Menencari Pengrajin Dan Pedagang Mutiara

Dlingo : Seseorang bisa saja menguasai istilah-istilah yang muluk-muluk tentang  ilmu industri mutiara dan pengrajinnya. Tetapi belum tentu dia mengalami dan menjalankan bisnis itu. Atau dengan kata lain, ada orang yang ahli tentang ‘irfan dan ada pula orang ‘arif/shufi. Layaknya Tasawuf yang selalu saja menjadi pergunjingan antara teory dan praktek. Perbedaan ini muncul, diantaranya, karena istilah merupakan bagian dari ilmu hushuli sedangkan pengalaman-pengalaman spiritual adalah ilmu hudhuri. Ilmu hushuli adalah ilmu yang diperoleh oleh seseorang melalui media atau perantara. Sedangkan ilmu hudhuri adalah ilmu yang diperoleh tanpa melalui media dan perantara.
 
Ingin sekali berbagi cerita dengan tanpa berharap apapun, namun mudah-mudahan ini tidak salah karena sulit sekali mencari orang yang mau mendegarkan apalagi memahami tentang hal yang satu ini. Berawal dari sebuah kebimbangan mulailah tampak sebuah harapan. Harapan yang selama ini seolah-olah tidak pernah dibicarakan orang secara umum. Karena yang terdengar di telingaku selama ini hanya Lahir, besar, makan, bekerja, menikah, memiliki keturunan, mendidik dan membesarkannya, tua dan mati. Sebuah perjalanan yang terkesan singkat namun lama dalam melaluinya. sebuah perjalanan yang terkesan simple mudah dan banyak jurus jitu untuk menyiasatinya. 

Perasaan asyik dan ber-asyik-asik dengan dunia terkesan memperlambat laju waktu dan hari. Namun ketika malam tiba dan tengah malam terbangun dari tidur kulihat sosok perempuan muda dan bocah mungil yang akrab dimataku namun begitu jauh dari dekapan hati sehingga mustahil untuk memilikinya sepanjang masa. Saat itulah hati perih namun tak kutemukan kenapa perih lah yang selalu di dapat setiap kali malam datang dan melihat pendamping tidurku terlelap. Sesekali terbayang canda tawa dan semua pengalaman 4 tahun yang lalu, tapi juga bukan itu penyebab perihnya hati. Perih itu ketika coba kudengarkan semakin riuh dan semakin kuat saja, namun ternyata bukan perihnya sebuah luka dan aku semakin bingung.

Lalu kubiarkan saja rasa itu menjadi hal yang biasa, layaknya makan minum dan akhirnya sampai di lubang wc. Namun sebuah rasa kekecewaan yang luar biasa kudapatkan, layaknya  perasaan seorang yang sedang berpacaran dan berjanji di sebuah tempat untuk bertemu, namun salah satu dari pasangan itu mengingkari janji dan memilih bertemu dengan teman-temannya dari pada kekasih hatinya.Sesal lah yang kudapat, lalu perih itu tiba-tiba bercampur dengan sebuah kerinduan yang tak bisa dianalogikan lagi, sebuah kerinduan yang tidak butuh alasan apapun. Sebuah kerinduan rasa yang tidak beralasan muncul dan selalu saja membuatku bimbang dalam melangkah dan memutuskan setiap keputusan.

Suatu hari bertemulah aku dengan seorang tua yang memiliki batu mutiara nan elok dan menawan, pesonanya membuatku terpikir untuk memilikinya. Lalu kucoba ku niatkan untuk membeli ku hampiri dan ku tanyakan berapa harga mutiara kemilau itu. Sungguh diluar pikiranku ternyata harganya murah sekali, hanya 100 perak saja katanya. Namun dengan sebuah semangat dan kesombonganku kumasukan tangan kedalam saku celananku, karena aku merasa memiliki lebih dari sekedar 100 perak dalam saku celanaku. Betapa kagetnya aku ketika kudapati saku celanaku kosong tanpa berisi sepeserpun. sebuah kekecewaan lagi-lagi kudapat, sampai akhirnya orang itu pergi entah kemana.

