Siswi SMP Dlingo Dijabuli

Dlingo: KRjogja : Kencur (14) nama samaran, warga Desa Jatimulyo,Dlingo, Bantul melaporkan kenalan barunya And (25) warga Desa Getas Playen . Korban dipaksa melayani nafsu bejat "sang kenalan" semalam suntuk di rumah terlapor.

Informasi yang dikumpulkan  menyebutkan, kejadian tersebut bermula saat korban yang seorang siswi SMP berkenalan tersangka di jejaring sosial Facebook. Dari perkenalannya itu keduanya penasaran untuk bertemu. Malam itu pertemuan akhirnya dilakukan oleh Kencur dan And. Korban kemudian diajak ke rumah terlapor untuk menginap dan terjadilah peristiwa memalukan tersebut.

Kejadian yang dialami korban akhirnya diceritakan kepada kedua orang tuanya. Mendengar pengakuan anak gadisnya orang tua korban akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polres Gunungkidul. Dari pengakuan sementara, korban dipaksa melayani nafsu bejat terlapor hingga berkali-kali serta melakukan hubungan layaknya suami isteri.

Kapolres Gunungkidul AKBP Asep Nalaludin SIK MSi ketika dihubungi membenarkan laporan dari korban. Dari laporan tersebut polisi melakukan pemeriksaan sejumlah saksi dan membawa korban ke RSUD Wonosari untuk dimintakan visum dokter. Sedangkan terlapor masih dalam pengejaran polisi

BMX Is My Live

Dlingo : Bersepeda merupakan salah satu aktivitas yang dapat dilakukan oleh setiap manusia tanpa ada batasan tertentu, baik anak – anak maupun dewasa. Bersepeda termasuk olahraga yang ringan atau tidak terlalu berat, sehingga setiap orang dapat berolahraga dengan bersepeda tanpa ada batasan usia. Bersepeda adalah olahraga yang sederhana yang menyehatkan tubuh agar terhindar dari berbagai penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Tapi Bersepeda yang kami lakukan kali ini ya boleh dibilang hanya modal nekat saja, sebuah hasrat yang mungkin bisa tersalurkan dari pada menghadapai berbagai hal yang pada akhirnya hanya menyudutkan kami ketika dirumah dan berkumpul bersama mereka yang dianggap pemuda berbakti dan ditokohkan...kami mah apa atuhhh...bukan siapa-siapa.
 
Sambil menikmati pemandangan kami juga berbagi berbagai hal dalam perjalanan, tidur bersama beralaskan koran , pasir dan lantai yang kotor..hidup memang nikmat. ternyata diluar dusun kami terdapat banyak hal yang bisa kami peroleh, dan ternyata dusun kami hanya sanggat kecil dan hanya terlalu lama bergumul kedalam dan tidak mau belajar keluar.
 
Ya sudahlah ini lah hidup kami.... tak terasa dari dlingo berhari hari siang dan malam puaspun tercapai...bertemu juga dengan kepuasan ...Pantai Parangtritis, Tugu Jogja, Sri Getuk, Hutan Bunder dan semuannyaaaaaaaa yang ada di Dlingo Tercintaku bisa kami datangi dengan sepeda...lebih menantang dari yang kami kira...perjalanan malampun kami tempuh untuk tujuan ini..semoga bermanfaat.
 








'Begal' Beraksi di Jalan Cino Mati

Dlingo : KR.com:  Sejumlah lelaki merampas HP milik Eko Setiawan (28) warga Rejosari Desa Terong Kecamatan Dlingo Bantul,. Aksi nekat pelaku dilakukan di jalan perbatasan Pleret-Dlingo Cegokan Wonolelo Pleret atau Jalan Cino Mati. Setelah menggasak HP, seorang pelaku sempat memukul kepala korban menggunakan botol.

Kepala Urusan Pemerintahan Desa Terong, Kemijo Hari Mulyono, kepada KR mengatakan, pelaku berjumlah tujuh orang dengan tiga sepeda motor. Sebelum beraksi, pelaku sudah membuntuti korban, bahkan sejumlah saksi di sekitar lokasi sempat mendengar raungan sepeda motor. "Keterangan korban pelaku tujuh orang, dengan naik dua motor Yamaha Mio, satu lagi tidak jelas, itu berdasarkan keterangan korban," jelasnya.

Diungkapkan, sebelum meminta HP, seorang pelaku memotong jalan sepeda motor korban. Merasa terhalangi, korban menghentikan motornya. Seorang pelaku langsung meminta HP, sempat ditolak, namun pelaku mengeluarkan pisau. Takut diserang dengan pisau, korban langsung menyerahkan. Setelah kejadian pelaku pergi ke arah Pleret sementara korban yang ketakutan memacu motornya menuju Desa Terong. Kapolsek Pleret AKP M Qori Okto Handoko SIK belum bisa memastikan jumlah pelaku yang melakukan perampasan. Termasuk sepeda motor yang dikendarai pelaku. Perampasan terjadi di jalan tengah pegunungan penghubung Kecamatan Dlingo dan Pleret. "Belum tahu pasti jumlah pelakunya, masih kami kembangkan," jelas Okto.

Sementara Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Wachyu Tribudi SIP, mengungkapkan pihaknya masih berusaha menemui saksi yang diduga mengetahui tentang ciri-ciri pelaku yang berkelompok melakukan perampasan dan main pukul di wilayah Pleret tersebut. Karena ada dugaan peristiwa itu mirip dengan kasus yang terjadi di Ponegaran Jambidan Banguntapan.

PROYEK GRAVITASI AIR DI DLINGO


Dlingo : Kr Jogja : Proyek gravitasi pemanfaatan sejumlah sumber mata air di Desa Mangunan Dlingo berhasil membebaskan 439 kepala keluarga (KK) dari krisis air minum. Dari sejumlah dusun kawasan kritis air pada musim kemarau, lima di antaranya sejak 2008 tak lagi membeli air. Semua kebutuhan air bisa dipenuhi dari proyek tersebut. "Padahal dulu warga Kanigoro Mangunan ini tiap kemarau panjang harus membeli air bersih dari pedagang," kata petugas operasional dan pengelola air bersih distribusi Desa Mangunan, Lasiman.

Bantuan untuk memanfaatkan air bersih dari sumber air ada dua titik, di Kompleks Kantor Desa Mangunan serta Dusun Sukorame. Di Kompleks Kantor Desa Mangunan mendapat bantuan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Pemukiman Berbasis Komunitas (Rekompak) atau Java Reconstruction Fund (JRF) melalui bantuan dana lingkungan sebesar Rp 250 juta dengan swadaya masyarakat sebesar Rp 4.100.000. Proyek yang dilaksanakan dengan sistem swakelola ini membangun 8 buah hidrant umum (HU) yang pendistribusian air bersih itu dilakukan dengan sistem gravitasi. "Sebelum disuplai kepada masyarakat, air dari sumber diangkat dengan generator set (genset) untuk ditampung di bak. Baru setelah itu didistribusi kepada masyarakat dengan sistem gravitasi ke masing-masing hidrant umum.

Khusus dari sumber air sekitar Kompleks Kantor Desa Mangunan, lanjut Lasiman, wilayah suplainya ke Dusun Kanigoro dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 89 KK. Dua tahun dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi warga hingga kini tidak ada masalah. Namun, perlengkapan hidrolik otomatis klep yang mengatur kelancaran air sering macet. Akibatnya berdampak pada kapasitas daya tampung masing-masing bak di hidrant umum . "Karena fungsi otomatis hidrolik klep sering macet, saat HU tidak dipergunakan warga, airnya banyak yang terbuang," imbuhnya.

Sedangkan di dua dusun, yakni, Sukorame dan Lemahabang Desa Mangunan sudah dua tahun ini gravitasi air dari sumber setempat ke rumah-rumah warga cukup lancar. Bahkan pada 2008 lalu mendapat bantuan proyek Pengembangan Saluran Drainase Pemkab Bantul senilai Rp 239,5 juta. Sedangkan tahun 2009 melalui PNPM Mandiri sebesar Rp 21 juta. Ketersediaan air bersih cukup melimpah dan masing-masing warga berswadaya membeli selang sendiri. "Sudah beberapa tahun ini masalah air di dua dusun tidak ada masalah bahkan kemarau panjang pun tak pernah kesulitan air," jelas Mujimin.

Warga Dligo Waspada Antisipasi Bencana Musim Hujan

Dlingo : KRjogja.com : Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kabupaten Bantul meminta kepada warga yang tinggal di perbukitan untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap kemungkinan bencana tanah longsor.

"Saat ini intensitas hujan mulai meninggat. Warga di daerah perbukitan supaya meningkatkan kesiapsiagaannya, terutama saat turun hujan dengan intensitas tinggi," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul Drs Dwi Daryanto MSi . Lebih lanjut ia menuturkan, bagi masyarakat di perbukitan atau lereng perbukitan, apabila ada tanda-tanda pergerakan tanah untuk segera memilih tempat yang aman. Hal itu untuk meminimalisir terjadinya korban tanah longsor.

"Kalau melihat tanah yang mulai retak-retak supaya segera antisipasi dan melaporkan ke petugas. Kemudian memilih tempat yang lebih aman. Karena dengan curah hujan intensitas tinggi, bencana longsor bisa saja terjadi sewaktu-waktu," tuturnya. Untuk daerah-daerah yang rawan terjadi tanah longsor Di Kecamatan Dlingo meliputi, Muntok, Terong dan Mangunan.

Disinggung dengan turun hujan sejak Minggu (6/11) hingga Senin (7/11) kemarin, "Dari hasil pemantauan petugas dilapangan, tidak ada kejadian apa-apa. Kami juga selalu berkoordinasi dengan Forum Pengurangan Resiko Bencana di tingkat desa maupun kabupaten jika terjadi bencana untuk segera melaporkan.

Atasi PERSEDO 4-1, PS SURYA AGUNG keFinal Turnamen PSM CUP III 2011

Dlingo : Partai Semifinal PSM CUP III 2011 mempertemukan PS SURYA AGUNG dengan PERSEDO berakhir untuk kemenangan PS SURYA AGUNG dengan skor meyakinkan 4-1. PS SURYA AGUNG menurunkan pemain yang sama pada saat babak delapan besar menghadapi ATENA FC tanpa ada tambahan pemain dari luar. Sedangkan PERSEDO merombak pemain pada pertandingan sore tadi, rata-rata pemain yang memperkuat PERSEDO adalah pemain yang berlaga di PORPROV. Hanya bermaterikan pemain lokal 2 Veri dan Gepeng yang kemudian digantikan Gamun pada babak kedua, namun dengan materi pemain yang demikian tak menyurutkan semangat pemain PS SURYA AGUNG umtuk tampil ngotot untuk meraih kemenangan.

Sempat kemasukan terlebih dahulu dimenit ke17 melalui gol yang diciptakan striker lincah pemain dari club Putra Potorono memenfaatkan kelengahan pemain belakang PS SURYA AGUNG. Namun kemenangan PERSEDO tak bertahan lama setelah Eko Wijayanto berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui tandukan kepala. Skor bertambah untuk PS SURYA AGUNG menjadi 2-1 setelah Eko kembali mencetak gol dan PS SURYA AGUNG berbalk unggul, skor 2-1 bertahan hingga jeda.

Ketinggalan 2-1 PERSEDO mencoba tampil ngotot. namun PS SURYA AGUNG justru menambah gol melalui Wahyu dan dengan gol yang ketiga membuat pemain PERSEDO tetap tak patah semangat. serangan demi serangan dilakukan, namun usaha tersebut tak membuahkan hasil. Justru pemain belakang Suparno melalui individu dan umpan taktis berhasil mengecoh kiper PERSEDO sehingga berbuah gol penutup untuk kemenangan PS SURYA AGUNG. Dengan kemenangan ini PS SURYA AGUNG Berhak melaju kebabak Final dan akan bertemu dengan PS GARUDA, difinal Turnamen PSM CUP III tahun 2011 ini kembali mengulang pada partai Final PSM CUP II tahun 2008

Angin Putin Beliung Landa Kecamatan Dlingo

Dlingo : Hujan deras disertai angin puting beliung melanda Kecamatan Dlingo, Rabu (26/10). Akibatnya  pohon-pohon di sepanjang jalan utama Dlingo bertumbangan, beberapa rumah juga dikabarkan roboh di daerah Pereng jatimulyo tertimpa pohon sawo. Atap rumah warga rata-rata juga berserakan akibat terjangan angin puting beliung ini.
Sebelumnya angin puting beliung disertai hujan deras menerjang wilayah Desa Terong lalu bergeser ke selatan di daerah Desa Temuwuh yang membuat pepohonan di sepanjang jalan utama dan perkampungan menjadi berserakan ranting dan dahan-dahan yang memenuhi sepanjang jalan. selain itu pohon cemara di lapangan Pokoh Desa Dlingo yang berusia sudah puluhan tahun juga roboh.

