Desa Terong, Desa Peduli Perubahan Ikim

Dlingo : mongabay.co.id: Dampak perubahan iklim telah dirasakan oleh semua orang di dunia, tidak terkecuali masyarakat Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dampak tersebut baik langsung maupun tidak langsung mengganggu kehidupan masyarakat. Seperti waktu penanaman lahan pertanian tidak bisa dipastikan, kondisi suhu udara tidak menentu ini dirasakan langsung oleh masyarakat.

Oleh karena itu, masyarakat Desa Terong secara sadar berusaha untuk berpartisipasi menangani dampak dan mengurangi terjadinya perubahan iklim. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk mendeklarasikan diri sebagai desa peduli perubahan iklim.



Hutan rakyat lestari akan memberikan keuntungan secara ekonomis dan ekologis bagi masyarakat.

“Desa Terong diharapkan mampu menjadi bagian dunia untuk berkontribusi dalam pengurangan dampak pemanasan global dengan potensi hutan rakyat yang dimiliki dan perilaku masyarakatnya,” kata Lurah Desa Terong ,Welasiman dalam acara peluncuran desa peduli lingkungan dan dan peluncuran koperasi Kelompok Tani Tunda Tebang “Jasema” di Desa Terong, Bantul, Yogyakarta.

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Bantul Sumarno, Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas, Endah Murniningtyas yang juga merangkap Ketua Majelis Wali Amanat ICCTF dan Direktur Arupa, Dwi Nugroho.

Ia menambahkan, para pemilik hutan rakyat di Desa Terong sudah paham hutan berfungsi ekonomis, dan ekologis, khususnya sebagai penyerap karbon, sehingga mampu mengurangi dampak pemanasan global. Pengetahuan tersebut sangat penting, sebagai mitigasi perubahan iklim berbasis lahan.

Dari merasakan dampak perubahan iklim, masyarakat Desa Terong belajar tentang pemanasan global dan perubahan iklim, dimana hutan mampu menyerap karbon. Kegiatan menanam, pembuatan pupuk organik, serta pembentukan koperasi Hutan Tunda Tebang dibawah organisasi Kelompok Tani Hutan Tunda Tebang “Jasema” merupakan langkah nyata mengurangi dampak perubahan iklim.

Kelompok Tani Hutan Tunda Tebang “Jasema” memiliki modal Rp78 juta yang berasal dari tabungan masyarakat yang diharapkan mampu menahan penebangan pohon yang belum layak tebang. Penebangan pohon yang tidak layak tebang cukup tinggi di Desa terong, penebangan harus diminimalisir atau ditekan sekecil mungkin karena merugikan petani secara ekonomi, juga fungsi atau hutan sebagai penyerap dan penyimpan karbon akan hilang.

Pembentukan koperasi KTH Tunda Tebang Jasema mampu meningkatkan ekonomi masyarakat melalui nilai kayu yang cukup tinggi karena pohon yang ditebang sudah masak dan fungsi pohon sebagai penyerap dan penyimpan karbon tetap terjaga.

“Kami berkomitmen agar hutan rakyat kami menyerap karbon sebanyak-banyaknya dan menyimpang selama-lamanya,” kata Welasiman.



Penandatanganan prasasti Desa Terong sebagai Desa Peduli Iklim oleh Wakil Bupati Bantul dan Bappenas di Balai Desa Terong, Selasa, 11 November 2014. Foto : Tommy Apriando

Selain itu, komitmen dalam menyerap karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim, Desa Terong membuat draf tata ruang desa, yang lebih memperhatikan keberadaan hutan.

Masyarakat Desa Terong telah mengetahui bagaimana menghitung karbon hutan rakyat, pengukuran, memasukkan data dan analisis data. Kegiatan pengukuran karbon dilakukan sejak tahun 2010 dengan 180 plot sample permanen, dan di monitoring setiap 2 tahun sekali. Hasilnya cadangan karbon hutan rakyat terus meningkat dari tahun ketahun.

“Kami berharap Pemerintah Bantul dan Bappenas terus mendukung kegiatan masyarakat.Hari ini juga Desa Terong mendeklarasikan sebagai desa peduli iklim. Deklarasi ini bukan akhir, namun langkah awal agar masyarakat Desa Terong bisa berkontribusi dalam penanggulangan perubahan iklim kedepannya,” tutup Welasiman.

