Bakung Mangunan Dlingo

Bakung adalah nama salah satu tempat bersejarah di wilayah Dlingo tepatnya di Desa Mangunan. Daerah tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi sayangnya kurang mendapat perhatian dari pihak yang berwenang, sehingga tidak terawat dan terkesan angker, padahal jika dikembangkan akan menjadi obyek wisata yang menjanjikan dan perjalanan yang begitu menantang.
 
 Menurut juru kunci tempat tersebut Marjiyo, menyatakan bahwa menurut cerita rakyat yang ada dahulu Sultan Agung melaksanakan ibadah Haji di Mekah dan ingin dimakamkan di Mekah jika meninggal, tetapi oleh Sunan Kalijaga dimohon Sultan Agung tetap dimakamkan di Jawa, karena Sultan Agung adalah Raja Jawa. Sultan Agung mau dimakamkan di Jawa dengan syarat tanah tersebut sama dengan tanah di Mekah. Kemudian Sunan Kalijaga melemparkan batu ke tanah Jawa dan Sultan Agung diperintahkan untuk mencari batu tersebut dan di tanah itulah yang nantinya Sultan Agung membuat makamnya.

Setelah datang sekembali dari Mekah Sultan Agung berusaha mencari batu tersebut, tetapi sekian lama tidak ditemukan, maka Sultan Agung melaksanakan meditasi dan sholat hajat di suatu bukit. Ketika waktunya shalat daerah tersebut tidak ada air untuk berwudlu, maka Sultan Agung menancapkan tongkatnya ke batu tersebut dan memancarlah air. Karena begitu lama Sultan Agung belum mendapatkan petunjuk maka badannya kurus dan badannya lemah hingga membungkuk (ejaan jawa: BENGKUNG), maka tempat tersebut dinamakan Bengkung.

Setelah mendapatkan petunjuk untuk berjalan ke arah matahari terbenam dari tempat bertapa, dan akhirnya batu tersebut ditemukan di puncak bukit Giriloyo.

Perlu diketahui bahwa air yang memancar di Bengkung hingga saat masih mengalir dan tak pernah kering walau kemarau panjang sekalipun karena berada di lereng gunung/bukit hutan pinus timur Balai Desa Mangunan Dlingo, dan menjadi sumber mata air untuk daerah Mangunan, Giriloyo, Pajimatan Imogiri dan sekitarnya.

Pelantikan Pamong Desa Baru Desa Jatimulyo Kecamatan Dlingo

Dlingo : setda.bantulkab.go.id: Pelaksanaan pelantikan pamong desa baru di Balai Desa Jatimulyo Kecamatan Dlingo pada hari Kamis tanggal 20 Agustus 2014 terdiri dari 1 orang dukuh yaitu Dukuh Dodogan, Sdr. Suwardi dan 3 orang Staf Desa yaitu Sdr. Heru Sarjono, Sdr. Suyoto, dan Sdri. Sri Wahyuni.

Acara pelantikan dimulai pada pukul 09.00 Wib dengan dihadiri oleh jajaran muspika, unsur BPD, tokoh masyarakat dan juga dari Bagian Pemerintahan Desa Setda Kabupaten Bantul. Adapun yang melantik adalah Lurah Desa Jatimulyo Bp. Paimo.

Dalam kesempatan itu Lurah Desa menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bpk. Sugino selaku Dukuh yang lama dan ucapan selamat kepada Dukuh baru dan staf desa yang baru serta menyampaikan pesan agar pamong desa yang baru segera menyesuaikan diri dengan lingkungan pemerintah desa Jatimulyo. Dalam kesempatan yang sama Camat Dlingo Drs. Susanto juga menyampaikan agar pamong desa yg baru segera mempelajari aturan-aturan yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

UPACARA HUT RI KE- 69 KECAMATAN DLINGO

 
Dlingo : terong-bantul.info: Upacara bendera memperingati HUT RI ke 69 kecamtan Dlingo untuk tahun ini diakan di Lapangan Desa Muntuk.Dalam upacara tersebut ada yang istimewa pada tahun ini ada penampilan senam senjata yang dilakukan oleh siswa-siswi SLTA Dlingo dengan pelatih Bapak Danramil Kecamatan Dlingo (Surono) walau hanya melakukan latihan beberapa hari namun sudah kelihatan kompak dan bisa menjadi daya tarik tersendiri oleh semua peserta upacara yang hadir. 
 