Menurut sejumlah warga , sebelum hujan deras angin datang dengan sangat kencang. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Akibat angin putin beliung ini, listrik sempat padam namun petugas PLN di Kecamatan Dlingo segera menanggani permasalan tersebut sehingga warga kembali bisa bekerja dengan normal.

Dataran Tinggi Dlingo Mulai Sulit Air

Dlingo: KRjogja.com: Memasuki penghujung musim kamarau tahun ini, sejumlah wilayah dataran tinggi di Bantul ratusan warga mulai kelabakan mencari air bersih. Kebanyakan sumber air debit airnya terus menyusut, dampaknya warga merasa perlu segera disokong air khusus untuk kebutuhan makan dan minum. Sumur warga di Desa Muntuk Kecamatan Dlingo Bantul, misalnya dalam dua pekan terakhir mengering. Kenyataan pahit itu direspons Relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana ) Bantul dengan menggelontorkan sedikitnya 222 tangki air bersi.

Koodinator Tagana Bantul, Dhony Kristanto mengatakan, dalam dua pekan ke depan sekitar 190 tangki didistribusikan ke daerah krisis air bersih. Sementara 22 tangki telah disalurkan pekan sebelumnya.
Dhony merinci, 190 tangki dialokasikan untuk Kecamatan 100 tangki, Piyungan 40 tangki, Kasihan 30 serta Imogiri 20 tangki. “ Data daerah rawan air bersih itu hasil pendataan kecamatan, desa, dan dusun sehingga kami dari Tagana tinggal droping ke daerah kering,” jelasnya disela pendistribusian air bersih di Dusun Tangkil, Desa Muntuk.

Kepala Desa Muntuk Kelik Subagyo SE mengakui, belasan dusun di wilayahnya memang dilanda krisis air bersih. Sebagian besar sumber air di sumur warga lenyap. “Saat ini memang menjadi puncak krisis air di wilayah ini, jumlahnya ada, tetapi sangat minim sekali. Sementara banya penampungan kosong,” katanya.

Kesulitan Air Bersih Sebagian Masyarakat Dlingo

Dlingo : KR.Com : Sebagian Warga Dlingo Krisis Air, solusinya, warga memanfaatkan air sungai untuk mencuci dan mandi meski jauh dari tempat tinggalnya. Krisis air bersih memang mulai menghantui warga bila hujan tak kunjung turun. Kekhawatiran juga dipicu semakin dekatnya perayaan Lebaran. Pagi itu Eko Setiawan (24) bersama istrinya,  keduanya sibuk mencuci pakaian di bantaran Kaliurang perbatasan Desa Muntuk dan Dlingo Kecamatan Dlingo. 
 
Warga Koripan Dlingo ini mengaku terpaksa mencuci di sungai lantaran debit air sumur di rumahnya terus menyusut. ”Sebenarnya sumur itu ada airnya, tetapi sudah keruh,” jelasnya. Ia tidak mengetahui secara pasti sejak kapan debit air terus menyusut. Bila kemarau, kata Eko, air sumur perlahan habis dan itu hampir terjadi setiap tahun. Terpisah Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup Kecamatan Dlingo, Drs Bangun Rahina MM tidak menampik sejumlah dusun di Kecamatan Dlingo rawan air. ”Bila untuk air konsumsi saya kira masih ada, meski terbatas. Tetapi untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan cuci memang sangat rawan dan warga mulai mengandalkan sungai,” jelas Bangun. Daerah rawan air bersih meliputi, Saradan, Pancuran Desa Terong, Loputih Desa Jati Mulyo, Cempluk, Sukorame Desa Mangunan, serta Koripan I dan Pakis untuk Desa Dlingo. Bangun menjelaskan, sebelumnya telah dilakukan koordinasi dengan Pemkab Bantul terkait kemungkinan memanfaatkan mesin genset berukuran besar di Desa Dlingo. 
 
Selama ini mesin tersebut tak beroperasi lantaran biayanya terlalu mahal. ”Kemarin sudah kami bahas di Pemkab Bantul langkah yang akan diambil,” jelasnya. Bangun yakin, bila mesin tersebut beroperasi, masalah air di Dlingo lekas terurai. Menurutnya, kemarau kini memasuki puncaknya. Indikasinya, embung penampungan air mengering, debit air sumur mengecil. Pantauan KR di lapangan menunjukkan, satu embung ukuran besar di Dusun Tanjung Desa Temuwuh kering. Embung di tepi dusun airnya makmur ketika musim penghujan, kini hanya kubangan lumpur yang terlihat jelas. Bangun mengatakan, di Kecamatan Dlingo bisa mengusahakan air bersih.

Study Tour Perdana Gema Angkasa


Dlingo : Apabila ditilik lebih seksama study tour juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 pasal 19, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan. 

Tentu saja semuanya harus dalam pantauan dan arahan pihak yang melakukan pembinaan, ya tapi ya sudahlah mereka lebih senang dan bisa memiliki rasa kebersamaan dari hal-hal seperti itu. minimal mereka tidak sedang merencanakan keburukan. lain kali mungkin bisa lebih terarah. 






Apabila ditilik lebih seksama study tour juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 pasal 19, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan. Tapi mengapa study tour sampai ramai dibicarakan oleh media cetak bandung sekarang? Karena dinilai telah terjadi perubahan makna study tour yang sebenarnya. Study tour yang seharusnya memiliki esensi utama sebagai pembelajaran malah mengalami pergeseran menjadi kegiatan rekreasi belaka. Study tour ialah satu metode pembelajaran dan sebagaimana metode pembelajaran umumnya harus ada strategi, cara pembelajaran serta evaluasi demi tercapainya kompetensi yang diharapkan akan didapatkan siswa setelah melalui prosesnya. Tapi adakah kesemua hal itu dalam prakteknya sekarang? Guru dan pihak sekolah sering kali terlena dan melupakan hal tersebut. Bahkan pemilihan objek study tournya juga seringlah meleset dari nilai pembelajaran yang seharusnya. Tidak lagi mengutamakan sekolah-sekolah lain, museum, tempat atau objek dengan nilai historis bersejarah atau tempat dimana bisa terjadi interaksi dan pembelajaran maksimal siswa terhadap alam. Tentu saja semuanya harus dalam pantauan dan arahan pihak sekolah dan guru yang ada. Jangan sampai yang terjadi hanyalah, bersenang-senang, sibuk berbelanja, foto-foto atau malah sekedar hura-hura. Selain itu, patut diingat bahwa study tour bukanlah suatu metode yang harus bin wajib untuk dilaksanakan. Study tour hanyalah suatu pilihan untuk melaksanakan pembelajaran dilapangan dan kalaupun dilaksanakan maka pihak sekolah harus merancang koordinasi yang baik mencakup proses dan hasil yang diharapkan. Memang study tour bisa meningkatkan keceriaan, nilai kekeluargaan, mempererat jalinan silaturahmi antara sekolah, guru dan siswa. Tapi sebagaimana esensi nilai yang terkandung dalam arti kata STUDY TOUR, maka perlulah dikaji, diawasi, dan dinilai. Apabila itu nilai-nilai tersebut sudah tidak ada, maka sudah sepantasnya study tour ditiadakan dan mengganti namanya dengan PLESIRAN semata.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/median/study-tour-belajar-atau-plesiran_550062c6813311cb60fa791d
Apabila ditilik lebih seksama study tour juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 pasal 19, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan. Tapi mengapa study tour sampai ramai dibicarakan oleh media cetak bandung sekarang? Karena dinilai telah terjadi perubahan makna study tour yang sebenarnya. Study tour yang seharusnya memiliki esensi utama sebagai pembelajaran malah mengalami pergeseran menjadi kegiatan rekreasi belaka. Study tour ialah satu metode pembelajaran dan sebagaimana metode pembelajaran umumnya harus ada strategi, cara pembelajaran serta evaluasi demi tercapainya kompetensi yang diharapkan akan didapatkan siswa setelah melalui prosesnya. Tapi adakah kesemua hal itu dalam prakteknya sekarang? Guru dan pihak sekolah sering kali terlena dan melupakan hal tersebut. Bahkan pemilihan objek study tournya juga seringlah meleset dari nilai pembelajaran yang seharusnya. Tidak lagi mengutamakan sekolah-sekolah lain, museum, tempat atau objek dengan nilai historis bersejarah atau tempat dimana bisa terjadi interaksi dan pembelajaran maksimal siswa terhadap alam. Tentu saja semuanya harus dalam pantauan dan arahan pihak sekolah dan guru yang ada. Jangan sampai yang terjadi hanyalah, bersenang-senang, sibuk berbelanja, foto-foto atau malah sekedar hura-hura. Selain itu, patut diingat bahwa study tour bukanlah suatu metode yang harus bin wajib untuk dilaksanakan. Study tour hanyalah suatu pilihan untuk melaksanakan pembelajaran dilapangan dan kalaupun dilaksanakan maka pihak sekolah harus merancang koordinasi yang baik mencakup proses dan hasil yang diharapkan. Memang study tour bisa meningkatkan keceriaan, nilai kekeluargaan, mempererat jalinan silaturahmi antara sekolah, guru dan siswa. Tapi sebagaimana esensi nilai yang terkandung dalam arti kata STUDY TOUR, maka perlulah dikaji, diawasi, dan dinilai. Apabila itu nilai-nilai tersebut sudah tidak ada, maka sudah sepantasnya study tour ditiadakan dan mengganti namanya dengan PLESIRAN semata.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/median/study-tour-belajar-atau-plesiran_550062c6813311cb60fa791d

4 Pejudi di Tengah Hutan Perbatasan Dlingo - Playen Dibekuk Polisi


Dlingo : KrJogja : Empat tersangka judi domino di tengah Hutan Getas Kecamatan Playen, Gunungkidul dibekuk Polisi Sektor Playen Minggu (25/9) petang. Dari tangan para tersangka tersebut polisi berhasil menyita uang taruhan sebesar Rp 500 ribu serta kartu domino.

“Keempat tersangka yang diringkus tersebut Slm (40), Sup (35), Muh (60) seluruhnya warga Dlingo,Bantul dan Syt (35) warga Desa Getas Kecamatan Playen. Terbongkarnya aksi perjudian di tengah hutan itu bermula dari laporan pencari kayu bakar yang mendapati keempat tersangka itu hampir tiap hari melakukan perjudian di tengah hutan Getas yang merupakan perbatasan antara Gunungkidul dengan Bantul,” ujar Kapolres Gunungkidul AKBP Asep Nalaludin SIK MSi  Minggu (25/9) malam.

Begitu menerima laporan masyarakat, jajaran Polsek Playen langsung melakukan pengintaian dan mendapati ke empat tersangka itu sedang asyik bermain judi. Seketika itu juga mereka digrebek dan dilakukan penangkapan. Meskipun ada dua pelaku berusaha melarikan diri tetapi akhirnya menyerah dan kini menjalani proses hukum di Polsek Playen.

“Keempat tersangka sudah kami amankan dan kini sudah menjalani proses hukum. Mereka kita jerat dengan pasal 303 KUHP dalam tindak pidana perjudian,” imbuh Kapolres AKBP Asep Nalaludin SIK MSi.