Sementara itu, Direktur LSM Arupa, Dwi Nugroho mengatakan setahun ke depan dirinya bakal menagih komitmen hijau dari lurah dan masyarakat Desa Terong Lima tahun lagi Desa Terong harus masih hijau dan setiap dua tahun sekali ada penghitungan karbon di hutan rakyat.

Selama Arupa bekerja bersama Kelompok Tani Hutan Kasema, saat ini ada 27 pengurus KTH Jasema mampu menjadi pelatih menghitung karbon. Inisiatif deklarasi ini muncul dari masyarakat dan pemerintah desa. Permasalahan awal di Desa Terong yakni banyak masyarakat menebang pohon karena butuh biaya, namun pohon tersebut belum layak tebang.

Sehingga hadirnya Koperasi Tunda Tebang Jasema dengan anggota 554 Kepala Keluarga diharapkan bisa membantu masyarakat bukan memberatkan. Jaminan anggota koperasi meminjam uang yaitu pohon/kayu. Bunga koperasi sangat rendah. Sehingga dukungan masyarakat sangat dibutuhkan.

Koperasi berwawasan lingkungan ini berkomitmen memberikan pinjaman tunda tebang bagi petani hutan rakyat yang mengalami masalah ekonomi. Saat itu, Koperasi yang beranggotakan 554 orang ini telah mampu mengumpulkan modal sebesar Rp77.560.000. Hadirnya koperasi ini, diharapkan mampu menahan penebangan pohon 31,3 m3 atau setara dengan 9,58 ton karbon. Pada tahun 2021 KTT Jasema diperkirakan mampu menahan penebangan pohon 456,4 m3 atau setara dengan 140,22 ton karbon.

Penelitian Arupa tiga bulan lalu, di Desa Terong pemenuhan kebutuhan dari menebang kayu, sekitar Rp2,7 Juta/KK/Tahun. Penelitian ini dikelompok KTH Jasema, sehingga jika dikalikan nilai kayu yang ditebang sebesar Rp1,5 miliyar/tahun. “Kondisi ini semakin memprihatinkan karena, sebagian besar pohon yang ditebang belum layak tebang dan masih berada pada usia produktif,” kata Dwi Nugroho.

Desa Terong, yang mempunyai komitmen besar dalam aksi mitigasi perubahan iklim berupaya optimalisasi hutan rakyat dalam mitigasi perubahan iklim. Pemerintah Desa Terong, Kolompok Tani Hutan (KTH) Jasema, dan ARuPA bekerja sama dengan ICCTF (Indonesia Climate Change Trus Fund) telah melaksanakan program Peningkatan Serapan Karbon pada Hutan Rakyat Terong.



Potongan batang kayu yang layak tebang akan memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat dan lingkungan.

Program ini diturunkan dalam beberapa kegiatan, seperti penanaman 6000 bibit pohon, pembagian pupuk organik, perhitungan proyeksi cadangan karbon pada hutan rakyat, Pembentukan Koperasi Tunda Tebang (KTT) Jasema, Penyusunan rencana tata kelola hutan rakyat, dan penyusunan rencana tata ruang wilayah desa Terong.

Output dari program ini membuahkan hasil yang positif. Desa yang mempunyai luas hutan rakyat 648 hektar (378 pekarangan dan 270 hektar tegalan ini, mampu menyimpan cadangan karbon sebesar 49,87 ton per hektar di tegalan dan 78,97 ton per hektar di pekarangan. Potensi besar ini perlu diimbangi dengan upaya mengurangi tindakan tebang tubuh yang membudaya.

Aksi mitigasi perubahan iklim yang dilakukan Desa Terong merupakan aksi positif bisa menjadi role model bagi desa-desa lain di Kabupaten Bantul. Untuk itu ICCTF bersama ARuPA, Perangkat Desa Terong, dan KTH JASEMA bermaksud melakukan pencanangan desa Terong sebagai Desa Peduli Iklim.

“Fokus utama dari kegiatan ini adalah penandatanganan prasasti Terong sebagai Desa Peduli Iklim dan Penyerahan badan hukum Koperasi Tunda Tebang (KTT) JASEMA,” kata Dwi Nugroho.

