Konfersi Minyak Gas Siapa Beruntung "wonk Dlingo Po Wonk Liyo"

Beberapa waktu lalu Pemerintah memberikan tabung gas bersubsidi kepada masyarakat, namun hal ini bagi sebagian besar masyarakat Dlingo bantul tidak begitu berpengaruh. Hal ini dikarenakan masyarakat tetap lebih memilih kayu sebagai bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga. namun apa bila di lihat geliat roda ekonomi di Kecamatan Dlingo memang beraneka ragam komentar dan apresiasi terhadap konfersi minyak ke gas ini. Bahkan sebagian pedagang bakso, Mie Ayam, soto di pasar dangwesi Desa Terong justru mengeluhkan karena gas jika dipakai untuk memanaskan dalam waktu lama terlalu beresiko dan boros. Lain lagi dengan beberapa penjual gorengan dan roti bakar yang biasa berjualan di seputar Kerdu Desa Temuwuh, mereka merasa lebih ngirit dengan gas dari pada dengan mintak tanah.

Persoalannya adalah sejauh mana konfersi minyak ke gas ini kemudian di ikuti dengan program dan kegiatan lain, yang kemungkinan akan berdampak positif bagi masyarakat yang merasa di rugikan dengan konfersi ini. karana tidak sedikit pula beberapa warung dan ukm yang pada awalnya menggunakan minyak tanah harus mengeluarkan modal agak lumayan untuk tetap berproduksi. Jika hanya berfokus pada efisiensi anggaran mungkian dalam itung-itungan statistik maka akan ada grafik positif dan meningkat secara angka-angka, namun realitas yang terjadi di masyarakat tentu juga selayaknya mendapatkan perhatian.
Kenyataan di lapangan banyak tabung gas 3 kilo-an yang ada di Kecamatan Dlingo banyak di jual pada pembeli yang berasal dari luar daerah, hal ini terjadi karena masyarakat masih mengandalkan kayu bakar dan meyakini bahwa dalam mendukung aktifitas rumah tangga belum begitu memerlukan gas. hal ini bisa di cek di lapangan. pada awalnya berapa tabung yang sudah di bagikan, dan sekarang tinggal berapa yang aktif di gunakan. hal ini perlu di lakukan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas program konfersi ini di tingkat bawah. dan apa yang sebenarnya menjadi harapan dari masyarakat, ya yang namanya masyarakat kalau di bantu ya pasti diterima.. masalahnya adalah sejauh mana bantuan itu dapat bermanfaat dan di gunakan serta di kembangkan sebagaimana mestinya terutama masyarakat sosial kita.

3 Melu Omong:

Anonim mengatakan...

wah...kalo di pikir-pikir iya juga ya...

eyang bethoro mengatakan...

Nderek mampir ngombe
Salam kenal yo mas

Mas Koetot mengatakan...

Monggo mampir Ngome kalian dahar mangkih ndak mboten pinarak malih...hehehehehe...njeh mekaten kawontenanipun

Posting Komentar

Saksampunipun Maos Nyuwun dipon Unek-Unekken