Kasus Perkara Korupsi

Posting kali ini saya akan mencoba memasukan arsip-arsp berita dari berbagai media tentang berbagai hal yang terkait dengan Kecamatan Dlingo Bantul. sebagai permulaan yuks..kita baca sama-sama....
07/04/2010 08:52:15
Kedaulatan Rakyat : Tiga Tersangka Langsung Ditahan
BANTUL (KR) - Kejaksaan Negeri Bantul, Selasa (6/4), menerima pelimpahan berkas acara pemeriksaan (BAP) perkara dugaan korupsi dana rekonstruksi (Dakon) korban gempa senilai Rp 1,6 miliar dari Polda DIY setelah sebelumnya diserahkan ke Kejati DIY. Tiga orang yang menjadi tersangka langsung ditahan di Rutan Bantul.
Ketiga tersangka antara lain Bs (45) Lurah Desa Temuwuh Dlingo bantul yogyakarta, LK (48) warga Sleman petugas koordinator lapangan (Korlap) dan Shy (47) warga Sleman petugas fasilitator teknik (FT) pengucuran Dakon pasca gempa tahun 2007.

Pelimpahan berkas perkara kemarin dilakukan petugas Kejati DIY dan Tipikor Polda DIY yang diterima Kasi Pidsus Kejari Bantul Herlina SH. Saat pelimpahan, ketiga tersangka didampingi penasihat hukumnya Sunu W Ciptahutama SH, Tutung Tubagus Suwagiyo SH, Ratriadi Wijanarko SH dan Safiuddin SH.
Terungkapnya kasus penyimpangan Dakon tersebut berawal adanya pengaduan dari masyarakat dan hasil penyelidikan petugas Tipikor Polda DIY. Saat ada pengucuran Dakon susulan, warga yang rumahnya rusak berat mendapatkan bantuan masing-masing warga Rp 15 juta.
Tapi ketika dibagikan, jatah 390 warga dipotong Rp 3 juta-Rp 7 juta. Jika tak mau dipotong, haknya akan dialihkan kepada orang lain. Sehingga terdapat dana Rp 1,6 miliar yang tak sampai kepada yang berhak. Herlina SH mengatakan, setelah menerima BAP perkara tersebut, pihaknya segera membentuk Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang akan menanganinya.
Sedangkan penasihat hukum tersangka, Ratriadi Wijanarko SH, mengatakan pihaknya akan berupaya meminta kepada Kejari Bantul agar ketiga kliennya tidak ditahan.
"Kalaupun ditahan statusnya tahanan kota, karena tersangka masih dibutuhkan masyarakat," ujarnya.

Sepasang Kekasih Bersatu Kembali "Sebuah Motivasi Bagi Dlingo"

Peristiwa ini adalah sebuah kisah nyata tepatnya terjadi kurang lebih 60 tahun lalu. Cerita ini juga bukan fiktif belaka, cerita ini adalah sebuah motivasi dan sekaligus sebuah inspirasi dan latarbelakang dipublikasikanya "margi-rekaos.blogspot.com" sebagai media pemersatu dan informasi masyarakat dlingo bantul yogyakarta. Kisah cerita kulit keriput pejuang hidup pada hari rabo kliwon tanggal 7 April 2010 telah kembali disisi Allah SWT. Kulit keriput pejuang hidup dlingo ini tidak lain adalah seorang perempuan dusun bernama Rubiyem alias Ny.Martorejo.

