuah cita rasa tersendiri bagi sebuah wilayah, kecamatan dlingo dengan segudang potensinya memiliki berbagai macam kekayaan masakan. namun demikian sampai saat ini belum menemukan karakter masakan yang khas dan digandrungi oleh masyarakatnya sendiri. hal inilah kemudian kami berupaya untuk secara swadaya sambil iseng mencoba membuat sebuah acara loba masak yang unik.

Keunikan dari acara ini adalah terletak pada costum peserta yang tidak lain adalah anggota gema angkasa. kemudian dari lomba ini diharapkan akan muncul sebuah ide dan gagasan menarik untuk kemudian direkomendasikan sebagai rujukan khas masakan ala kecamatan dlingo. costum peserta mengambil tema petani, pramuka, olah raga, metal, dan tempo dulu. sementara juri diambil dari PKK dusun pokoh 1 dan Pokoh 2, lokasi kegiatan berada di halaman TK Pertiwi 44 Dlingo.

Berikut adalah dokumentasinya.....