Kegiatan Temu Sadar Hukum di Mangunan, Dlingo

Kanwil Kementerian Hukum dan HAM D.I.Yogyakarta mengadakan kegiatan Temu Sadar Hukum di Mangunan, Dlingo. Desa Mangunan termasuk salah satu Desa Sadar Hukum berdasarkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 95/Kep/2013 tentang Penetapan Desa/Kelurahan Sadar Hukum 2013. 
 
Dengan ditetapkannya sebuah Desa sebagai Desa Sadar Hukum maka diharapkan masyarakat di Desa tersebut mampu menjaga kredibilitasnya sebagai masyarakat yang sadar, taat dan cerdas hukum, serta menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat di Desa sekitarnya, sehingga secara bertahap semua Desa/Kelurahan Sadar Hukum 
 
Tim Penyuluh Hukum Kanwil Kementerian Hukum dan HAM D.I.Yogyakarta terdiri dari Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Rr. Risma Indriyani, SH, M.Hum dan Kepala Bidang Pelayanan Hukum Dra. Sri Widyaningsih, S.H., M.Hum, Suwarno, S.H., Asih Widiastuti, S.H., Ngadiya, S.H., Kristina Budiyani, Rina Nurul Fitri Atien, S.H., Nuraeni, Sugiman, Adhitya Nugraha Novianta, S.H.

MEBEL KAYU DLINGO DILEMA INOVASI DAN TRADISI

Dlingo: lintaskampusup45 : Reka baru/inovasi (bahasa Inggris: innovation) dapat diartikan sebagai proses atau hasil pengembangan pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem baru yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial). (http://id.wikipedia.org).
 
Berwirausaha inovasi sangatlah penting. Banyak para wirausahawan yang gulung tikar karena mereka tidak mampu bersaing dengan kompetitor yang mampu menciptakan inovasi dalam produk. Tanpa inovasi, konsumen atau pasar pasti akan bosan dan mencari alternative lain. Namun apabila memang tidak ada inovasi pada suatu produk, konsumen harus membeli dengan keterpaksaan. Kita ambil contoh, para tukang kayu dari Dlingo yang memproduksi mebel kebutuhan mahasiswa. Banyak kita jumpai penjual mebel untuk mahasiswa seperti meja, rak buku, lemari dll.
 
 Kampus UPN Veteran ada puluhan penjual mebel dengan barang yang sama, nyaris tidak ada bedanya dari setiap penjual. Baik harga, maupun kwalitas barangnya. Terdapat beberapa tempat mereka berjualan secara rombongan, seperti di sekitar kampus UGM, UNY, UII, UMY, dan tentu saja UP45. Semua produk yang dijual memiliki bentuk, kwalitas dan harga yang sama. Kenapa hal itu terjadi? Karena pembuatnya berasal dari daerah yang sama.

Dlingo salah satu pembuatnya. Tepatnya berada di Kecamatan paling timur dari kabupaten Bantul. Puluhan bahkan mungkin ratusan para tukang kayu yang memproduksi mebel untuk mahasiswa berasal dari daerah itu. Mereka menggunakan material yang sama. Di sana biasa disebut kayu sengon. Sebenarnya tidak ada kesepakatan yang mengikat untuk memproduksi barang dengan bentuk yang sama. Hanya untuk harga mereka memiliki kesepakatan harga jual terendah.

Tahun ke tahun tidak ada inovasi yang berarti dari produk-produk ini. Konsumen sudah cukup bosan dengan produk yang sama saja. Padahal, untuk menciptakan produk yang berbeda tidaklah susah, bisa dilakukan dengan merubah material kayu yang digunakan atau dengan merubah desain, tentu akan menambah variasi dan konsumen punya alternative baru untuk menentukan pilihan. Di sisi lain, mungkin mereka terjebak dalam zona nyaman dengan memproduksi barang itu-itu saja. Seperti kita tahu bahwa zona nyaman (comfort zone) merupakan salah satu penghambat seseorang untuk berkembang dan maju. 
 
Dengan kata lain, produksi yang dilakukan oleh para perajin mebel ini bisa disebut sebagai tradisi. Dimana mereka memproduksi barang dengan jumlah yang massive, terus menerus, dan dengan bentuk serta kwalitas yang itu-itu saja. Tradisi yang sebenarnya tidak untuk di pertahankan, melainkan untuk dirubah atau dikembangkan. Tidak mudah memang, tapi itu lah kenyataan berwirausaha. Tanpa inovasi, berarti konsumen jenuh, bahkan yang fatal adalah tersingkir. Berwirausaha itu terkadang bisa terlahir karena tradisi dan bertahan dengan inovasi, namun bisa juga sebaliknya.

A hidden cave in Dlingo, Bantul

 
What do you know about some beautiful caves located in Bantul, Yogyakarta? Some of you maybe have only known or visited Selarong cave and Cermai cave. Yah, those are most famous caves in Bantul. There is, however, one of other beautiful caves hidden in Bantul regency, namely Jatisari cave. Jatisari cave is one of hidden caves located in Seropan 3 village, Dlingo district, Bantul regency. Some visitors named the cave as Goa Lowo Jatisari because it has many cave bats inside. Visitors coming into the cave with the length about 1 kilometer will see active stalactites and stalagmites and through small river. If you want to visit Jatisari cave, it is better for you to come at dry season as the volume of river water isn’t high.
 
Satu lagi tempat menarik di kecamatan Dlingo, Bantul,Yogyakarta yang perlu diperhitungkan sebagai salah satu tempat pariwisata di Bantul. Tempat itu adalah goa Jatisari yang terletak di Dusun Seropan 3, Muntuk, Dlingo, Kabupaten Bantul. Goa ini berada di ujung selatan kelurahan Muntuk yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul.

