Pergeseran Cara Berekspresi Dlingo Yang Mengkhawatirkan


Dlingo : Kebebasan berekspresi merupakan salah satu hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia di dunia dalam rangka mencari Jati dirinya. Kebebasan  ini memiliki empat aspek yang perlu mendapatkan pertimbangan ketika kita akan berekspresi, yaitu (a) kebebasan nurani (freedom of conscience), (b) kebebasan mengekspresikan keyakinan (freedom of  expression), (c) kebebasan melakukan perkumpulan  (freedom of  association), dan (d) Kebebasan melembagakan ekspresi (freedom of eksprestions institution). Di antara keempat aspek tersebut, aspek pertama yakni kebebasan nurani (freedom of conscience), merupakan hak yang paling asli dan absolut serta meliputi kebebasan untuk memilih dan tidak memilih ekspresi  tertentu. Menurut konsep kebebasan di atas, maka kebenaran pribadi harus dianggap sebagai nilai yang yang paling luhur (supreme value). Ia menghendaki komitmen serta pertanggungjawaban pribadi yang mendalam. Komitmen serta pertanggungjawaban pribadi ini harus berada di atas komitmen terhadap agen-agen otoritatif lainnya seperti negara, pemerintah, dan masyarakat.

Kecamatan Dlingo merupakan daerah otonom yang plural (majemuk). Kemajemukan ini ditandai dengan adanya berbagai corak ragam ekspresi masyarakatnya.  Letak geografis Kecamatan Dlingo yang berada di wilayah perbatasan antar kabupaten,  menjadikan Kecamatan Dlingo  terdiri dari berbagai perpaduan karakter dan budaya. Perjalanan Hemogenitas dan kemjemukan masyarakat Dlingo tidak terlepas dari perjalanan sejarah bagaimana Kecamatan Dlingo itu sendiri muncul. Tidak diragukan lagi, perjalanan panjang sejarah Kecamatan Dlingo mengakibatkan adanya beberapa ekspresi dan keyakinan  yang dianut oleh masyarakat Dlingo pada masa-masa selanjutnya.

Sebagai sebuah potensi wilayah, pada satu sisi sinergi sebuah ekspresi yang beragam dapat menjadi pendorong dan pendukung arah pembangunan. Pada sisi yang lain, ekspresi juga  dapat menjadi pemicu konflik. Oleh sebab itu, berekspresi merupakan salah satu hal kecil yang perlu diperhatikan dalam rangka menjaga kualitas hubungan dan kebersatuan di masyarakat Dlingo. Setiap ekspresi masyarakat adalah sebuah refleksi dari sebuah proses yang sedang berjalan, pada dasarnya setiap ekspresi hanyalah sebuah sebuah mimpi-mimpi kecil yang sempat keluar melalui wujud komunikatif baik verbal maupun non verbal. Namun apabila hal ini di biarkan terlepas dan tidak mendapatkan perhatian maka akan melahirkan apatisme dan pelanggaran dalam norma-norma yang sudah berjalan di masyarakat.
Munculnya ekspresi-ekspresi baru dalam kurun waktu 3 tahun terakhir adalah sebuah gagasan-gagasan pembaharuan apabila kita dapat menagkap makna dari ekspresi dan gejolak dalam masyarakat. Sehingga dibutuhkan Dlingoisasi, reaktualisasi dan kontekstualisasi berekspresi khusunya bagi generasi-generasi mendatang.

Arti Sahabat "Sebuah Cerita Sedih Dari Dlingo"

Dlingo : raniiranooz.blogspot.com : 29 Juli 2010, saat itu aku sedang asyik bermain dengan laptopku tibatiba ponselku bergetar, ada pesan dari seorang teman bernama Dhati yang semula kukira ingin mengajakku berjumpa. Setelah kubuka, isinya ..... "Innalillahi wa innaillaihi rojiun... Telah meninggal dunia dengan tenang sahabat kita FITRI NURAINI, ex-Mache'09. Akan dimakamkan besok pagi jam 10.00 WIB di Dlingo. Sekarang jenazah sudah dibawa ke Dlingo. Semoga diterima di sisi-Nya. Tolong sebarkan."
Tiba-tiba terhentak degup jantungku . Langsung aku mengisi ponselku dengan sejumlah pulsa karena sudah beberapa hari ponselku tidak berpulsa, untuk memastikan apakah itu benar. Dan ternyata benar, teman yang sering dipanggil 'Pipodh' telah berpulang ke rahmatullah karena terserang penyakit DB. Walaupun aku tidak menangis, tapi setelah membaca pesan itu rasanya tidak percaya dan aku merasakan kesedihan yang amat mendalam. Sedih karena ia telah tiada dan terlebih aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya. Padahal sudah lama ingin merencanakan untuk bertemu, tapi tidak pernah terwujudkan hingga ia telah dipanggil Yang Maha Kuasa.
 
Malam itu juga, aku mengajak beberapa teman untuk mengunjungi ke rumah duka di Dlingo. Bersama 7 teman, Yoga, Farid, Fitro, Anggi, Nana, dan 2 orang yang tidak aku kenal, bertemu di dekat Terminal Giwangan, bersamasama melawan dinginnya malam untuk melihat Pipodh untuk yang terakhirkalinya . Namun apa daya, setelah sampai di suatu tempat yang sangat gelap, jalan berkelokkelok, menaiki bukit yang sangat sepi, tibatiba mendapatkan kabar bahwa kami disarankan untuk pulang saja karena jika diteruskan kami bisa saja celaka karena ulah perampok. Terlebih lagi salahsatu motor yang mungkin saja tidak akan sanggup meneruskan perjalanan, alhasil kami pulang ke Yogya. Keesokan harinya, 30 Juli 2010, Pipodh akan di makamkan, dan aku juga tidak bisa datang karena suatu alasan.  