Beliau adalah serang ibu dari 5 orang anak, dia membesarkan semua anak-anaknya seorang diri sejak anak pertamanya berusia 13 tahun. Karena Suaminya meninggal akibat sakit keras dan himpitan kebutuhan hidup yang amat sanggat berat. Dalam kesehariannya Rubiyem menghidupi anak-anaknya dengan bertani dan beternak.  Seperti layanya keluarga lain anak-anaknya juga bersekolah, namun tentu berbeda dengan keluarga-keluarga yang mampu.
Anak-anak Rubiyem hanya mampu menamatkan Sekolah Dasar bahkan ada yang tidak tamat hanya karena tidak mampu membayar foto untuk raport. Tiga dari anaknya bahkan pernah keracunan ubi gadung akibat tidak mampu membeli nasi untuk makan. Kesabaran dan keuletan Rubiyem terus berlanjut sampai anak-anaknya beranjak remaja. Masa kanak-kanak mereka seharusnya diisi dengan canda tawa namun karena himpitan kebutuhan hidup, mereka terpaksa harus melewatkan masa kanak-kanak itu dan membantu mencari nafkah. Anak-anaknya bekerja mencari kayu lalu di jual kepasar, dan pada perkembangannya sepulang dari pasar mereka membawa jerami "untuk pakan ternak atau dijual" , menjual es lilin keliling, menjadi kernet/kondektur angkot dan beberapa profesi pekerja kasar lainya dijalani demi sesuap nasi dan untuk melanjutkan kehidupan.
Rubiyem dan anak-anaknya tidak punya tujuan lain kecuali untuk sekedar bisa hidup dan sesuap nasi. Setelah anak-anaknya dewasa satu demi satu mereka menikah, kecuali anak nomor empat dan anaknya yang terakhir. kedua anak itu minta izin untuk merantau ke pulau Sumatra, tepatnya di Teluk Kuantan Riau. Sementara tiga orang anak Rubiyem tinggal dan menetap di Kecamatan Dlingo Bantul. Tahun demi tahun dijalani dengan penuh kesabaran, sampai pada akhirnya anaknya uan menikah dan berkeluarga di sana. Kerutan kulit Rubiyem hari berganti hari semakin tampak, kulit keriputnya mengambarkan sebuah perjuangan tak kenal lelah, tatapan matanya berkobar menggambarkan semangat hidup tak tekalahkan, langkah kaki-kakinya berbekas sebagai sebuah tekat pantang mundur dan tak kenal lelah layakya matahari setia menyinari bumi.
Namun segala kepedihan dan pengorbanannya tidaklah sia-sia, kelima anaknya saat ini hidup berkecukupan. Bahkan tatapan mata rubiyem masih berkobar dan kebijaksanaan yang dimilikinya masih melekat dalam jiwa meskipun ajal hampir menjemputnya. Seluruh cita-cita sederhananya terkabul bahkan seorang anak yang dicintainya sepanjang hidup dan belum pernah pulang kampung akhirnya bisa pulang dan mendampinginya menjelang ajal menjemput. Banyak lagi anugerah dan hidayah Allah telah diterima oleh Rubiyem pada saat menjelang ajal menjemputnya sembari nafs dalam jiwa dan raganya terlepas satu per satu dan menyisakan sebuah cahaya suci sebagai sebuah amalan terakhir didunia  bagi sang pencipta. Hidayah yang lebih besar adalah bisa bersandar pada tiang yang kuat, yaitu tiang-tiang yang menyangga "ARSY" karena Rubiyem mendapatkan sebuah pantulan cahaya yang menerangi jalan kembali.
Sebelum ajal menjemput, dia menujukan sebuah tempat dimana dia menyimpan sedikit tabungan yang dia simpan didalam tanah di bawah tempat tidurnya. Dia berpesan agar uang itu digunakan untuk mengurus segala kebutuhan dalam prosesi pemakamanya, yang mungkin akan terjadi pada hari kelahirannya yaitu "Rabo Kliwon". sebelum nafas terakhirnya dia sempat minta maaf atas segala kesalahan pada anak-anaknya karena tidak bisa membesarkannya dengan baik dan yang terakhir melafalkan kalimatulloh.
Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan sempurna, sebuah perpisahan yang sempurna sekaligus sebuah pertemuan/perjumpaan yang sudah lama di nantikan. Nenek Kini engkau sudah bersanding dengan Kakek, kami tahu betapa engkau menahan rindu untuk berjumpa, karena besar tanggungjawabmu untuk membesarkan kami, anak cucu dan buyutmu maka engkau relakan semua inginmu. Tidak baynak hal yang bisa kami berikan tapi yakinlah KULIT KERIPUTMU tidak sia-sia, engkau akan selalu ada didalam jiwa kami. Karena KULIT KERIPUTMU akan selelu membekas di hati.