Ketika anda datang ke kawasan goa Jatisari ini, anda akan disuguhi dengan pemandangan alam berupa hamparan persawahan para petani yang berada di perbukitan dan derasnya aliran sungai oya sebagai pemisah antara Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul. Namun anda jangan berharap ada fasilitas layaknya sebuah tampat pariwisata. Tempat ini masih asri dan belum ada alokasi dana dari pemerintah untuk mengelola tempat ini.

Saat ini, pengunjung belum dikenakan biaya retribusi untuk memasuki kawasan ini. Apabila pengunjung membutuhkan pemandu untuk memasuki goa Jatisari, pengunjung dapat meminta salah satu warga setempat dengan tarif seikhlasnya.

Goa Jatisari merupakan salah satu goa yang memiliki aliran sungai didalamnya. Dimusim kemarau, aliran sungai itu tidak terlalu deras sehingga pengunjung dapat masuk hingga ujung mulut goa. Saat masuk ke dalam goa ini, pengunjung akan disuguhi indahnya stalakmit dan stalaktit yang masih aktif. Panjang goa ini sendiri sekitar 1 km dengan keindahan bebatuan menarik didalamnya.

UPK Kecamatan Dlingo- Sasar Usaha Perempuan, Kini Kelola Rp2,2 Miliar

Dlingo : koran-sindo.com: Mungkin, bagi sebagian orang, Kecamatan Dlingo merupakan wilayah yang terpinggirkan dan terbelakang. Namun siapa sangka jika kawasan yang berada 30 kilometer dari Kota Kabupaten Bantul ini, kelompok usaha perempuannya justru menyimpan potensi ekonomi cukup besar.

Bahkan di kawasan ini, pandangan miring tentang kelompok ekonomi perempuan juga terbantahkan. Gambaran sukses Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Dlingo ini mungkin menjadi cerminan bantahan jika Dlingo wilayah yang terbelakang. Bagaimana tidak, berawal dari bantuan dana bergulir sekitar Rp250 juta pada 2007 silam, kini UPK Kecamatan Dlingo mampu mengembangkan dana bergulir tersebut menjadi Rp2,2 miliar. Ketua UPK Kecamatan Dlingo Nurul Iwan mengungkapkan, sebagai ketua, dirinya tidak menyangka jika dana UPK bisa berkembang menjadi sebesar itu.

Tidak hanya itu, tingkat pengembalian di UPK tersebut mencapai 100%, lebih dari harapan sebelumnya. “Ini mengejutkan, karena meski dikatakan tertinggal justru mereka patuh-patuh,” kata Nurul. Salah satu strategi yang digunakan adalah mengkhususkan diri kepada kelompok ekonomi perempuan. Meski awalnya dipandang berisiko, justru ternyata melebihi ekspektasi yang ada. Anggapan jika kelompok perempuan tidak akan produktif dan patuh justru tidak terbukti sama sekali.

Kini, dengan menyasar kelompok-kelompok usaha perempuan seperti usaha kerajinan bambu di Desa Munthuk, usaha finishing mebel di Temuwuh dan usaha bunga kering atau ronce, makanan serta hasil bumi di Desa Dlingo, dana Rp250 juta cepat berkembang hingga kini menjadi Rp2,2 miliar. “Kami menyasar perempuan karena mereka lebih patuh dan mudah untuk diarahkan. Kini sudah ada 127 kelompok dengan anggota dua ribuan orang. Semuanya wanita,” katanya.

Dengan tingkat kemacetan 0% setiap tahun mencadangkan 25% untuk modal, kini UPK Kecamatan Dlingo mampu membangun sebuah gedung kantor UPK senilai Rp218 juta. Dana senilai Rp218 juta tersebut merupakan dana sisa lebih yang digunakan. Gedung UPK ini menjadi kebanggaan Kecamatan Dlingo, karena belum banyak UPK yang memilikinya. Beberapa kecamatan seperti Banguntapan, Pleret, Pundong, Imogiri, Bambanglipuro, dan Kretek. Sementara Kecamatan Sewon dan Sanden difasilitasi oleh kecamatan.

Harapan besar penggunaan dana untuk kepentingan tersebut memang mampu membantu masyarakat Dlingo. Kelompok perempuan produktif di Desa Mangunan Kecamatan Dlingo yang sebentar lagi akan membuka usaha modiste dan konveksi. Mereka berharap, dana UPK mampu memenuhi kebutuhan mereka untuk berkembang. Kali ini, mereka membutuhkan bantuan peralatan mesin jahit dari Pemkab Bantul. Pasalnya, kelompok perempuan Mangunan berjumlah 20 orang kini telah mengikuti pelatihan usaha menjahit namun mengalami kendala modal membeli peralatan untuk membuka usaha mandiri.

Heni, salah satu peserta pelatihan menjahit dari Dusun Sukorame mengaku masih kebingungan karena tidak memiliki modal yang cukup untuk bisa membeli mesin jahit yang harganya mencapai jutaan. “Inginnya pemkab bisa membantu modal mesin jahit. Tetapi jika tidak bisa, mungkin meminjam dana di UPK,” kata Heni di sela-sela mengikuti pelatihan menjahit kelompok perempuan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Desa Mangunan, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, membuka usaha jahit pakaian perlu modal tidak sedikit. Selain mesin jahit juga mesin obras serta border. Hanya saja, untuk kebutuhan awal dibutuhkan nanti mesin jahit menjadi alat pokok produksi. “Lha,kalau tidak punya mesin jahit mau buka usaha bagaimana? Kami akan pinjam di UPK,” ucapnya. ●

KASAT BINMAS POLRES BANTUL KUNKER KE POLSEK DLINGO


Dlingo : humaspolresbantul.blogspot: Kasat Binmas Polres Bantul AKP Muryanto beserta Anggotanya mengadakan Kunker ke Polsek Dlingo pada hari Senin tanggal 23 september 2013 pukul 13.00 Wib. Kedatangan Kasat Binmas disambut oleh Kapolsek Dlingo AKP S. Parmin beserta anggotanya dan langsung menuju ke Ruang kerja Binmas Polsek Dlingo untuk mengadakan pengecekan Administrasi dan kesiapan anggota.

