Titik-Titik Benih-Benih Cinta

Dlingo : Tidak ada satu usaha satu pun yang sia-sia, mungkin itulah sebuah gambaran yang paling mungkin bisa saya sampaikan untuk mengawali posting kali ini. Sebenarnya ini cerita lama namun nyatanya tidak pernah kuno atau menjadi cerita antik, karena cerita ini dari masa ke masa ternyata tetap saja memilki pengemar yang antusias dan beragam multiinterpretasi. Sebuah benih-benih cinta yang nyaris tanpa arti bagi siapapun yang di tuntun akal fikiran.

Cerita ini adalah sebuah imajinasi yang diperoleh dari sebuah proses yang bersumber dari cerita non fiksi. Setelah terperosok dan salah dalam mengambil arti dan setelah sekian lama terombang-ambing dalam kejenuhan. Adalah aku yang selalu saja haus akan cinta yang butuh sebuah sentuhan sang khalik. Adalah seorang pejantan yang suka kejantanan karena sebuah ilmu adalah binatang yang jantan. 

Ternyata Dia begitu dekat, namun rasa seolah jauh dan fikiran merasa semakin jauh sementara jasad merasa tidak pernah mengenal karena bulu rambutpun belum pernah merasa bersalaman. Malam itu seperti biasa aku terlelap tertidur dengan sebuah kesombongan tanpa berserah. Wajar saja semut-semut para ahli Dzikir menggiggit kaki-kaki yang melekat sebagai anggota jasadku. Terbangunku karena rasa gatal yang biasa di alami setiap orang. Disitulah sebuah pertaruhan di mulai, drajad kemanusiaanku kembali di uji meski teramat sanggat kecil ujian itu bagi yang mampu namun teramat berat bagi sosok rusak sepertiku. 

Ku coba kalahkan bisikan yang begitu kuat mengajakku tidur, kucoba menagkan mata dan telinga, kucoba menagkan kaki dan tangan, namun kekuatan indra itu ternyata masih begitu lemah dan tak mampu menendingi satu kekuatan yang aku pun tak tahu sumbernya. Alhamdulilah Allah Tuhan Yang maha segalanya memberikan segala kemungkinan yang mungkin. memberikan sedikit cahaya dalam kebutaan indra. kaki-kaki jasadku melangkah dalam cahaya yang sanggat redup. Kubasuh dengan air sumber yang banyak mengandung kapur dan ku niatkan untuk memberikan seluruh jiwa dan raga meski aku tak tahu apa makna berserah.

Kulantunkan syair-syair berantakan yang malu bila di ceritakan, nyaris tidak bermakna apapun bagiku karena aku hanya berusaha menepati janjiku yang sering ku langgar sendiri. Perlahan syair-syair itu melambat dan terasa sebuah sobekan yang perih kurasa diawal. sobekan itu berulang dan kurasakan perih itu ternyata sebuah kenikmatan di puncak lembah yang tertutup kulit ari dan tertimbun batok tulang tipis di mana rambut bersemayam. 

Perlahan sebuah cekungan dangkal membuat nafasku semakin terdengar jelas hembusan dan tiupannya, kucoba rasakan kehadiran sebuah sumur panjang yang menerabas batas sehingga angin-angin dari paru-paru terasa tidak berasa. Bagai cerobong asap yang tertutup benda padat atau arus air yang tersumbat oleh gejlek dam. Dapat kurasakan masuknya angin kedalam raga jiwa layaknya ban sepeda motor yang tipis dan keras sehingga mampu menampung muatan yang berat sekalipun. Kurasakan semakin keras dan mengeras dan saling bekerja sama antara atas agak atas dan tengah yang tomatis bergerak layaknya dinamo yang berputar dan menghasilkan arus listrik.

Aku masih belum percaya aku coba dan ulangi, aku rasakan hal yang sama. Aku coba bertahan ternyata menghilang, aku coba kejar ternyata caranya sama. Semoga ini adalah sebuah awal yang tidak akan pernah ber akhir.

2 Melu Omong:

agus rehana saputra mengatakan...

kulo nuwun,,
dlingone pundi cuey?
aku wong kedung dayak jew,,,
yow salam knal ae yow
hahahaha

Mas Koetot mengatakan...

knal balik, nwon pun mampir, asli dlingo ae lah, salam bwt teman-teman di kdung dayak yo..

Posting Komentar

Saksampunipun Maos Nyuwun dipon Unek-Unekken