Sahabat, untuk kesekian kalinya aku minta maaf tidak bisa mengantarkanmu sampai ke tempat peristirahatanmu yang terakhir. Semoga diampuni segala khilafmu dan diterima segala amal dan kebaikanmu selama di dunia. Selamat jalan kawan, kamu akan selalu di hatiku dan semua orang yang menyayangimu. Sungguh betapa kita tidak berjodoh kawan, hingga ajal menjemputmu pun kita tidak juga dipertemukan. Semoga nanti kita dipertemukan di Surga milik Allah SWT.

Stres Caleg Jagoannya Tidak Lolos Lalu Bunuh Diri

video
Dlingo : indosiar.com :Jika saja Sukirman, warga Dlingo, Bantul, Yogyakarta ini tahu kinerja anggota dewan kita saat ini jauh dari harapan rakyat, pasti dia akan mengurungkan niatnya untuk bunuh diri nyemplung kedalam sumur. Menurut orangtuanya, Sukirman nekad bunuh diri karena caleg yang ia jagokan pada pemilu legislatif lalu, gagal menjadi anggota DPRD. Dan betap sia-sianya, Sukirman mengorbankan nyawanya hanya untuk seorang anggota dewan yang belum tentu membawa perubahan yang baik, bahkan saat ini sudah terbukti sebagian malah sering bolos rapat.

Jasad Sukirman ditemukan didasar sumur oleh orangtuanya Rabu kemarin. Tim SAR dan anggota Brimob Polda DIY mengalami kesulitan mengangkat jasad pemuda ini. Proses pengangkatan jenazah memakan waktu lebih lama, karena jasad Sukirman berada di sumur yang kedalamannya mencapai 30 meter. Setelah dilakukan olah TKP, mayat korban kemudian diserahkan ke pihak keluarganya untuk dikebumikan.

Seminar Nasional: "Pengembangan Basis Data Kemiskinan dari Tingkat Desa"

Dlingo : Jagongan.com : Sudirman Alfian sebagai pembicara pertama mengungkapkan bahwa selama ini desa identik dengan keterbelakangan. Anggapan inilah yang hendak dipatahkan oleh Desa Terong dengan mengembangkan sistem informasi desa yang akurat serta dapat diakses secara online. Bahkan di kantor kepala desa ada touch screen dimana warga bisa menyampaikan keluhannya. “SID ( Sistem Informasi Desa ) adalah database desa yang baik dan valid berisi tentang data penduduk desa yang dibuat sekitar tahun 2008 memuat sekitar  1.600-an Kepala Keluarga”, Pak Dirman mengawali diskusi. Beliau menegaskan bahwa Desa Terong dapat memunculkan program berbasis IT tak lain dikarenakan oleh aparatur desa yang “melek” teknologi dan berkomitmen dalam memajukan desanya
Dilanjutkan oleh Pak Kecuk Suharyanto dari Badan Pusat Statistik yang memaparkan tentang definisi kemiskinan, data makro, data mikro dan upaya pengintegrasian data kemiskinan. Menurut Pak Kecuk kemiskinan adalah “ kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat”. Pernyataan tentang kemiskinan juga dipertegas oleh Sekretaris Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kementerian Dalam Negeri. Bahwasannya sejak reformasi bergulir dan dipakainya sistem otonomi daerah, desa mempunyai kewenangan untuk memberdayakan masyarakat dengan ketrampilan dan kemampuan dalam mengelola resources yang ada di lingkungan. Sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat agar keluar dari belenggu kemiskinan.
Terakhir adalah pemaparan dari Prof Susetiawan yang akrab disapa Pak Sus, sekaligus menjadi “gong” dari diskusi. “Kemiskinan tidak hanya diukur secara kuantitas saja, melainkan secara kualitas juga” tegas beliau . Sehingga sebelum menentukan konsep dan kriteria tentang kemiskinan terlebih dahulu kita harus mensepakati definisi tentang apa itu kemiskinan. Selanjutnya dapat kita rumuskan solusi apa yang dibutuhkan untuk mengatasi kemiskinan.  Menurutnya dengan begitu banyaknya data yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maka timbul pertanyaan apakah data ini memang dibutuhkan masyarakat atau hanya sekadar komoditi. “Kita ini jangan-jangan sedang melanjutkan proses kemiskinan bukan pengentasan kemiskinan,” ungkapnya. Ia pun menghargai upaya Sudirman Alfian sebagai kepala desa bahwa definsi dan pengelolaan data kemiskinan perlu dirumuskan oleh masyarakat sendiri.
Dalam sesi diskusi, Ismail dari Universitas Muhamadiyah mengungkapkan bahwa definisi kemiskinan memang dirumuskan oleh masyarakat setempat. “Parsudi Suparlan telah menyuarakannya sejak lama tetapi gaungnya tidak sampai ke pemerintah. Data-data kuantitatif dan kualitatif seharusnya disejajarkan.” Ismail mengambil contoh di Desa Sukolilo, Pati, Jateng, bahwa komunitas sedulur sikep selalu dikategorikan terpencil dan miskin. Hampir setiap tahun mereka didata tetapi tidak ada perkembangan yang signifikan dalam kehidupan mereka sendiri. “ Kenapa, desa punya kantor tetapi tidak pernah di gunakan?Ternyata didalam pengembangan basis data apa yang dikatakan Focault “Knowledge is power” adalah kenyataan. Basis data kemiskinan tidak pernah ditampakkan dalam catatan tertulis. Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana membentuk mental penyedia data kemiskinan bagi aparat desa,” lanjutnya.
Desa Terong, Dlingo, Kabupaten Bantul DIY telah melaksanakan sebuah pengelolaan data yang partisipatif dan juga dikelola oleh aparat yang kredibel. Mentalitas inilah yang perlu dibentuk dalam sistem kepemerintahan, bukan hanya di tingkat desa tetapi juga dari tingkat pusat. Dengan menyatunya mentalitas, kinerja, maka persoalan kemiskinan tentunya bisa dipecahkan dengan strategi yang jitu. Sehingga Indonesia bukan negara yang sedang melanjutkan kemiskinan, tetapi memang berupaya mengentaskan kemiskinan.

