Sri Tanjung Dlingo menjadi lokasi syuting film Beyond Skyline dibintangi aktor-aktor Hollywood

 
Dlingo : Jogja.Co : Objek wisata Sri Tanjung yang terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo Bantul menjadi lokasi syuting film Beyond Skyline. Sebuah film laga yang rencana dibintangi aktor-aktor Hollywood . Lalu seperti apakah Sri Tanjung itu?

Kepala Desa Jatimulyo Paimo Sastro Wiharjo menyampaikan Sri Tanjung merupakan objek wisata alternatif yang dimiliki Dlingo di Dusun Dodogan. Objek ini mirip dengan wisata yang ditawarkan Sri Getuk Playen Gunungkidul, yakni mengangkat potensi Kali Oya.

Pembangunan objek wisata ini dimulai sejak tahun 2013 dengan membuka akses jalan bagi pengunjung. Sekitar 1,4 Km jalan trap dibangun dengan dana Rp270 juta dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Tahun 2014, pembangunan berlanjut untuk pembendungan Kali Oya guna mendukung potensi keindahan.

Paimo menambahkan Pemerintah Desa dan masyarakat juga telah merencanakan pekerjaan pembangunan berkelanjutan di tahun 2015. Rencana ada tiga obyek yang akan dilanjutkan yakni wisata panjat tebing, lintasan olah raga khusus sepeda motor trail dan pembangunan kolam renang.

Sekadar diketahui, Desa Jatimulyo juga tengah menyiapkan kegiatan pembangunan wisata religi dengan dimilikinya tempat peninggalan bersejarah yakni sendang banyu uripan dan Jati Kluwih. Dua tempat ini tengah menunggu kabar kejelasan atas pengajuan Dana Keistimewaan yang telah diajukan Rp1 miliar.

Pemerintah Desa Jatimulyo telah menyiapkan rencana pembangunan meliputi pembangunan sarana umum penunjang obyek wisata seperti pagar, pintu gerbang, MCK, dan bangunan pendopo. Desa melihat menurunnya kunjungan ditempat menyimpang sejarah penting ini akibat tidak terdukungnya kebutuhan sarana umum dan tidak tersasarnya kebijakan pengembangan pariwisata selama ini.


MENCURI BURUNG KACER, DIAMANKAN DI POLSEK DLINGO

Dlingo : humaspolresbantul: Tersangka AW (20 tahun) warga Kloron, Segoroyoso, Pleret, Bantul diamankan di polsek Dlingo disebabkan tertangkap warga ketika mencuri burung Kacer, Rabu, 12 Nopember 2014 pukul 07.00 Wib.
Adapun Korban adalah pemilik burung bernama Sumardiyanto (30 tahun) warga Gunung cilik, Muntuk, Dlingo, Bantul.
Dalam melakukan pencurian ini tersangka dibantu oleh rekanya berinisial AD (18 tahun) warga Dengkeng, Wukirsari, Imogiri, Bantul yang berhasil melarikan diri ketika dikejar warga setelah ketahuan mencuri burung milik korban.
Kasihumas Polsek Dlingo menjelaskan, saat ini tersangka ditahan di Polsek Dlingo sedangkan rekanya masih dalam pengejaran petugas.

Mendirikan Usaha Clothing dan Sablon

Dlingo : Rusmiyanto atau Kak Rus memulai belajar keterampilan dengan bekerja pada sebuah usaha Konfeksi di yogyakarta. ketekunan dan kemauan kerasnya dalam belajar dan berusaha adalah modal utama untuk kemandiriannya saat ini. dari situlh kemudian Kak Russ memberanikan diri untuk membuat sebuah usaha sendiri dengan menyewa sebuah ruko di Desa Temuwuh Dlingo.

Modal awal usaha sebagian besar diarahkan untuk sewa lokasi usaha, sementara peralatan dan bahan mengandalkan kepercayaan pada jaringan-jaringan yang ada. sampai saat ini usaha Kak Rus berjalan lancar dan stabil melalui divisi Marketing Gema Angkasa yang terintegrasi dan melalui usaha komunitas Gema Angkasa Lainnya saling bahu membahu dan membantu pemasaran sehingga dapat dipergunakan untk membeli peralatan sedikit demi sedikit.

Merk Andalan original brand dari usaha clothing kaos ini adalah FITZPETRIC







GOA JATISARI salah satu calon objek wisata minat khusus

Dlingo : jelajahbantul.blogspot :

Hallo rekan jelajah, yuk kita blusukan menjelajah di Kab. Bantul Yogyakarta. Setalah putar-putar akhirnya sampai juga di kawasan Dlingo, Bantul, Yogyakarta, dan ternyata disana ada tempat wisata yang bisa dibilang cukup seru, salah satunya adalah Goa Jatisari.




Goa Jatisari ini berlokasi di Dusun Seropan 3, Muntuk, Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Daya tarik goa ini selain stalaglit dan stalalgmitnya yaitu hamparan sawah luas serta Sungai Oya. Dan juga Goa Jatisari masih asri, untuk akses ke lokasi sangat mudah karena jalan menuju Goa Jatisari sudah dicor.



Goa ini merupakan salah satu goa yang memiliki aliran sungai didalamnya. Dimusim kemarau, aliran sungai itu tidak terlalu deras sehingga pengunjung dapat masuk hingga ujung mulut goa. Saat masuk ke dalam goa ini, pengunjung akan disuguhi indahnya stalakmit dan stalaktit yang masih aktif. Panjang goa ini sendiri sekitar 1 km dengan keindahan bebatuan menarik didalamnya.



Saat ini, pengunjung belum dikenakan biaya retribusi untuk memasuki kawasan ini. Apabila pengunjung membutuhkan pemandu untuk memasuki goa Jatisari, pengunjung dapat meminta salah satu warga setempat dengan tarif seikhlasnya.

Jika kita terus menelusiri Goa Jatisari ini, maka kita akan sampai pada pintu keluar dari goa tersebut
Inilah tim expedesi ke Goa Jatisari

Angin Kencang, Rumah Warga Dodogan Rusak

Dlingo : daerah.sindonews - Hujan disertai angin kencang yang melanda sebagian Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai membawa dampak kerusakan. Setidaknya, empat rumah rusak, satu di antaranya bahkan roboh akibat tiupan angin kencang yang menyertai hujan tersebut.

Rumah milik Samiran (65), warga RT 03 Dusun Dodogan, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, rata dengan tanah akibat angin kencang tersebut. Selain rumah milik Samiran, tiga rumah lainnya juga mengalami kerusakan meskipun tidak begitu parah.

Rumah yang rusak di antaranya milik Jumiyo, Lasi, dan Ngadirah. Akibat kejadian tersebut, Samiran masih shock. Berdasarkan keterangan kerabat Samiran, Kholis Munandar (29), hujan turun di kawasan Dlingo sejak pukul 11.30 WIB. Hujan tersebut disertai angin kencang.
"Sebelumnya, mendungnya memang terlihat sangat hitam," ujarnya, Selasa (11/11/2014).

Pukul 12.00 WIB, angin berembus sangat kencang. Tiba-tiba, rumah kayu yang ditinggali Samiran dan keluarganya langsung ambruk rata dengan tanah. Samiran yang berada dalam rumah berhasil menyelamatkan diri. Sementara, anak dan istri Samiran tidak berada di rumah.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, beberapa peralatan elektronik dan perabotan rumah tangga hancur

Terlambat menyadari, Pasti Terang, berharap tidak cuma Sesaat

Dlingo : Beragam kebudayaan, tradisi, keindahan alam, kerajinan dan lain sebagainya yang menjadi identitas suatu desa merupakan sebagian kecil kekayaan yang kita miliki. Bahkan 2-4 tahun yang lalu aku pernah menuliskan tentang sebuah angan sebelum semuanya booming seperti ini. sayang memang, kepekaan para pemagku kepentingan lagi-lagi diuji. Pada tahun 2009 begitu melihat jembatan sungai oyo mulai marak dengan kerumunan muda-mudi yang bercumbu sambil menikmati balapan liar aku pernah menulis DI SINI
 
Kemudian seiring berjalannya waktu aku berfikir tentang sebuah upaya mewujudkan desa wisata dikawasan Dlingo DI SINI, dan juga DISINI   . Tepat pada pagi 7 November 2014 saya melihat sebuah aktifitas yang membuat hati ini gembira. bahwa apa yang tertulis dibenakku dalam waktu dekat akan terealisasi. 
 
sebuah pemandangan yang langka, dimana masyarakat bersatu padu membuat sebuah genangan tepat dibawah jembatan sungai oyo dusun dodogan.....sudah pasti dong ada maksud dan tujuannya. Menarik memang namun yang perlu dipikirkan bersama adalah, apakah ini partisipatif atau pengkondisian?.. jika dilakukan secara partisipatif dan tidak hanya aktifitas ceremonial, saya yakin potensi seperti ini adalah modal yang sanggat besar untuk pembangunan.

Kelurahan/desa memiliki peluang untuk mengembangkan wilayah menjadi destinasi wisata. Namun diperlukan dasar-dasar kajian dalam mewujudkannya, sebagai data awal untuk studi kelayakan sebelum memutuskan konsep dan langkah menjadikan kelurahan/desa menjadi sebuah desa wisata.

Melalui analisa yang tajam atas setiap persoalan, akan mampu melahirkan konsep yang utuh dan mendekati sempurna. Banyak elemen masyarakat yang terlibat dalam memutuskan konsep kelurahan/desa menjadi sebuah desa wisata. Mulai di tingkat RT hingga lurah/kepala desa. Namun tetap dengan menerima masukan dan pandangan dari berbagai pihak yang memungkinkan.

Supaya kebijakan positif tersebut di kemudian hari tidak lagi melahirkan salah pemahaman baik di tingkat masyarakat maupun jajaran pemerintah desa, serta dimanfaatkan oleh oknum untuk keuntungan pribadi. Perlu kiranya diterbitkan regulasi dan aturan main dalam perencanaan pembuatan sebuah desa wisata. Perlu diketahui, produk wisata yang dapat dijual oleh desa wisata sangat beragam.
 
Di antara ragam wisata yang menarik dijual adalah wisata petualangan, wisata agro, wisata bahari, wisata kuliner, wisata budaya, wisata sejarah, dan wisata kreatif. Walau di luar jenis wisata tersebut, kelurahan/desa juga dapat menemukan konsep wisata sesuai kebutuhan dengan memertimbangkan potensi kelurahan/desa yang mampu digali.
 
Meskipun sudah melewati masa bomming, sementara desa wisata sudah menjamur, tidak perlu pesimis atas potensi yang kita miliki. Ada hal-hal spesifik yang apabila kita lebih peka lagi maka akan menemukan sebuah objek wisata yang berbeda dengan desa-desa wisata lainnya.  Setidaknya saya belum bisa menuliskan hal tersebut, selamat berkarya.

