Pergeseran Cara Berekspresi Dlingo Yang Mengkhawatirkan


Dlingo : Kebebasan berekspresi merupakan salah satu hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia di dunia dalam rangka mencari Jati dirinya. Kebebasan  ini memiliki empat aspek yang perlu mendapatkan pertimbangan ketika kita akan berekspresi, yaitu (a) kebebasan nurani (freedom of conscience), (b) kebebasan mengekspresikan keyakinan (freedom of  expression), (c) kebebasan melakukan perkumpulan  (freedom of  association), dan (d) Kebebasan melembagakan ekspresi (freedom of eksprestions institution). Di antara keempat aspek tersebut, aspek pertama yakni kebebasan nurani (freedom of conscience), merupakan hak yang paling asli dan absolut serta meliputi kebebasan untuk memilih dan tidak memilih ekspresi  tertentu. Menurut konsep kebebasan di atas, maka kebenaran pribadi harus dianggap sebagai nilai yang yang paling luhur (supreme value). Ia menghendaki komitmen serta pertanggungjawaban pribadi yang mendalam. Komitmen serta pertanggungjawaban pribadi ini harus berada di atas komitmen terhadap agen-agen otoritatif lainnya seperti negara, pemerintah, dan masyarakat.

Kecamatan Dlingo merupakan daerah otonom yang plural (majemuk). Kemajemukan ini ditandai dengan adanya berbagai corak ragam ekspresi masyarakatnya.  Letak geografis Kecamatan Dlingo yang berada di wilayah perbatasan antar kabupaten,  menjadikan Kecamatan Dlingo  terdiri dari berbagai perpaduan karakter dan budaya. Perjalanan Hemogenitas dan kemjemukan masyarakat Dlingo tidak terlepas dari perjalanan sejarah bagaimana Kecamatan Dlingo itu sendiri muncul. Tidak diragukan lagi, perjalanan panjang sejarah Kecamatan Dlingo mengakibatkan adanya beberapa ekspresi dan keyakinan  yang dianut oleh masyarakat Dlingo pada masa-masa selanjutnya.

Sebagai sebuah potensi wilayah, pada satu sisi sinergi sebuah ekspresi yang beragam dapat menjadi pendorong dan pendukung arah pembangunan. Pada sisi yang lain, ekspresi juga  dapat menjadi pemicu konflik. Oleh sebab itu, berekspresi merupakan salah satu hal kecil yang perlu diperhatikan dalam rangka menjaga kualitas hubungan dan kebersatuan di masyarakat Dlingo. Setiap ekspresi masyarakat adalah sebuah refleksi dari sebuah proses yang sedang berjalan, pada dasarnya setiap ekspresi hanyalah sebuah sebuah mimpi-mimpi kecil yang sempat keluar melalui wujud komunikatif baik verbal maupun non verbal. Namun apabila hal ini di biarkan terlepas dan tidak mendapatkan perhatian maka akan melahirkan apatisme dan pelanggaran dalam norma-norma yang sudah berjalan di masyarakat.
Munculnya ekspresi-ekspresi baru dalam kurun waktu 3 tahun terakhir adalah sebuah gagasan-gagasan pembaharuan apabila kita dapat menagkap makna dari ekspresi dan gejolak dalam masyarakat. Sehingga dibutuhkan Dlingoisasi, reaktualisasi dan kontekstualisasi berekspresi khusunya bagi generasi-generasi mendatang.

Arti Sahabat "Sebuah Cerita Sedih Dari Dlingo"