Desa Terong Kec. Dlingo Dapat 5 Ekor Sapi

Dlingo : lintasdaerah.com: Desa Terong Kecamatan Dlingo meraih juara I dalam lomba desa tingkat Kabupaten Bantul 2010 dan menerima lima ekor sapi yang diserahkan langsung Sekda Bantul Drs. H. Gendut Sudarta. MM di halaman Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa. Sekda Bantul Drs. H. Gendut Sudarta, MMA. mengatakan juara bukan merupakan tijuan namun hanya sebagai alat bagaimana perangkat desa mampu menggerakkan masyarakat membangun desanya. Pemerintah Kab. Bantul sangat apresiasi terhadap semangat warga masyarakat untuk mendapatkan yang terbaik dan hadiah sebagai konsekuensi dari kerja kerasnya.

Lebih lanjut dikatakan hadiah jangan langsung dijual atau digaduhkan tapi dipertotntonkan kepada masyarakat dulu karena itu hak mereka. Sementara Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa Kab Bantul Susanto, SH.MM. melaporkan lomba desa tahun 2010 juara I Desa Terong Kec. Dlingo mendapat 5 sapi. Juara II Desa Argorejo Kec Sedayu mendapat hadiah 3 sapi dan. Juara III Desa Sanden Kec Jetis mendapat 2 sapi.

Sejumlah Sekolah Dlingo Kekurangan Siswa

Dlingo : KR.com:  Hari terakhir pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) SD di Bantul, sejumlah sekolah belum terpenuhi kuotanya (30 siswa). Meski begitu, batas minimal 10 siswa setiap kelas semua SD di Bantul tercapai. Sehingga bisa menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Di sisi lain ada juga sekolah justru kelebihan pendaftar. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendidikan Dasar (PPD)  Kecamatan Dlingo, Slamet Pamuji MPd, mengakui, sejumlah SD memang kurang dari 30 siswa. Namun kekurangan itu masih dalam batas normal. “Bila kurang dari 30 pendaftar itu memang ada, tetapi jumlah pendaftar di bawah 10 anak (batas minimal) tidak ada,” ujar Slamet. SD di Dlingo memang ada satu sekolah terdapat dua rombongan belajar (rombel) atau dua kelas, tetapi ada juga yang satu kelas.

Seharusnya dalam satu UPT di Kecamatan Dlingo paling tidak harus ada 900 pendaftar. Perhitungan itu berdasarkan jumlah rombel di Dlingo yang mencapai 30, sedang jumlah sekolah sebanyak 26 SD. Slamet menjelaskan, adanya beberapa sekolah yang kurang pendaftar lantaran lokasi sekolah sulit dijangkau.  Hal sama juga terjadi di Kecamatan Sedayu, banyak sekolah yang kuotanya belum terpenuhi. Kepala UPT PPD Kecamatan Sedayu, Suwardi SPd menjelaskan, di wilayahnya ada 22 SD. Dari jumlah itu memang banyak yang belum penuh. “Jumlahnya memang belum genap 30, tetapi kekurangannya saya nilai wajar, karena pendaftarnya mencapai 27 atau 28,” kata Suwardi. Ia optimis sekolah yang sampai saat ini belum penuh pada akhirnya tercapai.

Sesuai ketentuan, meski pendaftaran telah ditutup, praktiknya sampai Juli masih bisa menerima siswa. “Bila ada sekolah yang kuotanya belum penuh, bisa saja menerima pendaftar sampai Juli,” jelas Suwardi. Biasanya pendaftar sering memasukkan putranya ketika siswa mulai masuk sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Dasar Bantul, Drs Sahari mengatakan, meski kuota 30 siswa belum terpenuhi masih bisa menyelengarakan proses belajar mengajar. Karena batas minimal 10 siswa. “Hingga saat ini belum ada laporan sekolah dengan pendaftar kurang 10 siswa,” kata Sahari. Jumlah SD/MI di Bantul mencapai 374.