Oknum TNI-AL terlibat penggelapan Mobil, STNK An: Wong Ndlingo

Dlingo: KANALSATU – Polres Ngawi akhirnya berhasil membekuk komplotan penggelapan mobil yang selama ini meresahkan warga, dan yang membuat petugas tambah kaget adalah pelaku yang merupakan suami-istri ini merupakan oknum TNI-AL yang bertugas di Cilacap Jawa Tengah. Keduanya yaitu YIS(49) dengan pangkat Peltu, oknum TNI AL dan EK (44) warga Jalan Budi Utomo B/29 RT 1/RW 16 Desa/Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap.

Keduanya tertangkap petugas Polres Ngawi ketika hendak menjual hasil penggelapan mobil Daihatsu Xenia silver Tahun 2012 nopol AD 1243 NK dilengkapi surat berupa STNK atas nama Fibras Poeti Andini alamat Dlingo 1 Rt 1 Desa/Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Petugas juga menangkap seorang pelaku warga Desa Ledug RT 4/RW 5, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas.

Dari penuturan Kasubag Humas Polres Ngawi AKP Munaji, Minggu (5/10), modusnya dengan membius sopir mobil rental Dwi Nugroho (44) Desa Karang Klasem RT 3/RW 3, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Saat itu, korban dan 3 pelaku sempat menginap di Hotel Poerbaya, Kota Madiun, pagi itu pelaku memberi korban minuman suplemen dalam botol.

Sayang, korban curiga enggan meminum, sehingga pelaku membuat siasat lain dan berpura-pura meminjam mobil untuk keluar sebentar dan meninggalkan sopir di hotel bersam pelaku lainnya. Mendengar ada tindak penggelapan, Polres Ngawi bekerjsama dengan Polres Madiun untuk segera menangkap pelaku.

“Saat diamankan kedua pelaku yang suami istri ini tak bisa mengelak karena dalam barang bukti berupa HP terdapat pesan singkat untuk memperdayai korban dengan cara meminjam mobil keluar,” jelasnya.

Atas bukti itu, Pasutri tersebut tidak bisa mengelak, selanjutnya langsung dibawa ke Mapolres Ngawi guna kepentingan pemeriksaan, sedangkan Yenuri diserahkan kepada Sub Polisi Militer (PM) Ngawi.

“Petugas Polres Ngawi, selanjutnya menjemput pelaku Sukrisno dan korban Dwi Nugroho Widodo, sopir rental untuk dibawa ke Mapolres Madiun Kota. Petugas turut menyita 2 unit hp milik pelaku, satu unit sangkur,” tambahnya.

Ditambahkan juga, dari keterangan istri pelaku kepada petugas menuturkan bahwa hasil dari penggelapan mobil tersebut akan dipakai untuk biaya pindah karena suami yang bersangkutan akan dipindah tugaskan ke Menado. “Kami tidak mempunyai biaya pindah, saya tidak tahu pasti soal rencana itu. Suami rencananya dipindah ke Manado, saya hanya sebatas ikut suami,” jelas petugas menirukan istri pelaku. Atas perbuatannya kedua pelaku masih menjalani pemeriksaan, sedangkan oknum anggota TNI AL diperiksa Sub PM Ngawi. “Atas perbuatannya, kedua pelaku bisa dijerat pasal 372 tentang penipuan dan 378 tentang penggelapan dengan ancaman 5 tahun penjara. Kasus itu masih dalam pengembangan,” pungkas Munaji.

Bakung Mangunan Dlingo

Bakung adalah nama salah satu tempat bersejarah di wilayah Dlingo tepatnya di Desa Mangunan. Daerah tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi sayangnya kurang mendapat perhatian dari pihak yang berwenang, sehingga tidak terawat dan terkesan angker, padahal jika dikembangkan akan menjadi obyek wisata yang menjanjikan dan perjalanan yang begitu menantang.
 
 Menurut juru kunci tempat tersebut Marjiyo, menyatakan bahwa menurut cerita rakyat yang ada dahulu Sultan Agung melaksanakan ibadah Haji di Mekah dan ingin dimakamkan di Mekah jika meninggal, tetapi oleh Sunan Kalijaga dimohon Sultan Agung tetap dimakamkan di Jawa, karena Sultan Agung adalah Raja Jawa. Sultan Agung mau dimakamkan di Jawa dengan syarat tanah tersebut sama dengan tanah di Mekah. Kemudian Sunan Kalijaga melemparkan batu ke tanah Jawa dan Sultan Agung diperintahkan untuk mencari batu tersebut dan di tanah itulah yang nantinya Sultan Agung membuat makamnya.

Setelah datang sekembali dari Mekah Sultan Agung berusaha mencari batu tersebut, tetapi sekian lama tidak ditemukan, maka Sultan Agung melaksanakan meditasi dan sholat hajat di suatu bukit. Ketika waktunya shalat daerah tersebut tidak ada air untuk berwudlu, maka Sultan Agung menancapkan tongkatnya ke batu tersebut dan memancarlah air. Karena begitu lama Sultan Agung belum mendapatkan petunjuk maka badannya kurus dan badannya lemah hingga membungkuk (ejaan jawa: BENGKUNG), maka tempat tersebut dinamakan Bengkung.

Setelah mendapatkan petunjuk untuk berjalan ke arah matahari terbenam dari tempat bertapa, dan akhirnya batu tersebut ditemukan di puncak bukit Giriloyo.

Perlu diketahui bahwa air yang memancar di Bengkung hingga saat masih mengalir dan tak pernah kering walau kemarau panjang sekalipun karena berada di lereng gunung/bukit hutan pinus timur Balai Desa Mangunan Dlingo, dan menjadi sumber mata air untuk daerah Mangunan, Giriloyo, Pajimatan Imogiri dan sekitarnya.

Pelantikan Pamong Desa Baru Desa Jatimulyo Kecamatan Dlingo

Dlingo : setda.bantulkab.go.id: Pelaksanaan pelantikan pamong desa baru di Balai Desa Jatimulyo Kecamatan Dlingo pada hari Kamis tanggal 20 Agustus 2014 terdiri dari 1 orang dukuh yaitu Dukuh Dodogan, Sdr. Suwardi dan 3 orang Staf Desa yaitu Sdr. Heru Sarjono, Sdr. Suyoto, dan Sdri. Sri Wahyuni.

Acara pelantikan dimulai pada pukul 09.00 Wib dengan dihadiri oleh jajaran muspika, unsur BPD, tokoh masyarakat dan juga dari Bagian Pemerintahan Desa Setda Kabupaten Bantul. Adapun yang melantik adalah Lurah Desa Jatimulyo Bp. Paimo.

Dalam kesempatan itu Lurah Desa menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bpk. Sugino selaku Dukuh yang lama dan ucapan selamat kepada Dukuh baru dan staf desa yang baru serta menyampaikan pesan agar pamong desa yang baru segera menyesuaikan diri dengan lingkungan pemerintah desa Jatimulyo. Dalam kesempatan yang sama Camat Dlingo Drs. Susanto juga menyampaikan agar pamong desa yg baru segera mempelajari aturan-aturan yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

UPACARA HUT RI KE- 69 KECAMATAN DLINGO

 
Dlingo : terong-bantul.info: Upacara bendera memperingati HUT RI ke 69 kecamtan Dlingo untuk tahun ini diakan di Lapangan Desa Muntuk.Dalam upacara tersebut ada yang istimewa pada tahun ini ada penampilan senam senjata yang dilakukan oleh siswa-siswi SLTA Dlingo dengan pelatih Bapak Danramil Kecamatan Dlingo (Surono) walau hanya melakukan latihan beberapa hari namun sudah kelihatan kompak dan bisa menjadi daya tarik tersendiri oleh semua peserta upacara yang hadir. 
 
Selain itu pula Pasukan Pengibar Bendera yang dilakukan oleh siswa-siswi dari SMKN dan SMUN Dlingo juga dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.Sehingga seusai Upacara semua aparatur pemerintah Kecanatan dan Kelurahan,para Guru dan Wali Murid memberikan selamat kepada siswa tersebut sehingga tidak sedikit yang haru sampai menitikkan air mata menandakan betapa bahagianya sekaligus bangga sudah dapat melasanakan tugas dengan sebaik baiknya karena tidak semua siswa bisa terpilih sebagai pasukan pengibar bendera.

Riyo si Anak Buruh Tani Dlingo Tembus Fakultas Kedokteran UGM



Dlingo : Fathi Mahmud/Liputan6.com: Di rumah sederhana di Dusun Pencitrejo, Dlingo, Bantul, DIY itu, calon dokter dibesarkan oleh pasangan buruh tani, Sukamto dan Sugiyem.

Riyo Pungki Irawan (18) tersenyum lebar bersama ibundanya, Sugiyem di depan rumah mereka yang masih beralaskan tanah dan beratapkan asbes. Di rumah sederhana di Dusun Pencitrejo, Dlingo, Bantul, DIY itu, calon dokter dibesarkan oleh pasangan buruh tani, Sukamto dan Sugiyem.

Riyo adalah anak semata wayang pasangan itu. Meski keluarganya cuma buruh tani, namun tak menyurutkan keinginan Riyo untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Terbukti, Riyo berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Dia berhasil masuk ke kampus favorit itu lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Riyo juga tak perlu mengkhawatirkan masalah biaya. Berkat beasiswa Bidikmisi, dia digratiskan dari biaya kuliah.

Bangga, sudah pasti.

"Nggak sempat kebayang diterima, dulu pasrah diterima atau tidaknya di Kedokteran. Saingannya kan ketat, pasti teman-teman dari seluruh Indonesia, khususnya dari luar Yogyakarta yang cerdas-cerdas juga memilih kedokteran" kata Riyo di kediamannya, Bantul, DIY,.

Riyo bercerita, dari kecil dia memang bercita-cita menjadi dokter. Di kampungnya, hanya ada 2 dokter dan 1 mantri yang melayani seluruh masyrakat di satu desa.

"Apalagi di sini, dokter berasal dari luar desa. Penginnya ada dokter dari kampung sendiri," ucap Riyo.

Riyo sudah terbiasa hidup sederhana. Dia memahami penghasilan ayah dan ibunya sebagai buruh tani yang tak tetap. Pemuda ini juga tidak pernah memaksa dibelikan kendaraan untuk kebutuhan transportasinya ke sekolah.

Ayah dan ibunya hanya membekalinya uang sekitar Rp 100 ribu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Kecil, tapi butuh perjuangan besar bagi Sukamto dan Sugiyem untuk mendapatkannya.

"Kadang dikasih lebih, kadang kurang," kenang lulusan siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta itu.

Kendati hidup serba kekurangan, tetap tidak mengendorkan semangat Riyo dalam belajar. Bahkan Riyo selalu berprestasi di kelas. Tidak hanya ranking di kelas, Riyo juga memiliki prestasi gemilang dalam berbagai bidang.

Seperti juara 1 lomba debat tingkat nasional yang dilaksanakan Kemendikbud di Bogor, Jawa Barat tahun 2012 dan juara 2 lomba cerdas cermat bidang pendidikan kewarganegaraan di Yogyakarta pada tahun yang sama.

Sugiyem, ibunda Riyo, tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan bahagianya karena sang putra bisa diterima dan kuliah secara gratis di Fakultas Kedokteran UGM.