Hoby Lancar Ibadah Taat Di Pinggir Sungai Dlingo

Anda pasti binggung foto apa ini, tapi jangan binggung dulu bro karena sebenarnya ini hanya sebagian pemandangan unik yang ada di Dlingo bantul. Masih banyak lagi tempat-tempat unik di desa lain namun masih di Kecamatan dlingo bantul yogyakarta dan akan terus saya publish, jadi jangan segan-segan mampir, barang kali ada manfaatnya atau siapa tahu menjadikan sebuah ispirasi di tempat-tempat lain baik di yogyakarta atau bisa jadi di seluruh penujuru tanah air.

Mungkin hanya sebuah foto atau lebih tepatnya foto sebuah tempat ibadah yang jauh dari kesempurnaan baik dari sisi lokasi maupun disain fisiknya. Namun barang kali jika coba kita gali nilai-nilai pesan moral dan spiritualnya maknanya akan menjadi lain...kayanya seh..wong yo cuman omong doang.
Oke kita mulai dari lokasi dulu yo,...penemuan tempat ini sebenarnya diawali dari jalan-jalan sambil mancing di sungai oyo, tepatnya di sekitar lokasi "Timo" Padukuhan Tegalawas, Desa jatimulyo, Dlingo Bantul. Kalau dilihat sepintas tidak tampak bahwa ini adalah sebuah tempat untuk melakukan sembahyang atau sholat. Karena hampir mirip dengan bebatuan yang ada di sekitarnya. Konon tempat ini dibuat dan digunakan oleh para petani yang memiliki lahan pertanian disekitar lokasi tersebut untuk beribadah sholat ketika waktu tidak memungkinkan untuk sholat dirumah. Hal ini menjadi menarik ketika pada perkembangannya juga dimanfaatkan oleh para pemancing/pencari ikan untuk melakukan hal yang sama yaitu sholat.Tempat ini telah mengajarkan pada para pemancing untuk senantiasa inggat Allah SWT, sekaligus menarik perhatian bagi siapapun yang melintasi tempat ini. Pada awalnya dapat di yakini bahwa pembuat tempat ini hanya berpikir sederhana dengan harapan tempat ini bisa di jadikan sebagai tempat sholat untuk beribadah. Namun ternyata para penghoby mancing ini juga merasa terbantu dengan adanya tempat ini.
Secara tidak langsung ada nuansa pendidikan disana, setidaknya akan mengelitik siapapun yang melihat tempat ini "bahwa ternyata dimanapun kita dapat mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah" nah permasalahanya adalah sejauh mana pemahaman orang-orang yang melihat tempat ini...gitu kan bro. Gelitikan dan sentilan tempat ini kembali menyadarkan siapapun untuk paling tidak inggat sang pencipta. Seandainya saja seluruh pinggir sungai terutama tempat-tempat dimana masyarakat berlalu lalang terdapat tempat-tempat seperti ini tentu saja akan ada manfaatnya, setidaknya masing-masing dari kita dapat terketuk dan mencoba..eh..kali aja kalo sholat di rumah malu..karena biasanya tidak sholat, kan bisa saja memulai dari tempat-tempat seperti ini. he..he..he..Kok Malah NGAKU...
Karena tempat ini terdapat dipinggir sungai, nah apa salahnya tempat ini dilestarikan dan dikembangkan ditempat lain, terutama jika hoby anda memancing maka anda akan mendapatkan keuntungan plus plus. Pertama memancing sebagai media melatih kesabaran "katanya seh = hakikatnya yo tetep wae "NGUJO HOWO",yang kedua ibadah dan bersyukur atas nikmat dipinggir sungai yang hening dan alami. Inggat ini bukan sebuah ajakan, hanya hinbauan saja barangkali ada yang berminat. Kalau dipikir apa salahnya jika "Hoby Lancar Ibadah Taat" kan gak salah ya, atau di balik juga boleh "Ibadah Taat Hoby lancar".
Bukanya dimanapun kita bisa melakukannya, lah ini buktinya di pinggir sungaipun tersedia tempat untuk beribadah, tapi ya jangan terus-terusan di sungai...tar mesjidnya malah kosong, yah kalo gitu dah gak bener lagi bro. Intinya adalah berbuat baik itu dimanapun "BISA" gak usah di pikir lagi deh...ha wong berbuat baik kok ndadak mikir....soal resiko serahkan sepenuhnya iklaskan seluruhnya..yang penting niat dan perbuatan bertujuan baik...Allah AWT Akan bersama KITA yo to..To..Yo...Yoooooo.