RASULAN TIGA DUSUN DI DLINGO

Dlingo : KR.Com: Ribuan warga Dlingo dan sekitarnya mengikuti prosesi rasulan atau bersih desa yang digelar warga tiga dusun, Dodokan, Rejosari serta Kedung Dayak Desa Jatimulyo Dlingo,.Tradisi ini dikemas dalam bentuk kirab gunungan lanang dinamai Kiai Bogo Bantolo terbuat dari palawija. Sedang gunungan wadon dari nasi atau makanan matang disebut Nyai Bogo Pertiwi. Gunungan diperebutkan warga di Sendang Ayu atau sekitar 300 meter dari rumah kepala dusun.

Ketua Panitia Sunoto menjelaskan, rasulan dimulai saat gunungan diambil di Dusun Kedung Dayak. Sebelum kirab dimulai, digelar pentas seni dari siswa SD serta PAUD dari Desa Jatimulyo. Gunungan dikirab keliling kampung menggunakan kendaraan. Selanjutnya, gunungan dibawa ke pelataran rumah Kepala Dusun Dodokan, Sugino. Usai doa bersama, ratusan nasi gurih beserta uba rampe dibagikan ke  pengunjung. Gunungan ditandu lelaki berpakaian adat Jawa menuju Sendang Ayu. Barisan berikutnya bergada penabuh bende. Ribuan masyarakat berjubel di sepanjang jalan menuju lokasi gunungan diperebutkan. Di pelataran sendang, rois Dusun Dodokan, Parwidi mulai menggelar upacara ritual sebelum gunungan diperebutkan.

Setelah gunungan disiram air sendang menggunakan siwur, ratusan warga langsung memperebutkannya. Sunoto menjelaskan, gunungan setinggi 2 meter itu disusun dari buah hasil bumi sebanyak 30 macam. Gunungan Kiai Bogo Bantolo sebagai simbul pekerja keras. Sendang Nyai Bogo Pertiwi menggambarkan hasil bumi yang telah dimasak untuk dimakan.  Camat Dlingo Hermawan Setiaji didampingi Lurah Jatimulyo Dlingo, Paimo mengatakan, rasulan merupakan tradisi turun temurun. Makna dari rasulan bentuk syukur atas nikmat dan kemudahan dalam bertani yang diberikan Allah.

Pompa Air PAB Mangkrak Di Dlingo

Dlingo: (KRjogja.com) : Satu unit generator set (genset) penggerak mesin pompa air bantuan Proyek Air Bersih (PAB) di Dusun Dlingo I Desa Dlingo Kecamatan Dlingo mangkrak lantaran biaya operasionalnya mahal. Camat Dlingo Hermawan Setiaji didampingi Kepala Seksi (Kasi) Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup Kecamatan Dlingo, Bangun Rahina, Kamis (15/7) menjelaskan genset itu bantuan PAB DIY pasca gempa 2006. Namun, tidak bisa beroperasi maksimal karena membutuhkan dana besar.

Rinciannya, dalam sejam membutuhkan 10 liter solar padahal instalasi sudah terpasang hampir di semua wilayah Dlingo. Dan, mampu mengatasi krisis air bersih yang dibutuhkan 3.000 kepala keluarga. Hermawan menjelaskan sebenarnya bisa beroperasi dengan listrik, namun tetap ada kendala karena dayanya tidak mencukupi untuk menggerakkan genset dan biaya pembuatan jaringan baru mencapai Rp 300 juta.

"Jujur saja kami belum menemukan solusi terbaik. Tidak mungkin operasionalnya  dibiayai kecamatan. Dan, sepanjang 2009 sekitar 300 tanki air bersih didistribusikan ke masyarakat," tandasnya. Terpisah Kepala Unit PDAM Dlingo, Mukidi mengaku biaya operasional genset terlalu mahal. Setiap tahun, mesin hanya dihidupkan delapan hari sesuai jatah solar yang diberikan pemprop sebesar 400 liter. "Perhitungan kami jelas, setiap jam menghabiskan 10 liter solar, kalau hanya 400 liter kan hanya 8 hari," katanya. Mukidi meyakini bila mesin tersebut beroperasi, masyarakat tidak akan kesulitan air. Namun, hingga saat ini masyarakat juga bertanya kapan mesin  beroperasi.

Diversifikasi Pangan Dlingo "Areal Tanam Sorghum Terus Diperluas"

Dlingo : KOMPAS.com : Untuk diversifikasi suplai pangan, Pemerintah Kabupaten Bantul tahun ini menambah areal tanam sorghum sekitar 5 hektar. Pengembangan di pusatkan di Desa Mangunan, Dlingo. Rencananya, areal tanam akan terus diperluas karena tingginya permintaan pasar. "Bantul mulai mengembangkan sorghum tahun lalu di lahan seluas 15 hektar. Saat itu baru tahap uji coba di demplot. Ada empat jenis yang kami tanam yakni varietas lokal, Kawali, Numbu, dan varietas F7. Dari hasil uji coba ternyata jenis Nambu memiliki produktivitas tertinggi yakni 3,2 ton per hektar, sehingga tahun ini diputuskan untuk menanam Nambu di lahan seluas 20 hektar. 

Permintaan sorghum saat ini cukup tinggi. Tanaman serealia tersebut mempunyai kualitas nutrisi yang sebanding dengan jagung dan beras. Kandungan protein sorghum sedikit lebih tinggi dari jagung sedangkan kadar lemaknya lebih rendah.  "Biji sorghum selain sebagai bahan pangan alternatif juga merupakan komoditi agroindustri. Sorghum dalam industri digunakan sebagai bahan baku industri kertas, nira, gula, alkohol, etanol, dan monosodium glutamat. Selain itu sorghum juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan . Dengan masa tanam 120 hari, pengembangan sorghum tergolong menjanjikan.