"Semoga cita-citanya tercapai dan menjadi anak yang sukses," doa Sugiyem.

LEGENDA SENDANG BANYU PANGURIPAN

Dlingo : http://bimasinatribloka11.blogspot.com: Pada suatu hari ada seorang anak petani di desa. Ia bernama Cokro Joyo. Sehari-harinya Ia bekerja sebagai pemanjat kelapa. Ia sering bernyanyi tembang jawa saat Ia memanjat kelapa.
 

Pada saat Ia memanjat kelapa sambil bernyanyi, seorang wali lewat di sekitar pohon itu. Ia bernama Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mendengar suara Cokro Joyo yang nyaring saat bernyanyi. Lalu Sunan Kalijaga berhenti menunggu Cokro Joyo turun dari pohon. 

Pada waktu itu Sunan Kalijaga memberi banyak petuah pada Cokro Joyo. Lalu Cokro Joyo berminat untuk ikut dengan Sunan Kalijaga. Sunan pun memperbolehkan. Mereka pun segera berjalan dan sampai di sebuah pegunungan. Tiba-tiba Sunan Kalijaga ingat bahwa Ia harus pergi ke Makkah untuk menjalankan tugas. Lalu Ia berkata pada Cokro Joyo “Cokro, tolong tunggu di sini, karena saya akan pergi ke Makkah”. Cokro Joyo diperintah untuk menunggu di sebuah pegunnungan dan diberi tongkat milik Sunan Kalijaga yang harus dijaga oleh Cokro Joyo. Syaratnya adalah, Cokro Joyo harus berada di tempat itu sampai Sunan Kalijaga kembali dan Ia tidak boleh berpindah dari tempat itu.
Setelah bertahun-tahun lamanya, Cokro Joyo tidak pergi karena takut dengan Sunan Kalijaga. Ia menunggu sampai tumbuhan-tumbuhan bambu muncul di sekitar tempatnya.

Saat di Makkah Sunan Kalijaga ingat bahwa Cokro Joyo masih berada di tempat itu. Dengan spontan, Sunan Kalijaga kembali ke tempat Cokro Joyo. Setelah sampai di tempat, yang ada hanya pohon-pohon bambu yang rimbun. Tapi Sunan kalijaga yakin bahwa Cokro Joyo berada di tengah bambu itu.

Lalu Sunan Kalijaga memutuskan untuk membakar pohon bambu itu. Setelah dibakar ternyata memang benar bahwa Cokro Joyo berada di tempat itu. Wajah Cokro Joyo hitam terbakar. Sunan Kalijaga memutuskan untuk membawa Cokro Joyo ke arah timur di sebelah barat Sungai Oyo. Ternyata sungai itu kering.
 

Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya. Setelah tongkatnya diangkat, muncul sumber air yang jernih dan melimpah. Lalu Ia memandikan Cokro Joyo. Setelah itu Sunan Kalijaga memutuskan untuk member nama sumber air itu dengan nama Sendang Banyu Penguripan.

Setelah member nama, Sunan Kalijaga memutuskan untuk peri kea rah barat bersama Cokro Joyo. Di tengah perjalanan, ada sebuah pohon jati. Mereka berhenti di dekat pohon itu. Sunan Kalijaga bertanya pada Cokro Joyo “Itu Pohon apa?”. Maksud Sunan Kalijaga adalah untuk menguji ingatan Cokro Joyo.

Cokro Joyo berpikiran bahwa Sunan Kalijaga hanya ingin mengujinya. Lalu Sunan kalijaga menjawab,”Itu pohon Kluwih”. Ternyata pohon jati itu berubah menjadi pohon Kluwih. Hal itu menjadi perdebatan di antara mereka. Sunan Kalijaga mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon jati sedangkan Cokro Joyo mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon Kluwih. Tiba-tiba pohon itu berubah dengan daun pohon jati dan daun Kluwih. Lalu disebut dengan nama pohon Jati Kluwih.

Setelah mengetahui bahwa pohon dapat berubah menjadi pohon jatikluwih, Sunan Kalijaga mengubah nama Cokro Joyo menjadi Sunan Geseng. Sunan Geseng merupakan Sunan yang terakhir di kisah Wali Songo.

Setelah itu mereka memutuskan untuk berjalan lagi. Sunan Kalijaga kembali menguji kemampuan Sunan Geseng. Sunan Kalijaga membawa batu bulat, lalu bertanya pada Sunan Geseng, “Ini apa?” lalu Sunan Geseng menjawab “Ini Golong”. Ketika batu itu disentuh oleh Sunan Geseng, ternyata batu itu berubah menjadi Golong.

Semua itu masih dilestarikan oleh masyarakat sekitar dan keluharan di daerah itu dinamakan kelurahan Banyu Urip yang bertempat di Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul.

PELAYANAN HARI PERTAMA PASCALIBUR LEBARAN 2014




Dlingo : Pem.Kec.Dlingo :Masyarakat menunggu giliran memperoleh pelayanan di Kecamatan Dlingo, pelayanan kepada masyarakat di Kecamatan Dlingo terlihat berjalan normal meskipun ada sedikit peningkatan banyaknya masyarakat yang datang untuk memperoleh pelayanan.

Kegiatan silaturahim dan syawalan oleh masyarakat secara mandiri sudah tidak nampak. Tapi untuk kegiatan syawalan yang sifatnya kegiatan komunitas maupun kelembagaan saat ini sudah ada beberapa dan kegiatan semacam ini akan mewarnai Bulan Syawal sampai tutup bulan.  Masyarakat juga sudah menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal termasuk dalam hal mengurus dokumen-dokumen yang mereka butuhkan, sehingga pelayanan boleh dikata normal kembali jika dibandingkan dengan pelaksanaan pelayanan terbatas selama libur cuti bersama yang lalu.

Jemput Bola Pasien Di Kegiatan Posyandu Untuk Meningkatkan Kunjungan Puskesmas Dllingo

Dlingo : Puskesmas Dlingo : Berbagai cara dilakukan untuk dapat meningkatkan kunjungan pasien di Puskesmas. Salah satu strategi yang dilakukan adalah melakukan jemput bola pasien dengan mendatangi langsung pasien yang ada di dusun-dusun terpencil. Salah satunya adalah di Dusun Kediwung Kelurahan Mangunan Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul DIY.

pemeriksaan kesehatan

Bertepatan dengan kegiatan Posyandu Lansia dan Balita, juga dilakukan pemeriksaan kepada pasien mengeluh mengalami gangguan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan oleh Petugas Pembina Dusun (Gasbinsun) dari Puskesmas Dlingo I yang pada hari itu bertugas di Dusun Kediwung.  Adapun Gasbinsun yang bertugas pada hari itu adalah Bidan Sumarni dan Budi Santoso sebagai perawat. Kegiatan ini dilakukan rutin setiap bulannya untuk setiap Dusun.

“Nopo Mbah sing diraosaken?” Tanya Budi Santoso ketika mencoba mengetahui kondisi kesehatan pasien yang diperiksanya.
“Niki obat e diunjuk sedinten ping 2kaleh setunggal-setunggal mbah nggih.” Terang Bidan Sumarni saat memberikan konseling obat kepada seorang pasien di Kediwung. Pada kegiatan pemeriksaan kesehatan itu terdapat 7 orang pasien pemegang kartu jamkesmas yang berobat dan 2 pasien umum. Untuk peserta Jamkesmas tidak ditarik biaya retribusi apapun sedangkan untuk pasien umum dikenakan retribusi Rp.5.500,-.

kit obat posyandu

Meski demikian masih ada kendala yang dihadapi petugas di lapangan dimana salah satunya adalah kondisi kit obat yang kurang layang dan kurang memperhatikan kualitas obat yang dibawa.

PELAKSANAAN PASAR RAKYAT LEBARAN 2014 DI BALAI DESA MUNTUK

Dlingo : http://kec-dlingo.bantulkab.go.id : Sebagaimana ditentukan sebelumnya dalam rapat koordinasi pada Tanggal 8 Juli 2014 yang lalu, membahas persiapan kegiatan Pasar Rakyat Dalam rangka menyongsong Hari Raya Fitri 1435 H sekaligus memeriahkan Harijadi Ke-183 Kabupaten Bantul, hari ini Selasa Tanggal 22 Juli 2014 Pasar Rakyat di Balai Desa Muntuk dibuka oleh Dr.Drs.Suyoto HS, MSi, MMA selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bantul mewakili Bupati Bantul. Acara pembukaan pasar rakyat ini dihadiri oleh Drs.Sulistiyanto, MPd selaku Kepala Dinas Perindagkop Kabupaten Bantul beserta jajarannya, yang mewakili Kabag Protokol, yang mewakili Dandim Bantul, muspika Kecamatan Dlingo, lurah desa se-Kecamatan Dlingo, dan pimpinan lembaga kemasyarakatan desa Muntuk dan tokoh masyarakat serta warga masyarakat.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan antara lain bahwa masyarakat harus siap bersaing dalam berbagai bidang untuk menyongsong pasar bebas ASEAN Tahun 2015, sehingga peluang tidak hilang diambil oleh orang asing. Potensi perekonomian harus dimanfaatkan dan dikelola masyarakat kita.
Sebelum sambutan bupati, Tri Murdianani, SE, MM selaku Kepala Bidang Koperasi dan UKM Disperindagkop Kabupaten Bantul menyampaikan laporannya perihal penyelenggaraan pasar rakyat ini.

Pasar rakyat yang digelar di Balai Desa Muntuk ini bertujuan untuk memaparkan potensi dan hasil karya lokal masyarakat setempat sehingga produknya dikenal dan dibeli oleh pengunjung dan juga sekaligus memberikan bantuan subsidi sembako bagi masyarakat yang membutuhkan terutama menghadapi lebaran ini tentunya diharapkan subsidi tersebut bisa dirasakan manfaatnya.

Sebanyak 20 UKM yang berperanserta untuk mengikuti kegiatan ini meliputi berbagai penghasil produk kerajinan dan olahan pangan dan produk lainnya diharapkan bisa memperoleh manfaat dengan adanya kegiatan pasar rakyat ini. Adapun masyarakat yang menerima sembako bersubsidi ketika ditanya menyampaikan jawabannya bahwa paket sembako bersubsidi ini dirasakan manfaatnya oleh mereka dan sangat membantu di tengah banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi sementara dana yang dimiliki amat terbatas.

Masyarakat antusias mengunjungi pasar rakyat dan membeli komoditas yang merupakan kebutuhan lebaran, pakaian termasuk yang diserbu masyarakat.

PEMASANGAN CERMIN CEMBUNG LALU-LINTAS DI RUAS JALAN IMOGIRI-DODOGAN

Dlingo: Kec-Dlingo.bantulkab.com: Para pengendara mobil dan motor dan moda transportasi lainnya yang melintas jalan Imogiri-Dodogan akan melihat sarana keamanan lalu- lintas berupa cermin cembung dipasang di beberapa titik persimpangan maupun belokan jalan. 
 
