Kegiatan Temu Sadar Hukum di Mangunan, Dlingo

Kanwil Kementerian Hukum dan HAM D.I.Yogyakarta mengadakan kegiatan Temu Sadar Hukum di Mangunan, Dlingo. Desa Mangunan termasuk salah satu Desa Sadar Hukum berdasarkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 95/Kep/2013 tentang Penetapan Desa/Kelurahan Sadar Hukum 2013. 
 
Dengan ditetapkannya sebuah Desa sebagai Desa Sadar Hukum maka diharapkan masyarakat di Desa tersebut mampu menjaga kredibilitasnya sebagai masyarakat yang sadar, taat dan cerdas hukum, serta menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat di Desa sekitarnya, sehingga secara bertahap semua Desa/Kelurahan Sadar Hukum 
 
Tim Penyuluh Hukum Kanwil Kementerian Hukum dan HAM D.I.Yogyakarta terdiri dari Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Rr. Risma Indriyani, SH, M.Hum dan Kepala Bidang Pelayanan Hukum Dra. Sri Widyaningsih, S.H., M.Hum, Suwarno, S.H., Asih Widiastuti, S.H., Ngadiya, S.H., Kristina Budiyani, Rina Nurul Fitri Atien, S.H., Nuraeni, Sugiman, Adhitya Nugraha Novianta, S.H.

MEBEL KAYU DLINGO DILEMA INOVASI DAN TRADISI

Dlingo: lintaskampusup45 : Reka baru/inovasi (bahasa Inggris: innovation) dapat diartikan sebagai proses atau hasil pengembangan pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem baru yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial). (http://id.wikipedia.org).
 
Berwirausaha inovasi sangatlah penting. Banyak para wirausahawan yang gulung tikar karena mereka tidak mampu bersaing dengan kompetitor yang mampu menciptakan inovasi dalam produk. Tanpa inovasi, konsumen atau pasar pasti akan bosan dan mencari alternative lain. Namun apabila memang tidak ada inovasi pada suatu produk, konsumen harus membeli dengan keterpaksaan. Kita ambil contoh, para tukang kayu dari Dlingo yang memproduksi mebel kebutuhan mahasiswa. Banyak kita jumpai penjual mebel untuk mahasiswa seperti meja, rak buku, lemari dll.
 
 Kampus UPN Veteran ada puluhan penjual mebel dengan barang yang sama, nyaris tidak ada bedanya dari setiap penjual. Baik harga, maupun kwalitas barangnya. Terdapat beberapa tempat mereka berjualan secara rombongan, seperti di sekitar kampus UGM, UNY, UII, UMY, dan tentu saja UP45. Semua produk yang dijual memiliki bentuk, kwalitas dan harga yang sama. Kenapa hal itu terjadi? Karena pembuatnya berasal dari daerah yang sama.

Dlingo salah satu pembuatnya. Tepatnya berada di Kecamatan paling timur dari kabupaten Bantul. Puluhan bahkan mungkin ratusan para tukang kayu yang memproduksi mebel untuk mahasiswa berasal dari daerah itu. Mereka menggunakan material yang sama. Di sana biasa disebut kayu sengon. Sebenarnya tidak ada kesepakatan yang mengikat untuk memproduksi barang dengan bentuk yang sama. Hanya untuk harga mereka memiliki kesepakatan harga jual terendah.

Tahun ke tahun tidak ada inovasi yang berarti dari produk-produk ini. Konsumen sudah cukup bosan dengan produk yang sama saja. Padahal, untuk menciptakan produk yang berbeda tidaklah susah, bisa dilakukan dengan merubah material kayu yang digunakan atau dengan merubah desain, tentu akan menambah variasi dan konsumen punya alternative baru untuk menentukan pilihan. Di sisi lain, mungkin mereka terjebak dalam zona nyaman dengan memproduksi barang itu-itu saja. Seperti kita tahu bahwa zona nyaman (comfort zone) merupakan salah satu penghambat seseorang untuk berkembang dan maju. 
 
Dengan kata lain, produksi yang dilakukan oleh para perajin mebel ini bisa disebut sebagai tradisi. Dimana mereka memproduksi barang dengan jumlah yang massive, terus menerus, dan dengan bentuk serta kwalitas yang itu-itu saja. Tradisi yang sebenarnya tidak untuk di pertahankan, melainkan untuk dirubah atau dikembangkan. Tidak mudah memang, tapi itu lah kenyataan berwirausaha. Tanpa inovasi, berarti konsumen jenuh, bahkan yang fatal adalah tersingkir. Berwirausaha itu terkadang bisa terlahir karena tradisi dan bertahan dengan inovasi, namun bisa juga sebaliknya.

A hidden cave in Dlingo, Bantul

 
What do you know about some beautiful caves located in Bantul, Yogyakarta? Some of you maybe have only known or visited Selarong cave and Cermai cave. Yah, those are most famous caves in Bantul. There is, however, one of other beautiful caves hidden in Bantul regency, namely Jatisari cave. Jatisari cave is one of hidden caves located in Seropan 3 village, Dlingo district, Bantul regency. Some visitors named the cave as Goa Lowo Jatisari because it has many cave bats inside. Visitors coming into the cave with the length about 1 kilometer will see active stalactites and stalagmites and through small river. If you want to visit Jatisari cave, it is better for you to come at dry season as the volume of river water isn’t high.
 
Satu lagi tempat menarik di kecamatan Dlingo, Bantul,Yogyakarta yang perlu diperhitungkan sebagai salah satu tempat pariwisata di Bantul. Tempat itu adalah goa Jatisari yang terletak di Dusun Seropan 3, Muntuk, Dlingo, Kabupaten Bantul. Goa ini berada di ujung selatan kelurahan Muntuk yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul.