Selain itu juga untuk mengetahui sejauh mana keefektifan personel yang melaksanakan dan mengemban fungsi Binmas. Dalam Polsek biasanya masing-masing Personel mempunyai desa binaannya masing-masing. Selain itu kasat Binmas juga mengecek sejauh mana kemitraan polisi dan masyarakat melalui buku kemitraan polisi dan masyarakat yang sudah diisi.

Dengan pengecekan dan pengawasan ini diharapkan Polisi akan tambah dekat dengan masyarakat dimana informasi dari masyarakat sangat dibutuhkan oleh Polisi untuk menjaga Situasi Kamtibmas agar selalu kondusif. Dalam arahanya, Kasat Binmas menyampaikan bahwa dalam waktu dekat ini Kapolres Bantul AKBP Surawan, Sik akan melaksanakan Safari Kamtibmas dan meninjau pos-pos kamling yang ada diwilayah Polsek Dlingo. Oleh karena itu Binmas Polsek Dlingo sebelumya untuk mempersiapkan waktu dan tempat pos mana yang akan dipersiapkan untuk dikunjungi dalam rangka safari Kamtibmas.

Kasat Binmas juga menekankan kepada personil Binmas Polsek Dlingo untuk lebih aktif melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang narkoba di Sekolah sekolah maupun remaja remaja di Desa agar mereka terbebas dari narkoba. Dan juga giat sambang desa maupun sambang ke Toga dan Tomas yang ada diwilayahnya. Kunjungan tersebut berakhir pukul 15.30 wib berjalan aman dan tertib.

UPAYA PERLINDUNGAN IKAN DAN LINGKUNGAN DI DLINGO

Dlingo : Tembi.net : Kita mungkin belum banyak yang tahu tentang Undang-Undang RI No. 31/2004 yang isinya antara lain berbunyi Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan sumber daya ikan dan atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia. Pelanggaran terhadap Pasal 12 Pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000,- (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Di daerah Banyu Urip, Jatimulyo, Dlingo, Bantul, Propinsi DIY Undang-undang tersebut dituliskan dalam sebuah papan. Papan tersebut kemudian dipasang di pinggiran Sungai Oya. Papan dipasang di dekat jalan desa yang menghubungkan desa dengan sungai tersebut. Jalan desa ini bisa dikatakan merupakan jalan satu-satunya di wilayah dusun itu yang menghubungkan dusun dengan sungai. Jadi siapa pun orang yang akan memasuki Sungai Oya dari arah Banyu Urip mau tidak mau harus melalui jalan ini sehingga papan peringatan ini hampir pasti dilihat dan dibaca oleh orang-orang yang melintasi jalan tersebut.

Papan peringatan sebagai upaya pelestarian ikan dan lingkungannya (dalam hal ini Sungai Oya) di wilayah ini memang sangat urgen mengingat Sungai Oya merupakan sungai yang cukup potensial habitat ikannya. Selain itu Sungai Oya di wilayah ini juga relatif belum banyak unsur pencemarnya. Mumpung masih demikian, sejak awal masyarakat di lingkungan wilayah ini diingatkan untuk tidak mencoba-coba mengganggu dengan cara dan tujuan apa pun akan sumber daya ikan dan lingkungannya.

Sayangnya hingga saat ini pelanggaran atas hal-hal semacam itu, yakni hal-hal tentang perusakan lingkungan, pemusnahan sumber daya hayati, termasuk perusakan dan pencurian Benda Cagar Budaya nyaris tidak pernah diangkat menjadi kasus-kasus pelanggaran hukum dengan sanksi atau denda yang bisa membuat pelaku menjadi jera. Hampir semua kasus-kasus tersebut di atas selalu berlalu tanpa penyelesaian secara hukum. Boleh dikatakan semuanya lewat begitu saja. Akhirnya hal semacam ini tidak memberikan pelajaran yang baik bagi pelaku pelanggaran. Dengan begitu lalu timbul asumsi bahwa perusakan lingkungan tidak akan menimbulkan resiko apa-apa bagi pelakunya. Hal demikian bisa dicermati bukan hanya dalam kasus yang dituliskan ini. Hal demikian bisa dicermati di lingkungan terdekat kita masing-masing.

Sesungguhnya negara Indonesia memiliki banyak kekayaan alam dan budaya. Sayangnya kita sebagai bangsa justru tidak pernah menghargai semuanya itu. Kita menganggap bahwa kita boleh memilikinya semau-mau kita. Kita boleh merampok dan menyikatnya asal kita mau dan mampu. Apalah artinya orang lain, generasi berikut. Mereka semua akan menemukan nasib baiknya sendiri-sendiri. Mungkin demikian pikiran orang-orang yang melakukan perusakan lingkungan atau katakanlah perampokan lingkungan dengan sumber daya hayatinya.

Ada pula yang beralasan bahwa karena kita lapar dan tidak punya uang, maka kita menyikat apa pun yang ada di lungkungan sekitar. Ketika lingkungan terlanjur rusak, tercemar, dan sebagainya orang pun bisa beralasan: lapar mendorong kami melakukan perusakan, pelanggaran, dan perbuatan-perbuatan buruk yang lain.

Sebenarnya semua itu berpulang pada bisikan hati nurani. Hukum, aturan, larangan, bahkan ancaman tidak akan efektif jika orang memang telah gelap nuraninya. Akan tetapi hukum, aturan, dan larangan itu bukannya tidak penting. Ia menjadi penting karena ia menjadi media pengingat, cermin, dan rambu yang bisa mengarahkan nurani orang untuk berbuat atau bertindak lebih baik. Mengarahkan orang untuk berpikir ulang untuk melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain maupun diri sendiri.