Prestasi Koperasi Kredit Adil Desa Terong

Dlingo : Disprindakop.Btl : Sejarah pergerakan koperasi telah mencatat bahwa tanggal 12 Juli ditetapkan sebagai Hari Koperasi Nasional. Hingga kini menjelang 12 Juli 2010 yang akan diperingati sebagai hari Koperasi ke-63, koperasi tetap relevan sebagai wadah perjuangan rakyat Indonesia umumnya, Kabuapten Bantul khususnya dalam menuju bangkitnya ekonomi rakyat yang berkeadilan sosial dan sejahtera.

Peringatan Hari Koperasi ke-63 tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Gerakan Koperasi Kabupaten Bantul bersama dengan pihak-pihak terkait Dinas Instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul,  akan diselenggarakanpada tanggal 17 Juli 2010 bertempat di lapangan Universitas PGRI Kasihan Bantul dan renana akan di hadiri dan dibuka oleh Bapak Bupati Bantul, tahun ini mengusung tema Kebangkitan Koperasi “Mendorong Daya Saing Koperasi sebagai Pelaku Ekonomi Nasional dalam Menghadapi Perdagangan Bebas”.

Hasil Kejuaraan
Koperasi Berprestasi Sektor Simpan Pinjam
1. Juara I Koperasi BMT Artha Amanah, Sanden, Bantul
2. Juara II KSP Kopdit Adil, Terong, Dlingo
3. Juarai III KPRI Cahaya Baru, Bambanglipuro, Bantul

Koperasi Berprestasi Sektor Konsumen
1. Juara I Koperasi Mitra Husada, Bantul
2. Juara II KPRI Kompag, Bantul
3. Juara III Kopkar Bina Usaha, PGPS Madukismo, Kasihan, Bantul

Koperasi Berprestasi Sektor Jasa
1. Juara I Koperasi Wisata Mina Bahari, Depok, Parangtritis, Kretek, Bantul
2. Juarai II Koperasi Angkutan Setia Kawan, Bangunharjo, Sewon, Bantul

Koperasi Berprestasi Sektor Produsen
1. Juara I Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Makmur, Kasihan

Penyerahan Penghargaan dan uang pembinaan akan di serahkan pada saat pelaksanaan upacara tanggal 17 Juli 2010 Oleh Bapak Bupati Bantul

Jangan Malu Ngaku Dlingo "Tunjukin Kalo Loe Ndeso!!!"

Dlingo : Ndeso Yo Ben...Ngunung Ra Po Po..Sing Penting Wani MAJU tor Pener Lan Gawe Bebener. Sebenarnya ini adalah sebuah harapan lama yang pada hari ini alhamdulilah saya dapat memposting dan menyampaikannya di sini. Hanya sekedar sebuah corat-coret yang sepele dan berbentuk lingkaran merah bertulisakan " 100 % Dlingo Asli "  saya berharap Seluruh Masyarakat dlingo tidak malu lagi "Ngaku wong Ndeso" dan bagi kamu yang muda dan kreatif "Tunjukin Kalo Loe Ndeso!!!"  Logo ini tidak memiliki arti apapun, namun dapat di gunakan untuk kepentingan apapun dengan syarat " Wani Maju Tor Pener Lan Gawe Bebener" sebuah syarat yang mudah Bukan?!!!. Bagi Kamu yang memiliki web,blog atau Facebook kamu dapat langsung "Copy Paste atau Klik Kanan saja Save Image As" dan Pasang Logo "100% Dlingo Asli" ini di web, blog atau facebook kamu. Bukan sebuah kewajiban seh cuman, kalo kamu mau ayo..kita sebarkan "Virus-Virus Ndeso di Dunia Maya" agar kita saling mengenal dan "Saling apapun"...

Nah...Logo ini juga bisa di adopsi untuk produk-produk lokal buatan masyarakat dlingo yang ingin memasarkan produknya, bebas gak perlu ijin. Dengan logo ini maka produk lokal dlingo harapannya dapat lebih khas dan di kenal di pasar perdagangan. Gak perlu malu, kalo perlu Tempe, Tahu, sampai Robot yang di buat oleh Masyarakat Dlingo Di Cap Dulu dengan Stempel "100% Dlingo Asli Ini. Jika kamu bisa me re-disain logo ini lebih bagus dan komunikatif juga boleh...Tar aku di kabari dan kita diskusikan.

Semoga Bermanfaat.!!!! Dan Terus "SEMANGAT"!!!!

Beberapa SD Tak Kebagian Siswa

Dlingo : KOMPAS.com - Sejumlah Sekolah Dasar (SD) pinggiran di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta,  sama sekali tidak kebagian siswa baru. Mereka tidak diminati karena prasarana dan kualitas yang kurang memadai. Namun, meskipun gagal merekrut siswa baru, pemerintah daerah tidak akan menggabungkan SD-SD tersebut.