Asal Usul Padukuhan Maladan Dan Banyurip

Asal usul Cerita awal mula penamaan nama-nama desa dan dusun di Kecamatan Dlingo Bantul memiliki beberapa versi, saya akan mencoba untuk memberikan sedikit informasi terkait asal usul pemberian nama-nama padukuhan dan desa di Kecamatan Dlingo bantul, secara bertahap saya akan mulai dari padukuhan maladan dan banyuurip.

Berawal dari aktifitas seseorang yang bernamaKi CakrajayaBeliau adalah seorang tukang nderes nira kelapa kemudian hasil dari deresan itu diolah menjadi gula. Karena saking miskinnya, dia juga dipanggil “Ki Petungmlarat”. Meskipun demikian, orang mengenalnya sebagai seorang yang kuat bertirakat/tapa brata, sehingga menjadi luhur budinya dan sakti ilmunya. Karenanya, Ki Cakrajaya di-”tua”-kan di wilayahnya.
Suatu hari, ketika Ki Cakrajaya akan memanjat pohon nira datanglah seseorang alim dan bertanya kepadanya “Kisanak, apa sebabnya setiap kali engkau memanjat batang nira kelapa selalu saja mengucapkan kalimat “Clontang-clantung, wong nderes buntute bumbung, apa gelem apa ora?“?” lalu Ki Cakrajaya menjawab “Itulah mantra agar hasilnya melimpah”,….“Ah, apa yang Kisanak ucapkan itu salah ”. Kata seseorang yang alim tadi, “Salah dan kurang tepat? sahut Ki Cakrajaya, Ah, anda rupanya belum kenal denganku. Akulah Ki Cakrajaya, tukang nderes sudah sejak masa kecilku. Itu merupakan ilmu warisan leluhurku dan mantra itupun bukan sembarang mantra!” katanya.
“Betul kata-katamu, Kisanak. Tapi aku mempunyai mantra yang lebih unggul, yang akan bisa menghasilkan lebih banyak dari mantramu itu”, kata lelaki ‘alim dengan perbawa mantap itu “Buktikanlah, Kisanak!” pinta Ki Cakrajaya. “Baiklah, ijinkanlah aku melihat cara Kisanak mengolah legen (nira) itu”. Ki Cakrajaya lalu mengajak laki-laki tadi ke rumahnya, lalu menunjukan bagaimana cara membuat gula. Sang tamu kemudian juga mencetak gula aren satu tangkap. Lalu cetakan itu diserahkan pada Ki Cakrajaya dengan pesan agar jangan dibuka sebelum dirinya pergi. Setelah orang alim itu keluar dari rumah Ki Cakrajaya dan sudah tidak tampak lagi, Ki Cakrajaya segera membuka cetakan gula hasil buatan orang yang tak di kenal tadi. Matanya terbelalak karena isinya bukan lagi gula, melainkan setangkap emas yang berkilauan. Ki Cakrajaya tersadar, bahwa ternyata tamunya tadi bukanlah orang sembarangan. Diapun mengejar sang tamu, setelah bergegas mencari akhirnya Ki Cakrajaya berhasil juga mengejar dan menemukan laki-laki misterius itu, yang tidak lain adalah Sunan Kalijaga; anggota Wali Songo yang termasyhur di kalanganrakyat jelata.