Papan peringatan yang dipasang di Banyu Urip, Dlingo, Bantul ini sekalipun keletakannya jauh dari perkampungan. Bahkan di sebuah ladang di pinggiran Sungai Oya namun efektif sebagai media pengingat atau peringatan bagi warga setempat untuk menjaga Sungai Oya dan lingkungannya. Jika pun ada orang asing masuk wilayah ini dan berniat melakukan ”penggarongan” ikan lebih-lebih dengan cara meracun atau menyetrumnya, mereka akan berhadapan langsung dengan warga setempat. Memang, warga setempatlah yang sesungguhnya menjadi pengawal garda depan untuk hal-hal yang demikian. Jika warga setempat tidak peduli, maka papan peringatan yang dipasang pun akan kehilangan fungsi.

Sendang Banyu Panguripan Dlingo Sebagai Sumber Kehidupan

Dlingo : http://tembi.net: Menurut rumor yang beredar di antara para pelaku “budaya spiritual” konon Sultan Hamengku Buwana X sebelum naik tahta pernah mandi berkah di Sendang Banyu Panguripan. Mbah Rejomulyo (86), istri juru kunci sepuh sendang, membenarkan adanya rumor tersebut. Pada dekade tahun 70-an, Sultan Hamengku Buwana X yang kala itu masih memakai nama gelar GPH Mangkubumi sekali waktu pernah mengunjungi Sendang Banyu Panguripan yang terletak di Dusun Banyuurip, Jatimulyo, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia datang diantar oleh sopir, dan membawa gula pasir sebanyak 10 bungkus.

" Mengenai alasan datang mengunjungi Sendang Panguripan, Mas Tik menjawab selain karena pernah digunakan oleh GPH Mangkubumi, tempat tersebut pernah digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menghidupkan Cakrajaya "
 
Saat bertemu dengan Mbah Rejomulyo, GPH Mangkubumi minta supaya diguyur dengan air sendang sebanyak 10 ember. Mendengar permintaan tersebut, Mbah Rejomulyo bertanya dalam hati, inikah sosok pengganti Sultan yang kelak akan bertahta. Pertanyaan tersebut mengusik rasa hati kala Mbah Rejomulyo mengguyurkan air ke atas kepala GPH Mangkubumi sampai membasahi seluruh tubuh. 

Usai dimandikan, GPH Mangkubumi duduk bersila di sebelah selatan sendang menghadap ke selatan. Dalam gelapnya malam karena semua lampu dimatikan, Mbah Rejomulyo yang kini sudah almarhum melihat sinar terang benderang menyelimuti raga GBP Mangkubumi. Cahayanya berpendar sampai celah-celah daun beringin putih yang tumbuh di sebelah barat sendang. Pemandangan yang baru pertama kali ditemui oleh Mbah Rejo. Pendar cahaya itu rupanya menjadi tanda awal terjawabnya pertanyaan yang mengusik rasa Mbah Rejo. Pertanyaan itu terjawab sepenuhnya manakala GPH Mangkubumi naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Sultan Keraton Yogyakarta. Pengalaman tersebut bagi Mbah rejo sangat berharga. Pasalnya sangatlah jarang ada orang yang mempunyai kesempatan melihat cahaya seperti itu, yang juga sekaligus sebagai berkah baginya.

Berkah itu yang diharapkan dapat dirasakan juga oleh sekalian warga yang datang berkunjung, seperti Mas Sutikno (40) asal Dusun Pucung, Imogiri. Pagi itu di penghujung hari bulan Sura Mas Tik, demikian panggilan akrabnya, datang diantar anaknya. Ia datang untuk mencari kesembuhan, karena ada benjolan yang tumbuh di rongga hidungnya, yang sering kali menghambat pernafasan. Pagi itu Mas Tik dibantu oleh Mbah Rejo putri menyempurnakan peziarahan. Asap kemenyan yang dibakar Mbah Rejo membumbung keluar melalui tungku cungkup, menghantarkan doa permohonan ke hadirat Tuhan Yang Maha Penyembuh. Wanginya bunga mawar merah putih menjadi simbol harum mewanginya nama ayah bunda yang melahirkan Mas Tik. Semerbak aroma bunga melati menyucikan rasa. Air yang diusapkan ke muka menjadi simbol pembersihan raga.
 
Raga Mas Tik nampak lebih bugar setelah unjukkan doa. Mengenai alasan datang mengunjungi Sendang Panguripan, Mas Tik menjawab selain karena pernah digunakan oleh GPH Mangkubumi, tempat tersebut pernah digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menghidupkan Cakrajaya.
Mengenai cerita Sunan tersebut dibenarkan oleh Bu Yanti salah satu putri Mbah Rejo yang ikut membantu para peziarah. Bu Yanti yang juga salah seorang Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dengan nama gelar Bekel Sepuh Surakso Warih menuturkan bahwa kala itu Sunan Kalijaga sedang berjalan-jalan di daerah Bagelen sekaligus berdakwah, bertemu dengan seorang penderes air nira namanya Cakrajaya. 

Saat bertemu Sunan menyapa ‘klonthang-klanthung wong nderes buntute bumbung’. Cakrajaya kemudian menjawab ‘iki tinggalane nenek moyang men akeh legene…akeh payune’. Karena tertarik dengan yang dilakukan Cakrajaya, Sunan Kalijaga menyampaikan niat untuk ikut membuat gula aren. Niat tersebut disambut dengan senang hati oleh Cakrajaya.
Berhari-hari Sunan yang kala itu berpakaian seperti orang pada umumnya ikut membuat gula aren dalam bentuk tangkepan atau sepasang. Setelah dirasa cukup, Sunan minta diri akan melanjutkan perjalanan. Selang beberapa hari air nira pun jadi gula aren. Satu per satu tangkepan dibuka. Dari sekian banyak gula tangkepan ada yang satu yang membuat Cakrajaya terkejut. Pasalnya air nira yang membeku setelah dibuka tak berwujud gula aren tangkepan tapi bewujud emas. Cakrajaya pun berkata kepada istrinya, “Mbokne jebul wong kang melu ewang-ewang awake dhewe gawe gula dudu wong sabaene…lha iki lho gula gaweane dheweke dadi emas”.