Selain itu pula Pasukan Pengibar Bendera yang dilakukan oleh siswa-siswi dari SMKN dan SMUN Dlingo juga dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.Sehingga seusai Upacara semua aparatur pemerintah Kecanatan dan Kelurahan,para Guru dan Wali Murid memberikan selamat kepada siswa tersebut sehingga tidak sedikit yang haru sampai menitikkan air mata menandakan betapa bahagianya sekaligus bangga sudah dapat melasanakan tugas dengan sebaik baiknya karena tidak semua siswa bisa terpilih sebagai pasukan pengibar bendera.

Riyo si Anak Buruh Tani Dlingo Tembus Fakultas Kedokteran UGM



Dlingo : Fathi Mahmud/Liputan6.com: Di rumah sederhana di Dusun Pencitrejo, Dlingo, Bantul, DIY itu, calon dokter dibesarkan oleh pasangan buruh tani, Sukamto dan Sugiyem.

Riyo Pungki Irawan (18) tersenyum lebar bersama ibundanya, Sugiyem di depan rumah mereka yang masih beralaskan tanah dan beratapkan asbes. Di rumah sederhana di Dusun Pencitrejo, Dlingo, Bantul, DIY itu, calon dokter dibesarkan oleh pasangan buruh tani, Sukamto dan Sugiyem.

Riyo adalah anak semata wayang pasangan itu. Meski keluarganya cuma buruh tani, namun tak menyurutkan keinginan Riyo untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Terbukti, Riyo berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Dia berhasil masuk ke kampus favorit itu lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Riyo juga tak perlu mengkhawatirkan masalah biaya. Berkat beasiswa Bidikmisi, dia digratiskan dari biaya kuliah.

Bangga, sudah pasti.

"Nggak sempat kebayang diterima, dulu pasrah diterima atau tidaknya di Kedokteran. Saingannya kan ketat, pasti teman-teman dari seluruh Indonesia, khususnya dari luar Yogyakarta yang cerdas-cerdas juga memilih kedokteran" kata Riyo di kediamannya, Bantul, DIY,.

Riyo bercerita, dari kecil dia memang bercita-cita menjadi dokter. Di kampungnya, hanya ada 2 dokter dan 1 mantri yang melayani seluruh masyrakat di satu desa.

"Apalagi di sini, dokter berasal dari luar desa. Penginnya ada dokter dari kampung sendiri," ucap Riyo.

Riyo sudah terbiasa hidup sederhana. Dia memahami penghasilan ayah dan ibunya sebagai buruh tani yang tak tetap. Pemuda ini juga tidak pernah memaksa dibelikan kendaraan untuk kebutuhan transportasinya ke sekolah.

Ayah dan ibunya hanya membekalinya uang sekitar Rp 100 ribu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Kecil, tapi butuh perjuangan besar bagi Sukamto dan Sugiyem untuk mendapatkannya.

"Kadang dikasih lebih, kadang kurang," kenang lulusan siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta itu.

Kendati hidup serba kekurangan, tetap tidak mengendorkan semangat Riyo dalam belajar. Bahkan Riyo selalu berprestasi di kelas. Tidak hanya ranking di kelas, Riyo juga memiliki prestasi gemilang dalam berbagai bidang.

Seperti juara 1 lomba debat tingkat nasional yang dilaksanakan Kemendikbud di Bogor, Jawa Barat tahun 2012 dan juara 2 lomba cerdas cermat bidang pendidikan kewarganegaraan di Yogyakarta pada tahun yang sama.

Sugiyem, ibunda Riyo, tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan bahagianya karena sang putra bisa diterima dan kuliah secara gratis di Fakultas Kedokteran UGM.

"Semoga cita-citanya tercapai dan menjadi anak yang sukses," doa Sugiyem.