Karena dibuat penasaran dan rasa ingin tahu yang besar, Ki Cakrajaya akhirnya minta diajarin “mantra sakti”  tersebut dan bersedia menjadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga  untuk pertama kalinya mengajarkan syahadat. Sejak saat itulah, Ki Cakrajaya selalu diajak Sunan Kalijaga mengembara dari satu daerah ke daerah yang lain sambil menyebarkan dakwah Islam. Suatu saat, Sunan Kalijaga pamit  Kepada Ki Cakrajaya, beliau ingin sembahyang ke Mekkah. "dalam riwayat yang lain dikatakan ke Demak/Cirebon."  Kemudian Ki Cakrajaya diperintahkan untuk menunggu tongkatnya.
Ki Cakrajaya kemudian duduk bersila, penuh khidmat. Saking lamanya, tubuh Ki Cakrajaya ditumbuhi rumput belukar dan bambu berduri. Tempat bertapanya itu pun berubah menjadi semak belukar yang rimbun dan sanggat padat dengan tanaman liar “Grumbulan”. Lalu di tempat lain Sunan Kalijaga teringat bahwa ia telah meninggalkan muridnya, maka datanglah Sunan Kalijaga ke tempat dimana Ki Cakrajaya pada saat di tinggalkan bersama tongkatnya.
Petilasan Tempat Pembakaran Sunan Geseng Saat Ini Berdiri Masjid "Ragil Maladan"
Setelah sampai ke tempat itu ternyata tempat tersebut sudah menjadi semak-belukar yang begitu rimbun dan rapat, maka oleh Sunan Kalijaga dibakarlah semak belukar  dan bambu berduri itu.  Setelah semak belukar tersebut terbakar habis, tampaklah sosok hitam kelam yang sedang bersila, akhirnya Ki Cakrajaya ditemukan namun Ajaibnya, Ki Cakrajaya tidak cedera sedikitpun. Hanya kulitnya saja yang berubah menjadi hitam. Karena hitam (Jawa=geseng), maka Sunan Kalijaga memberikan gelar dan memanggil Ki Cakrajaya dengan sebutan menjadi “Sunan Geseng“.
Lalu proses pembakaran itu menghasilkan nama sebuah Dusun di desa Jatimulyo dlingo bantul, yaitu Dusun Muladan/Maladan, Berasal dari kata ‘mulad‘ (berkobar-kobar). Lalu kemudian berjalanlah kedua kekasih Allah tersebut ke timur, lalu sampailah mereka pada sebuah lembah, kemudian sunan kalijogo menancapkan tongkatnya kembali dan tiba-tiba keluarlah air yang memancar dari dalam tanah,  Sunan kalijaga lalu  meminta Sunan Geseng untuk mandi dan membersihkan tubuhnya yang telah terbakar.
Masjid Ragil Maladan Tempat Sunan Geseng Dibakar
Sungguh ajaib Sunan Geseng pun tampak utuh dan tubuhnyapun kembali seperti semula. lalu Kotoran hasil bersih-bersih badan itu konon  ceritanya terbawa hingga ke Sungai yang kemudian oleh masyarakat di sebut Kedung Pucung. sedangkan air yang memancar dari tongkat Sunan Kalijaga sekaligus tempat mandi  Sunan Geseng itu kemudian disebut Sendang Banyu Urip. Kemudian lokasi sekitar sumber air tersebut diberinama Dusun Banyuurip. Berdasarkan cerita rakyat, sisa bekas luka dan kotoran sunan geseng itu menjadi ikan lele yang di keramatkan sampai sekarang dan bertempat di Kedung Pucung.