Terdorong oleh rasa penasaran, Cakrajaya pun berpamitan pada istrinya hendak mencari Sunan. Dalam perjalanan pengembaraan akhirnya Cakrajaya pun bertemu dengan Sunan di Dusun Selomiring tak jauh dari letak sendang yang kala itu masih berupa cekungan tanah karst yang cukup dalam. Rasa hati Cakrajaya dipenuhi keinginan untuk berguru pada Sunan. ‘Kowe ana kepentingan apa Cakra?’ Tanya Sunan. ‘Sowan kula menawi diparengke badhe ndherek meguru, necep ngelmu dumateng panjenengan’ .‘Bayare abot…apa gelem nebus kowe’ tanya Sunan. ’pinten reyal tetep kula bayar’ ‘wujud bayarane dudu duwit ananging nganggo laku kang utama…aja nyebal seka garising urip’. ‘Sendika’ kata Cakrajaya dengan penuh semangat.

Cakrajaya kemudian diajak Sunan naik ke atas sebuah bukit di dekat Sungai Oya. Namanya Gunung Ngajen. Di sana Cakrajaya diberi beberapa petuah tentang laku peziarahan batin yang layak dilakoni dengan sepenuh hati. Dirasa cukup, kemudian mereka turun kembali ke Dusun Selamiring. Untuk mengetahui kesungguhan niat Cakrajaya untuk berguru, Sunan berkata ‘ teken iki tungganana…aku arep nindakake shalat sedhela neng Mekkah’. (Jagalah tongkat ini... aku mau shalat sebentar di Mekkah).

Dengan penuh setia Cakrajaya menunggui teken (tongkat) yang terbuat dari kayu rasamala itu. Waktu pun cepat, tanpa terasa sudah hampir sewindu Cakrajaya tak berpindah tempat sedikit pun. Menunggui teken beralaskan batu padas kesetiaan dan berpayung angkasa harapan. Tanpa makan minum dan tidur. Sekitar tempat Cakrajaya duduk pun berubah jadi semak belukar. Pohon bambu ori tumbuh mengitari tubuh Cakrajaya yang mulai nampak kehijauan. Seakan berubah menjadi lumut.

Teringat akan tugas yang diberikan pada Cakrajaya, Sunan kembali ke Dusun Selamiring. Yang ditemui hanyalah semak belukar. Untuk memastikan keadaan Cakrajaya, Sunan berkata lantang ‘jebeng cakrajaya apa kowe isih ana neng kono?’ .‘taksih’ jawab Cakrajaya ‘kok kowe ora lunga?’ ‘ sabab kula kadhawuhan nenggo teken panjenengan’ jawab Cakrajaya.

Sunan lalu berkata ‘oh ya kuwi pitukone ngelmu…eling-elingen ngelmu kang tau tak paringake marang sira…grumbul iki arep tak obong’. Semak belukar dan juga rumpun bambu pun dibakar oleh Sunan. Api menyala sampai angkasa, terlihat sampai tempat yang ada di utara grumbul. Tempat tersebut di kemudian hari bernama Dusun Muladan. Begitu api padam Sunan menemukan Cakrajaya dalam keadaan samadi. Sukma nampak meninggalkan raga. Tubuhnya berubah jadi coklat kehitaman karena terbakar oleh api. Untuk mengambalikan sukma yang meninggalkan raga, Sunan kemudian bertafakur memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Dalam sunyi Sunan melihat seberkas cahaya hijau memancar dari arah timur Selamiring.

Maka dicarilah tempat itu. Setelah ketemu, tongkat yang ditunggui oleh Cakrajaya kemudian ditancapkan. Tak lama setelah dicabut keluarlah air dari bekas tempat menancapnya tongkat. Dengan air itulah raga Cakrajaya disucikan. Sukma pun menyatu kembali dengan raga. Raga yang mulanya mati suri kembali hidup sepenuhnya. Tempat keluarnya air yang digunakan untuk menyucikan raga Cakrajaya kemudian hari diberi nama BanyuUrip atau Banyu Panguripan. Artinya air yang memberi kehidupan. Atau dapat dimengerti sebagai air yang menjadi sumber kehidupan, baik kehidupan raga maupun kehidupan roh.

Ajang Mencari Pasangan Berkedok Klub Olah Raga di Dlingo

Dlingo : Buserdlingo: Kecamatan Dlingo memiliki banyak potensi remaja berprestasi diberbagai bidang. Tidak hanya bidang akademis namun juga bidang oleh raga, ramaja dan pemuda di Kecamatan Dlingo juga sudah menelorkan atlit atlit berprestasi baik catur, bola voly, sepak bola dan lain sebagainya. Namun dibalik cerita sukses ini ternyata banyak menyimpan cerita mengerikan yang dialami oleh remaja-remaja putri di daerah Dlingo. Hal ini sudah menjadi rahasia umum namun tidak mendapatkan perhatian secara serius baik dari orang tua maupun pihak-pihak terkait.

Sebut saja "bunga" salah satu anggota club bola voly PC "Inisial Club Bola Voly" yang berada disalah satu dusun, yang terdapat dikecamatan Dlingo. Beberapa tahun yang lalu bunga bergabung dalam club bola voly ini, namun dalam perjalannannya banyak hal menyedihkan yang dialami, " tutur bunga saat diwawancarai buseerdlingo". Awal bergabung di PC bunga dan kawan-kawannya belajar dan berlatih seperti layaknya anggota klub yang lain, beberapa kali bunga juga aktif dalam kegiatan non pelatihan yaitu kegiatan sosial kemasyarakatan yang diadakan oleh penggurus PC.