Berdasarkan data di 3 kecamatan yang sudah masuk ke Dinas Pendidikan Dasar, tercatat 6 SD tidak memiliki siswa baru,  yakni SD Jatimulyo, SD Sendangsari, MI Koripan, MI Terong, MI Kediwung, dan MI Nglingseng. Semuanya berada di Kecamatan Dlingo. "Baru Kecamatan Dlingo, Pundong, dan Srandakan yang sudah menyerahkan data ke kami," kata Juwahir, Kepala Seksi Pendataan dan Informasi Dinas Pendidikan Dasar Dinas Pendidiksn Kab. Bantul.

Gerakan Tanam Sorghum di Mangunan


Dlingo :  dipertahut.bantulkab : Gerakan tanam sorghum dari Direktorat Serealia Kementrian Pertanian RI diadakan di Kebun Buah Mangunan Dlingo Kamis (01/07) yang lalu. Acara yang dibuka dengan ucapan selamat datang dari Camat Dlingo ini dilanjutkan dengan sambutan dari Ir. Edy Suhariyanta, MMA selaku Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul. Dalam sambutannya Kadin Dipertahut mengungkapkan potensi pertanian khususnya dalam pengembangan sorghum di wilayah Bantul.

Tanaman sorghum merupakan tanaman serealia yang mempunyai potensi tinggi penghasil biji sebagai sumber karbohidrat. Biji sorghum mempunyai kualitas nutrisi yang sebanding dengan jagung dan beras. Kandungan protein sorghum sedikit lebih tinggi dari jagung sedangkan kadar lemaknya lebih rendah. Sorghum selain sebagai bahan pangan alternatif juga merupakan komoditi agroindustri. Sorghum dalam industri digunakan sebagai bahan baku industri kertas, nira, gula, alkohol, etanol, dan monosodium glutamat. Selain itu sorghum juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan dan media jamur merang. 

Dalam hal budidaya, sorghum memiliki beberapa keunggulan seperti kemampuan adaptasi luas, tahan di lahan kering dan marjinal, serta sawah pada musim hujan atau kemarau dengan resiko kegagalan dan biaya usaha tani yang relatif kecil dibanding komoditi lain seperti padi dan jagung. Karena tahan kering kecamatan Dlingo khususnya Mangunan menjadi kawasan yang sesuai untu budidaya sorghum. Pelaksanaan gerakan tanam secara simbolis dilakukan Kasubdirektorat Serealia Lainnya dari Dirjen Tanaman Pangan, Kementrian Pertanian RI di wilayah Kelompok Tani Sumbermulyo II dengan varietas Numbu dan direncanakan akan dikembangkan seluas 20 Ha dengan total luas pengembangan di seluruh Indonesia 15.000 Ha.

Pelaksanaan budidaya sorghum di Bantul tahun 2009 lalu dilakukan dengan demplot seluas 15 Ha yang mulai tanam 5 – 7 Mei 2009 dan kemudian dalam pengembangannya menjadi seluas 20 Ha pada musim hujan 2009 berikutnya. Panen dilakukan bulan Agustus 2009 dengan hasil produktivitas varietas lokal 1,75 ton/ha; varietas Kawali 2,7 ton/ha; varietas Numbu 3,2 ton/ha; dan varietas F7 produktivitasnya 2,5 ton/ha dengan umur rata-rata sorghum 120 hari

KERAJINAN BAMBU DLINGO ; Bertahan dalam Himpitan Produk Modern

Dlingo : BANTUL (KR) - Hasil kerajinan bambu berupa alat-alat rumah tangga di Desa Muntuk Dlingo Bantul Yogyakarta, hingga saat ini masih tetap bertahan di tengah himpitan produk-produk modern. Produk piranti rumah tangga dari bambu itu tidak tergeser kemajuan hasil teknologi pabrikan. Barang-barang seperti tampah, tambir, kalo (alat penyaring santan), nampan, lampion, tempat pakaian, vas bunga dan sebagainya menjadi bagian kehidupan sehari-hari warga Muntuk. Produk-produk tersebut tetap eksis di pasar lokal DIY dan Jawa Tengah. Bahkan khusus untuk pemasaran di Klaten dan Solo rata-rata tiap hari mengirim 250 unit.

Marimin (38) seorang pengepul dan perajin anyaman bambu warga Gunungcilik Muntuk Dlingo mengatakan, para perajin kebanyakan memang membuat alat-alat rumah tangga kelengkapan dapur, di samping bak sampah, vas bunga dan tempat menyimpan pakaian. Jenis kerajinan bambu ini diproduksi oleh sekitar 90% warga Muntuk, melibatkan kurang lebih 200 kepala keluarga. "Hampir 90% warga Muntuk  menjadi perajin anyaman bambu," ujarnya. 

Produk anyaman bambu yang sudah ada sejak ratusan tahun silam itu hingga kini keberadaannya masih dibutuhkan banyak orang. Meskipun membanjir produk-produk alat rumah tangga dari bahan plastik maupun dari bahan lainnya buatan pabrik,  produk anyaman bambu tradisional ini tidak tergeser. Selain harganya terjangkau, ditinjau dari dampak penggunaan alat juga tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan lingkungan. Harga produk kerajinan bambu ini rata-rata Rp 2.500-Rp 5.000. Lantaran hasil kerajinan bambu ini laku keras di pasaran, meski jumlah perajinnya cukup banyak, tapi produksinya tidak sampai ada yang menumpuk.  