Wakil Bupati Bantul Sumarno mengapresiasi deklarasi desa peduli iklim. Pemanasan global menjadi fakta tidak terbantahkan baik ditingkat global dan lokal. Peningkatan pemanasan bumi menimbulkan dampak nyata yakni perubahan iklim. Perubahan iklim berdampak pada perubahan ekologis yang besar bagi bumi. Iklim yang semakin panas mempengaruhi ketersediaan air dan meningkatkan kondisi cuasa ekstrim seperti badai dan kekeringan. Banyak petani yang merasakannya, seperti sulit memperkirakan waktu tanam. Permasalahan ini harus ditangani serius oleh semua pihak. Ini tanggung jawab kita bersama.

“Penebangan pohon merajalela, mengubah fungsi hutan menjadi lahan pemukiman, industri dan insfratruktur lainnya harus dibatasi secara hukum,” kata Sumarno.

Ia menambahkan, hutan menjadi bagian penting bagi masyarakat yang hidup disekitarnya. Hutan bukan hanya sebagai habitat hewan dan tumbuhan tapi juga tumpuan hidup masyarakat. Hutan menjadi unsur vital bagi kesejahteraan masyarakat. Hutan menyediakan berbagai sumber daya untuk kepentingan manusia dan manusia berperan sebagai subyek pengelola.

“Kami mengapresiasi Desa terong atas inisiatifnya mendeklarasikan sebagai desa peduli iklim. Semoga deklarasi ini bukan seremonial saja, namun komitmen pengelolaan hutan rakyat lestari yang nantinya berkontribusi dalam penurunan gas rumah kaca terus dilakukan,” katanya.

Dalam hal ini masyarakat dapat menentukan strategi pengelolan hutan yang strategis untuk diterapkan di wilayahnya, sesuai kemampuan biofisik lahan dan nilai sosial budaya setempat. Metode partisipatif diharapkan pengambilan kebijakan hutan mampu mengakomodir kepentingan masyarakat lokal untuk diutamakan.

“Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan semakin menegaskan arah pembangunan hutan secara ideal dan tepat dengan dukungan pengalaman teknis masyarakat dilapangan. Ini menjadi investasi jangka panjang mewujudkan kesetaraan hak dan keadilan,” tambahnya.

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas dan juga Ketua Majelis Wali Amanat ICCTF, Endah Murniningtyas mengatakan melalui mekanisme menunda penebangan dan penjualan alasannya untuk menaikan harga karena usia pohon yang belum cukup berimbas pada harga kayu murah. Selain itu, pemerintah pun tidak bisa berbuat banyak jika masyarakat tidak berkomitmen melakukan penundaan tebang dan membentuk desa peduli iklim. Ke depan hal-hal yang memiliki proses alami memiliki nilai jual yang lebih mahal seperti pupuk organik, bahan berwarna alami dan makanan organik.

“Hutan bukan berfungsi kayunya saja, apalagi untuk daerah kering, jika dijaga secara baik maka longdor tidak ada, bisa menahan dan menyeraoair. Banyak di tempat lain, masyarakat menjual hasil bumi tergesa-gesa dan merugikan kita sendiri,” kata Endah.

Dia berpikir masyarakat hutan rakyat Desa Terong bisa menanam kayu-kayu berdaya jual tinggi, seperti pohon Gaharu. Saya melihat dua tahun lagi Desa Terong berpotensi menjadi Desa Wisata dan budaya. Hutan lestari akan menjadi daya tarik wisata, karena negara maju sudah tidak punya hutan.

“Pak Presiden juga berkomitmen bahwa hutan masyarakat akan terus dilestarikan dan didukung. Dan Desa Terong beberap langkah lebih maju”, tambahnya.

Jalur Banyusoca – Dlingo Membantu Aktivitas Warga

Dlingo : kabarhandayani: Jalur yang menghubungkan antara Kecamatan Playen Gunungkidul dengan Kecamatan Dlingo Bantul digunakan sebagian besar masyarakat Desa Banyusoca dan sekitarnya untuk berpergian menuju kota Yogyakarta. Hal ini dilakukan oleh para pekerja buruh bangunan maupun pedagang yang ada di Desa Banyusoca.

