Kejari Sudah Kantongi Calon Tersangka Korupsi Desa Terong Dlingo

Dlingo: humas.polri.go.id: Kasus dugaan korupsi dana rekonstruksi gempa tahap II Desa Dlingo menapaki babak baru. Kejaksaan Negeri Bantul saat ini meningkatkan status dari tahap pull data ke penyelidikan. Kasus ini diduga melibatkan mantan kepala Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Bantul. Menurut Kasi intel Kejari Bantul, Putro Haryanto, setelah dilakukan pengumpulan dan pendalaman materi dengan Kepala Kejari Bantul maka kasus dugaan korupsi dana gempa desa Terong dinaikkan ke tahap penyelidikan.
"10 orang warga sudah kita panggil dan Kita mintai keterangan sebagai saksi, hasilnya ada indikasi kuat tindak korupsi, oleh karena itu kasus ini kita tingkatkan ke penyelidikan," ujarnya . Di Desa Terong sendiri terdapat delapan pedukuhan terdiri dari 10 pokmas. Masing-masing beranggotakan sekitar 10-15 orang, sehingga total yang mendapatakan bantuan dana rekonstruksi gempa sebanyak 145 warga.
Seharusnya untuk rumah kategori rusak sedang mendapatkan Rp 4 Juta, namun karena oknum terlapor tersebut diduga memanipulasi data sehingga kategori menjadi kerusakan berat, maka warga seharusnya mendapatkan Rp 15 Juta. "Pada kenyataannya warga tetap diminta tandatangan telah menerima Rp 15 Juta, namun hanya diberi Rp 6-8 Juta saja, jadi ada mark up data," terang Putro.
Lanjutnya, sehingga bisa dikalkulasikan uang yang di selewengkan oleh oknum tersebut berkisar Rp 9 Juta dikalikan 145 warga yaitu sekitar Rp 1 Miliar. Pihaknya dalam waktu dekat ini akan memanggil lima saksi lagi yang dahulu menjabat sebagai fasilitas sosial untuk menjadi saksi. "Saat ini sudah naik ke penyelidikan maka tahap penyidikan tinggal menunggu waktu. Kita tunggu saja pasti ada tersangka ," pungkasnya.

Pengrajin Dlingo Perabot Indekost Kebanjiran Order

Dlingo : jogja.tribunnews: Penerimaan mahasiswa baru di sejumlah universitas di Yogyakarta, membawa berkah bagi pedagang furniture indekost. Mereka mulai kebanjiran orderan menyusul permulaan kuliah dimulai September ini. Sejumlah furniture kost seperti meja belajar, almari, tempat tidur, rak buku, dan rak sepatu mulai diburu mahasiswa yang sebagian besar adalah penghuni baru kost kosan. Pedagang perabot kost ini mengaku mengalami kenaikan omzet pendapatan 50 persen dari hari biasa.

"Kenaikan permintaan sudah naik sejak dua minggu lalu pasca lebaran rata-rata 30 hingga 50 persen setiap harinya. Terutama akhir pekan lalu pembeli mencapai 20 orang orang dari rata-rata 5 orang per harinya," kata salah satu penjual furniture kost di Jalan Colombo, Samirono, Rakhmat.

Ia juga mengaku dengan banyaknya pelanggan pendapatan kotor juga meningkat dari Rp 200 - Rp 300 ribu menjadi Rp 300 - 500 ribu per harinya. Menurutnya trend seperti ini biasa terjadi setiap masuk tahun ajaran baru, pasalnya mayoritas indekost di Yogyakarta masih banyak yang belum terisi perabotan. Pedagang lainnya, Tukiman mengatakan setidaknya 10 kios perabot indekost yang ada di kawasan Samirono. Para pedaganganya berasal dari daerah Dlingo Kabupaten Bantul untuk bahan furniture para pedagang mendatangkan kayu sengon dari Wonosobo.

Meski terjadi kenaikan permintaan, ia mengaku harga perabot tersebut tidak naik misalnya meja belajar dijual dari harga Rp 50 ribu, rak buku Rp 40 ribu - Rp 80 ribu, almari gantung Rp 250 ribu, almari kecil Rp 100 ribu, tempat tidur Rp 250 ribu, dan lain-lain.

Tukiman menambahkan selian melayani pembelian langsung, pedagang furniture indekost juga menerima pesanana barang sesuai keinginannya, namun pelanggan perlu menunggu sekitar 3- 5 hari dengan harga yang sesuai dengan bahan yang diminta. "Untuk harga yang kami tawarkan biasanya sudah pas, kecuali untuk pembeli dalam jumlah banyak kami berikan potongan harga atau gratis ongkos antar," tutupnya.

jalur alternatif Dlingo - Jogja lewat kecamatan pleret

Sumber : Hardiyanto.com

Bikin Filem dulu ya...Ada air Terjun yang bagus sihhh


Dlingo : Indahnya Dusunku, aku lahir dan dibesarkan disana, ya di Dusun pokoh ini, tapi sepertinya orang-orang cuma sibuk mengurusi dirinya sendiri. rupanya kakak-kakak kami sedang suka-sukanya bermain dan berlomba dengan nama-nama dan membesarkan nama mereka. ya biar menjadi tokoh mungkin..hehehe..soalnya kurang tahu yaaa makna tokoh but diri kami sendiri.

Kami lebih suka karya nyata sajahlah...bisa bersepeda, bisa tracking, bisa bikin filem...di buat sendiri, diedit sendiri dan ditonton sendiri. sambil bantu kakak-kakak PERVOC lumayanlah bisa ngadem di grojokan ledokan.........