Ketika anda datang ke kawasan goa Jatisari ini, anda akan disuguhi dengan pemandangan alam berupa hamparan persawahan para petani yang berada di perbukitan dan derasnya aliran sungai oya sebagai pemisah antara Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul. Namun anda jangan berharap ada fasilitas layaknya sebuah tampat pariwisata. Tempat ini masih asri dan belum ada alokasi dana dari pemerintah untuk mengelola tempat ini.

Saat ini, pengunjung belum dikenakan biaya retribusi untuk memasuki kawasan ini. Apabila pengunjung membutuhkan pemandu untuk memasuki goa Jatisari, pengunjung dapat meminta salah satu warga setempat dengan tarif seikhlasnya.

Goa Jatisari merupakan salah satu goa yang memiliki aliran sungai didalamnya. Dimusim kemarau, aliran sungai itu tidak terlalu deras sehingga pengunjung dapat masuk hingga ujung mulut goa. Saat masuk ke dalam goa ini, pengunjung akan disuguhi indahnya stalakmit dan stalaktit yang masih aktif. Panjang goa ini sendiri sekitar 1 km dengan keindahan bebatuan menarik didalamnya.

UPK Kecamatan Dlingo- Sasar Usaha Perempuan, Kini Kelola Rp2,2 Miliar

Dlingo : koran-sindo.com: Mungkin, bagi sebagian orang, Kecamatan Dlingo merupakan wilayah yang terpinggirkan dan terbelakang. Namun siapa sangka jika kawasan yang berada 30 kilometer dari Kota Kabupaten Bantul ini, kelompok usaha perempuannya justru menyimpan potensi ekonomi cukup besar.

Bahkan di kawasan ini, pandangan miring tentang kelompok ekonomi perempuan juga terbantahkan. Gambaran sukses Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Dlingo ini mungkin menjadi cerminan bantahan jika Dlingo wilayah yang terbelakang. Bagaimana tidak, berawal dari bantuan dana bergulir sekitar Rp250 juta pada 2007 silam, kini UPK Kecamatan Dlingo mampu mengembangkan dana bergulir tersebut menjadi Rp2,2 miliar. Ketua UPK Kecamatan Dlingo Nurul Iwan mengungkapkan, sebagai ketua, dirinya tidak menyangka jika dana UPK bisa berkembang menjadi sebesar itu.

Tidak hanya itu, tingkat pengembalian di UPK tersebut mencapai 100%, lebih dari harapan sebelumnya. “Ini mengejutkan, karena meski dikatakan tertinggal justru mereka patuh-patuh,” kata Nurul. Salah satu strategi yang digunakan adalah mengkhususkan diri kepada kelompok ekonomi perempuan. Meski awalnya dipandang berisiko, justru ternyata melebihi ekspektasi yang ada. Anggapan jika kelompok perempuan tidak akan produktif dan patuh justru tidak terbukti sama sekali.

Kini, dengan menyasar kelompok-kelompok usaha perempuan seperti usaha kerajinan bambu di Desa Munthuk, usaha finishing mebel di Temuwuh dan usaha bunga kering atau ronce, makanan serta hasil bumi di Desa Dlingo, dana Rp250 juta cepat berkembang hingga kini menjadi Rp2,2 miliar. “Kami menyasar perempuan karena mereka lebih patuh dan mudah untuk diarahkan. Kini sudah ada 127 kelompok dengan anggota dua ribuan orang. Semuanya wanita,” katanya.

Dengan tingkat kemacetan 0% setiap tahun mencadangkan 25% untuk modal, kini UPK Kecamatan Dlingo mampu membangun sebuah gedung kantor UPK senilai Rp218 juta. Dana senilai Rp218 juta tersebut merupakan dana sisa lebih yang digunakan. Gedung UPK ini menjadi kebanggaan Kecamatan Dlingo, karena belum banyak UPK yang memilikinya. Beberapa kecamatan seperti Banguntapan, Pleret, Pundong, Imogiri, Bambanglipuro, dan Kretek. Sementara Kecamatan Sewon dan Sanden difasilitasi oleh kecamatan.

Harapan besar penggunaan dana untuk kepentingan tersebut memang mampu membantu masyarakat Dlingo. Kelompok perempuan produktif di Desa Mangunan Kecamatan Dlingo yang sebentar lagi akan membuka usaha modiste dan konveksi. Mereka berharap, dana UPK mampu memenuhi kebutuhan mereka untuk berkembang. Kali ini, mereka membutuhkan bantuan peralatan mesin jahit dari Pemkab Bantul. Pasalnya, kelompok perempuan Mangunan berjumlah 20 orang kini telah mengikuti pelatihan usaha menjahit namun mengalami kendala modal membeli peralatan untuk membuka usaha mandiri.

Heni, salah satu peserta pelatihan menjahit dari Dusun Sukorame mengaku masih kebingungan karena tidak memiliki modal yang cukup untuk bisa membeli mesin jahit yang harganya mencapai jutaan. “Inginnya pemkab bisa membantu modal mesin jahit. Tetapi jika tidak bisa, mungkin meminjam dana di UPK,” kata Heni di sela-sela mengikuti pelatihan menjahit kelompok perempuan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Desa Mangunan, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, membuka usaha jahit pakaian perlu modal tidak sedikit. Selain mesin jahit juga mesin obras serta border. Hanya saja, untuk kebutuhan awal dibutuhkan nanti mesin jahit menjadi alat pokok produksi. “Lha,kalau tidak punya mesin jahit mau buka usaha bagaimana? Kami akan pinjam di UPK,” ucapnya. ●