Namun hal-hal janggal mulai dirasakan bunga ketika penggurus dan para senior PC berencana mengadakan lawatan bertanding keluar dari kecamatan Dlingo. Seperti biasanya pengurus mencatat anggota-anggota yang akan ikut melawat dan bertanding. Dari hasil catatan itulah kemudian ditentukan remaja putri akan mendapatkan pasangan berboncengan sepeda motor untuk bersama-sama berangkat melawat. Bunga menuturkan lagi "biasanya yang boncengin senior PC" "dan sepertinya para pengurus dan para senior PC kompak untuk soal siapa dipasangkan siapa?, hingga motor yang dipakai milik siapa? "imbuhnya". bahkan ada yang sepertinya pengurus dan senior terlihat iri ketika ada remaja putri yang cantik diboncengin orang lain yang tidak sesuai catatan, "Pungkasnya".

Pada saat keberangkatan itulah biasanya para pengurus dan senior mulai mendoktrin dan bercerita banyak hal yang menarik tentang organisasi, kegiatan dan prestasi PC. Setelah beberapa kali lawatan bunga baru merasakan hal-hal aneh termasuk motor yang tiba-tiba ngerem mendadak dijalan yang bagus "Agar terjadi kontak fisik : Ungkapnya", motor tiba-tiba masuk ke lorong-lorong jalan buntu dan sunyi "biasanya yang seperti ini sudah terjalin hubungan antara pengurus/senior kepada remaja putri binaan, lalu pasangan dipacari dan diperlakukan layaknya suami istri atau sekedar meraba-raba "imbuhnya sambil menangis",  secara umum baik pengurus maupun senior PC rata-rata menebar pesona dan sudah memiliki incaran ramaja putri yang hendak dijadikan target pelampiasan nafsu atau sekedar pelecehan yang dilakukan secara halus, dengan dalil kakak beradik atau senior terhadap yuniornya.

Yang paling sering terjadi di PC adalah memacari remaja-remaja putri yang masih pemula, dan ironisnya ini terjadi pada setiap remaja putri yang memiliki paras wajah cantik atau memiliki postur tubuh yang seksi. Namun proses pacaran itu tidak berlangsung lama, ketika para remaja putri keluar dari Klub PC biasanya pacaranpun selesai. Atau secara sengaja para pengurus atau anggota senior membuat hubungan pacaran itu menjadi bermasalah sebagai alasan dan akhirnya keluar dari Klub PC dengan sendirinya.

Banyak sekali permasalahan pelecehan yang terjadi di Club PC "Menurut Sumber yang berbeda", Sumber : Tidak maudisebutkan namanya : "dari pelatih, pengurus, sampai anggota senior asli domisili setempat rata-rata pernah memiliki kasus pelecehan yang tidak pernah diungkap ke publik, disamping kebobrokan lain dari sisi pertanggungjawaban pengurus organisasi kepada anggota, namun itu terjadi sekitar 3-5 tahun yang lalu. "Ungkapnya". yang paling baru adalah isu hamilnya anggota PC oleh pelatih PC sendiri yang sempat dimuat di salah satu Koran terkemuka di jogja. Belum lagi kasus kehamilan yang lain yang juga terjadi dalam Klub PC ini.

Beberapa hal terkait hal-hal diatas adalah sebuah rahasia umum yang selama ini diketahui masyarakat namun enggan mempermasalahkannya. pengakuan bunga merupakan satu hal yang harus diantisipasi oleh para orang tua dan berbagai pihak. Alih-alih ingin berprestasi namun bisa jadi tanpa pengawasan yang baik dan komunikasi yang baik antara anak dan orang tua maka yang terjadi pelecehan seksual. Sebuah organisasi olah raga mestinya membangun badan yang kuat untuk juga menghasilkan remaja dan pemuda yang berjiwa kuat, sebagaimana lagu Indonesia Raya "BANGUNLAH BADANYA BANGUNLAH JIWANYA". Hal ini tentu akan sulit di ungkap karena dalil utamanya adalah pacaran dan suka sama suka, selanjutnya nuranilah yang harus bicara.

Sempat Hidup Bebas, Pelaku Pencabulan Asal Dlingo Ditahan Kejari Jogja

Dlingo : Soloposfm.com : Tersangka pencabulan Ngatiran alias Mintek, 33, warga Banyu Urip, Jatimulyo, Dlingo, akhirnya ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Jogja, Rabu (13/3/2013). Tersangka sebelumnya hanya dikenakan wajib lapor selama tiga bulan oleh penyidik di Mapolresta Jogja.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Jogja Ana Muflikah mengatakan, kejaksaan tidak akan mengikuti jejak penyidik yang tidak menahan tersangka. Alasannya, selain faktor psikologis keluarga, hal itu didasarkan pada perilaku tersangka yang tidak hanya sekali melakukan tindak pencabulan.

“Korban AH, usia 17 tahun sudah hamil. Dia masih duduk di Kelas III SMK di Bantul. Berkasnya baru P21. Sebagai jaksa dan anggota Forum Perlindungan Perempuan dan Anak kami putuskan penahanan,” kata Ana.

Ana mengatakan, pihaknya sebenarnya juga mempertanyakan kebijakan dari penyidik yang tidak menahan tersangka. Pasalnya, penyidik hanya mewajibkan tersangka wajib lapor setiap Senin dan Kamis pukul 09.00 WIB. Hal itu, menurutnya, tidak sebanding dengan trauma yang dialami korban.

“Keluar rumah saja, korban nggak mau. Saat ini, korban menunggu kelahiran bayinya yang diperkirakan pada 14 Maret mendatang,” sambungnya.

Menurut Badar Riyanto, keluarga korban, tersangka merupakan tetangga korban. Tersangka tidak hanya sekali melakukan perbuatan mesum tersebut kepada korban. Sebelumnya, jelas dia, tersangka juga pernah mencabuli anak-anak yang juga masih keluarga dengan korban AH.

“Hanya, kasus itu tak sampai ke meja hijau. Bagi keluarga, (tersangka tidak ditahan) itu sangat melukai kami. Kami tidak ingin tersangka mendapat korban lain,” jelas Badar.