Fungsi sarana ini tentunya untuk meningkatkan keamanan berlalu-lintas di jalur yang sudah dikenal banyak belokan dan naik-turun dan juga ditambah lebar jalan yang sempit untuk ukuran jalan provinsi. Dengan sarana tersebut pengemudi bisa melihat keberadaan orang/kendaraan yang akan berpapasan di depan, dan bila tanpa sarana ini pengemudi tidak akan melihat keberadaan orang/kendaraan tadi sebab pandangan terhalang.

Harapannya masyarakat luas dapat ikut menjaga keberadaan fasilitas publik ini dari vandalisme corat-coret di fasilitas publik, perusakan dan bahkan pencurian. Sehingga dengan demikian kemanfaatan sarana di atas bisa optimal untuk mencegah terjadinya laka-lantas.

BINTEK PPL UNTUK PILPRES 2014 DI KECAMATAN DLINGO

Dlingo : Kec-Dlingo.Bantulkab.go.id: Mengambil tempat di Pendopo Kecamatan Dlingo hari ini Senin Tanggal 30 Juni 2014 dilaksanakan bimbingan teknis bagi PPL yang akan melaksanakan pengawasan terutama kelak pada Tanggal 9 Juli 2014 saat pelaksanaan pemillihan presiden atau coblosan oleh masyarakat pemillih.

Bimbingan teknis bertujuan untuk memberikan bekal terutama bagi PPL se-Kecamatan Dlingo sehingga di dalam melaksanakan tugasnya tahu betul apa yang harus dilakukan berlandaskan peraturan yang berlaku sehingga bisa memberikan andil di dalam suksesnya pelaksanaan pilpres di Kecamatan Dlingo yaitu pilpres yang aman, tertib, lancar, kondusif, jujur dan adil.
 
 Pilpres yang sukses juga lancar dan tiadanya pelanggaran pada tahapan pilpres, tingkat partisipasi masyarakat melaksanakan hak pilihnya tinggi, dan tiadanya gugatan di MK terhadap hasil rekapitulasi suara.

Habis Kencani Bini Tetangga Mati Minum Racun Serangga Di Kebosungu Dlingo

Dlingo : poskotanews: BURUNG”-mu, harimaumu; begitu peribahasa yang tepat bagi Sarijan, 37, warga Magelang (Jateng). Gara-gara ketahuan ndhemeni (ngencani) istri tetangga, dia stress dikejar-kejar suaminya. Dalam persembunyiannya di Bantul, Sarijan ambil jalan pintas mati dengan minum racun serangga. Pepatah lama mengatakan: mulutmu adalah harimaumu. Maksudnya, orang bisa celaka gara-gara omongannya. Tapi di era gombalisasi ini, pepatah itu bisa berubah menjadi: “burung”-mu adalah harimaumu. Sebab bila tak bisa menjaga “burung” miliknya yang imut-imut tersebut, bisa hinggap ke mana-mana. Bukankah Al Qur’an juga sudah mengingatkan: hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. (QS Annur ayat 30).

Tapi Sarijan warga Ngrangkah Petung Kecamatan Pakis Magelang, justru sebaliknya. Melihat perempuan cantik yang istri tetangga bukannya menundukkan pandangan, justru melotot menikmatinya dari ujung rambut sampai jempol kaki. Habis itu terus pikirannya ke mana-mana, membayangkan yang mboten-mboten bersama WTS (Wanita Tetangga Sebelah). Sebetulnya Sarijan juga sudah punya istri sendiri. Meski sang istri juga tidak jelek, tapi karena stok lama, menjadi kurang menarik baginya. Senggolan bahkan kulit nempel pun sudah kehilangan setrom. Padahal bersama Ny. Atminah, 36 sang tetangga, baru melihat ada mata saja dadanya langsung berdegub serr-serrran. Kenapa bisa demikian? Ya seperti visi dan misi Capreslah. Dengan istri di rumah semua sudah dilakukan, sedangkan dengan Atminah, baru akan dan akan. Di situlah menariknya.

Penampilan Atminah sungguh mengharu-biru moril dan onderdil Sarijan. Gerakan tubuh bini Samiyo, 40, itu ketika berjalan, membuat Sarijan seperti gada Wesi Kuning milik Haryo Setyaki dalam kisah perwayangan. Bedanya adalah; bila dalam perwayangan tubuh orang mengikuti gerakan gada Wesi Kuning, di sini justru gerakan Atminah menjadikan “gada” Sarijan ikut bergerak-gerak ke sana kemari!

Tapi Sarijan boleh dikata merupakan lelaki paling mujur di Kabupaten Magelang. Betapa tidak? Ketika dia mencoba mendekati diam-diam sekaligus menyampaikan visi dan misinya 5 tahun ke depan, Atminah bisa menerimanya, sehingga dia tunduk dan pasrah. Akhirnya ya itu tadi, istri Samiyo tersebut kena “gada” pamungkas milik Haryo Sarijan hingga klepeg-klepeg merem melek.

Sejak itulah asal ada peluang yang sangat kondusif, Sarijan – Atminah selalu berbagi cinta bak suami istri. Tapi sial pada kejadian dua minggu lalu. Saat keduanya bermesum ria, eh…..ketahuan langsung oleh Samiyo. Buru-buru Sarijan loncat indah dari jendela, meniru gaya Capres kampanye. Bedanya: Capres loncat dari panggung dan disambut massa pendukung, Sarijan loncat dari jendela dan disambut pecahan beling sampai kecocok-cocok.

“Aja mlayu, tak pateni temenan kowe (jangan lari, kubunuh kamu),” ancam Samiyo sambil cari bendo. Tentu saja Sarijan terus kabur, tak berani pulang ke rumah. Di samping malu, juga merasa terancam jiwanya. Sialnya, meski sudah ngumpet ke Bantul ke rumah sahabat, rupanya Samiyo sudah mencium jejaknya. Sejak itu Sarijan menjadi stress, takut sewaktu-waktu kepalanya benar-benar diplatok mbendho (dibelah golok).

Tak tahan menanggung beban demikian berat, diam-diam Sarijan meninggalkan rumah sahabatnya di Desa Kebosungu Kecamatan Dlingo, menyendiri di tepinya kali Oya. Ternyata dia sudah siap dengan sebotol racun serangga dan kemudian ditenggaknya. Beberapa menit kemudian Sarijan berhasil bunuh diri dengan sukses. Sahabat tempatnya bersuaka hanya menemukan mayat dingin Sarijan dengan penuh penyesalan.

Pengguna Jalan Kaliurang Dlingo dan Bahaya Yang Mengancam di jalur Imogiri-Dlingo

Dlingo : Jalan Kaliurang yang berada pada perbatasan Desa Dlingo dan Dusun Seropan Desa Muntuk Kecamatan Dlingo adalah salah satu ruas jalan yang berpotensi besar untuk terjadinya kecelakaan. Jalan ini adalah akses satu-satunya bagi masyarakat Dlingo jika akan berpergian ke bantul kota. Melalui jalan ini pulalah hasil-hasil produksi dan roda ekonomi masyarakat Dlingo mengalir ke Bantul Kota.

Pada jalur ini terdapat jalan berkelok tajam sekaligus turunan dan tanjakan yang hampir vertikal. kondisi jalan sempit meskipun aspal jalan berkualitas baik, karena baru saja mendapatkan intervensi perogram pembangunan. beberapa pagar pembatas jalan yang terbuat dari besi baja terlihat sudah rusak dan tidak layak karena sebagian besar pembatas jalan sudah tersungkur ke jurang akibat dari beberapa kecelakaan yang terjadi.

Jalur ini apabila diakses dari arah kantor Kecamatan Dlingo atau bekas pasar dlingo tepatnya mengarah ke barat, akan anda temui turunan dengan tikungan tajam pertama yang terakhir ini sudah memakan korban meninggal kurang lebih 4 orang. pada beberapa tahun terakhir juga terjadi kecelakaan yang memakan korban sepasang pengantin, petugas/pegawai kecamatan dlingo serta kecelakaan lainnya. puluhan bahkan ratusan kejadian sering terjadi di turunan ini.

Setelah anda Turun sampai dibawah akan di jumpai jalan lurus pendek yang landai dan menyusuri sepanjang sungai kaliurang dengan jembatannya yang belum pernah dibangun lagi sejak gempa tahun 2006. setelah melewati jembatan anda akan menemukan tanjakan menikung ke kanan lalu terdapat tanjakan semi vertikal kedua. pada jalur inilah dimana seorang pejabat dari salah satu partai nasional beserta rombongan terperosok ke dalam jurang sedalam lebih dari 10 meter, juga kejadian lain sekitar sebulan yang lalu dimana seorang pengendara meninggal dunia dengan sepeda motor, disamping korban kecelakaan yang nyaris terjadi 3 bulan sekali.

Setelah melewati jalur jalan kaliurang, untuk menuju kecamatan imogiri anda akan memasuki wilayah desa muntuk dengan panorama perkampungan khas Dlingo. tentu saja dengan pemandangan khas jalan turun naik dan berkelok tajam. namun setidaknya ada beberapa black spot yang rawan kecelakaan di jalur Dlingo-Imogiri ini antara lain :

1. Tikungan kaliurang berikut tanjakan vertikalnya (Tidak ada penerangan jalan, pagar jalan, white line, dan rambu rambu yang memadahi)
2. Tikungan Dusun Seropan dekat sentra industri mebel pak sajimin ( (Tidak ada penerangan jalan, pagar jalan, white line, dan rambu rambu yang memadahi)
3. Tikungan depan bekas gereja seropan, dengan karakter tikungan yang tiba-tiba menurun dengan drastis sehingga pandangan mata terbatas.
4. tikungan dusun lemah abang desa mangunan baik dekat SD.
5. tikungan tepat dihutan pinus mangunan, beberapa kali terjadi truk terperosok, sepeda motor yang menyalip kemudian tabrakan dari arah berlawanan, karena jalan yang terkesan lurus panjang namun sebenarnya tidak memungkinkan untuk menyalip di area jalan ini.  (Tidak ada penerangan jalan, pagar jalan, white line, dan rambu rambu yang memadahi)
6. Tikungan dekat kerajinan sauvenir di mangunan, pandangan terbatas dan kondisi jalan yang berlubang.
7. Tikunngan tepat di atas alas gajah modo, sering banyak motor tergelincir karena kondisi jalan miring dan banyak kerikil bertebaran.
8. tikungan tepat di dekat makam raja-raja, beberapa kali memakan korban jiwa baik tabrakan mobil maupun motor.

demikian beberapa black spot rawan kecelakaan pada akses jalur Dlingo-Imogiri

Suwandi Pokoh Dlingo sakit parah tanpa sentuhan pengobatan

Dlingo : Saat berita ini ditulis, Suwandi (41 Th) masih tergolek di papan tidurnya dalam sakit yang kronis dan nyaris tanpa pengobatan berarti. Awal kejadian Suwandi adalah seorang buruh tidak tetap, setiap hari dia mengantungkan hidupnya dari permintaan tetangga untuk mengerjakan apapun baik buruh tani, buruh potong kayu, buruh perbaiki rumah dan jasa tenaga kasar lainnya.