Dua Pencuri Pohon Langka Cendana Wangi di Tangkap Polisi

Dlingo : KRjogja : Dua tersangka pencuri pohon langka Santalum album (cendana wangi) di Hutan Wanagama milik Universitas Gajah Mada (UGM) di petak 17, Playen, Gunungkidul dibekuk Polisi, Kamis (29/9) petang. Kedua tersangka tersebut yakni Mar (24) dan Ded (16) keduanya warga Banyuurip, Dlingo, Bantul, kini sudah menjalani proses hukum Polsek Playen Gunungkidul.

Aksi pencurian tersebut pertama kali diketahui Sukardiyono, penjaga hutan yang sedang melakukan patroli melihat kedua tersangka melakukan aksi penebangan pohon cendana. “Kedua tersangka langsung kami tangkap dan diserahkan ke Polsek Playen untuk diproses,” ujarnya kepada petugas kepolisian.

Hingga saat ini kedua tersangka masih dalam proses pemeriksaan polisi. Tetapi berdasarkan hasil pengecekan di lokasi hutan terdapat 9 pohon langka termasuk jenis cendana raib ditebang pencuri. Kapolsek Playen, AKP Sudaryana ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut dan polisi kini sudah menahan kedua tersangka untuk diproses hukum. “Kasus ini telah kami tangani,” tegasnya.

Warga Desa Terong Dlingo - Pucung Wukirsari Berdamai

Dlingo : Dua Pihak antara Desa Terong dengan Desa Wukirsari sepakat mengakhiri pertikaian dan kubu perusak yaitu warga Wukirsari sanggup mengganti kerusakan. Kesepakatan damai dituangkan dalam surat bermetrai. Bahkan MUSPIKA Kecamatan Dlingo dipimpin camatnya menggelar pertemuan dengan MUSPIKA Imogiri di sebuah rumah makan di jalan Parangtritis. Sudirman Lurah Desa Terong meyakini dan memastikan bahwa pasca ketegangan antara kedua belah pihak tidak akan berlanjut, lagi ketegangan yang lain karena antara Desa Terong dengan Desa Pucung selama ini belum dan tidak pernah ada permusuhan .

Sudirman menghimbau agar semua pihak tidak mempercayai isu penyerangan balik atau yang bersifat provokatif. informasi resmi terkait dengan ketegangan yang terjjadi hanya keluar melalui lembaga desa , Muspika, atau tokoh perwakilan dari masing-masing desa yang bersitegang. 

Sementara itu Lurah Desa Wukirsari Bayu Bintoro bersepakat sebagaimana yang telah di tuangkan dalam kesepakatan bahwa pihaknya bersedia untuk memberikan ganti rugi atas kerusakan yang dilakukan warganya terhadap warga desa Terong.

Camat Dlingo juga menegaskan bahwa dua kubu sudah bersepakat damai dan mengakhiri pertikaian, sehingga diharapkan masing-masing warga tidak lagi punya dendam, di kuatkan oleh Kapolsek Dlingo bahwa masalah perusakan sudah selesai dan sanggup di selesaikan secara kekeluargaan, dari pihak Pucung sanggup memperbaiki kerusakan yang sudah di perbuat dengan harga yang sepadan.

Warga Pucung Nuntut Polsek Dlingo, Warga Terong Jadi Sasaran

Dlingo : Selasa 27/09/2011 Tawuran antarwarga hampir saja terjadi di Kecamatan Dlingo kemarin. Ratusan warga Pucung, Wukirsari, Kecamatan Imogiri nyaris saja terlibat bentrok dengan warga Desa Terong, Dlingo. Beruntung kejadian ini bisa diantisipasi aparat kepolisian. Kejadian ini bermula ketika sedikitnya 300 warga Pucung melakukan konvoi menuju Mapolsek Dlingo. Mereka berencana mendesak Polsek Dlingo menangkap pelaku penganiayaan saat konser musik dangdut di Desa Munthuk beberapa waktu lalu diusut.

Namun,sangat disayangkan, rombongan massa tersebut justru melakukan perusakan saat memasuki wilayah Terong. Sebuah rumah milik Ny Sumiyem, warga Rejosari RT 05,Terong dilempari batu sehingga kaca depan rumah pecah. Tidak hanya itu,sebuah kendaraan yang diparkir di dekat rumah tersebut tidak luput dari amuk massa.Suzuki Carry AB 9016H milik Daryanto,warga Ngenep,Terong juga dipecah bagian kacanya.

Aksi massa ini belum berakhir, Sugiran, 40, warga Dusun Rejosari RT 03,Terong juga dipukuli massa sesaat sebelum rombongan konvoi sampai di Mapolsek Dlingo. ”Warga Terong, Dlingo bereaksi. Mereka sudah berkumpul dan konvoi untuk mengejar massa yang merusak rumah warga Terong.  Namun, berhasil kita halau di Desa Mangunan.

Sebelumnya, ratusan warga Pucung Wukirsari sempat menyampaikan aspirasi terkait penganiayaan yang menimpa Yanto, 27, saat konser dangdut di Desa Munthuk. Mereka warga Wukirsari datang ke Dlingo untuk meminta sikap tegas Polsek. Sanggup tidak mengadili pelaku. Saat ini, Polsek terus menelusuri kasus penganiayaan ini.

Jalur Cino Mati (Terong, Dlingo) - Pleret, Rawan Kejahatan

Dlingo  : Jalur Cino Mati di kawasan Desa Terong Kecamatan Dlingo merupakan salah satu jalur akses dari Kecamatan Dlingo Menuju Yogyakarta melewati Kecamatan Pleret. Jalur ini terkenal dengan tanjakan yang curam dengan kemiringan tebing curam. Namun Jalur ini menjadi jalur faforit warga Kecamatan Dlingo, dikarenakan melalui jalur ini perjalanan ke Yogyakarta cukup dengan memakan waktu sekitar 30 - 40 menit.

Namun sebulan terakir terjadi kejadian-kejadian yang megkhawatirkan bagi para pengguna jalur jalan cino mati. beberapa waktu lalu seorang guru di cegat  dua orang bermotor tak dikenal, namun karena ada mobil yang melintas kemudian kedua motor tersebut melarikan diri. kejadian berikutnya menimpa carik desa Terong saat akan menuju Giwangan Yogya, juga di cegat oleh dua orang dengan kendaraan bermotor yang juga tidak di kenal. Beberapa hari yang lalu Penulis juga melintas di jalur Cino Mati pada sekitar jam 21.00 WIB dan di pepet oleh kendaraan yang juga berusaha melakukan kejahatan, namun karena ada truk lewat maka orang tidak di kenal tersebut melarikan diri.

Akhir-akhir ini telah terjadi serangkaian peristiwa percobaan kejahatan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab di jalur tersebut. Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang sudah menimpa warga Dlingo di jalur tersebut. Jalur tersebut juga di indikasikan menjadi tempat faforit pasangan muda untuk berbuat mesum, dan minum-minuman keras.  Jalan yang relatif sepi dan jauh dari rumah penduduk serta tidak adanya penerangan jalan membuat jalur tersebut menjadi lahan yang empuk bagi para pelaku kejahatan. 

Harapan Warga Dlingo pada umumnya adalah agar Pemerintah membangun pos keamanan di tiga titik pada jalur Cino Mati tersebut. Titik pertama di lokasi paling bawah di sekitar Kampung, lokasi di tengah diujung tanjakan cino mati dan di paling atas berada di sekitar padukuhan kebokuning desa Terong. kebutuhan pos keamanan tersebut sangat diperlukan warga, karena jalur tersebut menjadi jalur vital bagi perekonomian warga Dlingo. Penerangan listrik, rambu-rambu lalu lintas serta pembatas besi untuk pengaman tebing merupakan kebutuhan mendesak saat ini. karena sudah 4 kali kejadian motor dan mobil masuk jurang di kawasan ini.

Harga Jahe di Pasaran Melambung, Warga Dlingo Tidak Binggung


Dlingo : Kr.Jogja: Melambungnya harga jahe sejak awal Ramadan lalu menimbulkan kepanikan di kalangan penjual ramuan jamu tradisional serta pedagang minuman wedang uwuh. Selain harganya mahal, barang tersebut juga sangat sulit ditemukan di pasaran.

Andaikata ada, jumlahnya sangat terbatas. Sementara Kecamatan Dlingo yang selama ini menjadi sentra pengembangan tanaman obat itu kini menurun produksinya. Eko Suciati pedagang wedang uwuh di Pundong Kecamatan Imogiri mengatakan, kenaikan harga jahe sudah di luar kewajaran. Sebelum Ramadan lalu harga pada kisaran Rp 18 ribu per kilogram.

Memasuki Ramadan naik lagi menjadi Rp 23 ribu per kilogram. Bahkan selepas Ramadan harga per kilogram menyentuh Rp 50 ribu. "Masing-masing penjual memang tidak menentukan harga, tetapi selisihnya tidak banyak," ujar Eko di Bantul.  Sedang Ny Suyadi pengembang tanaman jahe di Dusun Mangunan Desa Mangunan Dlingo Bantul menjelaskan, meski harga jahe setinggi langit. 

Namun pihaknya tidak bisa serta merta menjual secara besar-besaran. "Tidak mungkin kami jual semua, kami juga membutuhkan bibit musim tanam yang akan datang," jelasnya. Ny Suyadi mengungkapkan, luasan tanaman jahe sekarang ini memang tidak sebanyak sebelumnya. Terpisah Ketua Kelompok Tani Sumber Giri Dusun Kanigoro Dlingo Bantul, Wardani mengatakan, wilayahnya saat ini sudah tidak mengembangka tanaman jahe. Menurutnya tanaman ini sangat cocok di dataran tinggi. Tetapi lahan di wilayahnya sudah penuh dengan tanaman lainnya.

Pembinaan P2W-KSS di Desa Pakis dan Koripan Dlingo

Dlingo : PMD.Bantulkab : Untuk menghadapi Tim Evaluasi dari Propinsi DIY dalam rangka persiapan Lomba Program Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2W-KSS) pada tanggal 22 September 2011.Kantor PMD Kabupaten Bantul bersama Tim Pembina melaksanakan pembinaan di Desa Koripan dan Pakis Kecamatan Dlingo.

Kegiatan pembinaan di Desa Koripan dan Pakis dilaksanakan pada Rabu, 14 September 2011 sebagai kelanjutan dari pembinaan pada Kamis, 8 September 2011 di Balai Desa Dlingo. Kegiatan tersebut diikuti oleh Warga binaan P2W-KSS dan Kader, TP PKK tingkat Kecamatan & Desa, Tokoh masyarakat dari Desa Pakis dan Koripan Kecamatan Dlingo.

Bisnis Limbah Kayu Sono Keling Dan Mahoni Dari Dlingo

Dlingo : cessee.com : Salah satu industri kerajinan yang cukup terkenal dari Bantul adalah kerajinan kayu mahoni dan sono keling yang berasal dari daerah Dlingo. Suwardi merintis usaha Evia Craft sejak 1989 dan mulai mengembangkan ke pasar ekspor pada 2002. Usaha milik Suwardi ini mengolah kayu sonokeling dan mahoni menjadi berbagai macam kerajinan yang disukai konsumen lokal maupun luar negeri. Sampai saat ini, ratusan model telah diproduksi evia craft dengan memperhatikan selera dan perkembangan pasar. Evia craft mulai merambah pasar ekspor setelah bekerjasama dengan salah satu trading di Yogyakarta.

Produk evia craft telah mencapai puluhan jenis dengan berbagai macam model. Untuk lokal, evia craft memproduksi plakat piagam, dudukan piala, rekal, dan papan nama. Sedangkan untuk produk ekspor, evia craft memproduksi tempat lilin, kotak perhiasan, nampan, mangkok, piring, gelas, satu set teko, vas bunga dan tempat koran. Sono keling dan mahoni menjadi pilihan Suwardi karena serat dan warna kayu yang disukai konsumen luar negeri. Untuk memprrtahankan tampilan kayu, Suwardi menggunakan cat waterbase sehingga aman untuk produk peralatan makanan dan juga cat dengan campuran minyak.