Peristiwa pencabulan terhadap AH terjadi awal 2012 lalu di sebuah wisma di Mangkuyudan, Jogja. Akibat perbuatan itu, selain hamil korban juga mengalami trauma akut. Tersangka dilaporkan ibu korban, Fitriatun, 38, pada 22 Desember 2012 lalu.

Sementara, Ketua Divisi Pengaduan Jogja Police Watch Baharudin Kamba menyayangkan sikap penyidik. Menurutnya, alasan penyidik tidak menahan tersangka terlalu subjektif.

Penyidik Pembantu Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Bripka Dian Sugiandari mengaku, pihaknya tidak menahan tersangka lantaran Ngatiran bersikap kooperatif.

Tanaman Keras Dituding Jadi Biang Hilangnya Sumber Air Di Dlingo

Dlingo : Radarjogja : Masyarakat di Kecamatan Dlingo menilai, keberadaan hutan negara yang banyak terdapat di wilayah ini justru kurang mendukung upaya masyarakat dalam menyelamatkan sumber air di perut bumi.

Warga menilai, hutan di Dlingo yang sebagian besar ditanami tanaman keras, sedikit banyak telah mengurangi ketersediaan air tanah. Hal ini sesuai dengan karakter tanaman keras seperti akasia, pinus dan kayu putih, yang banyak menyerap air dari dalam tanah.

“Kami menilai kekeringan yang terjadi ada keterkaitan dengan jenis tanaman yang ditanam di hutan negara,” kata Ponidi, Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, kepada Harian Jogja.com, Rabu (18/9/2013).

Menurut Ponidi, penilaian itu didasarkan dari beberapa kajian ilmiah yang pernah dilakukan. Meski demikian, warga tidak bisa berbuat banyak, karena saat penanaman, warga juga tak pernah dilibatkan.

Suparno, tokoh masyarakat Dusun Cempluk, Desa Mangunan, menambahkan, saat ini warga benar-benar kesulitan mendapatkan sumber mata air. Untuk membuat sumur, warga harus mengebor tanah dengan kedalaman lebih dari 100 meter.

“Harus lebih dari 100 meter. Padahal dulu, di kedalaman 30 meter air sudah melimpah,” katanya.

Roti Keju Perintis Pop Punk Asli Dlingo

video

Dlingo : Pop punk adalah genre musik yang menggabungkan unsur musik pop dan rock punk. Semua menggambarkan genre musik sebagai untai rock alternatif, yang biasanya menggabungkan melodi punk pop dengan tempo cepat, perubahan chord dan gitar keras. Telah dijelaskan bahwa band pop punk kontemporer sebagai salah satu genre musik yang memiliki pengemar dan aliran tersendiri saat ini, namun tetap mempertahankan sebagian besar kecepatan dan sikap punk rock klasik. 
Awal penggunaan istilah pop punk muncul dalam sebuah artikel 1977 New York Times, "Cabaret: Kedengarannya Tom Petty's Pop Punk Rock membangkitkan dari 60-an”. Pada pertengahan 1990-an, California band pop punk Green Day. dan The Offspring, yang kemudian diikuti oleh Blink-182 yang cukup fenomenal, semua akan mencapai sukses komersial di seluruh dunia. Dari pertengahan 1990-an dan seterusnya, beberapa band yang berhubungan dengan genre telah digambarkan sebagai "punk bahagia". Dan hingga saat ini telah banyak band-band diseluruh dunia yang mengusung aliran pop punk.
 Dlingo sebagai bagian dari wilayah kabupaten bantul yogyakarta saat ini sudah melahirkan sosok "ROTI KEJU BAND " sebagai bentuk apresiasi terhadap isu genre musik yang semakin membumi utamanya juga sebagai bentuk aspirasi bahwa kecamatan dlingo mampu setara dengan wilayah lain di Yogyakarta khususnya dan Indonesia umumnya melalui media online. 
Dengan mengusung spirit "FIGHT TOGETHER WITH MUSIC" Roti Keju band dengan personil Robby ( gitar/ vokal ) Claudio tito ( bass/vokal ) dan Ravik ( drum ) memiliki motto : TIDAK BERHARAP MENJADI BINTANG YANG GLAMOUR NAMUN CUKUP MEMBERIKAN KARYA YANG TERBAIK TUK PENDENGAR DAN CUKUP TUK DI KENAL berupaya untuk berkompetisi karya dibidang musik dengan band-band lain dari yogyakarta.
Spirit musik khas lidah ngunung menjadi ciri kas pembeda dengan musik sejenisnya, meski band ini terbentuk belum genap 1 tahun, namun sudah menelorkan lagu ciptaan sendiri. Berikut adalah eksistensi roti keju asli Dlingo klik saja :

1.  aaaaa (hey kau) @ Live accoustic at RiverView C
2.  Jangan takut jadi Indonesia @ Moyudan Sleman
3.  detik tak bergerak @ Live accoustic at RiverView Cafe
4.  teman berdiri @ Live accoustic at RiverView Cafe
5.  pastikan sirna @  Live Accoustic at RiverView Cafe 
6.  Jangan takut jadi indonesia @ Live at Taman Cafe JEC YK


 

Kekeringan Beban Ekonomi Masyarakat Dlingo Kian Berat

Dlingo : Harianjogja: Kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah di Bantul membuat beban ekonomi masyarakat kian berat. pasalnya, mereka harus mengalokasikan dana yang tidak murah untuk mendapatkan kebutuhan pokok, air.

Tarjo, Kepala Dusun Cempluk Desa Mangunan Kecamatan Dlingo mengatakan sampai pertenganan September ini rata-rata warga Cempluk sudah membeli air tiga kali dari tangki swasta seharga Rp140.000 per 5.000 liter.

“Rata-rata pengeluaran warga untuk membeli air sudah hampir Rp500.000,” katanya, Sabtu (14/9/2013).