Sekitar 3 tahun yang lalu naas bagi Suwandi, pada saat tetangganya memintanya untuk menebang pohon miliknya, suwandi mengalami kecelakaan terjatuh dari atas pohon. Akibat dari kecelakaan  tersebut Suwandi mengalami patah Tulang belakang. Sampai akhirnya mengalami lumpuh sebagian, dan sebagian fungsi tubuh seperti kaki, alat kelamin dan anus mengalami lumpuh total.

Kondisi keluarga yang kurang mampu serta kondisi lingkungan sosial yang rata-rata didominasi oleh buruh tidak tetap di sektor pertanian, sehingga sampai saat ini suwandi masih tergolek tidak berdaya dan hanya bisa terbaring diatas tempat tidur. Tidak ada solusi dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya, karena keterbatasan biaya.

Kondisi 2 bulan terakhir suwandi mengalami sakit dengan gejala seperti masuk angin yang terus menerus, namun pada 2 minggu terakhir ternyata suwandi mengalami kencing nanah. pada saat itu juga keluarga membawanya kepada rumah sakit terdekat dengan meminjam uang kepada tetangga kanan kirinya. namun lagi-lagi cara dokter menjelaskan tentang kondisi pasien membuat keluarga menjadi pesimis akan kesembuhan suwandi apalagi juga terkait dengan biaya.

Pada waktu beberapa tahun yang lalu, suwandi pernah mendapatkan bantuan untuk berobat melalui salah satu kader partai yang akan mencalonkan diri sebagai calon legislatif, namun al hasil suwandi justru mengalami trauma psikis. pada saat memeriksakan kesehatannya pada waktu itu suwandi mendapatkan perlakuan kasar dari petugas rumah sakit.

Pada saat ini diagnosa dokter mengatakan bahwa selain lumpuh suwandi juga mengalami infeksi dan kerusakan pada ginjal. sampai saat berita ini diturunkan belum ada upaya dan solusi terkait biaya pengobatan baginya. 

Alamat Pak Suwandi : RT.01, Pokoh 1, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.


Kerajinan Bunga Kering, Indah dan Ramah Lingkungan dusun Jurug, Temuwuh, Dlingo

Dlingo : Tidak setiap orang dapat telaten dan punya waktu untuk merawat bunga karena berbagai kesibukannya. Namun bukan berarti mereka tidak dapat mempercantik rumah dengan bunga, karena ada bunga kering yang lebih praktis. 

Selain harganya terjangkau dipastikan bunga kering akan tahan lama Di dusun Jurug Desa temuwuh Kecamatan Dlingo anda akan menemukan sentra pengembangan kerajinan bunga kering yang kini jumlahnya semakin banyak. Salah satu pengrajin mengatakan kerajinan ini menjadi usaha pokok bagi warga. Salah satu pengusaha perempuan dusun ini bernama Wartinem kini sudah mempunyai 8 pekerja dan kebanyakan pekerjanya adalah perempuan. 

Pembuatan bunga kering cukup sederhan, Namun tetap membutuhkan ketelitian dan ketrampilan agar rangkaian bunga tetap menarik. Untuk membuat bunga kering memerlukan bahan baku yang bersifat alami seperti daun lontar, biji-bijian, bambu dan kulit batang pisang. Setelah melalui proses penjemuran dan perwarnaan bahan tersebut dibentuk dan dirangkai menjadi setangkai bunga kering yang indah. 

Menurut wartinem untuk mendapatkan bahan baku seperti lontar didatangkan dari dongkelan dan jawa timur untuk daun lontar dibeli dengan harga per ikat sedangkan untuk bahan dasar lainnya dibeli per kilo. Dalam proses pembuatan bunga kering  bahan baku seperti daun lontar direbus dengan pewarna
basis lainnya, sedangkan seperti buah pinus cukup dipernis. 

Sementara itu menurut salah satu pekerja yaitu wartinah dalam sehari bisa menyelesaikan bunga
kering siap jual minimal 50 tangkai bunga. Disinilah berbagai produk kerajinan hiasan interior ruangan dan taman dibuat. Hiasan bunga kering dibuat dari berbagai bahan alami. Seperti kulit jagung dan mangga laut. Bahan utamanya bungabungaan. Sebenarnya tidak hanya bunganya yang bisa dipakai sebagai bahan baku pembuatan bunga kering, batang pohon, rantingnya, dan aksesoris pendukungnya. kerajinan yang ramah
lingkungan ini ternyata menjadi salah satu pembangkit perekonomian masyarakat.

Tikungan Tajam penebar kecelakaan di dlingo

Dlingo  : Jika anda menyusuri jalan di daerah kecamatan dlingo berhati hatilah pada beberapa tikungan tajam berikut ini, pemetaan kali ini diawali dari jalur masuk dlingo melalui kecamatan patuk :

1. Tikungan Tajam Pandean, sering terjadi kecelakaan tunggal, sering berkabut, jika hujan banyak tanah ikut terbawa hujan dan mengakibatkan jalan icin
2. Tikungan Tajam Sendang sari tepat di hutan pinus berdekatan dengan makam Dusun Sendangsari, tikungan ini berkelok dua kali, kebanyakan kecelakaan terjadi karena kecepatan tinggi, nuansa mistis dimalam hari menjadi bagian dari keganasan tikungan ini.
3. Tikungan Tajam Dusun Terong 1, merupakan tikukan tajam yang berdekatan dengan SD Terong 1, ditikungan ini harus berhati hati karena setelah tikungan ini berjarak sekitar 7-10 meter langsung ada penyebrangan anak sekolah, pada pagi dan pada saat anak-anak SD Terong 1 selesai kegiatan belajar mengajar terjadi kepadatan siswa menyebrang jalan. banyak kecelakaan karena terpleset akibat tikungan yng tajam juga kemiringan jalan yang dipenuhi pasir dan krikil akibat tergerus air hujan.
4. Tikungan Dusun Rejosari terong, Tikungan ini merupakan sebuah tikungan yang didahului oleh jalan yang menurun tajam dan dibawah ada tikungan tajam ke kanan, sementara tepat pada sudut tikungan ada jalan swadaya lurus ke bawah. jika pada malam hari dan pengendara belum hafal jalan, rata-rata mengira bahwa jalan utamanya adalah jalan lurus ke bawah, padahal jalan utama harus berbelok ke kanan.
5. Tikungan Dusun Pancuran, tepat berada diatas jembatan kecil jalan agak sempit, sehingga jangan sekali-kali menyalip di tikungan ini, beberapa kali kecelakaan terjadi di daerah ini, dan menabrak pagar pembatas jalan yang terbuat dari beton sebagai pagar jembatan.
6. Tikungan Tajam Ngejaman desa temuwuh, dekat dengan apotik, posisi tikungan sanggat tajam sehingga lawan dari dua arah tidak bisa saling melihat arah depan. kurangi kecepatan karena apabila ada kendaraan besar lewat maka hampir sepertiga jalan dipakai kendaraan besar tersebut.

Jalur Maut Sepanjang Tanjakan Cinomati Dlingo


sepeda mangunan dlingo bantul terong tanjakan spss wonolelo pleret sutet rute
Suber foto tertera di foto



Dlingo : Cinomati berasal dari dua kata, cino dan mati. Kata cino mengacu kepada kata cina yang dilafalkan dengan dialek Jawa. Sedangkan kata mati bermakna meninggal dunia/mati/atau wafat. Jalur ini terletak di ruas Jalan Pleret–Desa Terong Dlingo, yang menghubungkan Desa Wonolelo dan Desa Terong, Dlingo. Asal mula pemberian nama jalur ini adalah sejak adanya orang etnis cina yang mati disana.

Puncak dari Tanjakan Jalur Cinomati adalah dusun kebokuning, Desa Terong. Cinomati adalah ruas jalan menyusuri lereng bukit. Tak hanya itu, kemiringan jalan di Cinomati ini sangat terjal dan penuh dengan kelokan tajam. Celakanya lagi, ruas jalan ini sama sekali tak memiliki penerangan saat malam hari.

Tepat pada jalan tampak pada foto sudah ada 2 kali kecelakaan dengan korban 2 orang meninggal, belum lagi kelokan kelokan lain pada jalur ini yang hampir 3 sd 4 bulan sekali ada korban meninggal, paling tidak hal itu terjadi pada tahun 2013 dan 2014. Jalur ini memiliki potensi rawan longsor dihampir sepanjang poros jalan dari bawah sampai atas. hampir dapat dipastikan apabila musim hujan pasti terjadi longsor yang menutup jalan sehingga akses jalan tertutup dan tidak dapat dilewati.

sehingga jika musim hujan kewaspadaan ekstra perlu dijaga, dan melihat cuaca, karena apabila terjadi hujan lebat dan anda melewatinya, bukan hanya resiko longsor namun juga resiko macet akibat tidak kuat naik tanjakan cinomati. belum lagi kalau malam hari disepanjang jalur ini banyak digunakan anak-anak muda untuk mabuk-mabukan, juga resiko kriminal lainnya, seperti perampokan, tabrak lari hingga meninggal dll. korban meninggal dan luka puluhan orang selama 4 tahun terakhir.

Rekomendasi : Belum ada rambu-rambu, belum ada penerangan jalan, tidak ada pos pengawas kejahatan padahal jalur ini sekarang menjadi jalur utama ekonomi masyarakat dlingo, beberapa kali pedagang sayur di palak dan di rampok dijalur ini. pagar pembatas jalan sudah dibuat oleh warga desa terong secara swadaya. jalan mudah rusak, jalur sempit, tbing terjal dan antisipasi resiko bencana lainnya.




Jalur Maut Puncak Gunung Mungker Dlingo

Dlingo : Sebagai puncak gunung tertinggi yang ada di desa Terong, jalan area Gunung Mungker merupakan sebuah tanjakan dengan karekter hampir mirip dengan Tanjakan Brambang. karakteristik ini dapat kita rasakan kalau kita menaikinya dari jalur selatan, namun jika kita menuruninya maka akan berbeda, ada sedikit kelokan di bawah.


Setidaknya kelokan terbawah dari tanjakan ini sudah memakan korban meninggal kurang lebih 3 orang pengendara. Akibat terjadinya kecelakaan rata-rata dikarenakan kecepatan tinggi dari arah utara menuruni tanjakan. dikarenakan kelokan terbawah rusak dan memiliki kemiringan jalan yang tidak pas sehingga stang kemudi sering kali berat untuk di belokan. Kecelakaan yang terjadi rata-rata pengendara adalah kendaraan yang menabrak tebing tanah dan masuk slokan. hal ini dikarenakan tangan kemudi tidak mampu membelokan stang kemudi akibat dari kecepatan kendaraan, disamping jalan bergelombang, banyak lubang dan kemiringan jalan yang tidak pas.

