Semangat Fachori Dlingo, Kebangkitan Indonesia!

Dlingo : www.kompasiana.com/pascual-duarte : Adalah Fachori (50) pengayuh rakit di dusun Kebosungu dua, desa Dlingo, Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul Yogyakarta. Setiap harinya Fachori hidup sebagai pengayuh rakit dan menyeberangkan siapapun dari Dlingo, Bantul ke Playen, Gunung kidul. Fachori dibantu oleh Ashari yang tak lain adalah tetangganya sendiri. Tiap hari, mulai pukul 05.00 pagi, Fachori telah bangun, melayani para pedagang sayur di dusunnya yang ingin mencari jalan pintas dengan menyeberang sungai Oyo menuju ke pasar Banyusoca dengan rakitnya, begitu sebaliknya.

Dusun Kebosungu dua merupakan dusun terpinggir bagian tenggara kabupaten Bantul Yogyakarta. Dusun ini berbatasan dengan Gunung kidul oleh aliran sungai Oyo. Dibanding dusun lain di desa Dlingo, penduduk Kebosungu dua relative lebih banyak yaitu sekitar 744 jiwa, dan 50% warganya hanya berpendidikan SD . Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai petani lahan kering karena seluruh tanah di dusun mereka adalah pegunungan kars dengan tanah berkapur. Meski berpenduduk banyak bukan berarti pembangunan infrastruktur di dusun ini maju. Justru sebaliknya, tak saja terpencil, dusun kebosungu dua desa Dlingo juga minim perhatian dan pembangunan. Hanya ada satu jalan utama penghubung kota kecamatan menuju dusun yang dibangun 10 tahun lalu.

Saat berkunjung ke kebosungu dan berbincang dengan Fachori, hati kecil saya menyimpan kekaguman atas perjuangan ayah empat anak ini. Bayangkan saja, puluhan tahun menjadi pengayuh rakit, Fachori telah berhasil menyekolahkan anak sulungnya hingga perguruan tinggi. Tak hanya puas dengan pekerjanya, Fachori ulet mengerjakan ladang di samping rumahnya dan mengolah kayu hutan menjadi arang. Yang lebih hebat lagi, pekerjaan pengayuh rakit ini ditekuni secara turun temurun dan menjadi tumpuan warga seiring kebutuhan untuk mendapatkan akses cepat ke kabupaten tetangga.

Semangat Fachori adalah semangat Indonesia. Saat para pegawai pemerintah tinggal menyalurkan uang Negara lewat program kesejahteraan rakyat, Fachori masih sibuk mencari jalan supaya warga dusunnya dapat dengan mudah menuju ke desa tetangga untuk menjual hasil buminya. Saat dana Negara turun lewat APBN tiap tahunya mereka berkesempatan menutup mata hati dengan menyelewengkannya, sementara di pedalaman pulau jawa tepatnya di Bantul Yogyakarta, seorang Fachori tak mematok harga untuk jasa rakitnya. Kadang hanya Rp 5.000, kadang kurang, bahkan kadang sukarela saja.

Harapan warga untuk mendapatkan akses jembatan di sungai Oyo ini sangat tinggi. Hal ini sungguh wajar karena dlingo sebagai kota kecamatan hanya mampu memberikan akses ekonomi dua hari dalam seminggu sementara untuk menuju ke Imogiri dibutuhkan waktu lebih dari 1 jam perjalanan. Untuk itu kota kecamatan di kabupaten sebelah menjadi jujugan meski harus menyeberang sungai.

Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari pengajuan program lewat RPJMDes, pengajuan proposal bahkan ‘barter’ suara saat pemilu lalu. Semua hasilnya NOL. Beaya yang besar dan birokrasi antarkabupaten dijadikan alasan bahwa program ini sulit direalisasikan. Sementara para calon peserta pemilu ‘ngacir’ setelah mengantongi suara , lupa dengan janjinya. “Hanya bisa apa kita ini mas?” begitu sikap apatis saat ditanya komentar atas janji- janji calon peserta pemilu. Sikap initak menyurutkan upayanya untuk siap siaga membantu siapapun yang ingin menjangkau kabupaten tetangga dengan rakitnya. Budi oetomo dengan organisasi gerakan perjuangan Indonesia satu abad silam, soekarno dengan proklamasinya 66 tahun silam. Fachori dan Ashari dengan konsistensinya untuk kehidupan dirinya dan orang lain. Semangat Fachori, kebangkitan hakiki Indonesia.


4 Melu Omong:

ahmad mengatakan...

saya juga warga kebosungu yang hidup di sleman,,,
hebat sekali karya mas koetot, saya bangga daerah saya dipublikasikan,,dengan harapan bagi yang berwenang sudi menanggapi fenomena tersebut

Mas Koetot mengatakan...

Trimakasih atas apreisasinya, Tentu menjadi kewajiban siapapun warga Dlingo di manapun berada untuk selalu membangun dan bangkit, dengan kemampuan terendah seperti ini, karena saya hanya bisa mengabarkan saja, untuk menyelesaikan maslah terkait dengan dengan Dlingo tentu butuh banyak pihak yang lebih mampu

insidewinme mengatakan...

Kita menghendaki kebangkitan yang tidak terbatas pada ibadah dan perbuatan mandub saja. Akan tetapi, kita menghendaki kebangkitan atas hukum-hukum Islam keseluruhan baik dalam pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, hubungan luar negeri, tsaqafah dan pendidikan, politik dalam negeri dan luar negeri dan dalam seluruh urusan umat, baik secara individu, kelompok maupun negara.

Mas Koetot mengatakan...

Konsepsi seperti yang anda sampaikan memang amanat negara terhadap kesejahteraann rakyat sekaligus amanat undang-undang, namun bagi saya sebuah pergerakan harus di mulai dari embrio yang paling kecil dengan kemampuan terendah yang maksimal...Dan melalui media Blog inilah saya langkahkan tapak demi tapak perubahan...andai ada yang mau membaca..."dari Dlingo Untuk Yogyakarta- dari Yogyakarta Untuk Indonesia"

Posting Komentar

Saksampunipun Maos Nyuwun dipon Unek-Unekken