Salah satu warga Banyusoca, Mardiono (52) mengaku, setiap pagi menggunakan jalur tersebut untuk berangkat kerja. Menurutnya jika harus berangkat melalui jalur Playen-Dlingo terlalu jauh dan membutuhkan tambahan pengeluaran untuk membeli bbm.

“Meski beberapa jalur masih berupa cor blok namun jalur ini sangat membantu warga untuk beraktivitas,” katanya

Dari pantauan KH, jalur tersebut sedikit rawan jika dilewati saat malam hari. Minimnya penerangan dan jalur cor blok yang licin ketika musim hujan membuat pengendara harus ekstra berhati-hati.

Sementara itu Sutiyono selaku Kades Banyusoca ikut menyoroti keberadaan jalur tersebut. Menurutnya jalur tersebut selain bermanfaat untuk warga yang bepergian ke Yogyakarta juga bisa bermanfaat bagi kemajuan pariwisata di Kecamatan Playen.

“Harapannya jalur tersebut bisa dibuka menjadi jalan raya penghubung antar Kabupaten dan bisa memberikan dampak positif bagi warga maupun perkembangan pariwisata di Gunungkidul,” jelasnya.

Pihak Desa Banyusoca lanjut dia, bersedia untuk ikut berperan serta dalam pembangunan jalan antar kabupaten tersebut. “Telah dilakukan survei lapangan baik dari Bapeda kabupaten Gunungkidul maupun Kabupaten Bantul"

To Learn To Risk Benar dan Salah

Dlingo : Di era sekarang ini, yang benar sekarang disalahkan, yang salah dibenarkan, yang tabu jadi hal biasa. apa maksudnya?
Dengan beraninya kita berbicara tentang benar atau salah. Saya benar, kamu yang salah. Memang berat mengakui kesalahan. Masing-masing ego kita mengatakan bahwa kita benar.
Maling misalnya, sudah tau salah, tapi tetap dilakukan. Disuruh mengaku maling pun tentu mengelak, segala alasan tak masuk akal diucapkan, padahal sudah jelas barang bukti di tangan. Lalu bak drama di sinetron-sinetron kemudian mengaku, saya dijebak. “Bukan saya yang melakukannya” Ya, bisa saja yang tertuduh maling itu memang dijebak, tapi bisa jadi tidak. Bisa jadi kalau ternyata memang benar dia maling nya. Lalu kepercayaan pun sudah tidak bisa diandalkan lagi.

Singkat saja, apa yang kita lakukan sekarang kadang bisa dijudge sebagai hal yang salah, meskipun kita melakukan hal yang benar. Mungkin ada beberapa orang yang tidak setuju, tetapi, apakah itu mutlak salah. dari yang ringan sajalah, contoh nyatanya seperti saat kita berusaha untuk rajin dalam melakukan sesuatu, yang jadi komentar beberapa orang adalah "kerajinan" "sok rajin" "sok nyari muka" dan lain sebagainya. 

Bagaimana dengan menjadi di antaranya, berada diantara benar dan salah itu sendiri???. Tidak membenarkan tidak juga menyalahkan. Apatis kah? ENtah lah. Kalau tidak tau apakah seharusnya yang dibenarkan memang hal benar dan yang disalahkan memang hal salah, lalu harus apa/harus bagaimana? Diam saja? Mungkin tidak juga juga, tidak menyelesaikan masalah. Lalu mencoba mencari tahu? Boleh aja.!!! Kalau sudah tau? Sudah tau salah/sudah tahu benar, kenapa dibenarkan atau disalahkan??. Itu kah yang namanya keterlaluan... lalu apakah harus diam saja juga?? Bagaimana jika dua-dua nya salah? Kenapa harus mati-matian mempertahankan. Katakan salah kepada keduanya. Katakan benar jika memang benar keduanya. lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya..??? Entahlah..??