Dlingo : raniiranooz.blogspot.com : 29 Juli 2010, saat itu aku sedang asyik bermain dengan laptopku tibatiba ponselku bergetar, ada pesan dari seorang teman bernama Dhati yang semula kukira ingin mengajakku berjumpa. Setelah kubuka, isinya ..... "Innalillahi wa innaillaihi rojiun... Telah meninggal dunia dengan tenang sahabat kita FITRI NURAINI, ex-Mache'09. Akan dimakamkan besok pagi jam 10.00 WIB di Dlingo. Sekarang jenazah sudah dibawa ke Dlingo. Semoga diterima di sisi-Nya. Tolong sebarkan."
Tiba-tiba terhentak degup jantungku . Langsung aku mengisi ponselku dengan sejumlah pulsa karena sudah beberapa hari ponselku tidak berpulsa, untuk memastikan apakah itu benar. Dan ternyata benar, teman yang sering dipanggil 'Pipodh' telah berpulang ke rahmatullah karena terserang penyakit DB. Walaupun aku tidak menangis, tapi setelah membaca pesan itu rasanya tidak percaya dan aku merasakan kesedihan yang amat mendalam. Sedih karena ia telah tiada dan terlebih aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya. Padahal sudah lama ingin merencanakan untuk bertemu, tapi tidak pernah terwujudkan hingga ia telah dipanggil Yang Maha Kuasa.
 
Malam itu juga, aku mengajak beberapa teman untuk mengunjungi ke rumah duka di Dlingo. Bersama 7 teman, Yoga, Farid, Fitro, Anggi, Nana, dan 2 orang yang tidak aku kenal, bertemu di dekat Terminal Giwangan, bersamasama melawan dinginnya malam untuk melihat Pipodh untuk yang terakhirkalinya . Namun apa daya, setelah sampai di suatu tempat yang sangat gelap, jalan berkelokkelok, menaiki bukit yang sangat sepi, tibatiba mendapatkan kabar bahwa kami disarankan untuk pulang saja karena jika diteruskan kami bisa saja celaka karena ulah perampok. Terlebih lagi salahsatu motor yang mungkin saja tidak akan sanggup meneruskan perjalanan, alhasil kami pulang ke Yogya. Keesokan harinya, 30 Juli 2010, Pipodh akan di makamkan, dan aku juga tidak bisa datang karena suatu alasan.  

Sahabat, untuk kesekian kalinya aku minta maaf tidak bisa mengantarkanmu sampai ke tempat peristirahatanmu yang terakhir. Semoga diampuni segala khilafmu dan diterima segala amal dan kebaikanmu selama di dunia. Selamat jalan kawan, kamu akan selalu di hatiku dan semua orang yang menyayangimu. Sungguh betapa kita tidak berjodoh kawan, hingga ajal menjemputmu pun kita tidak juga dipertemukan. Semoga nanti kita dipertemukan di Surga milik Allah SWT.

Stres Caleg Jagoannya Tidak Lolos Lalu Bunuh Diri

Dlingo : indosiar.com :Jika saja Sukirman, warga Dlingo, Bantul, Yogyakarta ini tahu kinerja anggota dewan kita saat ini jauh dari harapan rakyat, pasti dia akan mengurungkan niatnya untuk bunuh diri nyemplung kedalam sumur. Menurut orangtuanya, Sukirman nekad bunuh diri karena caleg yang ia jagokan pada pemilu legislatif lalu, gagal menjadi anggota DPRD. Dan betap sia-sianya, Sukirman mengorbankan nyawanya hanya untuk seorang anggota dewan yang belum tentu membawa perubahan yang baik, bahkan saat ini sudah terbukti sebagian malah sering bolos rapat.

Jasad Sukirman ditemukan didasar sumur oleh orangtuanya Rabu kemarin. Tim SAR dan anggota Brimob Polda DIY mengalami kesulitan mengangkat jasad pemuda ini. Proses pengangkatan jenazah memakan waktu lebih lama, karena jasad Sukirman berada di sumur yang kedalamannya mencapai 30 meter. Setelah dilakukan olah TKP, mayat korban kemudian diserahkan ke pihak keluarganya untuk dikebumikan.