Petugas Inseminator Berprestasi Dari Dlingo

Dlingo: Diperhut-Btl: Kelompok peternak dan petugas teknis merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan pembangunan peternakan di Bantul. Salah satu upaya untuk memotivasi kelompok peternak dan petugas peternakan adalah pemberian penghargaan melalui Lomba Kelompok Ternak Dan Petugas Berprestasi.nBulan Juli ini dimulai rangkaian penilaian lomba peternakan tingkat propinsi DIY. Lomba ini diikuti oleh kelompok-kelompok ternak dari seluruh Provinsi DIY dengan penilaian dilaksanakan oleh Tim Juri dari Provinsi DIY.

Penilaian yang dilakukan berdasarkan aspek usaha agribisnis hulu meliputi obat- obatan, bibit, sarana dan prasana kandang. Aspek budidaya (on-farm) seperti pengelolaan ternak, aspek usaha agribisnis hilir, pemasaran, pengelolaan limbah, kelembagaan dan administrasi kelompok. Lomba lain yang diadakan selain kelompok ternak adalah petugas teknis berprestasi. Utusan dari Bantul atas nama petugas inseminator yaitu Yuslianto dari Kecamatan Dlingo yang penilaiannya dilakukan 9 Juli mendatang. Wakil-wakil yang menang di tingkat propinsi ini kemudian akan maju dalam lomba tingkat nasional yang diselenggarakan Dirjen Peternakan Kementrian Pertanian RI. 
 
Tahun 2010 ini,  Lomba ini merupakan bentuk apresiasi di bidang peternakan sehingga pada akhirnya mampu memberikan motivasi bagi masyarakat khususnya peternak untuk berkreativitas dalam membangun peternakan melalui inovasi teknologi di bidang peternakan. Lomba ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan kinerja dan produktivitas peternakan di DIY khususnya di Kabupaten Bantul. Melalui lomba sebagai salah satu metode pembinaan ini diharapkan kelompok ternak akan menjadi lebih maju dan berkembang, sebagai pendukung pencapaian swasembada daging nasional

Temuwuh Villagers make a living through door way

Dlingo: bataviase.co.id : Temuwuh village in Dlingo district, Bantul regency, is better known as Kampung Kusen (the door frame village) with most villagers being woodworkers.Men and women young and old, all play parts in the residential woodworking industry, especially making door and window frames.Around 5,000 of Temuwuhs 6,800 inhabitants are said to make a living from the industry.The door frame trade in Temuwuh is known to have been handed down through the generations, and the door frame production process has continued to have developed.

Temuwuh village chief said the woodworking trade was first initiated in 1974.Temuwuh is a village in a hilly area, 30 kilometers from Yogyakarta."There are no vehicles out of the village so residents must walk 12 kilometers to the nearest town," said Basuki.The trade developed rapidly thanks to the monetary crisis in 1998 as many villagers who went to seek fortune in the city returned home after being laid off there."I used to be a trader and traveled up to Medan, Aceh, and various cities in Java but went bankrupt due to the crisis in 1998. "I returned home and have been selling door frames since,".

Equipped with trading skills, Sutedjo started out by selling door frames on a cart in Yogyakarta city.Now, he is able to sell to people in several cities in East Java.He said he could sell between 100 and 200 door and window frames weekly at a profit of between Rp 25,000 (US$2.50) and Rp 50,000 each.Another villager Suraji, 34, has encountered a similar experience.The moment the monetary crisis hit in 1998, he returned home and has now owned a kiosk selling door frames in Banyuwangi, East Java.

If Sutedjo and Suraji decide to sell door frames, Besari, who was alsolaid off as a metal craftsman, opted to become a woodworker.With startup capital from his severance pay of Rp 15 million, Besari began to sell timber for door frames.Each month, with 15 woodworkers, Besari is able to use four truck loads of timber, each at a volume of 5 cubic meters.He buys a truckload of timber for Rp 7.5 million and after producing 100 door frames, he can sell them at Rp 120,000 each.He can obtain a profit of Rp 20,000 from each door frame, after subtract-ing Rp 25,000 for labor costs.

"After the door frames are ready, villagers who sell them give them to other residents for finishing," said Besari.Another villager, Tugiran, 39, returned home in 1998 to become a woodworker.With the money he saved, he used it to buy woodworking tools.He produces 80 door frames a month now and earns Rp 25,000 from each frame. The door frame trade has further thrived and has become a source of living for villagers.

Pendidikan Maya “Proses Atau Hasil “


Dlingo : Sebuah cerita panjang apabila diceritakan, sebuah awal yang memalukan sekaligus memilukan apabila Allah SWT tidak memberikan pakaiyan yang rapat dalam jiwa dan raga ini. Bersyukur atas nikmat dan menjadikannya sebuah pendidikan maya bagi sebuah jiwa yang haus akan air ke Esa an. Sekedar melepas dahaga dengan menuliskan sebagian dari sebuah proses yang belum tentu hasil. Sebuah pencarian yang belum seberapa namun sudah mengorbankan segalanya. Sebuah ukuran “segala” bagi Jiwa yang belum bisa menikmati proses dan lebih berorientasi hasil “Sungguh Memalukan”!!!!.