Suwardi membeli bahan dari Dlingo berupa potongan-potongan kecil. Potongan tersebut didapat dari limbah mebel atau pemotongan sehingga harganya relatif lebih murah. Bahan kayu tersebut oleh suwardi dikombinasi dengan bahan lain yaitu kertas, bambu, rotan, fiber, kaca dan lain-lain menjadi produk bernilai jual tinggi. Produk evia craft untuk lokal mulai harga 35.000 hingga ratusan ribu sedangkan untuk produk ekspor mulai 15.000 hingga 250.000. Omset penjualan usaha ini perbulannya mencapai 30 – 35 juta dengan keuntungan 10%.

Pemasaran produk kayu ini untuk pasar lokal ke Jogja, Magelang, Semarang, Solo, Purwokerto, Bali, Jakarta dan Kalimantan. Suwardi juga memasarkan produknya bekerjasama dengan beberapa trading ke berbagai negara. Inggris, Amerika, Jepang, Jerman, Australia dan negara-negara di Asean rutin menjadi pasar ekspor dari evia craft. Menurut Suwardi, produk utuk ekspor tiap negara mempunyai standar kualitas masing-masing dimana Inggris memiliki standar tertinggi.

Proses produksi kerajinan ini melibatkan 14 tenaga kerja yang merupakan warga sekitar. Suwardi berharap usahanya ini menyerap lebih banyak tenaga kerja , namun terkendala keterbatasan peralatan dan kapasitas tenaga listrik. saat ini, dengan dibantu seluruh tenaga kerjanya evia craft menghabiskan kayu sekitar 15 kubik perbulan.

Warga Mangunan Geruduk PN Jogja

Dlingo : Harian Jogja :Ratusan warga Mangunan, Dlingo, Bantul memberikan dukungan kepada Jiyono dalam sidang pledoi lurah Mangunan tersebut di PN Kota Jogja. Sekitar 500 warga Mangunan yang menamakan diri sebagai forum masyarakat Mangunan memadati teras kantor Pengadilan Tipikor Kota Jogja. Mereka datang untuk memberikan dukungan kepada Jiyono Ihsan menghadapi persidangan tindak pidana korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi bencana gempa bumi di Bantul.

Sesuai agenda persidangan, siang ini Jiyono dijadwalkan mengikuti agenda pledoi atas kasus yang disangkakan kepadanya pada tahun 2007 itu. Pada persidangan sebelumnya, Jiyono dituntut hukuman penjara selama tiga tahun atas kasusnya itu. Jiyono dinilai bersalah dalam melakukan pengelolaan dana rehab rekon pasca gempa di Bantul. Jaksa menilai negara menderita kerugian hingga Rp2,08 miliar atas kasusnya tersebut.

Ratusan warga juga melakukan orasi menuntut pembebasan lurah Jiyono. Sigit handoko warga Mangunan berujar, aksi warga itu dilakukan meyakini Jiyono lurahnya yang telah memimpin desa Mangunan selama delapan tahun ini tidak bersalah. "Kami meyakini kalau bapak (Jiyono) tidak bersalah, makanya kami memberikan dukungan supaya bapak dapat dibebaskan.

Off Roader Se-Jogja Adakan Syawalan Di Dlingo


Dlingo : mobil.otomotifnet.com : Suasana akrab dan kekeluargaan hadir di kebun buah Mangunan, Dlingo, Bantul,.Hari itu Jogjakarta Land Cruiser Club (JLCC) adakan syawalan sejumlah anggota 'turun gunung'. Sekalian pengukuhan pengurus periode 2010-2012 . Komunitas maniak jip ini sudah berusia 8 tahun, tepatnya berdiri sejak 18 Oktober 2002. Bisa disebut juga kalau JLCC menaungi banyak off-roader senior asal Kota Gudeg.

“Kami fokus kegiatannya seperti bakti sosial, keakraban dan dukung pariwisata Yogyakarta dengan bekerja sama dengan IOF pengda Yogyakarta dan rekan klub jip lain," ujar Bremono, ketum baru JLCC. Saat ini anggota JLCC ada sekitar 92 orang. Sebagai penghangat saat acara syawalan, digelar kontes jip dengan 4 kelas; Standar (orisinal), Vintage (klasik), Custom (modifikasi), dan kelas bobrok.

Pemenangnya, untuk kelas Standar diperoleh Sunu, Vintage dicapai oleh Bremono, kelas Custom (modifikasi) dipegang oleh Idek. ,Satu lagi, kelas bobrok dimenangkan Anto. Sebetulnya jip Anto itu enggak bobrok, terlihat orisinal namun kondisinya beberapa bagian bodi terlihat kropos dan catnya kusam.

Supardiyanto Mangunan Adu Nasib Jual Selongsong Ketupat

Dlingo : KRjogja.com - Para pedagang selongsong ketupat di Pasar Giwangan, Kota Yogyakarta mengeluhkan penurunan pendapatan akibat banyaknya bermunculan pedagang serupa sehingga membuat persaingan maikin ketat.

Menurut Pedagang selongsongan ketupat, Supardiyanto menjelaskan pembeli tahun ini berkurang diandingkan tahun lalu dan munculnya pesaing baru.

"Setiap tahun, saya berjualan sejak H-2 sore hingga H-1 sore. Biasanya berjualan sehari semalam dapat sekitar Rp. 200 ribu. Tapi hingga saat ini baru dapat sekitar separuhnya. Kelihatannya bakal kurang dari pendapatan tahun lalu," ujarnya ketika diwawancara menjelang tengah hari ini (29/8).

Ia menjelaskan, seikat dagangan berisi 10 selongsongdijual Rp 3- 4.000. Setiap menjelang lebaran, pria asli Dlingo Bantul ini selalu menjual sekitar 500 selongsong ketupat, yang janurnya diperoleh dari kebun kelapa miliknya sendiri.

"Tahun ini saingannya bertambah, jadi pendapatan berkurang. Kalau nanti tidak habis dijual ya terpaksa dibuang, tidak masalah," pungkas pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh ini.

Sulut petasan di depan Polsek, 2 warga diamankan

Dlingo : Radar Jogja : Baharudin,16, dan Anom Subroto, 21, warga Kebosungu, Dlingo nekat bermain petasan di depan Mapolsek Dlingo. Gerah dengan perbuatan dua orang itu, polisi meringkusnya.

Baharudin dan Anom awalnya mondar- mandir dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Force AB 4358 VD di depan Mapolsek Dlingo. Sekitar pukul 18.45 WIB, tiba- tiba mereka berhenti dan menyalakan petasan berukuran besar lalu kabur.

Polisi lalu mengejarnya dan berhasil menangkap kedua pelaku tersebut. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan 12 petasan berukuran besar dan satu ons bubuk mesiu yang rencananya akan digunakan membuat petasan sendiri.

Hingga berita ini diturunkan, sumber Harian Jogja mengatakan kedua pelaku hanya mendapatkan teguran dari polisi, sementara motor dan petasa.

Koruptor Bantuan Gempa Yogyakarta Dituntut 3 Tahun Penjara


Dlingo : kejaksaan.go.id : Terdakwa kasus korupsi dana rekontruksi rumah pascagempa di Bantul, Yogyakarta, Jiyono Ihsan, dituntut 3 tahun penjara.“Ya, terdakwa dituntu 3 tahun penjara,” ujar Jaksa Penuntut Umum Christina Rahayu, saat dikonfirmasi.

Selain itu, jaksa juga menjatuhkan pidana denda terhadap terdakwa sebesar Rp 200 juta subsider enam bulan penjara. Lurah Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini juga dibebani untuk membayar uang pengganti seebesar Rp 249.462.750 subsider 1 tahun 6 bulan penjara.

Mejelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi Yogyakarta menunda sidang rsebut hingga tanggal 6 Septmber 2011 mendatang edngan agenda pembacaan pledoi.  (Sumber: Tim Redaksi Website Kejaksaan RI/Kejari Yogyakarta)

Tipikor Seriusi Dugaan Korupsi Dakons Temuwuh

Dlingo : Radar Jogja : Baru dibentuk sekitar delapan bulan yang lalu, tim pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Bantul langsung tancap gas melaksanakan tugasnya. Beberapa dugaan kasus korupsi mulai dibidiknya. Jika sebelumnya melakukan pengusutan terhadap dugaan praktek pungutan liar (Pungli) di sejumlah sekolah negeri di wilayah Bantul, kini penyidik Tipikor Polres Bantul juga tengah melakukan penyidikan dugaan korupsi dana rekonstruksi (Dakons) yang terjadi di Desa Temuwuh Dlingo.

Penyidikan terhadap kasus Dakons ini sudah dimulai sejak Mei lalu. Kasus ini ditindaklanjuti penyidik Tipikor, setelah ada laporan sejumlah warga setempat yang menyatakan ada dugaan korupsi pada saat pencairan dana rekonstruksi pada 2007. Korupsi atas kasus ini diduga dilakukan oleh oknum perangkat desa setempat atau tim desa. Modusnya, empat orang yang menjadi terlapor tersebut melakukan pemotongan dakons milik warga setempat yang terdiri 36 kelompok masyarakat (Pokmas).

“Pengusutan kasus dugaan korupsi dana rekonstruksi ini bermula dari laporan warga,” kata Kepala Unit (Kanit) Tipikor Polres Bantul Ipda Hartono SH kepada Radar Jogja, kemarin (24/8). Sampai saat ini, penyidik tim pemberantasan Tipikor Polres Bantul sudah memeriksa 15 orang dari 36 orang anggota Pokmas. Sebanyak 15 orang yang diperiksa penyidik tersebut statusnya sebagai saksi, termasuk empat orang terlapor yaitu Puryatno, Mukidi, Nardi dan Tumiran.

“Anggota pokmas yang sudah diperiksa sebanyak 15 orang, mereka berstatus sebagai saksi. Termasuk terlapornya empat orang itu pun statusnya masih sebagai saksi, belum tersangka,” tandas Hartono.
Dari hasil penyidikan tim Tipikor tersebut, diperkirakan kerugian negera mencapai Rp 800 juta. Kerugian negara itu terjadi karena tim desa berjumlah empat orang tersebut diduga melakukan pemotongan dana rekonstruksi yang ada di 36 kelompok masyarakat.  Hartono menjelaskan, penyidikan kasus dugaan korupsi di Desa Temuwuh ini merupakan bagian dari kasus korupsi sebelumnya yang telah disidik oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul dan sudah diputus oleh Pengadilan Negeri (PN) Bantul dengan terdakwa lurah Temuwuh Dlingo Basuki.

“Yang disidik kejaksaan kerugian negarannya kan hanya Rp 800 juta. Padahal, total kerugian negara diperkirakan Rp 1,6 miliar. Lha, yang kita sidik ini sisanya itu yang Rp 800 juta,” tegas Hartono. Saking banyaknya saksi yang harus diperiksa, secara maraton tim penyidik Tipikor memeriksa para saksi yang berasal dari 36 anggota Pokmas. Hartono menargetkan, November mendatang kasus dugaan korupsi yang merugikan keuangan negara tersebut akan selesai. “November ditargetkan selesai dan siap diserahkan ke kejaksaan,” jelas Hartono.

Tanjakan Kaliurang Dlingo Kembali Memakan Korban

DLINGO: Radar Jogja : Sebuah bus terguling di jalan tanjakan Dusun Seropan, Muntuk, Dlingo sekitar pukul 14.30, kemarin (15/8). Tujuh orang penumpang bus mengalami luka-luka dalam kecelakaan itu. Tiga korban dibawa ke RS PKU Bantul. Selebihnya dibawa ke RS Nur Hidayah, Jalan Imogiri Timur dan dirujuk ke PKU Muhamadiyah Jogja. ’’Penumpangnya ada 20, padahal kapasitas busnya 16 orang. Ini melanggar peraturan dan bisa dikenai denda,’’ kata Kanit Laka Polres Bantul Ipda Amir Mahmud di lokasi kejadian, kemarin.


