Pemilu Ajang Pamer Caleg Dlingo

Kalo Facebook di dunia maya mungkin untuk pampang muka pamer wajah biaya ya minimal paling rp.3000 rupe, itupun kalo di warnet. nah kalo ngenetnya di kantor ato berlanganan paling sebulan minimal rp.100.000 rupe..dan kalo di total perhari dengan asumsi 24 jam termasuk murah. Kok ya pikirannya dimana to ya, ha wong cuman nyaleg di dlingo aja pada menghabiskan jutaan rupe, padahal kalo di lihat secara finansial dan kalo mau jujur, para caleg itu tidak lain adalah orang-orang yang notbene ingin mencari pekerjaan, lha wong anggota dewan kok mau di jadikan lahan lowongan pekerjaan, lha aneh to...yo to..., pa lagi di dlingo bantul duit segitu dah bisa di pakai buat beli makanan cukup, mbantu tetangga yang kesusahan, lah kok malah di pake buat cetak poster, yang akhirnya cuman buat tedeng penjual bakso..opo gak malu...heh...po malah wis ra due malu....

Nah...bicara pemilu lagi neh...apalagi kalo bicara secara nasional, berapa duit yang di keluarin, heran saya dah berkali-kali pemilu kok ya tetep wae gak apal-apal. mustinya kan tau kalo pemilu itu permasalahannya di identifikasi/evaliasi/baru dibuat kebijakan. lha kok heran saya maseh ada saja permasalahan yang muncul..kui duite rakyat..ndol....
Sebagai referensi ya...di provinsi tertentu di luar yogyakarta loh, ada surat suara yang mencetak nama partai salah..padahal dah di gandakan sebanyak DPT ( berapa uang yang terbuang ), di daerah lain di JATIM muncul isu pengelembungan DPT ( nah berapa kertas yang di pake ngeprint yang cuma kebuang percuma.
Belum lagi kalo kita liat di jalan-jalan ada bendera yang banyak banget....( kalo di di uangkan ...kira2 dah bisa buat mengentaskan kemiskinan lokal ), belum lagi kertas-kertas selebaran-selebaran yang di sebar kesana kemari ( kalo di jual bisa membiayai anak-anak sekolah yang tidak mampu ), yang agak besar neh...baliho-baliho iklan partai, baik di televisi maupun di media masa lain...saya yakin kalo di uangkan sudah bisa membangun papua menjadi provinsi yang tidak seperti sekarangini.
Model pemilu yang seperti ini hanya sebuah pemborosan, dan menghilangkan kepekaan sosial...lha wong jelas-jelas rakyat butuh perbaikan kesejahteraan lha kok malah yang punya duit di pake buat kesenagan dan ambisi...bikin bendera lah, bikin baliho, bikin iklan di tivi bikin iklan di koran....apakah nurani dan kepekaan sosial itu sudah hilang dari budaya negeri ini....????????????
Sebaiknya kalo memilih dalam pemilu nanti, jangan pilih caleg yang kebanyakan bikin publikasi....karena kira2 kalo dah jadi natinya bakal buat balikin modal dulu tentunya....tapi gak tau juga seh...barangkali modal mereka memang sudah di iklaskan...mudah-mudahan aja deh seperti itu.males aku..Amin.

Di Dlingo Menunggu Untuk Entah

Manusia di lahirkan ke dunia untuk hidup dan untuk mati, hakikat kelahiran jiwa dan raga di dunia adalah sinkronisasi dan harmonisasi baik wujud yang tampak atau yang tidak tampak. Memahami setiap dinamika kehidupan sosial masyarakat dlingo bantul yogyakarta merupakan tugas kekalifahan yang tidak boleh terputus. Meningkatkan drajad dan kualitas hidup di dunia dan akhirat adalah sebuah simbol kemulyaan melekat yang telah di berikan oleh Tuhan Allah SWT, karena selain manusia tidak ada yang bisa hidup di dua alam yang berbeda.

Lalu apa "TUJUAN" Allah menciptakan manusia ? kemudian siapa manusia-manusia yang bisa hidup di dua alam itu ? terus bagaimana cara hidup di sana ? apa bekal menuju kesana ?..."ENTAHLAH ? " "Kata orang-orang yang tidak mau berpikir"....@#@#@#@
Berkaca adalah jawaban dari setiap pertanyaan di atas, mengenal diri sendiri mungkin hal yang paling mudah dilakukan sebelum bisa mengenal Allah. layaknya kita sebagai masyarakat dlingo mestinya harus mengenal wilayah dlingo jauh lebih detil dari pada masyaralat soaial luar dlingo. " Tapi Bagiku mengenali diriku saja aku masih sulit". lalu munafik-kah orang yang berkoar-koar menyebut nama allah berulang-ulang, bersemangat mengebu-gebu , " Ya....Tergantung ".
Instrumen perjalanan mencari Ke-ESAAN-NYA sungguh-sungguh berwarna-warni, hampir-hampir setiap warna menawarkan keindahan dan kesejukan, hampir setiap jalan solah-olah banyak yang melambaikan tangan seolah sebagai ucapan selamat datang sambil tersenyum. " WOW" rupa-rupanya di sana sudah banyak penghuninya..."tapi jalan itu tak berujung" sama dengan warna-warni itu, warna-warni itu di padukan dengan warna apapun tetap saja menghasilkan warna baru. "wah semakin banyak warna baru semakin menyesatkan neh....."Kwakakakakakakakakakakak".
Kegelisahan demi kegelisahan mungkin dialami setiap orang " dengan tingkat yang berbeda-beda tentunya" yah...tapi paling tidak hari ini semangat dan tujuan hidup masih ada...meski masih panjang, terjal dan masih perlu banyak pengalaman. " itupun kalau masih di beri umur panjang". yang paling kutakutkan adalah " bisikan-bisikan yang mengajak-ku berpaling " " Jagalah aku..Ku Mohon ".
Masih disini " Aku Menunggu Untuk Entah "