Dan jangan lupa, manusia yang merasa diri lebih baik atau lebih benar, paling baik atau paling benar itu mungkin saja memang benar-benar seorang yang baik dan benar. Jadi, jika kita sering merasa diri menjadi yang lebih benar atau paling baik, jangan kuatir, itu adalah hal yang wajar-wajar saja.  Coba kita berpikirLah kalau sudah tau salah kenapa dilakukan. Yang kita lakukan saat ini ya karena tau ini hal benar dan satu-satunya cara...benarkah itu satu satunya cara..bukankah dunia begitu luas yang menawarkan berjuta kebenaran???. Itu lah lalu yang membuat kita tak mau goyah sedikit pun dengan pernyataan ‘saya lah yang benar’ dan kemudian mau mengakui kesalahan.??? hanya karena kita juga melihat kesalahan yang terdapat pada orang lain... Mau melunakkan hati pun rasanya susah, karena kita rasa, kita pikir, dan sudah kita renungkan lagi dari segi A, B, C, kemana-kemana, dan menyimpulkan kita yang benar. tanpa melihat sisi-sis penyebab kita melakukan kesalahan..? didalam kesalahan ada dua hal : 1. kesalahan yang terjadi akibat dari ketidakmampuan dalam arti positif dan 2. kesalahan yang terjadi akibat dari ketidakmampuan dalam arti negatif.
Sering kita melakukan kesalahan yang sebenarnya bermaksud positif, namun dipahami sebagai sebuah kesalahan yang murni negatif...kemudian kita menyetarakan setiap kesalahan itu, sehingga tidak ada satu kesalahanpun yang bermakna positif. so..? entahlah..?

Maka mengakui kesalahan untuk sesuatu yang kita anggap benar pun tentu jauh lebih susah. “Wong saya bukan maling, kok, disuruh mengaku maling”. Entahlah?
Kadang Kita tau kita lah yang salah, tapi siapa yang mau disalahkan???. Kita pun kemudian terus-terusan membela diri, dengan dalih ini dalih itu. Kalau kita ketauan salah, kita proteksi semua bukti yang mendukung kesalahan kita, waduh bisa ribet urusannya jika tidak diputus mata rantai kesalahan kita "dalam pikiran kita saja". Mestinya secara runut dijelaskan, sehingga setiap peristiwa yang mendukung perbuatan yang salah tadi dapat ditelusuri apakah itu kesalahan dalam arti positif atau kesalahan dalam arti negatif.
Biasanya didalam setiap kesalahan diikuti proses untuk bertanggung jawab ini dan itu itu. beda hal dengan orang-orang yang juga ada dan memiliki karakter ‘Lempar batu sembunyi tangan’ kalau kata pepatah. Minta Ganti rugilah , minta maaflah, atau bertanggung jawab dalam hal lain yang kadang menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. namun setidaknya bertanggung jawab atas kesalahan, meskipun kadang tidak sepadan dengan kesalahan yang kita lakukan...entahlah..???
Era sekarang, dikalangan remaja, berciuman sudah seperti diwajibkan dalam berpacaran, bahkan bagi mereka yang belum berpacaran pun sudah mulai berangan-angan ingin berciuman. Apa yang kita cari dari ciuman, pelukan, ataupun berhubungan diluar nikah? kenikmatankah?.... setiap orang pernah melakukan kesalahan, namun sejauh mana komitmen untuk bertanggung jawab atas kesalahan dan memperbaiki kesalahan tersebut sebaiknya menjadi pertimbangan bagi kita.

Kalau ada yang bilang ciuman dan pelukan itu adalah tanda cinta, ya....memang ciuman dan pelukan itu tanda cinta. atau Nafsu berkedok tanda cinta. kemudian tidak sedikit dari kita terkadang membuka aib sendiri untuk lebih menenangkan diri, bercerita banyak hal yang tidak pada tempatnya, berkeluh kesah pada orang yang salah dan tidak bisa memberikan solusi atas permasalahan kita, namun dalih kita " setelah bercerita kita merasa nyaman...bukankah hakikatnya masalah itu tetap akan ada ???? dan jika diceritakan pada orang yang salah maka masalah itu juga tidak selesai??? belum lagi jika kita terbuai atas sikap si penerima informasi yang merasa ada keakraban dan cocok...bukankah akhirnya yang terjadi adalah penghianatan terhadap pasangan kita sendiri.. karena terkadang ada juga manusia yang memilah bahwa jiwa dan raga itu sebuah hal yang terpisah, sehingga selingkuh hanya dimaknai dari perilaku fisik saja, padahal hati sebagai bagian dari jiwa kita adalah sebuah kesatuan...ada pula yang menyatakan bisa mematikan hati...ada pula yang bilang tidak bisa lagi mencintai..."nikmat Tuhan kok dipungkiri"... bukankah setiap orang berbicara seperti itu hanya pada saat hatinya bermasalah saja??? lalu kenikmatan dan kebahagian lain yang membahagiakan hati lainnya dimunafikan?? entahlah..???