Amir menuturkan, Bus Mahardika berplat AB 7258 AH adalah bus trayek Imogiri - Jogja yang disewa para penumpang untuk melayat ke Dlingo dan hendak pulang ke Wukirsari, Dlingo. Bus terguling di jalan mendaki di tengah hutan sekitar 5 kilometer dari Pasar Dlingo. Saat itu, bus sedang berjalan mendaki. Sopir Poniman, 52, menggunakan gigi dua. Karena tidak kuat, Poniman mengoper ke gigi satu, tapi gagal. Akhirnya, kata Amir, bus mundur sejauh 10 meter dan menabrak tebing di sebelah kanan jalan. Setelah menabrak tebing, bus terguling dengan posisi kepala bus berada di atas hingga hampir masuk jurang di sebelah kiri.

Suara benturan bus yang keras mengundang warga sekitar berdatangan dan mengeluarkan penumpang dari bus. ’’Untungnya ada pembatas jalan di sebelah jurang,’’ ujar Amir sambil menunjuk pembatas besi jembatan yang penyok akibat terbentur bus. Hingga kemarin, belum bisa dipastikan apa penyebab mundurnya bus tersebut. Tetapi, kata Amir, ada beberapa kemungkinan. Pertama, karena kendaraan memang tidak layak jalan. Kedua, sopir tidak tahu medan.  Amir menyayangkan di sepanjang jalan menanjak tersebut tidak ada rambu-rambu penanda medan. ’’Sebaiknya di sini ada rambu jalan menanjak juga rambu peringatan harus menggunakan gigi berapa, karena ini cukup terjal,’’ sarannya.

Amir menambahkan, hingga pukul 18.30 kemarin, satu orang yang mengalami gegar otak masih dirawat di PKU Muhamadiyah Jogja. Tiga korban lain yang mengalami patah kaki dan tangan dirawat di PKU Muhamadiyah Bantul, sedangkan dua korban lain yang juga mengalami luka serius dirawat di Rumah Sakit Nur Hidayah. Evakuasi bus berlangsung sekitar 2 jam mulai dari pukul 15.00 - 17.00. Bus tersebut pun dilangsung diderek ke Polres Bantul. Sedangkan sopir Poniman dibawa ke Polres Bantul untuk diperiksa lebih lanjut. Poniman yang juga warga Wukirsari mengaku, kecelakaan itu baru pertama kali dialaminya. Dia menuturkan, bus tersebut adalah miliknya pribadi. ’’Ada saudara tetangga meninggal di Dlingo jadi bus saya disewa,’’ ujar pria yang sudah menjadi supir selama 10 tahun itu saat ditemui di Polres Bantul.

Kebun Buah Mangunan Terpilih sebagai Lokasi Konservasi Elang

Dlingo : nationalgeographic.co.id ;Konservasi elang bakal jadi kenyataan pada 2011 ini. Komunitas pemerhati elang Raptor Club Indonesia (RCI) berencana melatih dan memelihara elang di kawasan wisata Kebun Buah Mangunan, Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Area seluas tiga hektare milik kawasan wisata tersebut akan digunakan untuk konservasi elang jenis brontok, jawa, dan ular.  Pendiri RCI Leonardus Kabul Sumarto Budiprakoso mengaku prihatin dengan kehidupan burung pemangsa tersebut. "Populasinya kian menurun karena sempitnya lahan, perdagangan, tidak adanya perhatian, serta faktor alam sendiri," jelasnya.

Kebun Buah Mangunan cocok sebagai tempat konservasi karena merupakan tempat ideal dan jalur lintas migrasi. Dalam kegiatan konservasi, RCI akan melakukan beberap program, seperti melatih kemampuan berburu, melatih terbang, memelihara, hingga mengembangbiakkan elang. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY Herry Subagiadi mengaku antusias pada komunitas RCI yang ingin melakukan konservasi terhadap elang. Pasalnya, konservasi elang di Indonesia masih sangat minim dilakukan.

Herry belum bisa memastikan waktu perwujudan konservasi. "Masih ada prosedur yang belum tuntas dilakukan," katanya. Kebun Buah Mangunan yang memiliki luas 23,4 hektar rencananya akan dijadikan objek wisata andalan Kabupaten Bantul Yogyakarta. Sayangnya objek wisata ini sedang terkendala masalah akses jalan yang rusak. Oleh karena itu pemerintah setempat sepakat untuk memperbaiki kawasan tersebut, satu di antaranya adalah membangun lahan untuk konservasi binatang pemangsa.

Pemulangan jenazah Ninik Al Mutaqin 'Ngatini' TKI Asal Dlingo


Dlingo : alindaagency ; Kabar meninggalnya Ninik Al Mutaqin alias Ngatini, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Dusun Gayam, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), langsung direspon cepat oleh Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Yogyakarta.

Kepala BP3TKI Yogyakarta, Munir SH, yang dihubungi melalui selularnya membenarkan, mengenai kabar meninggalnya Ninik Al Mutaqin alias Ngatini itu. TKI yang bekerja sebagai Penata Laksana (pembantu) Rumah Tangga (PLRT) ini dilaporkan meninggal di Malaysia pada 3 Juni 2011 lalu, karena serangan penyakit jantung.

Dikatakan Munir, informasi meninggalnya Ngatini ini baru diketahui pada Rabu (20/07) kemarin, dari surat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Pada Kamis (21/07) kemarin, kata Munir menambahkan, pihaknya juga mendapatkan laporan dari Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja Disnakertrans Bantul, Bambang Sugiyantoro, mengenai kabar meninggalnya Ninik tersebut.

Informasi meninggalnya Ninik yang bekerja di Malaysia ini tidak terdapat dalam data di Disnakertrans Bantul. Sebab itu, mereka kemudian menanyakan ke kantor BP3TKI Yogyakarta . “Kami juga telah mengirimkan data-data identitas asli Ngatini ke ke KBRI di Kuala Lumpur untuk memastikan bahwa TKI yang meninggal itu apakah cocok dengan identitas Ngatini. Jika sudah benar, berikut agar bisa diproses perizinan kepulangannya,” kata Munir. Pihak keluarga Ngatini di Bantul, tidak banyak memasalahkan mengenai kabar kematian Ngatini ini. Hanya saja, jenazahnya diharapkan segera dipulangkan untuk segera dikebumikan pihak keluarga di kampung halamannya.

8.000 Ha palawija di Jatimulyo mati

Dlingo : Harian Jogja : Kekekringan di Desa Jatimulyo Dlingo, kian meluas. Sedikitnya 8.000 hektare tanaman palawija mati lantaran tak ada air. Peternak pun terpaksa membeli pakan rumput hingga ke wilayah Sleman.

Paimo, Kepala Desa Jatimulyo, Dlingo  mengungkapkan, matinya tanaman palawija tersebut mulai terjadi sejak dua bulan terakhir. Sebelumnya pada awal kemarau Juni lalu, hanya tanaman padi milik petani yang mati atau batal disemai karena air mengering. Petani lalu menggantinya dengan palawija seperti jagung, singkong dan kacang. Namun ternyata, tanaman palawija itupun tak kuat bertahan.

“Totalnya se-Jatimulyo sampai 8.000 hektare. Kalau pohon-pohon masih hijau daunnya, tapi kalau palawija mati semua,” ungkapnya.

Kekeringan terjadi di lahan tadah hujan maupun irigasi dan merata di seluruh dusun di Jatimulyo. Kalau pun ada wilayah yang masih mendapat air. kata Paimo, paling lahannya hanya seluas 10 hektare. Wilayah tersebut merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS). Di luar itu, sungai-sungai kecil sudah mengering, sementara air yang ditampung petani juga sudah habis.

“Kalau apakai irigasi airnya juga enggak bisa dialirkan, karena kondisi lahannya kan naik turun,” tuturnya. Beruntung, menurut Paimo, warga desanya kebanyakan juga bekerja di mebel. Sehingga walaupun paceklik ekonomi di bidang pertanian, sebagian masyarakat masih dapat bertahan.

Kisah Sukses UPFMA Desa Terong, Kec. Dlingo

Dlingo : bkppp.bantulkab : Desa Terong, salah satu desa di Kecamatan Dlingo yang terletak 25 km dari ibukota Kabupaten Bantul, meski berada di wilayah pelosok perbukitan namun masyarakatnya sangat bersemangat dalam kegiatan pengelolaan dan pembelajaran pertanian khususnya UP FMA. Pada 19 April 2008 melalui rembug tani Desa Terong dibentuklah UP FMA Desa Terong dengan pengurus Ketua: Sukamdam, Sekretaris: Rubikem, Bendahara : Ngadiyono. Penyuluh Swadaya : Yono Prayitno dan Wahyuti.

Kegiatan pembelajaran UPFMA diawali 2008 dengan topik pengolahan pisang, pembibitan buah-buahan, pembuatan bokhasi, dan temu usaha jagung. Kendalanya peralatan yang kurang, dibantu oleh JRF-IOM sehingga mendorong peningkatan produksi criping pisang dan jenis makanan olahan yang lain. Sampai saat ini produksi criping pisang mencapai 800 kg/bulan dengan harga jual Rp. 25.000,-/kg (harga total penjualan Rp.20.000.000,-/bulan). Pengolahan pisang menjadi criping ditindaklanjuti seluruh peserta pembelajaran dengan produksi 20 kg/bulan (Rp. 10.000,-/kg). Meningkatnya permintaan produk tersebut berdampak pada peningkatan mutu kemasan dan pemberian merek NIKIMON (kependekan dari NIKI MAWON = INI SAJA). Dengan merk tersebut pemasaran bertambah meningkat, dan mulai dibuka outlet di pasar desa setempat, juga kemitraan secara tertulis dengan Cokrotelo-Yogya, Asosiasi pasar tani DIY, Mirota dan Miranda Supermarket, Tomi swalayan Bantul, Progo swalayan Yogya.

Kegiatan 2009 berupa pembelajaran penggemukan sapi, pembuatan ransum ternak dan pembuatan pupuk cair serta temu usaha. Aplikasi pembuatan ransum pada ternak masing-masing meningkatkan berat badan sapi 30-45 kg/bulan. Di samping itu kegiatan pembuatan pupuk cair juga dilaksanakan bersama-sama di lokasi kandang Kelompok Sedyo Rukun, Pedukuhan Terong-I. Pada 2010 berlanjut dengan topik pembelajaran perkandangan sapi, diversifikasi pakan, pembuatan starter bokhasi dan pengembangan jaringan usaha kemitraan. Peserta kemudian memproduksi pakan sapi (multi feed) tahap I sebanyak 4300 kg, dan dijual dengan harga Rp 2000,-/kg. Diproduksi pula starter bokhasi sebanyak 210 liter dengan harga Rp. 10.000,-/liter.
Peranan Kepala Desa dan pemerintah desa Terong dalam mendukung keberhasilan UPFMA sangat besar, antara lain membantu menyewakan toko (outlet) produk Nikimon, membantu desiminasi teknologi melalui siaran pedesaan (radio MSF-FM), dan membantu mencarikan pasar bagi produk KUB-FMA. Dengan adanya pembelajaran FMA, 88 orang (dari 110 orang) anggota KUB-FMA yang pernah kerja di Jakarta memilih tidak kembali ke Jakarta namun menjadi manajer industri olahan pangan di desanya sendiri. (PM)

Pak Godam pengabdian sepanjang masa


Dlingo : badakdlingo2 : Menjelang Ulang tahun yang ke 24 Puskesmas Dlingo II tanggal 17 Juli 2011, ada prestasi yang diraih oleh salah seorang petugas yaitu Bpk Godam W, sebagai juara ke 2 nutrisionis teladan tingkat provinsi DIY.

Setelah perjuangan selama ini akhirnya datang juga apresiasi terhadap kinerja beliau setelah team penilai dari Dinas kesehatan Propinsi DIY melakukan evaluasi Tenaga Kesehatan Teladan 2011 tingkat propinsi DIY.

Pak Godam mengangkat program unggulan Peranan Nutrisionis dalam rangka meningkatkan cakupan ASI eksklusif melalui kegiatan KP Ibu yang dipaparkan dihadapan para juri pada tanggal 13 Juni 2011 di aula Puskesmas Dlingo II.

Selamat pak Godam anda ada di hati masyarakat dlingo....