Seminar Nasional: "Pengembangan Basis Data Kemiskinan dari Tingkat Desa"

Dlingo : Jagongan.com : Sudirman Alfian sebagai pembicara pertama mengungkapkan bahwa selama ini desa identik dengan keterbelakangan. Anggapan inilah yang hendak dipatahkan oleh Desa Terong dengan mengembangkan sistem informasi desa yang akurat serta dapat diakses secara online. Bahkan di kantor kepala desa ada touch screen dimana warga bisa menyampaikan keluhannya. “SID ( Sistem Informasi Desa ) adalah database desa yang baik dan valid berisi tentang data penduduk desa yang dibuat sekitar tahun 2008 memuat sekitar  1.600-an Kepala Keluarga”, Pak Dirman mengawali diskusi. Beliau menegaskan bahwa Desa Terong dapat memunculkan program berbasis IT tak lain dikarenakan oleh aparatur desa yang “melek” teknologi dan berkomitmen dalam memajukan desanya
Dilanjutkan oleh Pak Kecuk Suharyanto dari Badan Pusat Statistik yang memaparkan tentang definisi kemiskinan, data makro, data mikro dan upaya pengintegrasian data kemiskinan. Menurut Pak Kecuk kemiskinan adalah “ kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat”. Pernyataan tentang kemiskinan juga dipertegas oleh Sekretaris Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kementerian Dalam Negeri. Bahwasannya sejak reformasi bergulir dan dipakainya sistem otonomi daerah, desa mempunyai kewenangan untuk memberdayakan masyarakat dengan ketrampilan dan kemampuan dalam mengelola resources yang ada di lingkungan. Sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat agar keluar dari belenggu kemiskinan.
Terakhir adalah pemaparan dari Prof Susetiawan yang akrab disapa Pak Sus, sekaligus menjadi “gong” dari diskusi. “Kemiskinan tidak hanya diukur secara kuantitas saja, melainkan secara kualitas juga” tegas beliau . Sehingga sebelum menentukan konsep dan kriteria tentang kemiskinan terlebih dahulu kita harus mensepakati definisi tentang apa itu kemiskinan. Selanjutnya dapat kita rumuskan solusi apa yang dibutuhkan untuk mengatasi kemiskinan.  Menurutnya dengan begitu banyaknya data yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maka timbul pertanyaan apakah data ini memang dibutuhkan masyarakat atau hanya sekadar komoditi. “Kita ini jangan-jangan sedang melanjutkan proses kemiskinan bukan pengentasan kemiskinan,” ungkapnya. Ia pun menghargai upaya Sudirman Alfian sebagai kepala desa bahwa definsi dan pengelolaan data kemiskinan perlu dirumuskan oleh masyarakat sendiri.
Dalam sesi diskusi, Ismail dari Universitas Muhamadiyah mengungkapkan bahwa definisi kemiskinan memang dirumuskan oleh masyarakat setempat. “Parsudi Suparlan telah menyuarakannya sejak lama tetapi gaungnya tidak sampai ke pemerintah. Data-data kuantitatif dan kualitatif seharusnya disejajarkan.” Ismail mengambil contoh di Desa Sukolilo, Pati, Jateng, bahwa komunitas sedulur sikep selalu dikategorikan terpencil dan miskin. Hampir setiap tahun mereka didata tetapi tidak ada perkembangan yang signifikan dalam kehidupan mereka sendiri. “ Kenapa, desa punya kantor tetapi tidak pernah di gunakan?Ternyata didalam pengembangan basis data apa yang dikatakan Focault “Knowledge is power” adalah kenyataan. Basis data kemiskinan tidak pernah ditampakkan dalam catatan tertulis. Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana membentuk mental penyedia data kemiskinan bagi aparat desa,” lanjutnya.
Desa Terong, Dlingo, Kabupaten Bantul DIY telah melaksanakan sebuah pengelolaan data yang partisipatif dan juga dikelola oleh aparat yang kredibel. Mentalitas inilah yang perlu dibentuk dalam sistem kepemerintahan, bukan hanya di tingkat desa tetapi juga dari tingkat pusat. Dengan menyatunya mentalitas, kinerja, maka persoalan kemiskinan tentunya bisa dipecahkan dengan strategi yang jitu. Sehingga Indonesia bukan negara yang sedang melanjutkan kemiskinan, tetapi memang berupaya mengentaskan kemiskinan.