Rekomendasi :  Menata ulang kemiringan jalan, rabu-rambu tidak ada, pagar besi pembatas tidak ada

Jalur maut cinomati

Black Spot Musim Hujan Jalur Patuk

Ruas jalan Patuk - Dlingo merupakan daerah potensial longsor yang disebabkan karena tidak stabilnya penguat lereng. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya lalu lintas transportasi yang melewatinya. Penanganan yang sudah dilaksanakan pada lokasi rawan longsor tersebut adalah membuat dinding penahan tanah dari beton. 
Paling Tidak ada satu ruas yang hampir setiap tahun mengalami penurunan dan longsor. Area ini berada tepat di bawah bekas tower RCTI atau daerah sebelum kampung baru. Pada kawasan ini  dihampir setiap musim hujan memakan korban yang tergelincir akibat tanah yang terbawa air hujan yang memenuhi badan jalan, yang didukung oleh pandangan terbatas pengendara karena jalan berkelok tajam.

Rekomendasi : Normalisasi jalan, Pelebaran jalan, Pagar besi pembatas Jalan tidak ada, Penerangan jalan tidak ada, Penguatan Lereng.

Jalur Rawan Lainnya


Jalur-Jaur Maut Kecamatan Dlingo (Jalur Brambang)

Dlingo : Kecelakaan lalu lintas merupakan indikator utama tingkat keselamatan jalan raya. Di negara maju masalah keselamatan jalan sangat diperhatikan untuk mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas dan jumlah korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi. Hal ini menjadi indikator terhadap pentingnya memahami karakteristik kecelakaan. Untuk mengetahui karakterisitik kecelakaan, mengetahui lokasi rawan kecelakaan (black spot) di kecamatan Dlingo bisa dilakukan melalui observasi langsung, baik jumlah korban maupun datat statistiknya agar juga dapat diketahui besaran biaya kecelakaan. Namun saya tidak begitu yakin karena meskipun terdokumentasi analisis statistinya sampai saat ini belum pernah dipublikasikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat mampu mengenali resiko kecelakaan lalu lintas di daerahnya.
Daerah / lokasi rawan kecelakaan (black spott) adalah suatu lokasi dimana tingkat kecelakaan tinggi dengan kejadian kecelakaan berulang dalam suatu ruang dan rentang waktu yang relatif sama yang diakibatkan oleh suatu penyebab tertentu.
Kita mulai dari ujung utara, perbatasan kecamatan Dlingo dengan Kecamatan Patuk, ada satu lokasi Black Spot yaitu Tanjakan Brambang, pada tanjakan ini kecelakaan lalulintas yang sering terjadi adalah kendaraan yang sering terperosot mundur akibat dari kelebihan muatan atau bisa jadi karena mobil yang kurang prima dan bisa juga karena sopir yang kurang berpengalaman/pengalaman pertama menaiki tanjakan brambang. sekilas apabila di lihat dari bawah, tanjakan ini nampak tidak begitu tinggi, namun sebenarnya tanjakan brambang merupakan tanjakan berkarakter vertikal hampir kelok pada sisi ter atas tanjakan.
Sehingga perlu teknik khusus jika ingin menaikinya. berdasar pengalaman pribadi, apabila mobil dalam kondisi bagus namun bermuatan maksimal sesuai tonase kapasitas muat kendaraan, usahakan sekitar 10 meter sebelum tanjakan berhenti dan meng oper gigi transmisi pada gigi terendah (gigi satu ). Persiapkan balok kayu pengganjal roda, atau amati sepanjang kanan kiri jalan, apakah tersedia atau ada bongkahan batu yang juga biasa di pakai para pengemudi untuk menganjal, memang biasanya tersedia. lalu nyalakan lampu bahaya, lalu setelah posisi berada di tengah tanjakan putaran mesin akan dapat dirasakan dan dikenali, apakah mampu melanjutkan atau tidak. tentu saja dengan merasakan pedal gas dan sisa gas yang tersedia untuk melanjutkan naik sampai ke puncak tanjakan.
Apabila dirasa tidak mesin kendaraan tidak mampu, jangan sekali kali memainkan stir dan berjalan zig zag, hal ini berbahaya karena terkadang ada kendaraan dengan kecepatan tinggi dari arah atas meskipun jalan terkesan sepi. Apabila memang dirasa mesin tidak kuat langsung injak rem dan hand rem tanpa menginjak pedal kopling jika mesin mati. namun juka mesin hidup lakukan prosedur normal dalam kondisi kendaraan berhenti. kemudian segera kernet atau mitra perjalanan anda untuk turun dan menganjal roda, setelah kendaraan berhenti dalam posisi aman, sebaiknya kurangi beban kendaraan anda ditempat anda berhenti, dan setelah beban berkurang silahkan lanjutkan perjalanan. karena jika kembali mundur ke belakang sanggat beresiko dan berbahaya, beberapa kali kecelakaan terjadi karena pengemudi memundurkan kendaraannya dalam kondisi muatan berat.
Ratusan kendaran pernah kecelakaan di daerah ini, baik terperosot mundur ke belakang dan masuk jurang, terbakar, atau terguling. Tidak sedikit juga akibat teknik zig zag terjadi kecelakaan beruntun, yaitu kendaraan dari atas bertabrakan dengan kendaran dari bawah.
Rekomendasi : Jalan mulai rusak, Tidak ada rambu-rambu dan petunjuk yang pasti yang bisa dikenali bahwa tanjakan brambang adalah area Black Spot, Tidak ada pagar besi pengaman jalan, jalan kurang lebar sehingga ketika terjadi pengemudi yang zig zag dalam mensiasati muatan berat lebar jalan hanya cukup untuk satu kendaraan. 

 Jalur Maut Lainnya

Pasti Akan Terwujud "Bukan Buta Logika atau Lumpuh Rasional" Tapi Inilah Mimpi Itu "Dlingo Setara"

Dlingo: Refresh saja jari ini mengalir, seolah hanya berfikir dikala hati sedang sanggat resah, awal keresahan seiring dengan bertambahnya pemandangan baru dalam halang dan rintang perjalanan menuju kepada sebuah mimpi. Sekitar 5 tahun yang lalu bahkan lebih, hampir dari separuh usiaku kuberikan 100% mematangkan pribadi yang tak kunjung matang, untuk tak hentinya menuliskan, mengabarkan, mengajak juga memberikan contoh, memberikan solusi. Meski tak dianggap, tak dihargai, tak berujung dan tak kunjung mendapatkan jalan terang, namun itulah proses, harus tetap dibangun, dengan segala cara meski sekedar dalam bentuk coretan.

Kebangkitan itu dimulai, dilakukan, dikerjakan, dijemput, dan bukan ditunggu, lalu apa yang harus dijemput...? . ya..sepenuhnya aku sadar bahwa tidak sepenuhnya sebuah perjalanan itu adalah benar, namun apakah hal itu salah ketika diniatkan dengan niat yang baik, berproses normal, dan bertujuan baik?...itulah pertanyaanku beberapa tahun yang lalu. Sampai pada akhirnya ku temukan sebuah jawaban...Oh..ternyata aku tinggal di Lingkungan yang sedang "SAKIT" meski tidak semuanya sakit.

Lalu aku lanjutkan langkah, tetap bergerak dan menggali lagi "NILAI-NILAI" setidaknya di sinilah aku dilahirkan, setidaknya kepadanya lah aku akan kembali, satu hal rasa yang menghalangiku untuk bersikap APATIS. satu hal rasa yang menjadikan berat perasaan ini untuk "TIDAK MAU TAHU". Sebagai sebuah wilayah perbatasan, seringkali aku lantunkan sajak sajak resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpa tempat kelahiranku ini. Lantas jika aku melihat, mendengar, dan berusaha memahami reka ulang setiap kejadian, sementara setiap kejadian adalah sebuah aniaya halus, sebuah kejahatan kemanusian, sebuah pembodohan, sebuah pembiaran, dan sebuah retorika sistem sosial.... HARUSKAH AKU DIAM!!!!

Disinilah aku merasakan hal itu, dimana tak terhitung lagi pembenaran-pembenaran atas pola yang salah kaprah namun terjadi, haruskah aku beberkan betapa "sakitnya mental bangsaku" bahwa aku tinggal dilingkungan yang sakit dan didominasi kepentingan tokoh-tokoh wayang kurawa bertopeng pandawa. menyampaikan ayat-ayat kebenaran dengan lantang dan berkiprah dipanggung popilaritas dengan dalil membela namun berharap JATAH. menyampaikan program-program pemerintah namun tetep juga meminta JATAH, Menyampaikan kehendak masyarakat namun berharap JATAH, Mengumpulkan dan membuat proposal dengan berharap JATAH, Berkiprah dan bersosialisasi mempengaruhi dengan tetap berharap JATAH. Semua JATAH berkerudung IKLAs, Semua JATAH berkedok IBADAH, semua jatah Berlandaskan HARAPAN BLEDUK.

Apakah normal Jika Lingkungan pasar sudah mulai banyak yang kemalingan, apakah wajar jika lingkungan agamis banyak perselingkuhan dan terlahir anak-anak diluar nikah?, Apakah Lazim disebut gemah ripah jika diseberang sungai hutan semakin gundul, Apakah lasim pengerajin proposal mendapatkan 10 s-d 20 persen dari hasil proposalnya, apakah lazim jika hukum sudah mulai bisa dibeli, apakah biasa melihat generasi muda di pinggir jalan sudah mulai berani berciuman, komunitas mudanya Para senior mencabuli yunior, generasi mudanya mudah lupa pada sejarah, Kwalitas diri yang dijual murah, Pelayan masyarakat yang semakin pandai membuat cerita kegiatan dan laporan fiktif, apakah setiap orang masih merasa sehat..? apakah normal seorang ustad menerima bunga uang yang diberikanya kepada tetangganya sendiri? apakah masih yakin benar jika setiap kata-kata dalam proposal adalah kira-kira dan estimasi keingginan, dan bukan kebutuhan... apakah aku harus diam jika melihat tembok-tembok anyaman bambu yang hampir rubuh tidak mendapatkan bantuan sementara yang mampu malah mendapatkan fasilitas bantuan, aku yakin semua orang tahu dan mengetahui hal ini, dan jika mengetahui dan diam saja itu bisa dinamakan sehat? apakah wajar seorang caleg membuat gila para pemilihnya, apakah mata anda sudah buta sehingga seorang renternir ingin anda jadikan pemimpin sementara tetangaa anda sendirilah korban renternir itu. Apakah anda tidak tahu jika di ladang-ladang seberang sungai terjadi proses pembuahan, dimana pagar tetangga lebih hijau dari pagar sendiri. butakah anda akan hal ini...lalu apakah anda merasa sehat? masih kah anda merasa tidak sedang sakit?

Apakah wajar sebuah kegiatan yang dibiayai dengan keringat masyarakat hanya berjalan 6 bulan dan setelahnya menjadi sampah, haruskah ku beberkan foto-foto fakta itu agar setiap orang paham bahwa yang dilakukan para pemangku kepentingan hanyalah serangkaian upacara dan berburu kesenangan semata. meski aku yakin setelah membaca tulisanku ini pasti ada gerakan perbaikan...yah.... inilah caraku membangun, membangun tanpa harus membangunkan. bukan seperti sembunyi didalam karung, dan tidak berani pasang badan, karena fakta adalah fakta, meski dibolak-balik dipermainkan dan dimanipulasi, sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya pasti akan pernah jatuh. Sementara terlanjur berhembus pengkotak-kotakan akibat dari sangkaan yang buruk namun manis dikemas dan di gaungkan. Harus juga kah kutunjukan bahwa setiap bekal hidup yang diberikan hanya formalitas yang tidak bisa memberikan tambahan kesejahteraan.