Informasi Proyek Pemda bantul Di Dlingo


Dlingo : Ada beberapa pelaksanaan pembangunan yang menyasar di dlingo, namun apabila dilihat dari besarnya anggaran maka dlingo termasuk mendapatkan pagu anggaran yang relatif lebih sedikit di bandingkan kecamatan lain di Kabupaten Bantul. Berikut adalah beberapa informasi tersebut :

1. Pengembangan produksi ramah lingkungan dengan paket pekerjaan pembangunan IPAL Biogas dengan nilai pagu : Rp. 282.562.250 lokasi di Dlingo namun secara spesifik kalau ada yang tahu bisa kasih masukan di tab komentar.
2. Penyediaan sarana dan prasarana persampahan dengan paket pekerjaan pengadaan alat angkutan darat sepeda motor roda 3 pengangkut sampah dengan pagu anggaran Rp. 20.500.000,- lokasi juga belum jelas, namun cuma ada 2 pasar yang memenuhi syarat untuk pengadaan tersebut.
3. Pengadaan perlengkapan tas pengelolaan pengolahan sampah prinsip 3 R berupa pengadaan komposer sampah dengan pagu Rp.1.566.176,-.
4. Pengadaan tong sampah Rp. 4.588.235,-
5. Pengadaan Komposer sampah Rp. 3.529.411,-
6. Penggunaan Alat Peraga Rp. 150.327.176,-
7. Pengadaan TIK Rp.64.705.882,-
8. Rehab jalan pemeliharaan jaringan  irigasi, di desa Terong dengan nilai pagu Rp. 264.000.000,-
9. Paket I Pembangunan Jln. Lingkungan Belakang Kecamatan menuju SMA (Dlingo), DPU (Dinas Pekerjaan Umum) Kabupaten Bantul Rp. 252.077.000,-

Bebereapa Siswa Dlingo Direkomendasikan ikuti Kejurprov Catur Tingkat DIY

Dlingo : percasibantul : Siswa Kampus Hijau MTSN Pundong Rafi Kurniawan tampil sebagai juara dalam Kejurkab Catur Yunior Kelompok Putra, setelah di babak terakhir berhasil mengalahkan Nanang Abdurrahman Wakhid dari SMKN Pundong. Rafi mengakumulasi 4,5 poin mengungguli Omar Saddam dari Kasihan yang sama poinnya namun kalah solkof, dan harus puas di urutan ke-2 disusul peringkat ke-3 Syariful Huda dari MI Ma`arif Kediwung Dlingo. Sementara di bagian putri tampil sebagai juara 1 Denas Pangesti dari SMA 1 Bantul dengan poin 4,5 , disusul Trisna Ferani Putri dari SMPN 1 Bantul dengan 4 poin dan urutan ke 3 Shinta Putri Megawati dari Jetis dengan 4 poin.

Menurut Sekum Pengkab Percasi Bantul Drs. Sutanto Kejurkab Catur Yunior diikuti oleh 87 peserta terdiri 34 putri dan 53 putra se Bantul, berlangsung pada hari Minggu, 26 Juni 2011 bertempat di BKK,PP dan KB kabupaten Bantul dipimpin Wasit Tri Mulyadi menggunakan sistim swiss 5 babak catur cepat 25 menit. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, pertandingan dikelompokkan Yunior A,B,C,D, Yunior E dan Yunior F,G meski dalam per kelompok tetap diberikan trophy tetap dan uang pembinaan bagi sang juara 1, 2 maupun 3.

Hasil dari Kejurkab akan direkomendasikan untuk mengikuti Kejurprov Catur tingkat DIY yang akan berlangsung 17 Juli mendatang di gedung Koni DIY.

ADAPUN HASIL SELENGKAPNYA ADALAH :

KELOMPOK PUTRA : Yunior A. M. Agus Sholikhan (MAN Wonokromo) Yunior B. 1.Nanang Abdurrahman Wakhid (SMKN Pundong) 2.Marga Tramuna B (MAN Wonokromo) Yunior C. 1.Angga Wisnu Laksana (SMKN Pundong) 2.M.Naufal, ZM (SMPN 1 Plertet) 3.M.Irfan Faziri (MTs Al Falah) Yunior D 1.Rafi Kurniawan (MTsN Pundong) 2.Omar Saddam Bhamakerti (Kasihan) 3.Syariful Huda (MI Ma`arif Kediwung) Yunior E. 1.Syaiful Ikhsan (SD Priyan Bantul) 2.Pinta Atmaja Darma Suta (SD Payak Piyungan) 3.Fani Irawan (SD Sukorame Dlingo) Yunior F. 1.Julio Pasetyo Wibowo (SD Payak Piyungan) 2.Gantang Akbar (SD Bantul Manunggal) 3.Ihsan Purnama Jaya (SD Seropan Dlingo) Yunior G. 1.Garin Raka Winata (Bantul) 2. Gavin Ata Wisesa (SDIT Ar Raihan).

KELOMPOK PUTRI : Yunior A. Shinta Putri Megawati (Jetis )Yunior B. 1.Denas Pangesti (SMAN 1 Bantul)2.Mega Anastasia (MAN Wonkokromo) 3.Pebriarti Riski Ramdhani (SMAN 1 Bantul) Yunior C. 1.Dwi Sri Hartinah (SMPN 2 Dlingo)2. Melarisa Eka Yulianti (SMPN 4 Pandak) Yunior D  : 1.Trisna Feranji Putri (SMPN 1 Bantul) 2.Nadia Heryani Putri (SMPN 3 Bantul) 3.Intan Heryani Putri (SMPN 1 Bantul),Yunior E. 1.Titiek Nur Kholidah (SD Manding Tengah Bantul) 2.Siti Aisyah Denti R (SD Sukorame Dlingo)3.Naning Sri Utami (SD Sukorame Dlingo) Yunior F :   2.Rizki Kurniawaqti (SD Sukorame Dlingo ) 3.Oktavia Rokhayatun (SD Sukorame Dlingo )Yunior G 1.Raras Kusumaningrum (SD Sukorame Dlingo) 2. Nabella Nourool M (SD Brajan Pleret).

Semua SD di Dlingo Tak Penuhi Kuota


DLINGO: KRjogja.com) : Puluhan sekolah dasar (SD) Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Dlingo kekurangan murid. Kondisi hampir sama juga terjadi di jenjang SMP/MTs. Dari sembilan sekolah jenjang SMP di Dlingo, hanya satu yang mampu memenuhi kuota, sisanya hingga pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB ) ditutup, ratusan kursi masih kosong mlompong. Bahkan MI Kediwung berdaya tampung 32 murid, hanya terisi empat pendaftar.

Data Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Pendidikan Dasar (PPD) Kecamatan Dlingo menyebutkan, daya tampung jenjang SMP/MTs di Dlingo sebanyak 648 murid. Sementara untuk SD/MI yang berjumlah 27 sekolah dengan kuota 960. Kenyataannya berkata lain, hingga pelaksanaan PPDB rampung, jenjang SD hanya meraup 433 murid, sedang SMP 503 siswa. Kepala UPT PPD Kecamatan Dlingo, Slamet Pamuji MPd, Selasa (5/7) mengakui, dari banyak sekolah di wilayahnya hanya segelintir yang mampu memenuhi kuota. Dijelaskan, untuk jenjang sekolah lanjutan pertama, hanya SMPN 1 Dlingo yang kuotanya penuh. Sisanya dipastikan banyak kursi kosong lantaran tiada pendaftar.

"Lulusan SD/MI tahun ajaran 2010/2011 di Kecamatan Dlingo sebanyak 550 murid, padahal kursi yang tersedia jenjang SM/MTs jauh di atasnya, (648-red), otomatis kuota itu sangat sulit terpenuhi," jelas Slamet. Slamet mengatakan, banyaknya kursi kosong baik jenjang SD/MI dan SMP/MTs, banyak faktor mempengaruhi, antara lain, tidak adanya calon siswa (casis) luar Kecamatan Dlingo mendaftar. Tetapi sebaliknya banyak lulusan sekolah di Dlingo justru sekolah di luar, baik di Imogiri, Pleret, Piyungan. Bahkan ada juga siswa dari Dlingo mendaftar di SMPN 1 Bantul.

"Dari luar Kecamatan Dlingo saya belum mendapat laporan ada yang masuk, tetapi sebaliknya dari sini banyak mendaftar di luar," ujarnya. Tidak mungkina orang Imogiri mencari sekolah di Dlingo, atau dari Piyungan sekalipun. Meski sekolah banyak yang kekurangan siswa, tetapi proses kegiatan belajar tetap berlangsung. Ia mengatakan, banyaknya SD yang tidak mampu memenuhi kuota bukan karena siswanya tidak sekolah. Tetapi karena memang warga usia SD terbatas. "Artinya program KB di Dlingo berhasil," jelasnya.

KOPDIT ADIL Terong Terima penghargaan Tanda Jasa Bhakti Koperasi

Dlingo :BANTUL (KR) : 480 Koperasi di DIY dari total koperasi di DIY yang berjumlah 2.410 koperasi,  tidak menjalankan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan fungsinya. "Dari koperasi-koperasi di DIY itu ada yang menjalankan RAT dan ada yang tidak. Saat ini kami sedang lakukan pendataan kepada koperasi-koperasi yang bermasalah untuk melakukan pencabutan badan hukumnya," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY Astungkoro usai upacara memperingati Hari Koperasi Nasional ke-64 tingkat Provinsi DIY, Sabtu (16/7) di Lapangan Trirenggo Bantul.

Menurutnya, dari beberapa koperasi itu ada yang mengatasnamakan BMT. Mereka tidak menjalankan prinsip-prinsip koperasi, yaitu dari, oleh dan untuk anggota, sehingga anggota tidak bisa melakukan pengawasan terhadap jalannya koperasi. "Kalau yang tercatat di DIY itu ada 60 BMT dan itu jalan semua. Tapi ada yang berbadan hukum pusat, provinsi dan kabupaten. Untuk BMT yang kurang sehat ada 4 BMT, 3 diantaranya berada di luar DIY," ujarnya. Sedangkan Plt Sekda DIY Drs Ichsanur selaku Inspektur Upacara pada Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-64 tahun 2011 Tingkat Provinsi DIY saat membacakan sambutan Gubernur DIY, mengajak para insan penggiat koperasi di DIY untuk senantiasa meningkatkan kerja sama, semangat kesetiakawanan, kekeluargaan dan kebersamaan sebagai jati diri gerakan koperasi dan jati diri bangsa.

"Mari kita terapkan nilai-nilai keteladanan yang diajarkan Bapak Koperasi Indonesia almarhun Bung Hatta, yaitu persaudaraan, gotong royong dan kemandirian dalam gerakan koperasi di tanah air Indonesdia," katanya.  Menurut Sri Sultan HB X, Indonesia harus siap menyongsong pencanangan tahun 2011 mendatang sebagai Tahun Koperasi se Dunia oleh PBB. Dengan membangkitkan dan merevitalisasi gerakan koperasi pada ranah pembangunan ekonomi."Kita bersama-sama melakukan perbaikan manajemen atau tata kelola dan iklim usaha ke arah yang lebih baik, untuk meningkatkan daya saing dan kinerja koperasi di tengah pertumbuhan ekonomi yang begitu kompetitif," tegasnya.

Peringatan Hari Koperasi di DIY tahun ini menjadi lebih istimewa dibanding tahun sebelumnya. Karena tahun ini Pemprov DIY dan juga Pemkot Yogyakarta, Pemkab Bantul dan Sleman mendapat penghargaan sebagai penggerak Koperasi tahun 2011. Tahun ini dari DIY yang menerima penghargaan Tanda Jasa Bhakti Koperasi oleh Menteri Koperasi dan UKM yakni Bupati Banjul Hj Sri Surya Widati, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSi, Tokoh gerakan Koperasi Sleman Drs Kasarah Budi Hartono, Tokoh Koperasi Kulonprogo Drs H Barjo dan Kepala SMK Koperasi Yogya Sutarmi Praha.  Koperasi berprestasi tingkat Nasional dari DIY, Primkopau Adisutjipto, Primkop UPN , KSP Kopdit Adil Dlingo Bantul dan Koperasi Cinta Manis Pendowoharjo Sewon Bantul. Pada upacara kemarin juga diserahkan piagam dan hadiah kepada para pemenang lomba Koperasi dalam rangka hari Keperasi ke-64 se Provinsi DIY.