Sebuah analogi logis dan mari coba kita tanyakan dalam diri kita sendiri. Dalam hal makan dimakanah Kenikmatan tertinggi itu kita dapatkan,  pas mau makan, sedang makan, atau setelah selesai makan? Dalam hal bersetubuh dengan pasangan yang halal, Kenikmatan tertinggi itu pas mau bersetubuh, sedang bersetubuh, atau setelah bersetubuh. Dalam hal berdo'a, Kenikmatan tertinggi itu pas mau berdo'a, pas sedang berdo'a, atau pas do'a dikabulkan? Dalam hal sholat; Kenikmatan tertinggi itu pas mau sholat, pas sedang sholat, atau setelah selesai sholat? Dalam hal berdzikir, Kenikmatan tertinggi itu pas mau berdzikir, di saat berdzikir, atau setelah menyelesaikan target berdzikir sekian puluh/ratus/ribu kali? Dalam hal mengerjakan tugas kantor, Kenikmatan tertinggi itu pas mau, sedang, atau selesai mengerjakannya?

Lalu apakah jawaban kita, seandainyapun kita memilih untuk tidak memilih. Dan apakah itu benar, apa bila semua itu tidak  ada kenikmatan sedikitpun? Padahal siapapun yang mendustakan kenikmatan_Nya adalah bukan hamba_Nya. Kalaulah alam semesta ini mengajarkan kepada kita agar bisa menikmati sesuatu pada saat PROSESnya, lalu mengapa kita kurang pandai menikmati IBADAH dan KERJA pada saat PROSESnya? "Orang biasa" hanya pandai menikmati HASIL, sedangkan "orang luar biasa" mampu menikmati PROSES sekaligus HASILnya...Tahukah kita bahwa selama ini kita hanyalah tanah liat yang manja dan lupa pada bumi. Sehingga bumi kita injak tanpa ijin dengan sandal-sandal yang harganya tidak lebih mahal dari harga diri kita sendiri. 

Kita hanya bisa melihat orang lain berjalan begitu cepat, sedangkan diri kita terkesan lambat. Sesungguhnya tidak ada satu "zat" pun ciptaanNya yang benar-benar berhenti. Semua bergerak pada jalurnya masing-masing....termasuk Anda...Di karenakan Anda pun terus bergerak dan tidak pernah berhenti.  Kalaupun kita memang sudah jatuh atau terperosok ke jurang yang "paling dalam", berarti tidak ada lagi kesempatan kita untuk jatuh lebih dalam lagi, sebab kan sudah "paling dalam", artinya tidak ada lagi yang lebih dalam lagi dari pada kondisi yang "paling dalam".

Nah, itu sebabnya, jika Kita tetap IKHLAS dan terus BERGERAK, maka dapat dipastikan kita akan menaiki jurang kehidupan Anda, sebab tidak ada lagi jalan/cara/kesempatan kita untuk jatuh "terperosok", yang ada hanya tinggal jalan/cara/kesempatan kita untuk "naik". Syaratnya sederhana, yaitu IKHLAS dan BERGERAK.. Namun Wallahu alam.

Pendidikan Cuma sampai klas 3 SD, tapi tetep PeDe !

Dlingo : hendroplered.com : Lelaki, 50 tahun ini, tinggal di dusun Tekik, desa Temuwuh, Kec. Dlingo. Di daerah tersebut menurut Giyarto, orang yang awalnya menjadi sales keliling Rak Rak-an, dan mendapat uang jajan saja….dan inilah karier pak Gi, demikian panggilan akrabnya.

Saat aku “ Ngeyup” dari Hujan yang mengguyur daerah itu, di emper rumahnya tampak beberapa Rak rak-an yang siap jual, dan juga almari. Sekarang, Pak Gi tak lagi memanggul Rak rakan. Cara menjualnya tetap saja keliling. Hanya transportasinya paki Pic-up. Daerah sasarannya Purworejo, Kebumen. Sehingga kadang 2 – 3 hari baru Pulang. Hasilnya untuk beaya hidup, serta “Ragat” sekolah anaknya. Tak heran, kalau setelah Lulus tahun kemarin, anak Sulung ( perempuan) nya, konon kerja di Hotel Ibis, Jakarta. Sedangkan anak ke 2 ( laki laki ) masih klas II SMK Dlingo, jurusan Elektronika.

Aku sempat menanyakan, apakah ada bimbingan / pelatihan dari Mahasiswa KKN, LSM atau Pemerintah setempat.?. dia menjawab dengan Jujur : Belum pernah ada !.Pak Giyarto, patut kita acungi jempol. Meskipun ditengah krisis dan sulitnya mencari Uang di jaman ini, dia tetap tegar dan Optimis. Meskipun dijaman sekarang, masyarakat umum lebih suka rak rakan yang terbuat dari Almunium atau Stainless, tetapi Rak- Rakan yang terbuat dari kayu jati itu  masih ada yang berminat juga. Ditanya soal Alamari, Pak Gi mengatakan bahwa dia hanya mabil mentahan dari Solo. Dari bahan kayu Akasia. Kemudian dipoles dengan Plitur buatannya sendiri. “ Gitu aja sudah laku kok mas  !“.katanya mengakhiri pembicaraan.

Trimakasih Buat Mas Hendro Pleret yang telah menemukan satu lagi pejuang-pejuang kehidupan Dlingo kulit keriput mereka bukan sebuah lukisan buatan berwarna coklat, namun sebuah peta perjalanan hidup yang menuntun mereka sehingga menjadi seperti itu. Itulah wong Dlingo asli, Tak mengenal yang namanya  "s""u""l"i"t," karena semua mudah asal kita segera melangkah.