Air tersebut ditampung di bak yang telah dimiliki setiap rumah. Air itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut, lanjut Tarjo, memperbutuk beban ekonomi warga Cempluk di tengah musim kemarau. Terlebih sumber air di Desa Mangunan yang selama ini diandalkan sudah tidak bisa diharapkan menyusul pembatasan operasional air secara giiran.

Tiap warga dalam satu kelompok air hanya mendapatkan jatah dua jam bergiliran untuk 39 anggota. “Asumsinya berarti untuk dapat air sekitar tiga meter kubik kami harus antri 39 hari sesuai anggota kelompok air,” imbuh Tarjo.

Sampai dengan hari ini, Tarjo memastikan warga belum mendapat bantuan dropping air seperti janji Pemkab Bantul. Warga Cempluk melalui Karangtaruna sudah mengajukan proposal ke Pemkab Bantul namun dijanjikan dalam 15 hari ke depan.

Ngatini wargga Cempluk membenarkan banyak warga di sekitarnya sudah membeli air dari tanki swasta. “Harganya naik dulu masih Rp 120.000 sekarang Rp 140.000 per 5.000 liternya. Ini memang berat bagi kami,” ujarnya di tempat terpisah.

Warga Dlingo Resah dengan Isu Penebaran Racun di Kali Oya

Dlingo : Sorotjogja: Warga di sepanjang aliran Sungai Oya Kecamatan Dlingo, dalam satu minggu terakhir resah dengan kabar akan adanya penebaran obat (racun) ke sungai tersebut. Kabar yang beredar, tujuh lokasi di sepanjang sungai akan ditebari obat untuk membunuh seluruh ikan-ikan dan akan menggantinya dengan benih ikan jenis baru.

Pengurus Pengawas Kelompok Sungai Oya, Suyoto menuturkan, isu tersebut sudah sangat meresahkan karena banyak masyarakat yang bergantung pada air sungai tersebut. Mereka takut, air yang mengalir akan tercemar dan mengancam ekosistem sungai serta tanaman yang mereka miliki. Selain itu, sumber air minum yang mereka gunakan juga dikhawatirkan akan ikut tercemar.

"Sekarang semua siaga, jangan sampai ada yang memberi racun ke sungai," kata Suyoto saat ditemui di Dlingo, Jumat (13/9/2013).

Menurut Sunyoto, sungai Oya merupakan satu-satunya sumber pengairan yang diharapkan oleh warga Dlingo. Karena debit air sungai Oya yang stabil mampu mengairi ladang, perkebunan, lahan pertanian dan ada yang masih digunakan untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK).

"Sampai sekarang, kami sendiri belum tahu persis siapa yang akan melakukan tindakan pengobatan ikan massal itu, entah dari instansi pemerintah maupun swsta. Soalnya kami sempat koordinasi dengan Dinas Perikanan Bantul katanya tidak ada (rencana pengobatan ikan massal)," jelas Suyoto.

Ia mengungkapkan, setidaknya, ada 30.000 tanaman baru di Dlingo yang selalu bergantung pada aliran sungai tersebut. Bahkan, beberapa titik di sungai tersebut juga digunakan untuk kolam pemeliharaan ikan. Sehingga jika diracun, maka ikan-ikan akan turut terkena imbasnya. Tidak hanya itu, semua habitat sungai mulai dari bibit hingga ikan yang besar juga mati dan punah. "Mohon dilakukan dengan bijak. Kalau diracun ikan-ikan langka yang masih ada akan ikut punah," tandasnya.

Namun, pihaknya sendiri belum mengetahui pihak mana yang berencana melakukan tindakan tersebut. "Tapi kemarin kelihatannya sudah mengobat tapi tidak mempan," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Riyantono mengaku belum menerima laporan tentang isu tersebut. Namun demikian, pihaknya menandaskan Pemkab melarang keras penggunaan obat untuk memburu ikan. Ia mengancam akan menindak tegas pelaku penebar obat atau racun tersebut.

"Tidak hanya racun, tapi juga yang nyetrum akan kami tindak, itu juga ada peraturan perundangannya. Itu akan segera saya cek isu itu segera," katanya.

Mantan Sekcam Dlingo yang skr bertugas di Pleret Ditemukan Tewas di Jurang Kali Urang Dlingo

Dlingo : sorotjogja.com : Sekretaris Camat (Sekcam) Pleret, Suparjo (37) Dusun Pucang Anom, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, ditemukan tewas membusuk tersangkut pada besi pengaman jalan di jurang Kaliurang, Dusun Koripan 1, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Bantul, Rabu (11/9/2013) sore. Padahal korban dalam pencarian pihak keluarga, setelah sejak Jumat (7/9/2013) malam tidak bisa dihubungi. Jenazah kemudian dibawa ke RSUP Sardjito, hingga kini kasus tersebut masih dalam penyelidikan kepolisian. 

Namun dugaan kuat korban masuk jurang ditengarai akibat kecelakaan lalulintas. Sementara itu sepeda motor Honda Vario AB 2648 CG, ditemukan di dasar jurang dengan kedalaman 30 meter. Penemuan jenazah korban pertama kali oleh sejumlah warga pencari rumput. Sore itu warga mencium bau tidak sedap di sekitar lokasi penemuan mayat.
Setelah dicari diketahui tubuh korban tersangkut pada besi pengaman jalan yang sudah rusak dan melintang di tebing, sekitar 10 meter di bawah bahu jalan. Temuan tersebut kemudian dilaporkan ke Polres Bantul dan PMI Bantul untuk dilakukan evakuasi. Jenazah baru bisa di angkat sejaam kemudian karena berada di tebing yaang sanggat curam.

Berdasarkan infromasi lain, sebelum pergi Jumat pagi korban sempat meminta uang kepada istrinya Rp 10 juta untuk satu keperluan. Namun saat itu hanya diberi Rp 250.000.  Kasat Lantas Polres Bantul AKP Setyo Hery Purnomo mengatakan dugaan sementara korban masuk jurang akibat kecelakaan. Namun untuk mengungkap penyebab pastinya masih dalam penyelidikan.