DESA TERONG MASUK VERIFIKASI TELADAN NASIONAL 2011

Dlingo : bkpp.jogjaprov.go.id : Yogyakarta. Sebagaimana agenda tetap tahunan Kementerian Pertanian dalam hal ini Badan Pengembangan Penyuluhan dan SDM Pertanian (BPPSDMP) melaksanakan pemilihan Teladan Nasional Tahun 2011. Pada Tahun 2011 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2011 saat ini, disamping Penyuluh Pertanian dan Petani, BPPSDMP juga memilih Penyuluh Swadaya, Gapoktan, dan UP-FMA Teladan Tingkat Nasional.

Pada tahun ini verifikasi oleh Tim Kementerian Pertanian dilaksanakan pada tanggal 27 s/d 29 Juni 2011. Wakil DIY yang diverifikasi berdasarkan 5 kriteria tersebut adalah :

I. Gapoktan

a. Gapoktan Sidomulyo ; Sidomulyo, Godean, Sleman
b. Gapoktan Amongkismo; Terong, Dlingo, Bantul
c. Gapoktan Ngudirejo, Pendoworejo, Girimulyo, Kulonprogo
II. UP.FMA

a. UP.FMA Terong, Terong, Dlingo, Bantul
b. UP. FMA Sidomulyo, Sidomulyo, Pengasih, Kulonprogo
c. UP.FMA Plembutan, Plembutan, Playen, Gunungkidul

Dari masing-masing kategori tersebut akan dipilih masing-masing 1 Penyuluh PNS, 1 Penyuluh Swadaya, 1 Petani, 1 UP.FMA, dan 1 Gapoktan yang akan ditetapkan sebagai Teladan Nasional Tahun 2011. Hasil Verifikasi akan diumumkan melalui website BKPP DIY setelah diputuskan oleh Tim Kementrian Pertanian RI.

Sekolah Lapangan Petani Muda Jatimulyo

Dlingo :jatimulyo.com : Forum Pengembangan Ekonomi Lokal (F-PEL) desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dimotori oleh sebagian besar kaum muda, telah menyusun rencana strategis (renstra) di bidang pertanian untuk wilayah Jatimulyo, dimana garis besarnya adalah mengembangkan teknologi produksi pertanian dan mengembangkan keanekaragaman pangan lokal serta industri pengolahan pangan yang bernilai ekonomi tinggi, guna mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan berkelanjutan.

Sebagai awal implementasi renstra di bidang pertanian itu F-PEL Jatimulyo bekerjasama dengan LSM Daya Annisa Yogyakarta, GIZ, UNDP, Joglo Tani Sleman, dan Dipertahut Kabupaten Bantul telah mengadakan pelatihan dan sekolah lapangan pertanian secara intensif sejak bulan Maret sampai dengan Juni 2011. Pelatihan dimaksud untuk transfer ilmu dan teknologi pertanian bagi kalangan generasi muda dan kelompok tani yang ada di desa Jatimulyo. Kegiatan tersebut secara tidak langsung menjadi sarana yang efektif untuk menggerakkan generasi muda “kembali ke sawah”. 
 
Hal ini terbukti dengan antusiasnya para peserta mengikuti pelatihan dari awal sampai selesai. Berbagai ilmu dan pengalaman baru yang didapat selama tiga bulan pelatihan diantaranya : pertanian organik, pembuatan pupuk dan insektisida organik, pembuatan nutrisi ternak, teknik pengawetan pakan ternak dan manajemen pertanian. Kini bagi generasi muda desa Jatimulyo, tidak lagi alergi dengan istilah tani atau pertanian, karena dengan pendekatan dan teknologi yang tepat pertanian menjadi sesuatu yang menarik, disamping akan menjadi kebutuhan dasar dan semua kalangan dari lintas generasi, karena pertanian yang sejatinya akan menjadi pemasok pangan bagi kita semua.

Ibu-ibu Warga Terong Kini Semakin Percaya Diri

Dlingo : seputar-indonesia.com : Ponisih  bersama-sama pekerja lain tengah mengemas keripik singkong “Nikimon” di rumah Kadus Rejosari, Desa Terong, belum lama ini. Hari-hari Ponisih,39, warga Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul kini dilalui dengan perasaan bahagia.Cerita suram dahsyatnya musibah gempa bumi 27 Mei 2006 pun seakan perlahan terkikis dari ingatannya. Ya,empat tahun berlalu, Ponisih dan mayoritas warga Terong kini telah bangkit.Mereka tak lagi larut dalam tangis sedih karena kehilangan rumah dan sanak saudaranya. Rumahrumah baru dengan kualitas yang lebih bagus kini kembali berdiri kokoh di kampung yang berada di kawasan perbukitan ini.Cap Desa Terong yang gersang dan sering kesulitan mendapatkan pasokan air pun juga perlahan hilang.

Musibah selalui diikuti dengan hikmah. Demikianlah wargaTerong,termasuk Ponisih memahami segala dinamika kehidupannya. Selain rumahnya sudah lebih baik,Ponisih kini sumringah karena gempa juga telah mengubah hidupnya. Dalam dua tahun terakhir,ibu dua anak ini memiliki keterampilan baru,yakni bisa membuat snack atau makanan ringan.

Ponisih tak sendiri.Bersama 19 teman dalam satu kelompoknya, dia kini berhasil mengangkat potensi Desa Terong lewat makanan ringan berlabel “Nikimon”. Produk Nikimon kini juga sudah dekat dan melekat di lidah warga Yogyakarta.Bagi yang pernah mencicipinya, produk Nikimon tak sekadar makanan ringan biasa,tapi lebih dari itu juga menawarkan cita rasa unik dan baru. Setidaknya sudah ada 17 jenis makanan olahan ala Nikimon yang dilepas ke pasar,di antaranya keripik singkong,keripik ubi,peyek kacang,kacang disco,kacang asin hingga gethuk pisang. Merek Nikimon sendiri juga tergolong unik,karena sebenarnya kependekan dari Niki Mawon yang dalam bahasa Indonesia bermakna Ini Saja. Kerajinan makanan ringan ini yang sudah mendapat sertifikasi dari Dinas Kesehatan Bantul ini pun cukup istimewa karena dalam tempo cepat sudah merambah beberapa kota, khususnya di Jawa.

Seiring meningkatnya permintaan produk snack ini,penghasilan Ponisih dan warga Terong juga bertambah. Ponisih bersama puluhan warga Terong yang mendapat pendampingan dari International Organization for Migration (IOM) ini bahkan kerap kewalahan ketika mendapat order yang sangat besar.Untuk menyiasati banyaknya pesanan itu, biasanya lima kelompok UMKM di bawah bimbingan IOM di Terong bahu membahu memenuhi permintaan tersebut.“

Sebab kami seringkali ikut pameran di Yogya seperti di JEC,Gabusan,Sekaten dan Bantul Expo sehingga banyak pesanan dari situ,”ujar Ponisih saat ditemui di sela mengemas keripik singkong di kediaman Sukamdam,Ketua Kelompok Nikimon,Rejosari,Terong, belum lama ini. Ponisih kian percaya diri untuk bangkit dari keterpurukan setelah bencana gempa bumi. Berkat keterampilan tambahan ini,Ponisih kini bisa membantu penghasilan suaminya yang sehari-hari sebagai petani atau kadang jadi buruh di Yogyakarta. Setidaknya dalam sepekan, kelompok Nikimon membuat makanan ringan dua kali.Dan setiap kali produksi,Ponisih bisa mengantongi Rp15.000.Beruntung dua anak Ponisih sudah bekerja di Yogya,sehingga uang hasil ikut Nikimon bisa ditabung.

“Kalau uang saya untuk tambah jajan anak,”timpal Triatni,32, rekan Ponisih yang bertugas menggoreng snack.Seluruh produk Nikimon kini tersedia di Ruko Nikimon di kompleks Pasar Sendangwesi Desa Terong. Apa yang dirasakan Ponisih dan Triatni juga tak jauh beda yang kini dialami Arini,30,warga Nembel,Desa Kebon,Kecamatan Bayat,Klaten.Setelah bergabung di UMKM Batik Tulis Kebon Indah,roda ekonomi keluarganya perlahan naik.

Dia kini tak lagi bingung untuk membiayai sekolah dua anaknya. Dari keikutsertannya di Batik Kebon Indah,dia setidaknya mendapat Rp25.000 per hari.BatikTulis Kebon Indah adalah produk UMKM binaan IOM yang khusus membuat batik berbahan warna alami. Produk batik buatan sebagian besar ibu-ibu rumah tangga ini beberapa kali diikutsertakan dalam fashion show. Sejumlah desainer lokal pun telah memanfaatkan produk Batik Kebon Indah. IOM yang dalam operasionalnya mendapat pendanaan dari Java Reconstruction Fund (JRF) sengaja mengembangkan batik karena Desa Kebon sejak lama dikenal sebagai pusat perajin batik.Namun pascagempa banyak perajin terpuruk.“ Kalau dulu saya hanya dibayar Rp3.000 setiap mewarnai, tapi kini bisa Rp25.000.

Sekarang saya juga tahu semua proses membuat batik tak sekadar mewarnai,”cerita Arini saat mewarnai di rumah produksi sekaligus showroomBatik Kebon Indah,Selasa (21/6). Hampir tiap hari,rumah produksi yang lokasinya persis di samping Balai Desa Kebon ini ramai.Ini seiring dengan permintaan batik tulis yang terus meningkat.“Bahkan kami saat ini kesusahan memenuhi permintaan batik yang sudah jadi,” cerita Ketua Kelompok Batik Kebon Indah Sri Windarti. Sri sama sekali tak menyangka pelatihan dari IOM yang menggandeng dari Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumberdaya Pembangunan (LPPSP) Semarang ini mengubah perekonomian warga.Sebab awalnya warga di Desa Kebon yang menjadi korban gempa cukup parah umumnya bertani atau sekadar menjadi buruh perajin batik.

Mereka tak mempunyai keahlian memadai membuat proses pembatikan dari awal hingga akhir seperti ngemor, nganji,nyorekhingga mewarnai. Tapi atas fasilitasi IOM, mereka tak hanya mendapat pengetahuan membuat batik, tapi juga manajemen kekuangan hingga pemasaran produk. Sebuah showroomsederhana kini juga sudah ada di Yogyakata untuk memajang produk asal Desa Kebon ini.Soal pemasaran, beberapa kali eventpameran di Jakarta juga telah diikuti.

Karena berbahan alami,Batik Kebon memang berkualitas tinggi.Harga per lembar kain rata-rata Rp350.000.Sementara modal dan biaya produksi mencapai Rp200.000.Dalam sebulan setidaknya kelompok ini bisa menghasilkan 250 lembar batik. Penjualan berkisar 100 lembar. “Omzetnya sebulan yasekitar Rp15 juta,”kata Windarti. Peran serta JRF lewat IOM tak hanya di Desa Kebon.

Dalam program pemulihan mata pencaharian (livelihood recovery) dua tahun terakhir,IOM telah menjangkau 25 desa di DIY dan Jateng.Setidaknya lebih dari 4.300 UMKM terbantu dari pendanaan, pemasaran pendampingan, hingga pemasaran. Tak hanya lewat IOM,selain membantu bidang infrastruktur, JRF juga menggandeng Gesellschaft fu Internationale Zasammenarbeit (GIZ) untuk menangani ribuan UMKM.GIZ memberikan bantuan teknis dan keuangan.

Di antara sasaran GIZ adalah para petani dan peternak sapi di Desa Jatimulyo, Dlingo,Bantul.GIZ mengajari warga untuk membuat pupuk organik,nutrisi alami untuk hewan ternak,pestisida alami dan premix pengawetan hijauan pakan ternak.“Secara bertahap petani bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia. Namun kendalanya sulit mengubah kebiasaan masyarakat,” ujar Advisor GIZ Agung Gede. Akhir Juni ini,proyek livelihood recoverydari IOM-GIZ telah ditutup.Saat SINDO menanyakan soal rencana pelepasan pendampingan ini, raut-raut muka pelaku UMKM masih saja semangat dan percaya diri. Tohdemikian,tidak mudah juga mengajak pelaku UMKM lain bangkit.Banyak di antara mereka yang sudah merasa adem ayem dengan bantuan yang ada saat ini.