Separah itukah negeriku ini, yah..tergantung siapa yang melihat dan dengan apa dia melihat, namun aku didalam kesendirianku sejak aku tuliskan 5 tahun yang lalu di dalam alam maya ini, aku sudah bersepakat untuk me NORMALKAN LOGIKA agar tidak LUMPUH RASIONAL hingga terasahlah Kesalihan Sosialku...untukku lebih Beriman, sebelum kuyakini bahwa aku adalah salah satu umat beragama. karena sampai saat ini aku belum begitu yakin aku sedang berkumpul dengan manusia-manusia beragama. Ku asah terus dan kulihat juga kudokumentasikan seluruh apa yang kulihat. Sekali lagi bagimu dan siapapun yang suka membolak-balik dan mengubah kebenaran, atas apapun yang pernah kurasakan, kulihat dan kudokumentasikan, tentu saja bisa semuanya dirubah sesuai KEBENARANMU...tapi TIDAK MUNGKIN ditutupkan kain lagi, percayalah "apes" itu ada, sehalus apapun kau menipu.

Warga Temuwuh Dlingo Terbakar Di Jebres Klaten

Dlingo : Solopos: " Api juga sempat membakar tubuh Mujiono, 47, penjual pintu kayu keliling asal Temuwuh, Dlingo, Bantul, Jogja" yang sedang makan di warung Gunadi. Kejadian berawal saat Eko Hendro Setyawan, 22, warga Samirukun RT 004/RW 004, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, pengendara sepeda motor matik yang menabrak warung makan di Jl. Jaya Wijaya, Mojosongo, Jebres, hingga Sabtu (7/6/2014), masih dirawat di ruang isolasi ICU RS. Moewardi Solo. Pihak Satlantas Polresta Solo juga belum dapat menyimpulkan penyebab sepeda motor Eko menabrak rak kayu berisi deretan botol berisi bensin di warung milik Gunadi Wasoni, 51, warga Kendalrejo RT 001/RW 011, Mojosongo, Jebres, Solo itu.

Sementara kondisi warung makan milik Gunadi yang meninggal dalam kejadian nahas, Jumat (6/6), dari pantauan Solopos.com, Sabtu, puing-puingnya sudah dibersihkan. Tidak ada garis polisi di warung yang terletak di sebelah barat perempatan ring road ber-traffic light Mojosongo . Menurut Kasubag Hukum dan Humas RS Moewardi Solo, dr Elysa, kondisi Eko Hendro masih dalam pengawasan dokter penanggung jawab ICU dr Eko Setijanto Msi., karena mengalami luka bakar sekitar 92 persen. Karena itu ditempatkan di ruang isolasi di ICU rumah sakit tersebut. “Jadi luka bakarnya hampir 100 persen maka untuk menghindari infeksi dan kemungkinan terburuk seperti sesak nafas tiba-tiba, maka pasien [Eko] di tempatkan di ruang isolasi ICU,” papar Elysa ketika ditemui Solopos.com, di RS Moewardi, Sabtu.

Dikatakan dr Elysa, karena yang menyala adalah bahan bakar bensin, maka luka bakar korban cukup parah dan rentan infeksi. Sehingga seluruh tubuh korban dibungkus perban. “Saat ini dokter masih melakukan perawatan dan pengawasan agar kondisi pengendara stabil dulu. Kendati sadar namun tidak bisa diajak bicara,” terang dia. Terpisah Kanit Laka Satlantas Polresta Solo, AKP Sutiman Hadi ketika dihubungi Solopos.com, Sabtu, mengatakan pihaknya baru sebatas pemeriksaan di lokasi kejadian. Penyebab pengendara menabrak warung juga belum diketahui. “Karena pengendara [Eko] kondisinya masih dirawat di rumah sakit dan belum bisa diperiksa. Kalau sudah stabil dan memungkinkan ditanya maka kami akan lakukan pemeriksaan kepada pengendara,” pungkas Sutiman.

Seperti diberitakan Solopos, Sabtu, peristiwa terbakarnya warung milik Gunadi, bermula ketika ada sepeda motor melaju di Jl. Jaya Wijaya berkecepatan sedang dari barat, Jumat pagi. Laju Yamaha Mio berpelat nomor AD 4629 WZ yang dikendarai Eko Hendro Setyawan, tiba-tiba zigzag. Hingga akhirnya sepeda motor tersebut menabrak rak kayu berisi 10 botol bensin eceran hingga terlempar ke arah warung makan milik Gunadi. Sekejap kemudian api yang berasal dari kompor di sisi utara gerobok langsung menyambar tubuh Gunadi yang tersiram bensin dan membakar warung. Gunadi terbakar hidup-hidup hingga akhirnya tewas di lokasi kejadian. Api juga membakar Eko dan sepeda motor yang sebelumnya menabrak rak bensin.

Lewati Tanjakan Dlingo, Colt Ludes Terbakar

Dlingo : KRjogja.com): Sebuah mobil Mitsubhisi AB-9401-AD terbakar di jalan tanjakan Dusun Dodogan, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Bantul. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu namun kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Sopir mobil, Sanadi (65) warga Dusun Pundong wukirsari Imogiri Bantul mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.00 WIB saat ia sepulang dari mengikuti uji kelayakan kendaraan (KIR) di Kabupaten Gunungkidul dan hendak pulang ke rumah. Dalam perjalanan itu, Sanadi melihat percikan api di bawah kemudi dan ia segera menepikan kendaraan lalu keluar. "Percikan api awalnya muncul di bawah kemudi dan terus membesar dan menghanguskan kendaraan saya. Masih beruntung nyawa saya selamat" ujar Sanadi.
Dijelaskan kendaraan tersebut sebenarnya baru saja dibeli sebulan lalu seharga Rp 17 juta. Kobaran api dapat segera dijinakkan setelah beberapa warga membantu memadamkan dengan menggunakan pasir.

Dispertanhut Bantul Upayakan Tanaman Berbuah Sepanjang Tahun di mangunan Dlingo

Dlingo : Harianjogja.com: Dinas Pertanian dan Kehutanan (Disperhut) Kabupaten Bantul masih mengupayakan agar tanaman buah di Kebun Buah Mangunan bisa berbuah sepanjang tahun.

Kepala Dispertanhut Bantul Partogi Dame Pakpahan mengakui kebun buah belum bisa menyajikan tanaman yang berbuah tiap waktu sehingga dapat memanjakan pengunjung untuk menikmati buah-buahan. Tanaman buah masih mengandalkan musim sehingga hanya pengunjung pada bulan-bulan tertentu yang bisa memetik sendiri buah yang tersedia.

Menurut Partogi, persoalan tersebut tengah diupayakan pemkab untuk dapat mendapatkan teknologi pertanian agar tanaman buah dapat berbuah sepanjang waktu. “Itu sedang kami carikan solusinya untuk mendapatkan rekayasa genetik,” ujarnya, baru-baru ini.

Saat ini Dispertanhut menggandeng ahli hortikultura untuk mengupayakan tanaman berbuah sepanjang waktu. Rekayasa teknologi baru melalui berbagai pengujian pemupukan, pengujian tanah, hingga pemilihan bibit tanaman masih didalami agar stok buah nantinya mencukupi kebutuhan pengunjung tanpa harus menunggu musim.Namun demikian Partogi mengakui kebun buah ini memiliki daya tarik lain untuk tetap mencuri perhatian pengunjung. Rata-rata pada hari biasa ada 100 pengunjung dan mencapai kisaran 500 pengunjung untuk hari libur.

Tahun ini pemkab Bantul melalui Dinas Pekerjaan Umum akan membangun perbaikan akses jalan lokasi kebun buah dari jalur masuk sampai puncak gardu pandang juga pembangunan penambahan jumlah MCK agar lebih representatif lagi.

Kebun Buah yang Tak Tentu Berbuah (Kebun Buah Mangunan Dlingo)

Dlingo : Harianjogja.com: Kebun Buah yang berlokasi di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo belum setiap waktu berbuah. Akibatnya, banyak pengunjung kecele lantaran berkunjung ke lokasi kebun buah namun bukan musimnya tanaman berbuah.

“Bayangan saya datang ke sini pulangnya bisa belanja buah. Tapi ternyata belum musim buah,” ujar Nurmala seorang dari rombongan pengunjung kebun buah Mangunan dari Jateng pada liburan.

Tanaman buah seperti alpukat, jeruk, durian, jambu dan jenis lain yang cukup mengundang minat khusus pengunjung saat ini belum berbuah. Akibatnya, pengunjung pun tidak bisa menikmati buah dan hanya menikmati pesona puncak pegunungan Mangunan dari sejumlah titik lokasi gardu pandang.

“Pesona alamnya cukup bagus sebagai tempat wisata alternatif. Hanya koleksi tanaman buahnya perlu lebih beragam lagi dan harus selalu berbuah,” tambah Agus pengunjung lain saat ditemui terpisah.

Lokasi kebun buah Mangunan akhir-akhir ini mengundang perhatian pengunjung yang berwisata ke Bantul dan Jogja. Pesona alam yang cukup asri dan perbukitan ini menjadi salah satu daya tarik kebun buah yang berada di atas perbukitan sehingga dapat menyaksikan keindahan alam sekitar dari ketinggian tertentu.Kebun buah yang dirintis Dinas Pertanian dan Kehutanan (Disperhut) Bantul ini menyajikan fasilitas tambahan bagi pengunjung seperti home stay untuk penginapan, gardu pandang, pendapa, penangkaran rusa, tempat pemancingan, bumi perkemahan hingga kolam renang.

Tempat ini menjadi alternatif bagi pengunjung pariwisata Bantul yang selama ini cenderung hanya mengenal Pantai Parangtritis dan pantai lainnya.

Pelepasan Siswa MTsN Dlingo

Dlingo : http://yogyakarta.kemenag.go.id: Bantul-Selasa (3/6) bertempat di Aula MTsN Dlingo, diselenggarakan acara perpisahan dan penyerahan kembali siswa-siswi Kelas IX MTsN Dlingo yang dimulai pada jam 08.00 WIB.

Dalam kesempatan tersebut, Drs Ahmad Daroji selaku Kepala MTsN Dlingo berkenan melepas kelas IX dan berharap lulusan MTsN Dlingo dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dapat meraih cita-citanya dan mendapatkan kesuksesan di masa mendatang.

Ketua Komite Ali Fahrudin juga menyampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas perjuangan segenap civitas akademika MTsN Dlingo dalam mendidik siswanya.

Senada dengan ketua komite, Riyan Saputra yang mewakili orang tua siswa menyampaikan terima kasih yang tak hingga atas perjuangan para guru serta segenap keluarga besar MTsN Dlingo yang dengan sepenuh hati mendidik siswa-siswi MTsN Dlingo.