Disaat yang lain, suatu hal yang salah dijadikan pedoman hal yang benar. Terkadang kita yang hidup dengan kesalahan itu dan merasa baik-baik saja meski tahu bahwa satu kebohongan pasti akan diikuti kebohongan yang lain, tapi kita juga tetap bisa senang-senang saja, toh tersimpan didalam hati dan tidak ada yang tahu...??? apa bedanya dengan menyimpan bangkai mayat kita sendiri..??? bukankah menjadi manusia itu sebuah karunia? bukankah hakikat jasad dan jiwa itu sebuah pasangan yang harus sama-sama sehat?? entahlah kadang kita lebih suka menyimpan banyak hal dan mengorbankan diri sendiri dengan menyimpan banyak hal atas kesalahan kita...kita kadang tidak sadar bahwa hal tersebut berdampak pada perilaku, sikap dan tata cara hidup yang tidak sehat bagi jiwa dan raga...raga kita sehat/tampak sehat tapi jiwa kita sedang sakit....

Kita hidup di dunia timur yang ketat dengan peraturan, adat budaya sosial dan agama. Apa kita mau dapat kenikmatan sesaat yang harus diganti dengan degradasi moralm dan status sosial yang buruk??? .. yakini saja bahwa setiap orang memiliki urat malu...karena yang berani malu cuma orang-orang yang sedang tidak seimbang kesehatan jiwa dan raganya... atau bisa jadi ketidak maluannya adalah sebuah pilihan terbaik dari pada melanjutkan kehidupan yang buruk?? entahlah... tapi jika sebuah kehidupan dinilai buruk..dimana rasa bersyukur kita..karena lebih banyak diluar sana yang tidak memiliki nasib dan kehidupan yang lebih baik dari kita..bukankah demikian adanya,,???? entahlah..???

Kita tidak hidup di dunia barat, kita bukan orang yang berparadigma liberalis, dengan hukum yang membebaskan segala hal yang dilarang. karena harmoni kehidupan itu diatur untuk menyelamatkan dunia dan regenerasi manusia..atas nikmat yang ada. tidak heran penyakit bertebaran dan berevolusi, karena kebanyakan dari kita lebih suka berlari dari masalah dan menyelesaikan masalah dengan keluar dari PAKEM.

Ada perasaan bangga dan senang saat Kita sudah merasa pada posisi yang benar menurut kita, tapi jarang bagi kita menyadari bahwa kebenaran itu menafikan kebenaran-kebenaran yang lain..hanya kita egois dan merasa berhak menyalahkan orang lain..entahlah??? Cara pandang liberalis sekilas subyektif? ya, ini subyektif...tetapi silahkan kita berkaca bahwa setiap yang dilarang pasti akan berdampak buruk baik jangka pendek atau jangka panjang...lalu adakah alasan untuk membebaskan hati dan memisahkan antara jiwa dan raga sebagai sebuah kesatuan...entahlah???

Apa kita sering meminta maaf..sebagaimana dalam ajaran Islam bahwa para nabi meminta maaf berkali-kali dalam setiap harinya..???? bukankah itu baik...meski terulang-dan terulang suatu kesalahan?? pernahkah kita bisa terbuka dan meminta maaf atas sebuah kesalahan meski kesalahan itu baru pada tataran cara pikir dan rasa hati??  pernahkah ada perasaan bersalah saat cara berpikir dan rasa hati kita salah dalam menilai sesuatu?....mungkin tidak akan pernah????. karena kita tetap bisa senang dan tidak ada yang tahu??? entahlah...???? sekali ada perasaan senang, kita tidak akan pernah menyesal, bahkan kita bakalan ketagihan melakukan hal hal itu, tapi jika itu tidak menyenangkan rasa dan perasaan hati yang memilukan...akankah kita bersyukur bahwa kita pernah diberikan kebahagiaan.