Padahal,dari sisi potensi,bidang usaha mereka sebenarnya sangat memungkinkan untuk berkembang dan bersaing dengan produk luar daerah maupun mancanegara. Yang tak kalah penting, langkah JRF lewat IOM dan GIZ-nya barulah secuil uluran tangan bagi kalangan UMKM. Di sekeliling Ponisih,Triatni, maupunWindarti,masih ada ribuan pelaku UMKM yang belum tersentuh,baik dari tangan-tangan pemerintah maupun pihak donor lain.

Perjuangan mereka untuk bangkit tidak enteng.Tak heran, mereka pun tak henti meminta ‘kebaikan hati’ pemerintah. Seperti yang dilakukan ribuan pelaku UMKM dengan mendatangi kantor Bank Indonesia (BI) Yogyakarta dan kediaman Wakil Presiden Boediono di Sawitsari,Condongcatur, Depok,Sleman,kemarin. Dari data Komunitas UMKM DIY,saat ini ada sekitar 3.234 kreditur UMKM korban gempa 2006 yang mengalami masalah kredit macet dengan total dana mencapai Rp75,949 miliar. Mereka menagih janji penghapusan kredit agar bisa semakin percaya diri seperti dirasakan sebagian pelaku UMKM lain saat ini

Kebun Buah Mangunan Dlingo Kabar Terkini

Dlingo : susilo wibowo : JALANAN ASPAL membelah rimbunnya pepohonan di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Tepatnya, menuju Objek Wisata Kebun Buah Mangunan Kecamatan Dlingo Bantul Yogyakarta. Di sepanjang jalan itu anda akan dimanjakan pemandangan alam nan elok. Lokasinya memang di atas perbukitan terjal. Namun di objek tersebut anda bisa menikmati indahnya alam sembari naik angsa kayuh di dalam danau seluas 0,4 hektare. Dengan hanya merogoh kocek Rp 10 ribu anda diberi kesempatan naik angsa kayuh untuk mengelilingi danau.
 
“Bila pengunjung banyak, sekali bayar bisa mengelilingi danau tiga kali, tetapi bila sepi silahkan memakai sepuasnya,” jelas Manajer Kebun Buah Mangunan, Sumadi awal pekan lalu. Menikmati angsa kayuh akan lebih berkesan bila bersama bersama buah hati dan keluarga. Selain lokasinya aman karena danau tak terlalu dalam, pemandangan alam khas pengunungan yang belum banyak dijamah orang, akan semakin membuat pengunjung kerasan. Puas bercengkerama di atas angsa kayuh di danau, bisa mencoba kolam renang mini.
 
Dari kolam itu pengunjung juga bisa secara langsung menikmati rimbunnya pepohonan di bukit di sekelilingnya. Cukup mengeluarkan uang Rp 2.000, pengunjung diberi kebebasan main air sepuasnya. Meski lokasinya di pegunungan, jangan khawatir masalah kebersihan. Pengelola menjamin kolam khusus anak dan remaja itu bebas kuman. Kebun Buah Mangunan, selain objek wisata alam boleh juga disebut wisata pendidikan.

Jiyono Mulai Nyanyi, Seret Pelaku Lain

Dlingo : RADAR JOGJA : Lurah Desa Mangunan, Dlingo, Bantul Jiyono Ishsan mulai menyerang balik Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati DIJ yang telah menyeretnya ke kursi terdakwa. Jiyono menyebut JPU telah bertindak tidak cermat karena telah mendakwanya melakukan korupsi dana rekonstruksi pascagempa Rp 2,08 miliar. Jiyono menyatakan, ada pertentangan dasar peraturan yang digunakan dengan fakta yang diungkap JPU. Ini terutama terkait dengan tugas pokok penanggung jawab pelaksana (PJP) yang diemban Jiyono selaku lurah dalam pelaksanaan kegiatan dana rekonstruksi.
 
’’JPU tidak objektif dan kurang cermat mengungkap fakta sebenarnya,’’ ujar Jiyono saat menyampaikan eksepsi yang diajukan melalui Tim Penasihat Hukumnya di Pengadilan Tipikor Jogja kemarin (21/6). Tim Penasehat Hukum Jiyono terdiri dari Djoko Prabowo Saebani SH, Aviv Dihan Kuntoro SH, Wowon Wisnu, Chandera SH, dan Arfian Indrianto SH. Tak hanya itu, Jiyono, melalui tim penasihat hukumnya juga mulai bernyanyi. Menurut dia, kasus tersebut tak hanya melibatkan dirinya seorang. Djoko Prabowo, mengatakan JPU telah mengabaikan peran fasilitator. Padahal bersama PJP, fasilitator berperan dalam pembentukan kelompok masyarakat (pokmas).

Djoko juga menegaskan, kliennya tak pernah sekali pun menerima dana potongan langsung dari pokmas. Ini didasarkan atas dakwaan JPU yang mengatakan, dana potongan yang diterima para fasilitator sosial (fasos) diserahkan kepada saksi Sekdes Mangunan Ngudi Siswanto sebesar Rp 1,7 miliar. Ngudi juga menerima pemotongan langsung dari Pokmas 55 sebesar Rp 157,5 juta dan Pokmas 56 sebanyak Rp 157,5 juta. Jadi, total uang di tangan Ngudi sebesar Rp 2,08 miliar. Selanjutnya Ngudi menyerahkan kepada Jiyono pada Juli dan Agustus 2007. JPU, lanjut Djoko, tak pernah menegaskan kapasitas kliennya apakah sebagai pelaku, menyuruh melakukan, membantu melakukan, dan penganjuran sebagaimana diatur dalam Pasal 55 dan 56 KUHP. ’’Dalam perkara ini tak ada terdakwa lain dan atau disidik sebagaimana dakwaan jaksa,’’ ujar advokat yang tinggal di Jalan Sultan Agung ini.

Dalam eksepsi itu, Tim Penasihat Hukum Jiyono juga menilai, tidak tepat bila hanya Jiyono yang dimintai pertanggungjawaban tanpa melibatkan semua pihak yang terlibat di dalamnya. ’’Bagaimana mungkin terdakwa melakukan tindak pidana korupsi secara sendirian,’’ kritik Djoko. Padahal, dalam dakwaan JPU menyebutkan banyak subjek hukum yang terlibat. Tapi menjadi pertanyaan, kenapa hanya Jiyono yang diproses dan dimintai pertanggungjawaban sehingga duduk di kursi pesakitan. Terkait keterlibatan pelaku lain, Djoko menilai, seharusnya disertakan Pasal 55 dan 56 KUHP dalam dakwaan. Implikasi yuridis dari kelalaian tak menyertakan pasal tersebut menurut Tim Penasehat Hukum Jiyono berakibat dakwaan JPU batal demi hukum.

Di bagian akhir dari eksepsi itu, kewenangan Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan Pembangunan (BPKP) Provinsi DIJ melakukan perhitungan kerugian keuangan negara yang menjadi bagian dari dakwaan juga dimasalahkan. Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolana dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, lembaga yang berwenang melakukan pemeriksaan pengelolaan keuangan negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan bukan BPKP. Dengan demikian, Djoko berpendapat, dakwaan JPU yang mendasarkan pada hasil audit BPKP merupakan dakwaan yang tidak berdasarkan ketentuan hukum. Setelah pembacaan eksepsi selesai, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor yang diketuai Suryawati SH memberikan kesempatan pada JPU Isti Aryanti SH dan Christina Rahayu SH memberikan tanggapan balik atas eksepsi tersebut pada pekan depan.

Pekan Depan, Jiyono Lurah Mangunan Dlingo Diadili di Tipikor

Dlingo : radarjogja : Jadwal sidang perkara korupsi penyelewengan dana pascagempa Rp 2,08 miliar yang menyeret Lurah Desa Mangunan Dlingo Bantul Jiyono Ihsan segera digelar. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jogja telah menerbitkan penetapan sekaligus menjadwalkan agenda sidang. ’’Sidang perdana perkara Jiyono kami gelar Selasa 14 Juni,’’ ungkap Ketua Pengadilan Tipikor Jogja Mohammad Lutfi SH kemarin (9/6).

Sidang Jiyono tertuang dalam penetapan PN 02/Pen Pidsus/2011/PTipikor Yk tertanggal 7 Juni 2011. Penetapan itu dikeluarkan hanya selang sehari setelah berita acara pemeriksaan (BAP) berikut dokumen dan barang bukti maupun surat dakwaan dilimpahkan jaksa penuntut umum (JPU) ke PN Jogja Senin lalu (6/6). Lutfi mengatakan, untuk menyidangkan perkara Jiyono ditugaskan tiga hakim Tipikor. Majelis hakim diketuai Suryawati SH dengan hakim anggota Eko Purwanto SH dan Syamsul Hadi SH. Suryawati merupakan hakim karir di PN Jogja.

Sedangkan Eko sehari-hari menjabat wakil ketua PN Wates. Keduanya merupakan hakim karir yang telah mendapatkan sertifikasi hakim Tipikor dari Mahkamah Agung. ’’Untuk Pak Syamsul Hadi merupakan hakim ad hoc,’’ terang alumnus FH Universitas Brawijaya Malang ini. Terpisah, salah satu JPU perkara Jiyono Mei Abeto Harahap SH MM siap melaksanakan penetapan Pengadilan Tipikor tersebut. Dalam sidang perdana itu, JPU akan membacakan surat dakwaan.

Surat dakwaan Jiyono tebalnya mencapai 39 halaman. Jaksa mendakwa Jiyono dengan sejumlah pasal. ’’Dakwaan yang kami susun berlapis,’’ terang Abeto. Pasal yang diterapkan meliputi pasal 2, pasal 3, pasal 8, dan pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 junto UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ancaman hukuman untuk pasal 2 UU No 31 Tahun 1999 junto UU No 20 Tahun 2001 itu minimal selama empat tahun dan maksimal 20 tahun. Sedangkan ancaman denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.

Dalam keadaan tertentu pasal 2 itu juga mengatur kemungkinan adanya penerapan hukuman mati. Keadaan tertentu itu bila korupsi dilakukan saat negara dalam keadaan bencana alam atau bencana sosial.
Ada empat jaksa yang diterjunkan Kejati DIJ untuk menuntut Jiyono. Empat jaksa itu meliputi Mei Abeto Harahap SH MM, Isti Aryanti SH, Kritina Rahayu SH, dan Rahayu Dewi SH. Sejak menerima pelimpahan perkara tahap kedua dari Polda DIJ pada 29 April lalu, kejati menahan Jiyono di Rutan Pajangan. Penahanan ketua Asosiasi Perangkat Desa Se-Indonesia (Apdesi) Bantul itu telah satu kali diperpanjang. Selama Jiyono ditahan, beberapa pihak seperti ketua Paguyuban Perangkat Desa Nusantara (Parade Nusantara), ketua MUI Bantul, ketua PDM Muhammadiyah dan PC NU Bantul mengirimkan surat ke kejaksaan meminta agar Jiyono tidak ditahan.

Surat serupa juga diajukan Bupati Bantul Sri Suryawidati. Namun semua permohonan itu ditolak kejaksaan. Jiyono harus berurusan dengan aparat penegak hukum karena disangka telah menyunat sebagian dana rekonstruksi pascagempa. Warga yang mestinya mendapatkan bantuan Rp 15 juta untuk rusak berat tidak menerima bantuan itu secara utuh. Dana dipotong dengan berbagai dalih dengan alasan demi kearifan lokal.
Dana itu, menurut informasi, sebagian digunakan untuk wayangan, pembangunan prasarana jalan, dan merenovasi balai desa Mangunan. Sebelum ditangani polisi, kasus Mangunan itu juga menjadi objek audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan DIJ pada 2008 silam. Hasilnya, BPK menemukan dugaan penyimpangan pemanfaatan dana rekonstruksi di Desa Mangunan sebesar Rp 2,08 miliar. Tak berapa lama kemudian, perkara itu masuk ke Polda DIJ.