Untuk kesan dan pesan dari kelas IX disampaikan oleh Riyan Indartanto yang menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya karena selain mendapat pendidikan di MTsN Dlingo, juga mendapat pembekalan ilmu-ilmu agama dan akhlak mulia. Riyan juga memohon doa dan restu agar lulusan tahun ini mendapat kesuksesan di masa mendatang.

Mendukung pernyataan Riyan, Muhammad Afnan mewakili adik kelas berharap kakak-kakaknya dapat melanjutkan perjuangan untuk meraih cita-citanya.

Acara tersebut dimeriahkan penampilan Hadroh MTsN Dlingo yang diasuh Nur Wahib yang mengumandangkan sholawat Nabi. Selain ttu dinyanyikan pula mars madrasah serta hymne madrasah dibawah asuhan Winarja SPd. dan Susanti SPd.

Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin Ahmadi, dilanjutkan dengan bersalam-salaman seluruh guru dengan siswa dan orang tua/wali sSiswa kelas IX diiringi lagu kemesraan.

Roti Keju Band Gema Angkasa

Menjadi hal yang biasa ketika membuat Grup Band dengan memiliki banyak fasilitas dan dukungan. Namun Roti keju memiliki sejarah yang tidak mudah untuk sekedar dapat tampil diatas pentas, radio dan televisi lokal yogyakarta. Pada awalnya Roti Keju hanyalah sekumpulan anak-anak Gema Angkasa yang selalu membawa gitar kemana-mana. tanpa arah dan tujuan yang jelas selain menghibur diri sendiri.

Kemudian ejekan dan ramalan-ramalan penghinaan dari anak-anak band yang memiliki jam terbang tinggi telah berhasil memotivasi Roti Keju untuk bermufakat membentuk sebuah Grup band yang kemudian di beri nama "Roti Keju ". Grup ini dimotori oleh kak Roby pada Gitar, Kak Tito Pada Bas dan Kak Ravik pada Drum.

Untuk sekedar latihan dan bersiap mengikuti sebuah event parade band mereka harus menabung dan menjual peralatan elektronik dan peralatan lainnya. tidak jarang keikutsertaan mereka ditolak setelah berlatih dan belajar. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semanggat dan daya juang, justru menjadi sebuah motivasi tersendiri untuk lebih keras dalam berlatih. 

Saat ini Roti Keju sering tampil sebagai salah satu band pembuka pada event-ivent yang ada di yogyakarta, tampil secara live di kafe dan acara radio serta televisi lokal di yogyakarta. Klik saja kata " Roti Keju Dlingo" atau : "Roti Keju Yogyakarta" di Youtube atau Google...silahkan nikmati lagu-lagu ciptaan anak-anak Dlingo Asli.








Pembangunan Jembatan Penghubung Dlingo, Bantul - banyusoco Gunungkidul Terancam Gagal

Dlingo : Harjo: Proyek pembangunan jembatan gantung senilai Rp1,2 miliar yang menghubungkan Kabupaten Bantul dengan Gunungkidul terancam gagal. Pembangunan infrastruktur itu batal terlaksana karena terganjal birokrasi. Jembatan gantung sepanjang 58 meter itu menghubungkan Dusun Kebosungu Desa Dlingo, Kecamatan. Dlingo Bantul dengan Dusun Banyusoca Desa Bleberan, Paliyan, Gunungkidul.

Jembatan itu bakal berdiri di atas sungai Oya yang membelah perbatasan Gunungkidul dengan Bantul. Surat Keputusan (SK) Kemenakertrans agar pembangunan jembatan itu dikerjakan sejatinya telah turun. Demikian pula persetujuan Pemkab Bantul serta masyarakat Dlingo. Proyek itu harusnya mulai digarap sejak April-Mei. Namun hingga Mei tahun ini, pembangunan jembatan tidak kunjung dikerjakan. Pasalnya, jembatan tersebut bakal mengenai lahan hutan di Dusun Banyusoca Gunungkidul yang merupakan milik Dinas Kehutanan DIY.  Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul menyatakan bahwa proyek itu tidak dapat terlaksana lantaran izin lahan dari Dinas Kehutanan DIY belum ada.

Jatimulyo Dlingo Angkat Wisata Sejarah Walisongo

Dlingo : Harjo: Desa Ujung Timur Kabupaten Bantul, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo sebentar lagi akan memiliki tempat wisata sejarah. Terdapat tiga tempat peninggalan wali Sunan Kalijaga yang potensi untuk dikembangkan. Selain sebagai sentra mebel terbesar di Bantul, Kecamatan Dlingo dengan 40% warga sebagai pengusaha mebel ini merupakan tempat sejarah penting. Sebab desa tersebut pernah ditempati wali songo Sunan Kalijaga dan sahabatnya Sunan Geseng dalam misi penyebaran ajaran Islam di Jawa.

Ada tiga tempat bersejarah yang menjadi bukti kuat rekam jejak tokoh penyebar ajaran Islam itu pernah tinggal desa yang terletak di perbukitan di Dlingo yakni petilasan Watu Gateng, Sendang Banyu Penguripan dan Pohon Jati Kluwih. Ketiganya menguatkan menjadi tempat sejarah yang patut dilestarikan sebagai pelengkap ragam kebudayaan di Jogja.

Kades Jatimulyo Paimo Sastro Wiharjo mengatakan, tiga tempat bersejarah di desanya kini mulai digagas untuk dijadikan sebagai tempat alternatif wisata sejarah. Meski ada kendala sumber keuangan untuk mendukung program tersebut, upaya mewujudkan rencana itu sudah mulai berjalan dari sekarang. Salah satunya, melacak lebih detail kiprah walisongo di desa Jatimulyo dari cerita rakyat dan berbagai sumber informasi. “Kami tengah berupaya melengkapi data detail dari sumber kajian pustaka dan berbagai sumber lainnya,” ujarnya.

Dari penelusuran yang dilakukan warga, sementara diperoleh tempat bernama Watu Gateng peninggalan walisongo. Di lokasi ini ada batu yang meninggalkan jejak tangan Sunan Kalijaga dan Sunan Geseng. Menurut cerita yang diyakini warga secara turun temurun, Batu Gateng diperdebatkan kedua sunan untuk memastikan batu atau nasi.

Adapun Sendang Banyu Penguripan yang juga menjadi nama Dusun Banyu Urip diyakini menjadi tempat mandi walisongo. Sendang yang mata airnya sampai saat ini tidak pernah kering masih dimanfaatkan warga setempat untuk kehidupan. Pada hari-hari tertentu seperti malam satu Sura, malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon menjadi tempat tirakat.

Keunikan tempat sejarah juga didapatkan di dusun Loputih adanya pohon berusia tua yang dinamakan pohon jatikluwih. Pohon jati namun berdaun kluwih. Tepat di sebelahnya dibangun musala An Nur Sunan Kalijaga.

Wilayah Perbatasan Dlingo Mulai KUMUH!!!

Dlingo : Seiring waktu, dan seiring proses kemajuan pembangunan, tidak dapat dipungkiri bahwa dampak dan efek yang melekat dari kemajuan dan pembangunan selalu saja seolah menjadi pasangan hidup yang abadi. Namun bukan berarti tanpa solusi, dapat dipastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan akan membawa dua pasang dapak dan efek "Baik dan tidak baik/Negatif/positif". Namun ketika kita bicara pembangunan sudah pastilah dampak ikutan yang timbul dari kebijakan membangun tersebut sudah difikirkan dan menjadi bahan racikan solusi apa bila ada dampak negatif yang mengikuti.

Beberapa waktu yang lalu sudah saya coba kupas tentang penerangan jalan yang berada pada jalur perbatasan antara lain daerah perbatasan playen dengan dodogan jatimulyo, kemudian cino mati terong dengan kecamatan pleret juga desa mangunan dengan kecamatan imogiri disini . namun demikian hari ini setelah beberapa kali mengamati dan sengaja saya berjalan menelusuri lagi di beberapa area, sudah mulai tampak tumpukan sampah yang menggunung di kawasan perbatasan antaralain di perbatasan daerah jalur cino mati, hampir di setiap jurang terhimpit diantara pepohonan terdapat sampah-sampah berserakan seperti terlihat pada gambar :

Kemudian di perbatasan dodogan dengan kecamatan playen, tepatnya diantara pos jaga kehutanan dengan jembatan sungai Oyo, tidak jarang jika pagi buta sekitar antara jam 05.00 s-d 07.00 beberapa penduduk baik dari arah barat dan timur dengan menggunakan sepeda motornya berhenti tepat diatas jembatan dan membuang tas plastik berisi sampah ke sungai, beberapa titik sampah terlihat seperti dalam gambar :

dari arah perbatasan desa manngunan dan kawasan kaliurang, juga merupakan langganan tempat pembuangan sampah seperti tampak pada gambar :

Wilayah perbatasan adalah bagian wajah dari sebuah daerah, dan dengan wajah itulah seseorang dapat memperlihatkan ekspresinya, baik itu senyuman, kesedihan, maupun kegembiraan juga keceriaan. 
Potensi wilayah kecamatan dlingo sebagai salah satu wilayah strategis, seharusnya mendapatkan perhatian khusus, karena sebagai wilayah perbatasan tentu baik RDTRK maupun rencana pengembangan dan pembangunannya memerlukan sentuhan yang berbeda. belum lagi transaksi sosial yang mengerikan, perdagangan anak, kenakalan remaja, balapan liar, minuman keras, sex bebas, ajang pacaran, sampah fisik dan sampah sosial yang ada di kawasan perbatasan merupakan permasalahan klasik, namun se klasik apapun itu mereka manusia juga, butuh mendapatkan solusi dan juga perhatian.

Memang banyak yang bisa mengatakan bahwa dlingo memiliki A, B, C, D, E, F, G  dan saya yakin semua orang yang lewat dan berkepentingan terhadap hal ini juga mengetahui, namun mengapa sampai saat ini belum ada upaya penanganan, setidaknya himbauan, sosialisasi, publikasi atau bahakan membuat larangan buang sampah melalui perda atau aturan lain yang terkait, setidaknya hal ini juga sebagai langkah awal pendidikan bagi masyarakat. 

Prestasi macam apa yang membiarkan mukanya berlepotan, padahal lomba desa sering dilakukan, ajang lomba desa hampir bisa dipastikan hanyalah ajang gotong royong sesaat namun tidak membudaya. sehingga bersih hanya saat ditinjau saja. Namun ketika wilayahnya terindikasi pencemaran nyaris luput dari perhatian.
Padahal nomenklatur program/kegiatan juga ada tersedia untuk menangani hal tersebut. 

Tapi untuk hal-hal seperti ini tentu tidak menarik, karena pembangunan fisik dan prasarana lebih menggiurkan mudah dilaksanakan dan jelas wujud bangunannya ada . Tapi Pertanyaannya...adalah...bagaimana jika muka anda belepotan padahal anda bukan tentara yang siap tempur, dengan muka belepotan tersebut lalu anda mengharapkan orang lain terkagum kagum atas perstasi anda...?