Dlingo, 14 maret 1981

Ini adalah sepenggal kisah, sebuah harapan sebuah keluarga yang menatikan keelahiran anak pertamanya.

kalau kau datang
dibukit dlingo tercinta
hatiku senang, berbunga-bunga
bulan dan bintang
di bukit bintang yogyakarta
terangi malam sehabis hujan
saling bicara, tukar cerita berbagi rasa
aku disini, tetap di tepi, masih bernyanyi
dunia sedang dilanda kalut
alam semesta seperti merintih
kau dengarkan
aku tak bisa untuk tak peduli
hatiku tersiksa
aku bersumpah untuk berbuat yang aku bisa
harus ada yang dikerjakan
agar kehidupan berjalan wajar
hidup kita hanya sekali wahai kawan
aku tak mau mati dalam keraguan

Lirik Milik Bang Iwan..........
Trimakasih untuk membuka inspirasi
mengerakan hati dan membuatku tergerak
untuk menolak takluk...
Dan terus..Lestarikan tradisi, kaji potensi
asah jiwa sosial melalui kearifan lokal
demi mutlaknya kekuasaan politik Rakyat
untuk demokrasi masyarakat dlingo

Sosok Ibu Terbaik Di Dlingo

"Ibu" Sebuah kata yang paling tepat untuk mengambarkan sosok tegar, kuat, penuh kasih sayang, penuh dengan asah jiwa kelembutan,dan pengabdian. Adalah sebuah kisah kecil dari kecamatan dlingo bantul yogyakarta. Pada suatu masa di mana usia dan kesiapan seorang perempuan masih belum menjadi sebuah pertimbangan. sebuah masa 28 tahun yang lalu, pada saat rasa sakit dan pertaruhan antara hidup dan mati terjadi. Belum lagi genap usia 1 tahun sang jabang bayi pertamanya sudah harus tumbuh tanpa pendampingan seorang bapak selama setahun lamanya, hingga sang anak tidak tahu nama bapaknya.

Tubuh kecil kusut agak kecoklatan, mata sipit, pipi agak tertarik kedalam adalah sebuah gambaran perjuangan berat untuk dapat melihat kebahagiaan yang telah lama di nantikan. Wawasan yang di miliki hanya " bagaimana bertahan hidup dalam kesusahan, bagaimana bisa hidup dalam keadaaan pas-pasan ". belum cukup pula dia memeras keringat dan nafas yang sanggat dipaksakan harus melahirkan anak kedua dalam keadaan sakit kulit yang kronis. namun semua itu semakin meyakinkannya bahwa hidup memang keras sehingga bawaaan keras bagai karang selalu mewarnai setiap kerlingan matanya.
lagi-lagi takdir mengulang-dan mengulang, terulang-dan terulang, tiga kali sudah pertaruhan hidup dan mati dia alami, namun keyakinannya dan keingginannya semakin kuat untuk lebih gigih lagi dan lagi. seolah dia menantang untuk di datangkan masalah-masalah yang lebih besar semakin besar dan bersar sampai dia menyerah.Tapi aku sebagai saksi hidup perjuangannya, dia tidak pernah menyerah, di injak roda jaman sekalipun dia tetap mengeliat, di ludahi oleh kezaliman pun dia tetap tersenyum, apa lagi yang belum di alaminya....ku pikir semua sudah cukup. Dan menjadi bagian dari sejarah manusia-manusia dlingo
Apa yang tidak di milikinya " kupikir tidak ada, semua sudah di alami dan dimilikinya secara sempurna". Untukmu Ibu aku berterima kasih, aku tahu dalam membesarkanku selama 28 tahun ini banyak lubang dalam batinmu, lubang-lubang yang telah kubuat selama 28 tahun lamanya. Aku sadar lubang-lubang buatanku itulah yang membuatmu kadang tidak yakin bahwa Alloh Itu adil. Namun keiklasanmu, ketulusanmu yang dianggap bodoh oleh orang yang tidak berpikir adalah penutup yang yang kuat. Kalo saja aku di berikan kesempatan, masih inggin aku menutup lubang-lubang itu sampai tertutup kembali. Atau kalo memang kesempatan itu memang sudah tidak ada lagi lumatkan saja jiwa dan raga ini dan pergunakan untuk menutup lubang-lubang itu.