Jika kita sering merasa diri baik dan benar, atau lebih baik dan lebih benar, atau paling baik dan paling benar itu adalah sesuatu yang wajar. Jika perasaan benar, lebih benar atau paling benar tersebut didukung oleh fakta-fakta yang obyektif, maka kita memiliki kualitas sebaik Kaum Farisi "dalam ajaran agama lain". Jika perasaan tersebut tidak disertai bukti-bukti nyata, maka kita memiliki kualitas lebih buruk dibanding Kaum Farisi. Jika kita memiliki kepercayaan diri yang kuat karena segala prestasi dan performa kebenaran yang kita lakukan, dan karenanya tidak lagi membutuhkan Tuhan, kita setara dengan tingkat kerohanian Kaum Farisi. Jika kita datang kepada Tuhan dengan kesadaran bahwa kita memerlukan karunia dan rahmat, kasih sayang juga pengampunan-NYA, mestinya kita berkata yang sebenarnya, karena kebenaran itu tetap bisa disampaikan dalam bahasa yang lain dengan tidak mengorbankan apapun.

Pertanyaan terakhir: "Apakah yang menjadi motif utama kita di dalam beribadah kepada Alloh  di dalam setiap ibadah kita?.... berdoa agar kita tidak ditelanjangi.????, selalu meminta apapun yang kita rasa belum kita miliki??? asal meminta apapun disaat kita sulit??? .... percayalah itu permintaan yang mudah dan akan langsung dikabulkan... tapi kita masih berhutang... berhutang pada setiap objek kesalahan kita..meski tidak ada yang tahu.... Apakah Kita sudah menemukan tujuan hidup kita...dan fokus mewujudkanya...dengan tetap berpegang teguh pada aturan dan merasakan setiap rintangan yang ada..??? dan selalu bangun dengan semanggat yang baru dan percaya bahwa Alloh akan menolong tanpa ada hutang dalam diri kita...ENTAHLAH???
   

Titik Balik Perjuangan

Kita sering terlena akan keberhasilan seseorang tanpa melihat perihnya perjuangan yang mereka lakukan sebelumnya. Padahal jika kita melihat lebih jauh perjalanan hidup di balik nikmatnya kesuksesan hidup mereka dalam pandangan kita maka akan di temukan sebuah perjuangan dan usaha keras dalam mencapai kesuksesan tersebut.

"Life is a struggle" dalam hidup ini harus ada, sebagai sebuah usaha dari kita untuk bisa lebih maju. Ketika seseorang sudah tidak memiliki semangat untuk maju maka bisa dipastikan orang itu akan menjadi pecundang seumur hidupnya. Hanya bisa menyalahkan keadaan, diri sendiri dan orang lain.

Tapi tidaklah mudah berjuang dalam kerasnya hidup ini. Terbukti hanyalah beberapa orang saja yang bisa sukses menggapai impian dan cita-citanya sementara yang lainnya masih belum jelas kemana arah hidup yang akan di tuju. Mereka hanyalah mengikuti alur kehidupan seperti air mengalir mereka mengikuti kemana saja air itu akan membawanya. Untuk itu tetapkanlah mulai hari ini impian dan target-target hidup kita karena dengan menetapkan target-target dan tujuan hidup, ini akan menjadi sebuah doa sekaligus yang akan mengarahkan hidup menuju impian dan cita-cita.

akan ada sebuah titik yaitu titik jenuh dimana kita sudah tidak ada semangat dan energi lagi untuk terus menekuni apa yang kita lakukan. Untuk itulah diperlukan sebuah konsistensi, ketekunan, dan kesabaran dalam menjalankan proses hidup ini. Jika kita sudah konsisten dengan apa yang kita jalani, menekuni bidang tersebut dan selalu bersabar apabila ada hambatan-hambatan maka Insya Allah keberhasilan akan segera menghampiri hidup kita.

Kesuksesan itu memang manis tapi belum tentu dengan prosesnya. Dalam menjalani sebuah proses kehidupan hingga mencapai sebuah kesuksesan terdapat pahit-getir nya melawan hambatan dan tantangan kehidupan yang selalu pasti akan hadir di cerita kehidupan ini. Untuk itu cintailah proses hidup ini. Dengan kita mencintai proses hidup akan terasa lebih indah dan menantang. Jika kita menemukan masalah-masalah hidup, segeralah cari solusinya jadikan itu sebuah tantangan hidup. Yakinlah bahwa anda pasti menjadi pemenang dalam arena lomba kehidupan ini. Berjuanglah untuk hidupmu.