Aku mencoba melupakan, pikirku masih banyak penjual mutiara yang suatu hari akan kutemui. Sampai akhirnya setelah sekian lama akhirnya aku lupa dan bisa melupakan rasa senangku terhadap mutiara itu. Setelah sekian lama Tak terasa aku memiliki 100 perak disaku bahkan mugkin lebih, namun aku bertujuan lain dan tidak untuk membeli mutiara yang pernah kulihat. Namun kembali aku di buat kaget karena aku kembali bertemu orang tua pedagang mutiara itu lagi setelah sekian lama menghilang dalam pikiranku. Rasa takjub terhadap kemilau mutiara itu kembali membuat batinku bimbang dan raisau untuk memilikinya. Kucoba memberanikan diri untuk menawar sekali lagi "berapa harganya pak?" aku terkejut ketika orang tua itu menjawab " sekarang sudah tidak boleh lagi dengan harga 100 perak!" dengan sombongnya ku masukan tanganku ke dalam saku ku ambil semua uang dan ku sodorkan ber receh-receh uang lebih dari 100 perak. Namun orang itu menggelengkan kepala seraya menjawab "maaf mas tidak boleh!".

Sebuah kekecewaan yang sama terulang, merasa  setiap usahaku mencari uang tiada artinya, merasa apa yang ku miliki tidak pernah cukup bahkan aku hanya asik dengan kesenangan-kesenangan semu yang kuciptakan sendiri untuk sekedar menutupi kesenangan hakiki yang pernah ku lihat berupa kilau mutiara yang indah. Dan mengantikannya dengan kilau emas-emas yang aku sendiri tidak pernah memakainya. Ku pikir sudah ku dapat yang ku ingin dengan tetap memiliki sesuatu meski berbeda wujud dan bentuk.

Dalam perjaanan berikutnya kudapati seseorang yang tak pernah kukanal dan tidak pernah bisa ku inggat raut wajah dan nada bicaranya. Dia katakannya sebuah kebaikan yang sulit sekali ku pahami, dia katakan "Lakukan kebaikan dan maknai kebaikan itu dalam tiga hal maka kebaikan itu akan sempurna....Off The Record". Tanpa sadar orang itu berulang-ulang datang dan kembali mengajakku berdiskusi "1 orang menuju mekah, 60 orang akan terbawa.......Off The Record". huhhhhh...betapa semakin binggung dibuatnya. Dalam waktu yang tidak lama akhirnya muncul lagi "Perih dan sebuah kerinduan" sebuah rasa yang sampai saat ini selalu mengajaku terdiam dan di paksa untuk mendengarkannya. Sungguh sebuah keterpaksaan yang indah dalam kemelut jiwa yang sulit di cari maknanya.

Ku Coba tenangkan diri dengan melantunkan lagu-lagu nurani, dengan kaki-kaki kesemutan yang hampir tidak bisa lagi kurasakan keberadaannya. Meski gemuruh suara malam dan gunjingan hati yang tidak khusuk selalu melecehkan_Nya serta merta menambah berat dan perihnya rasa. Dalam rasaku ada yang bernyanyi pelan sekali namun ada pula yang terlalu cepat sehingga sulit untuk didengarkan. sesekali umpatan-umpatan itu nuncul dan kubiarkan saja, aku tidak lagi mengurusnya. Jika di ijinkan aku belum puas, jika di ijinkan aku masih ingin mencari mutiara dan pedagangnya, jika di ijinkan aku ingin kembali.

2 Melu Omong:

Kesehatan Masyarakat mengatakan...

Nderek langkung... Kulo mahasiswa S2 FK UGM ingkang angsal tugas penyelidikan wabah wonten wilayah Dlingo II. Senang menemukan ternyata ada blog khusus tentang Dlingo. Sukses nggih...

Mas Koetot mengatakan...

injih.matur nuwun sampun mampir wonten gubuk kulo.mugi-mugi rahayu ingkang sami pinanggih

Posting Komentar

Saksampunipun Maos Nyuwun dipon Unek-Unekken